Di kampung kami, banyak sekali laki-laki yang bernama Bujang. Maka, jika
kau mempunyai seorang kenalan yang mengaku bernama Bujang, kami yakin
dia pasti berasal dari kampung kami. Dan, jika suatu waktu kau
memutuskan untuk mencarinya dengan berkunjung ke kampung kami dan
menanyakan tentang Bujang yang kaukenal itu, maka kau tentu akan
kebingungan karena ornga-orang akan balik bertanya padamu: "Bujang yang
mana?" - bukan karena mereka tak kenal, melainkan karena mereka hanya
ingin memberikan informasi yang tepat tentang keberadaan Si Bujang yang
kau maksud.

Sebenarnya, Bujang hanyalah nama panggilan. Laki-laki yang panggil
Bujang juga memiliki nama seperti nama-nama di kampung kalian. Tapi,
kebanyakan nama panggilan mereka justru lebih populer ketimbang nama
mereka yang sebenarnya. Bahkan, orang-orang kampung mungkin tak tahu
siapa sebenarnya nama Si Bujang yang mereka kenal.

Mengingat begitu banyak laki-laki yang bernama Bujang, maka orang-orang
kampung pun mempunyai trik tersendiri untuk membedakan Bujang yang satu
dengan Bujang yang lain. Di samping nama Bujang, dilekatkan nama
tambahan, yang biasanya, mewakili karakteristik atau ciri khas sang
Bujang. Misalnya, ada Bujang Karak, karena yang bersangkutan di waktu
kecil suka makan kerak nasi. Ada juga Bujang Lisuik, karena bertubuh
lisut - kurus. Atau Bujang Kuniang, dikarenakan dia berkulit kuning
langsart. Dan, masih banyak Bujang-bujang yang lain.

Biasanya, di waktu berkenalan dengan orang luar, Bujang-bujang ini hanya
mengatakan bahwa nama mereka Bujang - tanpa menyebutkan pula ujung
namanya. Itulah sebabnya kenapa kau tak akan bisa menjawab pertanyaan
orang-orang yang menanyakan Bujang yang manakah yang kaucari. Jika kau
hanya menjawab: "Ya, Bujang. Itu saja. Namanya Bujang!", maka orang
kampunglah yang kemudian jadi bingung dan kewalahan menyebutkan satu
persatu Bujang yang ada berikut ciri-cirinya. Karena, memang ada
berpuluh-puluh Bujang di kampung kami.

Namun, di antara puluhan Bujang tersebut, ada dua Bujang yang paling
tersohor; yakni Bujang Antau dan Bujang Macang. Tak ada penduduk kampung
yang tak kenal dengan dua orang Bujang ini. Dua nama itu seolah sudah
melekat kuat di ingatan semua orang. Alasannya hanya satu. Bujang Antau
dan Bujang Macang merupakan sahabat karib sejak kecil. Dan patut diingat
bahwa di kampung kami jarang ada dua orang yang bernama Bujang yang
'berani' untuk berteman dekat. Karena, ya, seperti yang mungkin pernah
kaudengar, penduduk kampung kami sangat suka mencemooh.

Jika kebetulan ada yang melihat dua orang Bujang berjalan berdekatan,
maka akan ada saja penduduk kampung yang iseng dengan hanya bertanya:
"Bujang, hendak ke mana kau?" Tentu saja seruan tersebut membuatkedua
Bujang menoleh dan serempak memberikan jawaban. Saat itulah, sang
penanya dan orang-orang yang ada di sana akan tertawa kegirangan -
senang bukan main karena olok-oloknya berhasil. Dan dua orang Bujang itu
pun akan saling menatap tajam, seolah saling menyalahkan, "Kenapa pula
kau diberi nama Bujang?" ujar mereka dalam hati masing-masing. Hari
berikutnya, mereka tak akan bertegur sapa.

Namun, tidak demikian halnya dengan dua Bujang tokoh kita. Keduanya tak
pernah hirau dengan olok-olok penduduk kampung. Cemoohan yang ditujukan
pada mereka hanya akan dibalas dengan senyum sumringah dan gelak tawa
yang pecah berderai dari keduanya. Mereka bahkan mempunyai jawaban khas
sebagai 'serangan balik' kalau-kalau ada yang iseng memanggil nama
Bujang saja tanpa embel-embel 'Antau' antau 'Macang'. Mereka akan
menjawab bergantian; kata per kata. Bujang Antau akan menjawab "Kami
mau...", lalu dilanjutkan oleh Bujang Macang dengan "...ke Balai Kamis".
Meski ujung-ujungnya orang-orang tetap tertawa, namun mereka tak pernah
merasa dicemooh.

