Dengah kekhawatiran kita mengenai trauma psikologis atas bencana dahsat yang 
menimpa Kampuang Halaman, artikel di bawah ini barngkali dape menambah 
kesadarann kita kepada magnitude masalah trauma paska gempa  ini.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

Dari Suara Pembaruan kita baca dansaya kutip seluruhnya tanoa izin untuk 
dimaklumi anggota mailing list kita (tidakuntuk komersial).

Link artikel ini ke suara pembaruan:
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=10984

ZOOM2009-10-09
Trauma Psikologis Pascagempa

Fotarisman Zaluchu

Gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR) di Sumatera Barat kembali menyebabkan 
duka baru bagi kita, setelah sebelumnya berbagai pengalaman gempa dalam 5 tahun 
terakhir ini telah menyita perhatian dan energi kita. Sampai saat ini, sejak 
gempa terjadi, telah ratusan orang ditemukan meninggal dunia, ratusan lain 
masih hilang, dan ribuan orang harus kehilangan tempat tinggal. Yang namanya 
bencana memang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Tetapi, bencana 
seharusnya membuat kita lebih sigap dan antisipatif karena sebagai sebuah 
negara yang berada pada posisi ring of fire kita pasti akan terus-menerus 
diguncang oleh bencana gempa bumi ini.

Bencana gempa yang secara beruntun terus menerus terjadi seharusnya menyebabkan 
kita memiliki grand design yang baku terhadap para korban yang selamat (the 
survivors) gempa. Selama ini disain baku hanya meliputi upaya evakuasi, tanggap 
darurat, serta alokasi dana. Masih pada soal fisik. Tetapi persoalan penanganan 
trauma psikologis korban gempa masih belum dipikirkan secara serius. Mengapa 
ini penting?

Trauma psikologis muncul sebagai manifestasi dari pengalaman mengerikan. 
Penderitanya adalah mereka yang merupakan korban yang hidup, yang secara fisik 
selamat, tetapi secara mental masih berada dalam tekanan psikologis dan terus 
menerus berada dalam keadaan tersebut. Badan Kesehatan Dunia (WHO) 
memperkirakan bahwa dalam setiap bencana, sebanyak 50 persen korban selamat 
akan mengalami trauma psikologis ini, dan di antara mereka yang mengalaminya, 
sebanyak 5 sampai 10 persen akan mengalami manifestasi yang berat. Bahkan ada 
pakar yang menyebutkan angka ini adalah 10-20 persen.

Bentuk-bentuk dari trauma psikologis ini bervariasi, mulai dari bentuk ringan 
sampai dengan berat. Yang ringan di antaranya adalah kecemasan, sampai dengan 
yang paling berat adalah post-traumatic stress disorder (PTSD). Manifestasi 
berat ini bisa berbentuk halusinasi dan depresi berat serta gangguan fisik 
antara lain pada pendengaran dan mata. Beberapa kasus ancaman bunuh diri bisa 
juga terjadi pada mereka yang merasa bersalah berat karena tidak dapat menolong 
keluarganya ketika bencana.

Dalam apa pun bencana, anak-anak adalah kelompok usia yang rentan akan dampak 
trauma psikologis ini.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan kecemasan, perilaku yang 
menyimpang, dan kesulitan belajar. Masalah ini akan semakin berat ketika 
anak-anak ini harus kehilangan orangtua atau sosok yang dekat dengan mereka 
selama ini. Pengalaman traumatis itu akan terekam di dalam alam bawah sadar dan 
akan terus terbawa sepanjang sisa hidup mereka.

Secara umum, belajar dari pengalaman bencana, trauma psikologis yang dialami 
oleh korban yang selamat dipicu oleh beberapa faktor yang bisa bekerja 
sendiri-sendiri atau sekaligus, di antaranya akibat kehilangan anggota 
keluarga, kehilangan pekerjaan, kehilangan situasi sosial yang dijalani 
sebelumnya.


Antisipasi

Masa tanggap darurat adalah masa untuk melakukan penyelamatan secara fisik. 
Tetapi ketika masa itu selesai, sesungguhnya persoalan trauma psikologis ini 
akan segera dihadapi. Kemunculannya bervariasi, tetapi riset yang pernah 
dilakukan menemukan kebanyakan trauma psikologis akan muncul setelah 2-3 minggu 
setelah bencana.

Mengingat hal itulah maka sudah seharusnya sudah mulai dibuka beberapa pusat 
layanan dan konseling yang menyediakan bantuan pelayanan psikologis. Pengalaman 
membandingkannya dengan bencana yang tidak menyediakan layanan sejenis ini, 
Ouden dkk (2007) menemukan bahwa penderita trauma psikologis yang ditolong 
dengan adanya layanan ini lebih cepat mengalami pemulihan dibandingkan dengan 
yang tidak. Bukan hanya pemulihan, gejala trauma psikologis juga bisa 
dipersempit sehingga manifestasinya tidak meluas dan menjadi pengalaman alam 
bawah sadar yang terus menerus mengganggu penderitanya.

Pusat layanan kesehatan pemulihan trauma psikologis ini bisa diintegrasikan 
dengan pelayanan kesehatan umum, tetapi juga bisa dibedakan. Yang penting, 
sarana ini terdiri dari para konselor, tenaga psikolog, pendidik, dan pakar 
kesehatan mental. Pusat layanan ini bekerja secara perlahan dan kalau perlu 
menetap dalam jangka waktu yang lebih lama dari rehabilitasi fisik.

Selain itu, sudah diketahui pula bahwa pendekatan pemulihan melalui komunitas 
akan sangat menolong memulihkan trauma psikologis ini. Dukungan sosial dari 
sesama warga yang menjadi korban, ternyata sangat membantu pemulihan. Tradisi 
kekerabatan dalam adat Minangkabau kelihatannya akan bisa digunakan untuk 
membantu kerabat sehingga dapat pulih dengan cepat dari traumanya. Menggunaan 
setting lokal untuk mendukung pemulihan para korban terutama anak-anak akan 
sangat menguntungkan.

Kita berhadapan dengan bencana yang menimbulkan tragedi. Tetapi jangan sampai 
para korban yang selamat juga menjadi korban dari bencana psikologis yang 
sesungguhnya bisa diantisipasi itu.

Penulis adalah alumnus Nuffield Centre for International Health and 
Development,University of Leeds, Leeds, UK


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke