Assalamualaikum w.w. para sanak sekalian,
 
Apa tak sebaiknya masalah ini kita tuntaskan dalam Kongres  Minangkabau tahun 
2010 mendatang ? Kita kaji faktor penyebab, alternatif penyelesaian yang ada, 
dan buat keputusan.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Tue, 10/13/09, Z. Rky. Mulie (telkomnet) <[email protected]> wrote:


From: Z. Rky. Mulie (telkomnet) <[email protected]>
Subject: Re: [RGM_GM] SURAUKU TELAH ROBOH
To: [email protected]
Date: Tuesday, October 13, 2009, 10:03 AM


  



Robohnya Surau Kami" cerpen yang ditulis A.A. NAVIS pada tahun 1955 dan menjadi 
fenomenal sampai sekarang.

Cerpen ini menceritakan kisah yang menjungkirbalikkan "logika awam tentang 
bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka". Karena dengan 
kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi 
miskin. 

Mari kita simak lagi cuplikan dialog dalam cerpen ROBOHNYA SURAU KAMI sebagai 
berikut :

---------

'Kalian di dunia tinggal di mana?' tanya Tuhan. 

'Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.' 

'O, di negeri yang tanahnya subur itu?' 

'Ya, benarlah itu, Tuhanku.' 

'Tanahnya yang mahakaya-raya, penuh oleh logam, minyak dan berbagai bahan 
tambang lainnya bukan?' 

'Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.' Mereka mulai menjawab 
serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan 
yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada 
mereka itu. 

'Di negeri, di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa 
ditanam?' 

'Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.' 

'Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.' 

'Negeri yang lama diperbudak orang lain?' 

'Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.' 

'Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkutnya ke negerinya, 
bukan?' 

'Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka 
itu.' 

'Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, 
sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?' 

'Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang 
penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.' 

'Engkau rela tetap melerat, bukan?' 

'Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.' 

'Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?' 

'Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. 
Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.' 

'Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, 
bukan?' 

'Ada, Tuhanku.' 

'Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya 
semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu 
mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, 
saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih 
suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak 
membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping 
beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku 
ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan 
menyembahku saja. 

Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini 
kembali ke neraka. Letakkan di keraknya.' 

Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang 
apa jalan yang diredhai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian 
apakah yang dikerjakannya di dunia itu salah atu benar. Tapi ia tak berani 
bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang mengiring mereka 
itu. 

"Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?" tanya Haji 
Saleh. 

"Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. 
Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau 
melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, 
sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, 
terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi 
engkau tak memperdulikan mereka sedikit pun."

-----------

Nah, nyatalah sudah, sekarang SURAU KITA sudah roboh !. selain makna telah 
runtuhnya nilai-nilai, juga SURAU KITA sudah robohnya secara fisik dan 
infrastruktur.

AA. Navis telah meramalkan fenomena pada saat ini, seperti yang telah 
diprediksi sebelumnya dalam karyanya itu, Minangkabau telah kehilangan 
identitas yang dimilikinya. "ROBOHNYA SURAU KAMI" itu bukanlah bermakna fisik 
atau rusaknya infrastruktur surau, tetapi roboh dalam makna "runtuhnya 
nilai-nilai agama serta adat" yang berkembang di tengah-tengah masyarakat 
Minangkabau, seperti yang ditulis juga oleh Chairman Djalal diatas

Surau, seperti yang telah kita ketahui dahulunya tidak saja berfungsi sebagai 
tempat ibadah, malahan juga merupakan tempat tidur dan mengumpulnya 
pemuda-pemuda yang telah "akhil baligh" karena di rumah gadang tidak tersedia 
dan atau disediakan kamar tidur untuk mereka. Dan di surau itulah bagi kaum 
pemuda selain sebagai tempat tidur juga berfungsi sebagai tempat untuk 
mendapatkan pendidikan agama, ilmu pengetahuan lainnya dan bahkan surau 
dijadikan pusat pelatihan silat (bela diri). Jadi ilmu pengetahuan dan 
ketrampilan bela diri itulah yang akan digunakan modal awal untuk pergi 
merantau.

Sekarang ???, surau hanya berfungsi sebagai ikon parawista bahwa Minangkabau 
adalah masyarakat yang "Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah" hanya 
dalam "selogan".

Wassalam,

Z. Rky Mulie
http://zulfikri. wordpress. com/

NB : Melalui millist RGM-GM ini saya mohon izin kepada Bpk Roy Noviar atau 
penulis (Chairman Djalal) Artikel "Surauku Telah Roboh" telah dimuat di 
e-Newsletter Disdik [ http://enewsletterd isdik.wordpress. com/ ]

----- Original Message ----- 
From: Roy Noviar 
To: rgm...@yahoogroups. com ; Milis SMA1Bkt ; RantauNet2 Milis ; WSTB ; IPMPP ; 
solok-selatan@ yahoogroups. com ; minangbandung@ yahoogroups. com ; MPKAS ; 
MAPPAS 
Sent: Monday, October 12, 2009 8:39 AM
Subject: [RGM_GM] SURAUKU TELAH ROBOH

RENUNGAN DARI MILLIS TETANGGA
Surauku Telah Roboh
Kita menjadi sangat sedih. Kita menitikkan air mata. Kita menjadi berduka, 
ketika melihat akibat gempa di kota Padang dan sekitarnya. Konon, ribuan orang 
masih terperangkap dalam rerentuhan bangunan. Lebih perih lagi dengan kabar 
hampir 400 orang penduduk di tiga desa Padang Pariaman yang terkubur 
hidup-hidup, ketika saat berlangsung pesta pernikahan.
Mengapa harus sedih? Mengapa harus menitikkan air mata? Mengapa harus berduka? 
Wajar kalau manusia menjadi sangat tersentuh dengan peristiwa yang secara 
visual dirasakan langsung. Dapat menyentuh seluruh esensi perasaan. Bangunan 
porak-poranda. Gedung-gedung, rumah, sekolah, rumah sakit, dan masjid-masjid 
ikut runtuh. Tangisan-tangisan orang-orang yang kehilangan.Kehilang an 
sanak-famili, harta benda, dan segalanya, yang pernah mereka miliki.
Tapi, pernahkah kita bersedih, ketika melihat Surau (masjid) yang sedikit 
jamaahnya, saat shalat tiba? Hanya orang-orang tua, yang sudah hampir uzur, 
yang pergi ke Surau, dan jumlahnya tidak sampai satu shaf. Anak-anak muda sudah 
jarang ke Surau. Mereka hanya duduk-duduk di dekat Surau, saat adzan tiba 
berkumandang. Tak tergerak hatinya untuk shalat. Padahal, Islam akan tegak bila 
para pemeluknya menegakkan shalat. Bila pemeluknya sudah tidak lagi 
melaksanakan shalat, pertanda agama itu akan roboh, dan pemeluknya akan ikut 
roboh.
Bila kita berkunjung ke Sumatera Barat, dan Sumatera, pada umumnya, keadaan 
itu, dan begitu sedikitnya orang-orang melaksanakan shalat di Surau.
Tidak ada cerita lagi, anak-anak di Sumatera Barat, yang tidur di Surau di 
malam hari, dan mengaji serta mnghafal Al-Qur'an, seperti dahulu kala. Mereka 
banyak tak lagi mengenal Kitabullah Al-Qur'anul Karim. Pemerintah daerah 
mewajibkan anak-anak belajar Al-Qur'an, karena sudah banyak anak-anak yang 
tidak lagi pandai membaca Al-Qur'an. Konon, di Sumatera Barat, ada ungkapan, 
yang memiliki akar sejarah, yaitu, 'Adad bersendi syara', dan syara' bersendi 
Kitabullah'. Masihkah, Kitabullah (Al-Qur'an) menjadi pegangan, sandaran, dan 
rujukan hidup, serta pedoman hidup terutama dikalangan masyarakat Sumatera 
Barat?
Pernahkah kita bersedih, jika anak-anak muda jauh dari agama Islam, dan tidak 
faham dengan Islam? Sekarang tak ada lagi, ulama, fuqaha, dan orang-orang yang 
'tafaqu fiddin' (mendalami agama), yang lahir dari Sumatera Barat. Generasinya 
Buya Hamka, Buya Sutan Mansyur, Buya Malik Ahmad, Buya Zas, Buya Datok Palimo 
Kayo, Isa Anshari, dan Mohammad Natsir, sudah tidak tumbuh lagi. Orang-orang 
yang terdidik, dan memiliki pemahaman Islam serta komitment memiliki terhadap 
Islam, yang baik, sudah tidak tumbuh lagi.
Sekarang, yang ada hanya kaum 'pedagang', yang menjadi generasi baru dikalangan 
masyarakat 'Minangkabau' , semangat mengumpulkan harta, itulah yang menjadi 
kecenderungan baru. Mereka semuanya sibuk dengna urusan harta dan dunia, tapi 
mereka tidak mau lagi mengenal akhirat, dan kematian. Mereka terus mengumpulkan 
harta, setiap hari dan waktu, tanpa lagi mengingat Rabbnya. Di pasar-pasar, 
toko-toko, dan perusahaan-perusaha an, yang memberikan kenikmatan kehidupan 
dunia, dan melalaikan mereka.
Pernahkah kita bersedih, ketika melihat anak-anak muda di kota Padang dan 
sekitarnya, yang wanitanya tidak lagi menutup aurat mereka? Pergaulan bebas 
melanda kehidupan mereka. Mereka yang mulai makmur, dan menikmati melimpahnya 
materi menjadi sangat bebas. Tempat-tempat wisata menjadi saksi atas berubahnya 
kehidupan mereka. Di malam minggu, pesisir kota pelabuhan Teluk Bayur, menjadi 
saksi atas bentuk-bentuk kemaksiatan, dan lupanya mereka kepada Rabbnya.
Di kota Padang , mall, plaza, hotel berbintang, serta kafe, menggantikan Surau 
bagi anak-anak muda. Di kota tempat-tempat yang menjadi kunjungan wisata, dan 
didatangi turis asing, seperti kota yang dekat dengan Danau Maninjau, tempat 
lahirnya Buya Hamka, konon sudah berani pedagang, yang memiliki rumah makan, 
menjual minuman keras (bir). Tidak takut lagi dengan syara' (hukum agama). 
Konon, kalangan masyarakat Padang, yang sudah makmur ekonominya, orang tua 
menjadi sangat 'malu', kalau anaknya masih menggunakan bahasa Minang.
Dikalangan masyarakat, diantara orang tua, banyak yang memberi nama anaknya, 
yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama (Islam) yang mereka peluk, 
misalnya mereka memberi nama anak-anak mereka diantaranya, seperti Samuel, 
David, John, Edward, Oktovianus, Henry, dan lainnya. Sepertinya, menjadi 'malu' 
atau 'takut' memberi nama dengan kata-kata yang memiliki keterkaitan dengan 
Islam. Mereka menjadi terasing dengan agama mereka.
Belakangan ini, terdapat pula, diantaranya, kalangan terdidik dari 'Minang', 
yang ikut dalam gerakan liberal, dan diantaranya telah ada, konon, yang berani 
menikahkan orang yang berbeda agama. Orang-orang ini yang disebut generasi 
'kosmopolitan' , menjadi genarasi baru dari rantau 'Minang', yang ada di 
Jakarta, dan disebut penganut faham 'pluralis', dan merasa generasi yang paling 
modern, dan berhasil meninggalkan budaya mereka, yang mereka anggap 'kolot'.
Mengapa kita hanya menangisi bangunan yang porakporanda, dan kematian yang 
menimpa penduduknya?
Mengapa kita tidak menangisi terhadap mereka yang sudah jauh dari Rabbnya, dan 
meninggalkan agamnya Islam? Mengapa kita tidak menangisi generasi yang sudah 
jauh dari agamanya Islam, dan menjadi porakporanda akhlaknya, perlilakunya 
kehidupannya, yang akan lebih menghancuarkan lagi bagi kehidupan. Tidak ada 
artinya kerusakan dan kehancuran akhlak, disbanding dengan gempa yang 
porakporandakan itu. Sebelumnya, mereka hanya disibukkan dengan urusan dunia, 
dan tidak lagi mengingatkan kematian, dan hari akhirat. Ketika datang peristwa 
yang menyentakkan kesadaran, mereka menangis, mereka tidak dapat menerima 
kenyataan. Padahal, semua kehidupan di dunia pasti akan berakhir.
Wahai manusia, hiduplah sesukamu dalam keadaan sehat, di bawah naungan 
istana-istana yang megah, dan segala keinginanmu terpenuhi, di waktu pagi dan 
petang. Tapi, "Apabila nafas sudah mulai tersengal, tinggal satu-satu di dada, 
saat itulah kamu tahu pasti, bahwa dahulu kamu tidak hanya terpedaya dengan 
kehidupan dunia".
Betapa sedihnya hati ini, melihat Surauku telah roboh. Bukan karena dahsyatnya 
hentakan gempa, tapi Suarau itu telah ditinggalkan ummatnya.
Wallahu 'alam.

Chairman Djalal

Mom Power: Discover the community of moms doing more for their families, for 
the world and for each other 

Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe . 

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com 
Version: 8.5.421 / Virus Database: 270.14.8/2423 - Release Date: 10/08/09 
18:33:00

[Non-text portions of this message have been removed]


__._,_.___
Messages in this topic (4) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 
===========================================================================
Sanak nan samo mancinto ranah Minangkabau, nan samo marindukan Minangkabau 
bangkik manjadi jaya baliak. Marilah awak susun tanago basamo, awak sinergikan 
daya dan kemampuan nan awak miliki. Ado ciek nan paralu awak kana: urang awak 
nan bisa, iyo samo bakarajo, tapi indak bisa bakarajo samo. Bisa ndak awak ubah 
fenomena ko? Awak pasti bisa. Mari sinsiangkan langan baju.

Rang Dapua Milis Grup GM
=========================================================================== 

MARKETPLACE

Mom Power: Discover the community of moms doing more for their families, for 
the world and for each other 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 



Recent Activity
Visit Your Group 



New web site?
Drive traffic now.
Get your business
on Yahoo! search.

Yahoo! Groups
Auto Enthusiast Zone
Auto Enthusiast Zone
Discover auto groups

Yahoo! Groups
Mom Power
Discover doing more
for your family
. 

__,_._,___












--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke