Benar sekali IJP, dalam hidup saya inilah pertama kali saya masuk begitu dalam 
ke daerah Malalak Barat sampai perbatasan Agam dan Pariaman Paginya sekitar jam 
6 mobil kami bergerak menuju Malalak wah betapa indahnya nagari ini yang berada 
di ketinggian dengam dua gunung berdiri gagah dari sudut manapun gunung 
singgalang dan Tandikek ini di pandang  selalu menghadirkan keindahan yang tak 
terperikan he he terlalu "meninggi" ya gaya bercerita saya

Tanah yang subur kaya unsur hara dan mineral lapisan top soil yang tebal 
tentunya memberikan kehidupan yang lebih bagi masyarakat yang agraris. 
Kehidupan itu bermula didasar lembah yang mengalir air yang bersih dan benih 
penuh bebatuan lal dilereng bukit dengan sawah bertingkat tingkat serta ladang 
kayu manis tumbuh subur dengan pucuknya kemerahan sampai kepuncak bukit 

Ya kalau orang pesisir bilang
"Takuik dilamun ombak jaan barumah di tapi pantai"

Tapi bagi orang pegunungan seperti malalak tentu menjadi
"Takuik dilamun lonsor jaan barumah dilereang bukik" mungkin begitu

Sekarang menjadi kenyataan ketika gempa datang tanah-tanah dilereng  bukit itu 
lonsor terkulapas dan terkoyak menghajar sawah ladang masyarakat

Masyarakat bercerita pada saya kalau kehidupan mereka sebagai petani cukup 
sejahtera kala tidak dibilang miskin karena hasil pertanian mereka seperti padi 
berlimpah begit juga dengan kulit manis ditambah lagi sekarang mereka 
mengembangkan coklat

Jika tidak terjadi gempa yang membuat bumi malalak terkelupas jalan alternatif 
yang dibangn sekarang tentunya juga sebagai akses parawisata untuk melihat 
segala keindahan alam malalak pagi wisatawan ini tak ubahnya seperti 
pemandangan jalan dari Padang Luar menuju Maninjau

Kita sebagai anak anak yang ber "DNA" murni suku Minang walau jauh dari rantau 
tetap mencintai tanah tumpah darah kita tanah tumpah darah ibu dan ninik ninik 
kita dengan semangat inilah kita akan selalu mencintai ranah minang dalam 
kondisi apapun seperti saat sekarang ranah minang sedang terkoyak dan membuat 
kita sedih pilu dan menitikan air mata

Semoga sanak sanak kita yang tengah berduka ini cepat pulih dan kita dorong 
agar semangat mereka terus menyala menatap hari depan yang lebih baik lagi. 
Silahlan kita "mendorong" dalam bentuk apapun apakah tenaga, bantuan materi 
bahkan hanya bisa menyaksikan televisi lalu tertegun dan sedih secara reflek 
memanjatkan doa dengan khusuk pada Ilahi ini sudah lebih dari cukup 

Wass_Jepe
PLN off di pojok kursi tamu leyeh leyeh alias mangalai ngalai
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Indra J Piliang" <[email protected]>
Date: Tue, 13 Oct 2009 14:15:18 
To: RantauNet<[email protected]>; 
Kahmi<[email protected]>; Koran 
Digital<[email protected]>; 
FPK<[email protected]>; IASCF<[email protected]>; 
LISI<[email protected]>; Forahmi<[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Hari ke-14


"Kondisi di Ulu Banda Malalak bukan hanya rumah yg rusak, tapi juga lahan 
pertanian masyarakat juga rusak, karena lahan pertanian (sawah, Kebun kakau) yg 
mayoritas di kaki2 bukit, kena tanah longsor, oleh karena itu beberapa bulan 
kedepan sebagian warga masih akn kesulitan pangan..." Itu bunyi sms asisten 
khusus sy, Romi Fernando, malam ini, pukul 20.26. 

Sy sudah menduganya, berdasarkan laporan Jupardi JP dan uda Indra Catri yg 
sudah ke sana, beserta alumni SMA I Bukittinggi. 

Malalak terletak di lembah dingin Gunung Tandikat dan Gunung Singgalang. Konon, 
daerah itu "berisi". Harimau dan babi jadi2an masih menjadi cerita harian. 
Dulu, ketika mblku kesana pada mlm hari, kami menemukan iring2an babi melintas 
di jalan. Kami juga temukan org2 yg sedang menaikkan kayu ke truk2. Ketika 
Kapalo Mudo, tim IJP 09 Center, yg asli Malalak menegurnya: "Anda kami 
tangkap!", yg muncul malah wajah seorg polisi yg sedang "mencari makan malam". 
Kapalo Mudo berpenampilan zaman Siti Nurbaya: pakai kain sarung, kopiah yg 
miring, tubuh yg liat dan hitam, serta memiliki byk cerita dan pepatah2 Minang 
kelas tinggi. Di mbl, dia bisa bercerita selama 2 jam, atau berdendang indang. 
Betul2 org lama. Dia akan risau kalau blm makan. Pikirannya hanya bgmn makan 
enak. Kalau sudah makan, "Tujuh gunung akan aku daki, Ketua!" Itu katanya 
padaku. Entah mengapa, sampai kini dia masih memanggilku "Ketua." Dia adalah 
anggota timku yg paling bangga bergabung dgn tim IJP 09 yg memang terdiri dari 
org2 unik dan udik. Aku jg bangga kpdnya. Ketika posko cabangku dibuka di Parit 
Malintang, dia naik mtr usangnya pulang pergi 4 jam lebih bersama istrinya. 
"Mertua Ketua mau ketemu," katanya. Mintuo atau mertua adalah sebutan 
kehormatan atas persaudaraan di lapangan. Jangan heran, kalau aku jumpa dgn 
banyak mertua dan paman di lapangan, sekalipun tdk pernah jumpa pengantin 
wanitanya. 

Dulu, 4 kali aku ke Malalak. Menghadiri pengajian, meletakkan batu pertama 
pendirian koperasi desa (sampai kini masih ada), memberikan hadiah pertandingan 
bola volley dan menghadiri semacam malam hiburan para pemuda. Menurut cerita JP 
dan Uda Indra Catri di milis rantau.net, mrk masih ingat semua perjalananku 
kesana dan titip salam.  

Ada dua hal lagi yg mrk minta utk jadi perhatianku: area wisata alam di sana yg 
belum ada fasilitasn dgn air terjun yg tinggi, jernih dan alami. Kedua, 
lapangan sepakbola yg sudah ada lahannya, tinggal disingkirkan kayu2 hutan yg 
ada di sana dgn alat2 berat. Aku blm sempat perhatikan kedua hal itu. Tapi 
mudah2an bisa dijalankan dlm thn2 mendatang. Malalak adalah ranah indah yg 
membuat siapapun akan lupa pada apapun persoalan2 dunia. Malalak adalah sorga 
kecil yg terletak di ketinggian. Tepian Samudera Hindia bisa dilihat dari 
pucuk2 pohon kelapa di sana, jauh dan menakjubkan. 

Krn urusan keluarga di Jkt, aku tdk sempat ke sana hari ini. Tapi timku kesana: 
Romi anak 50 Kota-Payakumbuh, Taufik anak Pasaman Barat dan Hadi Suwarman, 
kakak iparku yg menyetir mobilku. Pagi mrk ke Bukittinggi, membeli selimut yg 
mahal harganya, seharga Rp. 2 Juta lbih. Biscuit, pempers, pembalut wanita dan 
pakaian baru juga dibawa dari posko IJP 09. Utk mencari jln masuk, mobil tim 
sempat berputar2. Jln tembus dari Tandikek, Patamuan, putus. Jln lain berisi 
sebuah mobil yg kandas. Jln2 ke sana memang rengkah dan kena longsor. Jurang2 
dlm juga siap menelan mbl2 itu kalau slip. Mbl sempat slip, kata Hadi, tp bisa 
dikendalikan. 

Kesanalah perjalanan tim hari ini. Pulang dari sana, belanja beras, cabe, ikan 
kering, wortel, bawang, dan kebutuhan dapur lainnya di Padang Panjang dan 
Padang Luar. Ayah Ketek -- Ayah Kecil-- ku ikut membantu proses belanja itu. 
Adik tiri ayahku itu memang jadi petani tanaman organik di lereng Merapi. Walau 
kebunnya blm panen, dia kenal dgn byk petani lainnya. 

Malalak terletak di Kabupaten Agam yg berbatasan langsung dgn Padang Pariaman. 
Dua kultur menyatu disana: kultur pesisiran Pariaman yg terbuka dan mungkin 
dianggap kasar, dan kultur daratan yg filosofis dan berbudaya tinggi. Krn ayah 
adalah org Aie Angek, Tanah Datar, sejak kecil aku sudah paham kedua kultur 
itu. Konon, org Malalak juga pernah minta bergabung dgn Padang Pariaman. Tapi 
itu terlalu pelik dan politis. 

Tim lain di Lubuk Buaya istirahat. Kmrn gagal mendapatkan 30 tenda. Seharusnya 
mrk bergerak ke Kec 2 x 11 Enam Lingkung, tapi uni Siti Izzati Azis yg akan 
menemani ikut rapat-rapat maraton di DPRD Sumbar. Suaminya yg datang dan 
membawa 80 paket beras, cabe, ikan kering, dllnya, utk 2 x 11 Enam Lingkung. 

Besok, tim ini mungkin akan "istirahat" di posko, dlm arti membongkar karung2 
beras, karung2 cabe, lalu memilihanya ke dalam kantong2 plastik hitam. Mrk tdk 
pernah benar2 istirahat. Mudah2an mrk tetap bersemangat: Romi, Sahrul, Revi, 
Hadi, Taufik, Ismed, Yunas, dan bbrp yg lainnya. Mrk biasa membuka baju ketika 
bekerja di posko. Badan2 yg mengkilat kena keringat. Tangan2 lelaki yg harus 
bergelut dgn pekerjaan yg jarang mereka lakukan: menggantang isi dapur.. 

Sy memantau dari sudut Jkt ini, sambil menulis atau membaca buku. 

Jakarta, 13 Oktober 2009, 21.15. 

NB: Hari ini ada bbrp sumbangan masuk. Dari TW seorg jurnalis, dari HN yg seorh 
surveyor, dan yg aku lupa namanya, kmrn sms. Terima kasih, Saudara.. 
"Beranilah beda, beranilah benar, beranilah pulang! Maka, demokrasi akan sehat, 
oligarki akan punah, hubungan batin akan sumringah..."


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke