Assalammu'alaikum wrwb,
berikut adalah catatan pengalaman yang kami alami di malam pertama pasca gempa 
30 sept 2009, photo bisa dilihat di FB saya: Aryandi Ilyas. Sengaja ditulis 
sebagai kenangan dan buat berbagi cerita dengan sesama, dan mohon maaf bila tak 
berkenan.
Dalam perjalanan dari Bandara International Minangkabau menuju ke rumah 
terlihat di sepanjang jalan warga masih berkumpul di sepanjang jalan. Mereka 
masih trauma akan gempa susulan yang mungkin saja bisa terjadi. Dalam kegelapan 
malam karena ketiadaan listrik mereka masih tetap berkumpul, membentuk satu 
kelompok. Anak-anak muda ada yang nongkrong dengan sepeda motornya dengan lampu 
yang redup sebagai penerang.

Memasuki gapura Padang Kota Tercinta kami baru mulai merasakan kedahsyatan 
gempa yang terjadi. Jadi teringat akan ada kedai yang mulai barasap ketika 
menuju bandara sore tadi. Ternyata kejadian yang sama ada di beberapa lokasi di 
sepanjang jalan. Ada juga kedai yang ambruk, yang atapnya sudah menyentuh tanah 
secara keseluruhan. Hampir di setiap perempatan/pertigaan yang kami lalui ramai 
oleh warga yang berkumpul. Lampu mati di sepanjang jalan, tak ada listrik sama 
sekali, kecuali beberapa rumah makan yang mempunyai genset

SPBU pun pada tutup, namun masih saja ada yang antri disana selepas kejadiaan 
gempa ini. Mereka masih berharap bila listrik hidup pasti akan beroperasi 
normal. Namun hingga pagi seninnya, melalui classic FM ternyata hanya ada tiga 
SPBU yang beroperasi, salah satunya yang ada air tawar dekat jalan cendrawasih. 
Mereka bisa buka dengan menghidupkan genset sendiri dan melayani hanya tiga 
“pompa” dan itu mulai beroperasi sejak jam 12 malam. Namun dikarenakan hujan, 
antrian baru terasa mulai jam enam pagi. Info ini kami dapat ketika pagi mau ke 
Bandara lagi pada kamis pagi. Kami menikmati antrian lebih dari 25 menit untuk 
mengisi bensin untuk seharga Rp 100.000,-. Di tiga SPBU ini rata-rata semua 
kendaraan antri lebih kurang setengah jam untuk mendapatkan jatah bensin, 
termasuk para pengendara motor yang berjibun. Antrian di dalam rintik hujan 
mereka lalui hanya untuk mendapatkan 2 atau 3 liter bensin. Bersyukur lah bagi 
yang memiliki mobil yang tidak
 kehujanan. Namun ada juga kejadian LUCU alias APES dalam antrian kami yang 
lumayan panjang terdapat 2 buah mobil yang benar-benar mogok dalam antrian 
karana tak punya bensin sama sekali. Kasihan banget khan? Padahal tinggal 
beberapa meter lagi. …

Kembali ke perjalanan pulang. Menjelang rumah Om Mali yakni RM Nasi Kapau 
Cendrawasih kami melihat kumpulan warga yang lebih banyak dari sebelumnya, 
jalanan macet baik karena motor ataupun mobil yang berjalan perlahan. 

Sesampai di rumah, suasana tetap masih gelap kecuali RM Nasi Kapau Cendrawasih 
ini karena memiliki genset sendiri. Alhamdulillah, lumayan terang, walau lantai 
atas masih tetap gelap karena genset tidak mampu untuk meneranginya. RM ini 
berantakan, bagian depannya sudah ditutup, sambal dan nasi masih berserakan. 
Piring dan gelasnya banyak yang pecah. Vas bunga dan perabotan keramik di 
lantai atas berjatuhan dan pecah. Namun si Om sangat cekatan, langsung 
singsingkan lengan membersihkan apa yang bisa dikerjakan beliau, begitu juga 
dengan anak-anak beliau yang berjumlah 5 orang, laki-laki semuanya tetap 
berkumpul, membantu dan menjaga kondisi RM agar tetap aman terkendali. Ante Ita 
nampaknya stress, banyak diamnya, namun tetap berusaha senyum melihat kami.

Setelah selesai si Om membersihkan, dia mulai kelihatan agak tenang dan 
bercerita bahwa hamper semua penghuni di komplek sepanjang Cendrawasih dan 
JONDUL IV ini, yang memang berada di pinggir laut, sudah sepi ditinggal para 
penghuninya, termasuk rumah adik kami Rini, yang langsung mengungsi ke rumah 
mertuanya sesaat gempa terjadi.

Hal yang sama dulu pernah terjadi saat gempa. Namun korban yang jatuh akibat 
terinjak atau tertabrak motor/mobil oleh warga yang panik, begitu lah cerita 
Ante Ita ini. Makanya beliau dan keluarga memilih tetap tinggal ditempat.

Setelah kondisi anak mulai stabil, terbiasa dengan suasana yang redup ini, 
perlahan si Bunda menyuapi kedua anak kami. Apapun kondisinya perut anak-anak 
harus tetap terisi. Alhamdulillah, dengan sambil ngobrol di emperan RM ini, 
anak-anak tetap lahap makan dengan nasi putih dan ayam bumbu buatan si Ante 
ini. Satu tugas selesai. Berikutnya aku mulai makan sekedar pengisi perut saja, 
sebenarnya nafsu itu tak ada, tapi karena sedari pagi aku belum ketemu nasi 
dipaksakan jua. Pagi tadi hanya makan lontong, siangnya ketupat pical dan 
sorenya dua porsi cendol patimura. Mau berangkat tadi pun tak sempat makan satu 
buah alpukat pun, dan alpukat tsb masih ada di tas makanan si Bunda yang tak 
sempat kami turunkan. Semua tas, kecuali tas pinggang serta bawaan lainnya 
masih berada di dalam mobil. Dan terakhir Om dan Ante meminta kami untuk 
tinggal di rumah mereka saja karena memang kondisi tak memungkinkan lagi untuk 
pergi dari rumah.

Selepas makan, dengan rasa penasaran aku pergi ke Show Room Capella tersebut, 
berjalan kaki sendirian, dan memang terlihat warga makin membludak. Motor 
banyak yagsudah dipinggirkan di trotoar, bahkan mobil pun berjalan dengan 
sangat pelan. Astaghfirullah,… trafo listrik yang besar terlempar dari tiang 
penyangganya, tiang show room yang rasanya tak terpeluk itu patah, atapnya yang 
di cor lebih dari 30 cm tebalnya menyentuh tanah, kabel telepon juga begitu, 
tiangnya juga sudah miring…. daaaannn diatas atap yang dicor tadi yang sebagian 
sisinya sudah menyentuhtanah masihada warga yang berdiri, padahal dibawahnya 
sudah dipastikan masih ada korban yang masih terdengar suaranya meminta air 
minum karena haus. Sebagian karyawan, dibantu warga dan dua/tiga orang TNI AD 
sedang mencari celah untuk mengeluarkan para korban. Diperkirakan masih ada dua 
hingga empat orang yang masih terjebak di dalamnya. Semenatar itu sebelumnya 
sudah ada satu orang, karyawati
 Capella bernama Fani yang sudah diselamatkan, sudah di rumah sakit dengan 
kondisi kaki yang mungkin patah.

Seorang China medan (mungkin pimpinannya) berkoordinasi dengan anggota TNI 
mendapat kepastian bahwa akan didatangkan satu buldoser untuk evakuasi 
karyawannya yang masih terimbun serta mengeluarkan sebagian mobil yang ada 
disana dengan mengangkat terlebih dahulu tiang penyangga show room tadi yang 
menghalangi jalan keluar dari area tersebut, serta meminta warga yang berada di 
atas atap Capella tadi untuk turun agar tak menimbulkan kecelakaan lainnya yang 
mungkin saja bisa menimpa mereka ataupu korban yang ada di bawahnya.

Memang tak banyak yang bisa dibantu warga karena keterbatasan alat. Selain 
mencari celah lubang yang bisa membantu korban, serta memberi minuman botol 
lewat celah yang sempit, warga hanya bisa membersihkan puing-puing yang ada 
disekitar area tersebut. Aku hanya bisa mengabadikan lewat camera yang ada. 
Divideokan juga percuma karena kondisinya gelap. Cahaya hanya ada dari dua buah 
mobil yang dihidupkan dan arahnya pun tak mencukupi ke arah dimana korban 
diperkirakan berada.

Gerimis pun mulai turun, aku pun mulai meninggalkan lokasi untuk memastikan 
kondisi anak-anak karena menjelang jam 9 Imam biassanya sudah mulai tidur. 
Benarnya saja, tak lama aku ngobrol dengan si Om di emaperan toko, si Imam 
sudah tertidur beralaskan tikar plastic. Anakku tidur di emperan ditemani hujan 
yang makin deras curahnya. Imam kugendong ke lantai atas, yang ternyata sudah 
dipersiapkan Ante diterangi oleh sebuah lilin dan satu lampu “togok”. Tak lama 
berselang Dhila pun menyusul beserta bundanya. 

Simpati ku yang tadi masih ada sinyal satu dua, akhirnya pun mati total. SMS 
pun tak bisa apalagi menelpon. Komunikasi pun terputus. Satu satunya yang bisa 
hanya melalui telkom rumah, tapi suaranya pun aku dengar tak jelas karena 
bersaingi dengan suara genset. Aku sudah mulai merasakan kondisi tambah gawat.

Selesai sholat isya, aku pun duduk dibalkon di lantai atas tersebut sambil 
mendengarkan radio dari HP. Ku amati kota padang yanggelap gulita. Persis kota 
mati, tak ada penerangan sama sekali. Hujan mengguyur dengan derasnya. Di jalan 
Cendrawasih satu persatu kelihatan ada mobil yang masuk, namun makin lama makin 
banyak. Mungkin ini milik para penghuni yang mau kembali ke rumahnya, atasu 
mungkin juga jalan yang di depan show room yang dialihkan memutar melalui 
cendrawasih karena ada buldoser (beko) yang bekerja disana… Entahlah….

Dari radio pun aku mendengar bahwa Ramayana terbakar, STBA Prayogo dan salah 
satu GAMA Operation, salah satu Bimbel, runtuh dan ada puluhan korban yang 
tertimbun disana. Dari sebelas chanel radio yang ada, hanya Classic FM yang 
menyiarkan langsung tanpa jeda kondisi kota padang pasca gempa yang terjadi.

Dalam kesendirian di lantai atas,di balkon, aku merenungi akan apa yang aku 
jalani dari pagi, siang, sore hingga malam ini. Semuanya di luar perencaan dan 
semuanya begitu tiba-tiba berubah. Hanya karena satu hal yakni Gempa, yang 
hanya beberapa detik saja namun memberikan efek yang sangat besar bagi seluruh 
penduduk kota padang dan sekitarnya. Tiada listrik, tiada komunikasi, kota ini 
bagaikan kota mati. 

Kenapa hari ini dan kenapa setelah sebagian besar para perantau balik ke 
kotanya masing-masing???. Kenapa setelah ramadhan berlalu??? Dan kenapa terjadi 
ketika aku akan kembali??? Pasti ada satu sebab dibalik semuanya ini. ALLAH SWT 
pasti berkehendak lain. Dan dengan penuh tanya mengantarkan aku ke pembaringan.

Parung Serab, Ciledug, Tangerang 5 Oktober, 21.40 WIB
(ditulis atas pengalaman pribadi saat gempa 7,6 SR di Padang, 30 Oktober 2009)
 
ARYANDI, 36 th 
Alumni Kimia Univ Andalas Angkatan 92



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke