Semoga indak tajadi di ranah bundo pasca gampo ko. Salam
Andiko Sutan Mancayo Ironi Aceh Satu Tahun Pascatsunami <http://ayiek.multiply.com/journal/item/7/Ironi_Aceh_Satu_Tahun_Pascatsunami> Dec 10, '05 2:38 AM for everyone <http://ayiek.multiply.com/photos/hi-res/upload/Q5qGfgoKCjcAAAQpg1U1.jpg?xurl=http%3A%2F%2Fayiek.multiply.com%2Fjournal%2Fitem%2F7> Dimuat di Kompas (8/12/2005) Setahun Tsunami, KESENJANGAN MENGUSIK ACEH Oleh Ahmad Arif Hampir setahun tsunami berlalu di Aceh. Laut yang telah menghancurkan 141.000 rumah dan merenggut 131.934 nyawa serta mengakibatkan 37.066 orang hilang itu telah kembali didatangi, baik oleh nelayan maupun muda-mudi yang berpacaran di pantai. Kepedihan dan trauma mulai terlupakan. Namun, bencana lain berupa kesenjangan ekonomi dan sosial kini mengancam Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Kota Banda Aceh yang pernah hancur kini menggeliat, bahkan jauh lebih ramai dibandingkan dengan sebelum terjadi tsunami. Orang-orang dari berbagai kelompok etnis dan negara datang ke Aceh membawa banyak hal, termasuk janji dan dedikasi. Faktanya, mobil mewah dan mobil gardan ganda bertenaga besar yang boros bahan bakar berseliweran di jalan aspal. Restoran-restoran mewah, kedai kopi, dan hotel yang tarifnya melambung dua kali lipat selalu penuh pengunjung. Satu restoran dengan sajian menu internasional di Jalan Teuku Umar yang baru buka setelah Lebaran, misalnya, selalu diserbu pembeli yang rata-rata bermobil mewah. Jalan itu-dan sejumlah jalan utama lainnya di Banda Aceh- setiap malam diguyur dengan air hingga bersih oleh mobil tangki Pemerintah Kota Banda Aceh. Para petugas seakan tak pernah membiarkan debu dan kotoran melekat di jalan aspal. Penerbangan pesawat dari dan ke Banda Aceh hampir tiap hari penuh, termasuk penerbangan kelas bisnis. Sebagian penumpang adalah langganan tetap karena seringnya mereka hilir mudik Banda Aceh-Medan- Jakarta, ataupun dari dan ke kota-kota lain hingga negara lain. Sebagian tenaga konsultan dari sejumlah LSM atau berbagai lembaga Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) memang berdomisili di luar Aceh, seperti Jakarta dan Medan. Sewa Rumah Gambaran lain tentang Banda Aceh adalah harga sewa rumah yang melambung, rata-rata di atas Rp 100 juta setahun. Bahkan, sebuah lembaga internasional berani menyewa rumah di Jalan Sudirman hingga Rp 1,3 miliar setahun. Padahal, sebelum tsunami, sewa rumah-rumah tersebut hanya Rp 5 juta- Rp 10 juta per tahun. Di salah satu media massa lokal pengumuman tentang dibutuhkannya tenaga kerja juga membanjir. Di salah satu lowongan untuk LSM asing disebutkan, gaji yang akan diberikan Rp 4 juta-Rp 10 juta. Sebagian yang lain memilih menjadi jurnalis lepas untuk media asing dengan bayaran mencapai 1.200 dollar AS per tulisan, fotografer lepas untuk media asing 350 dollar AS per hari, atau sekadar penerjemah dengan gaji 100 dollar AS per hari. "Ini gaji saya terbesar sepanjang karier. Dalam tiga bulan bisa memperoleh Rp 90 juta," kata seorang fotografer yang pernah bekerja di kantor berita asing. Kini ia menjadi fotografer untuk salah satu proyek LSM asing. Alternatif lain adalah menjadi pegawai Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias yang gajinya mencapai belasan juta hingga puluhan juta rupiah. Yang "cerdik" kemudian merangkap sejumlah pekerjaan karena toh pekerjaan itu bisa disambi. Bisa menjadi dosen sekaligus pekerja LSM atau BRR, ataupun wartawan sekaligus pekerja di BRR atau LSM. Lalu, sudah menjadi sedemikian makmurkah Aceh? Tunggu dulu. Gambaran itu hanyalah sepenggal dari kondisi Aceh pascatsunami. Angka kemiskinan pascatsunami di Aceh bertambah 600.000 jiwa, dari 1,6 juta menjadi 2,2 juta jiwa. Pengangguran terbuka juga meledak. Di sudut lain Aceh, sedikitnya 67.500 dari sekitar 400.000 pengungsi masih hidup di tenda-tenda darurat yang minim fasilitas hidup. Sisanya tinggal di barak dan baru 30.000 rumah yang dijadwalkan selesai dibangun hingga akhir Desember ini. Di sepanjang Jalan Lhok Seumawe-Banda Aceh masih banyak kita temui pengungsi di tenda-tenda. Bahkan di dalam Kota Banda Aceh dan Aceh Besar tenda- tenda darurat masih banyak ditemui. Rosnani (52), pengungsi di Mon Ikuen, Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar,mengatakan, dia dan lima anaknya harus berdesakan di tenda darurat yang sempit dan sudah mulai robek-robek selama hampir satu tahun ini. Musim hujan yang datang sejak tiga bulan terakhir menyebabkan kondisi mereka tambah mengenaskan. Air menggenang di lantai tenda sehingga mengganggu kesehatan pengungsi. Angin kencang terkadang menerbangkan atap tenda darurat tersebut. "Minggu ini tiga anak saya menderita campak dan demam tinggi," kata perempuan yang suaminya hilang akibat tsunami itu. Ia terpaksa membawa anaknya berobat ke dokter. Gratiskah? Tentu tidak, pengungsi yang kehilangan suami dan seluruh harta bendanya akibat tsunami ini harus merogoh kocek. Ia harus mengeluarkan uang Rp 100.000 sekali berobat. Tersendat Soal jatah hidup sebesar Rp 3.000 per hari yang seharusnya dibayar per bulan sesuai dengan janji pemerintah, pembayarannya ternyata tersendat-sendat. Sampai saat ini rata-rata pengungsi baru memperoleh jatah hidup empat hingga lima kali. Bulan ini pula, menurut Rosnani, bantuan logistik, seperti beras dan sabun, dari sebuah LSM asing akan dihentikan. Rosnani dan ratusan ribu pengungsi lainnya tersengal mengikuti laju inflasi di Banda Aceh yang sejak Januari hingga November telah mencapai 36,7 persen, dengan inflasi year on year mencapai 39,35 persen. Padahal, tsunami telah menyebabkan 600.000 orang di Aceh kehilangan pekerjaan. Ironis! Aceh pascatsunami memang adalah Aceh penuh ironi. Yang kaya menjadi sangat kaya, sedangkan yang hancur akibat tsunami kian terpuruk dan tersengal-sengal mengejar ketertinggalan. http://ayiek.multiply.com/journal/item/7 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