Karenanya, orang-orang pun kapok mengolok-olok dua Bujang kita.

Oh ya, dua Bujang ini juga mempunyai nama 'orisinil'. Bujang Antau nama
aslinya adalah Ahmad Ridha Awal. Ia anak pertama, dan merupakan
satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Dari mulai sekolah dasar,
Ahmad Ridha selalu mendapat peringkat pertama. Panggilan Bujang Antau
didapatnya karena sewaktu kecil ia sering berpindah-pindah tempat
tinggal, dibawa orang tuanya. Maklum, Ayah Bujang Antau saat itu adalah
seorang penyuluh pertanian yang baru dilantik, dan kerenanya sering
dimutasi. Jadilah, Ahmad Ridha dipanggil Bujang Antau - anak laki-laki
yang sering dibawa merantau.

Sementara, Bujang Macang sewaktu kecil populer dengan nama aslinya:
Luthfi Irsyad Ibrahim. Kata 'Ibrahim' di belakang namanya yang sering
dibangga-banggakannya itu disandangnya karena memang ia masih merupakan
keturunan langsung Syekh Ibrahim - pembawa syiar Islam pertama ke negeri
kami. Tak heran, dari dulu, keluarga Luthfi banyak yang menjadi ahli
agama.

Luthfi adalah anak terakhir dalam keluarganya. Ia dua tahun lebih tua
dari Bujang Antau. Gelar Bujang Macang didapatnya ketika ia masih duduk
di bangku SD kelas empat. Waktu itu ia baru saja dikhitan. Tapi, dasar
Luthfi bandel. Baru tiga hari disunat, ia sudah berani berjalan-jalan
jauh dari rumah dan bahkan ikut teman-temannya mencari ambacang - buah
sejenis mangga.

Kala itu memang sedang musim ambacang. Dan, semua orang tentu tahu kalau
Luthfi begitu doyan makan buah tersebut. Hingga, ia pun tak
'segan-segan'berebut buah ambacang yang jatuh dengan teman-temannya.
Padahal, luka bekas jahitan khitannya belum kering benar. Akibatnya,
jahitan di 'burung'nya pun lepas dan ia harus rela disunat dua kali.
Sejak itulah ia tak lagi dipanggil Luthfi, melainkan Bujang Macang.

Awal pertemanan Bujang Antau dan Bujang Macang terjadi ketika Ayah
Bujang Antau mendapatkan SK PNS-nya dan dipindahtugaskan ke kampung
halamannya - kampung kami. Rumah mereka berajauhan, tapi Bujang Macang
sering bertandang mencari ambacang ke rumah Bujang Antau.

Pada suatu ketika, keduanya terlibat cek-cok dan berkelahi. Entah
bagaimana persis kejadiannya, yang jelas sejak saat itu - setelah mereka
berdamai tentunya - kedua Bujang kita mulai akrab. Ke mana-mana selalu
bersama. Jika ada yang mengganggu salah satu dari mereka, maka yang lain
akan siap membantu.

Pertemanan mereka kian akrab karena ternyata keduanya mempunyai hobi
yang sama. Bujang Antau dan Bujang Macang sama-sama gemar main
layang-layang dan meriam bambu. Jika musim layang-layang datang,
menolehlah ke langit. Jika kau melihat ada dua buah layang-layang yang
sama persis bentuk dan warnanya, maka itu pastilah punya dua Bujang
kita.

Begitu juga ketika bulan puasa tiba. Jika bukan di rumah Bujang Antau,
mereka pasti sedang asyik bermain meriam bambu di halaman depan rumah
Bujang Macang. Meriam bambunya sengaja diikat, dibikin seperti kembardan
diletuskan secara serempak. Maka, aduhai, bunyi letusannya sungguh
menggelegarke seantero kampung.

***

Bujang Antau bercita-cita menjadi insinyur pertanian, sementara Bujang
Macang ingin menjadi guru agama. Selepas SD keduanya sekolah di tempat
yang berbeda. Bujang Antau melanjutkan ke SMP, sedangkan Bujang Macang
memilih masuk Madrasah Tsanawiyah. Meski demikian, hubungan mereka tetap
sekarib biasanya. Malah bertambah erat. Terlebih, begitu menamatkan
sekolah lanjutan pertama, mereka bersekolah di SMA yang sama di kampung
kami - karena memang itulah satu-satunya SMA yang ada waktu itu.

Lulus SMA, persahabatan kedua Bujang memang masih tetap terjalin. Namun,
tak seakrab dulu lagi. Maklum, jarak jua yang memisahkan mereka. Bujang
Antau kuliah di Padang, mengambil jurusan pertanian di sebuah perguruan
tinggi negeri. Sedangkan Bujang Macang mengambil jurusan ilmu agama di
Batusangkar. Sekali waktu, ketika kebetulan keduanya sempat pulang
bersama, Bujang Antau dan Bujang Macang masih terlihat begitu mesra.

Seiring waktu yang terus bergulir, persahabatan mereka kian renggang.
Hingga akhirnya seakan terputus begitu saja. Bahkan, ketika Bujang
Macang diwisuda, Bujang Antau tak hadir. Katanya,"Aku sibuk, Jang.
Skripsiku..." Meski Bujang Macang memohon-mohon agar sahabatnya itu mau
meluangkan waktu sehari saja untuk menghadiri acara kelulusannya, namun
toh Bujang Antau tetap tak datang. Bujang Macang hanya bisa menelan
kekecewaan.

Rasa kecewa itu semakin bertambah ketika pada hari Bujang Antau
diwisuda, ia tak pernah memberi kabar pada Bujang Macang. Bujang Macang
mengetahui kalau sahabat karibnya itu telah diwisuda setelah mendengar
cerita dari mulut ke mulut.

Dengan ijazah Diploma 3-nya, Bujang Macang melamar menjadi guru Fiqih di
Tsanawiyah tempat ia dulu bersekolah. Selain itu, ia juga mengajar
anak-anak mengaji di surau. Begitu SK mengajarnya keluar, Bujang Macang
menikah. Memiliki dua orang anak. Satu perempuan, dua laki-laki.

Sementara itu, Bujang Antau semakin jarang terdengar kabarnya. Setelah
mendapat gelar Sarjana Pertanian, ia langsung ke Jakarta, ikut temannya.
Tak ada yang tahu di mana ia bekerja. Kedua orangtuanya pun seolah tutup
mulut atas keberadaan Bujang Antau. Entah kenapa.

Dua Bujang yang dulu pernah tersohor dan menjadi buah cakap di kampung,
hilang dari topik pembicaraan selama bertahun-tahun. Hingga hari itu
tiba...

Ya, pada suatu hari - belasan tahun setelah ia pergi tak tahu kabar -
Bujang Antau pulang dengan kisah sukses yang ia raih. Rupanya, garis
tangan Bujang Antau bukan di bidang pertanian seperti yang ia
cita-citakan dulu. Bujang Antau pulang sebagai seorang pengusaha besar
dari Jakarta. Tak tanggung-tanggung, ia pulang bersama anak istrinya
dengan mobil sedan mengkilap. Orang-orang kampung berdecak kagum,
mengelu-elukan Bujang Antau yang telah menjadi orang sukses.

Dan, cerita tentang dua Bujang pun kembali dibuka.

Kabar itu akhirnya sampai juga di telinga Bujang Macang. Tak bisa
dilukiskan betapa gembiranya Bujang Macang begitu mengetahui sahabatnya
pulang. Maka, ia pun dengan rindu dendam yang telah lama ditahan, segera
menghambur ke rumah Bujang Antau.

Namun, apa yang kemudian didapatnya? Bujang Antau sama sekali tak lagi
mengenalnya. "Apa aku sudah terlalu tua?" tanya Bujang Macang
berseloroh. Tapi, meski akhirnya dengan cerita panjang lebar, Bujang
Macang berhasil membangkitkan ingatan tentang masa lalu mereka, Bujang
Antau hanya menanggapinya dengan dingin. Cerita panjang Bujang Macang
hanya dibalas dengan 'Oooo...' panjang, sementara Bujang Antau sibuk
memencet-mencet HP-nya.

"Maaf ya, saya tinggal sebentar. Ada panggilan dari Jakarta," katanya
santai untuk kemudian meninggalkan Bujang Macang sendirian.
Meski katanya cuma sebentar, namun hingga berjam-jam kemudian , Bujang
Antau tak jua kembali menemui Bujang Macang.

Bujang Macang pun memutuskan untuk pergi saja dari sana.
"Sepertinya kau sibuk, Jang. Besok atau kapan-kapan aku ke sini lagi.
Insya Allah,"ujar Bujang Macang berpamitan.
"Oh ya.. Ya.." balas Bujang Antau sambil terus saja menelpon.
Bujang Macang hanya bisa menelan airmata yang dirasanya mulai menetes.

***

Kau tentu bertanya-tanya, bagaimana saya bisa tahu dengan persis
peristiwa yang terjadi di malam itu antara dua Bujang tokoh kita.
Oh ya, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Luthfi Irsyad Ibrahim.
Tapi, orang-orang kampung lebih suka memanggil saya Bujang Macang.

Sumpur Kudus, 06 September 2008 

http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/01/25/dua-bujang/ 

 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke