Assalamualikum,
Dunsanak kasadonyo, ini hanya sekedar gumaman hati anak rantau yang
sudah lama tersimpan. Ambo masih teringat pada petitih.."karatau
madang dihulu, babuah babungo balun. Marantau buyuang/bujang dahulu,
dikampuang paguno balun"
Meski dirantau dan kecil kemungknan pulang tapi yang pulang tidaklah
mesti pisik tapi bathin nan paralu. heheh...

ambo mulai dulu yoo...

Sejak tiga puluh lima tahun terakhir ini, di desaku surau tidak lagi
berfungsi sebagai "surau",
tempat pengkaderan penerus negri. Tampek mamak manitipkan dan membina
kamankan... sejak itulah terlahir generasi pertama yang tidak lagi
merasakan kawah candradimuka "lalok" dan gadang (tumbuah) di surau.

Hatiku miris, ketika beranjak remaja anak muda sebaya didesaku
terbiasa dengan ganja, buku dan film porno. Akhir 80-an selain
televisi yg cuma TVRI waktu itu ada media berupa Video yang bisa
ditonton di sebuah rumah yg juga berfungsi sebagai bioskop mini, cuma
dengan Rp. 50 s/d 100 untuk satu film. Bioskop mini inilah yang
menjadi pengganti surau waktu itu, sy pun ikut kecanduan. hehe...

Anak muda begitu bangga meniru model anak jakarta, meniru rambut
pakaian dan tingkah laku artis dalam dan luar negri. Tiada lagi
kebanggan kepada adat sendiri. Kuno, udik, 'lamah' kata yang sering
digunakan bagi yang tidak mengikuti mode.

Bagi yang lebih tua, lapau menjadi tempat yang lebih menjadi "surau".
Judi dan minum2 keras hal yang tidak lagi tabu. Saking tidak tabunya
alunan suara azan tidak menggurangi suara bantingan batu domino orang
lapau dan gelak tawa mereka dari mulut yang bernafaskan alkohol , di
tahun 90-an surau dan lapau yang bisa dibilang bersebelahan. Dan
banyak lagi yang kalu disampikan disini samo jo "manapuak aia di
dulang". Subhanallah.... ada yang merasa tidak berdosa lagi makan
siang di surau yang jika lohor dan menjelang lebaran sudah jarang
terdengar azan, kalaupun ada sayup-sayup dan cuma diisi oleh hitungan
jari sebelah tangan.

Dan ketika baralek, yang biasanya dihebohkan dengan suguhan gandang
tasa dan tari galombang, indang, salawat dulang, saluang dan rabab..
semuanya bertukar keyboard dengan nyayian dangdut yang diiringi liukan
striptis tubuh penyanyi padusinya.

Mendengar cerita lamo, bagaimana dulu urang tuo-tuo digadangan di
surau... ingin rasanya waktu ini berputar balik 50 tahun lagi. Namun
itu tentu tidak mungkin. Yang mungkin meskipun sulit adalah
mengembalikan fungsi surau. Tempat 'pendidikan'  dan mengadopsi isi
ilmu pengetahuan moderen tapi membuang formatnya. Bukan format
pesantren yang hemat sy juga sudah terseret pola modrn tapi "surau
yang pendidikannya mengakar kedalam kontek keseharian dan kehidupan.
Kompleks memang, bahkan absurd mungkin... yang kalau dikupas apa
sebenarnya "surau" yang sy maksud tentu yang labiah tuo nan labiah
paham.

Sy hanya bisa berkata ... kembalikan "surau"ku. Kembalikan
"surau"ku...Kembalikan "surau"ku
Agar azab tak lagi mendera..... Amin.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke