"Pisang Timbatu Penuh Cinta" By ; Jepe Tiada yang lebih senang jika berjumpa dengan orang kampung, orang Desa, Orang Dusun, orang Udik atau apa sajalah istilahnya. Mereka rata-rata apalagi mande-mande dan tetua jujur, lugu dan apa adanya jika susah mereka bilang susah jika senang mereka bilang senang jika ditimpa musibah perlu bantuan mereka bilang
Keadaan yang memaksa mereka sedikit minta perhatian dalam msibah yang teramat pahit bagi kehidupan mereka di kampung yang terkadang perekonomian mereka pas pasan ibaratnya mencari penghasilan sehari hari habis untuk belanja di hari pekan dan habis pada pekan berikutnya Wajar saja ketika jika pemimpin mereka datang dalam keadaan normal meminta dukungan suara maka sangat keterlaluan jika pemimpin ini telah duduk di kursi empuk pemerintahan dan legislatif tidak menampakan batang. Hidungnya kedaerah bencana dimana dulu masyarakat mendukungnya dan sangat wajar juga disamping mereka ingin bertemu dengan pimpinan mereka untuk berbagi rasa sedih dan duka ditimpa musibah juga berharap ulran tangan bantuan secara materi Kadang kadang bukan materi saja yang mereka harapkan dari pemimpin mereka tapi juga sebuah ikatan emosional dalam kondisi apapun jangan seperti "habis manis sepah dibuang" ketika berharap suara rakyat para elit turun bak pahlawan yang ingin membela nasib rakyat. dengan beribu-ribu janji yang kadang-kadang tidak realistis. Disaat bencana ini disinilah kelihatan siapa pemimpin rakyat yang sejati yang mau turun lansuang bersusah payah ke daerah bencana berbagi rasa dan materi dengan rakyat yang sedang dirundung duka yang dalam Saya bukan siapa siapa hanya orang biasa yang sedikit disela kesibukan bekerja agar periuk nasi saya berasap punya waktu untuk turut berbagi rasa, materi dan tenaga buat masyarakat ranah minang kampung halaman saya yyang saat ini terkoyak akibat bencana gempa. Berjumpa dengan orang kampung itu bagi saya selalu "mengasyikan" banyak cerita tentang hidup, banyak cerita tentang sebuah kearifan, banyak cerita tentang hidup dalam kesederhanaan, banyak cerita tentang hidup bagaimana berhemat, banyak cerita tentang cinta yang tulus dan apa adanya dan banyak lagi sejuta cerita yang kadang kadang kita bisa merenung akan siapa diri kita Seperti ketika saya ke kampung Koto Rajo kanagarian Sunua begit menyenangkan sambutan hangat tanpa basa basi, tulus, ikhlas dan apa adanya dan saya harus bisa menenggang perasaan mereka jika tidak ada kursi sofa yang bagus untuk duduk berselonjor duduk dilantai sambil sambil menghirup kopi panas dan bergabung dengan mereka membagi bagi sembako dalam kantong plastik dengan suasana yang riuh rendah seperti sebuah alunan orkes "kampungan" tanpa nada tapi selalu indah sampai ditelinga ciloteh mereka Ketika kita pamit tanpa basa basi dan rikuh menawarkan oleh oleh pada saya pisang timbatu (kepok) ya itu yang ada pada mereka ini bukan pejabat tinggi yang datang memeriksa ke kantor kantor lalu para petinggi kantor yang kena periksa sibuk mencarikan oleh2 buat pejabat yang datang mulai dari perlengkapan pribadi yang mewah seperti sepasang pulpen Mont Blanc sampai sepat kulit buatan Itali yang branded misalnyya itu masih kurang perlu ditambah segepok amplop berisi uang yang katanya "sekedar oleh oleh Pak/Buk" Pisang timbatu ini adalah oleh oleh yang tulus dan penuh cinta buat saya dari orang kampung pantang bagi saya menoloknya hanya satu kalimat saja "Naikan Mak keatas bak mobil saya" Maka dua tandan pisang timbatu yang baru ditebang mendarat di bak mobil saya lalu dengan lugu mereka bermohon "Bakodak lah kito dulu jo pisang nan buyang baok ko yo" Siapa takut ayo berkumpul dibelakang mobil saya kita berkodak ria pasang senyum manis lupakan dulu kesedihan semoga duka ini cepat berlalu Ohhh bahagianya saya dan orang kampun. Pisang batu itu saya larikan dari jorong koto rajo Sunua berpuluh puluh kilometer akhirnya berlabuh di dapur saya setiap sisir yang masak bisa saya goreng, rebus kalau rajin sedkit bisa dibuat panganan khas rananh minang seperti godok pisang atau lapek pisang Terima kasih pisang timbatu penuh cinta dari orang kampung sahabat saya Suryadi yang sedang prihatin dan sedih di Leiden Belanda sana karena kampung tempat dia lahir cukup prihatin kerusakan rumah-rumah saudara dia yang "saparuik" Suatu saat sanak Suryadi ada janji kita belum terlaksana yaitu kekampung sanak kita berdua untuk melihat sungai tempat sanak mandi mandi dan hampir mencelakan milik yang sangat pribadi di diri sanak seperti yang pernah sanak ceritakan pada saya Pengobat rindu lihatlah foto timbatu penuh cinta dan kecerian orang kampung sanak menerima sekedar sumbangan sembako dari saya dan kawan-kawan alumni sekolah saya sumabngan tanpa maksud dan tanpa ada kepentingan hanya sekedar berbagi rasa disaat duka Pekanbaru, 13 Oktober 2009 Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
