Ass Wr wb... Bapak2/Ibu, dunsanak sapalanta YTH
Seperti nan tabaco, kutipan pandapek ambo ttg Pak GF di padang-today.com tu adalah hasil pertanyaan wartawannyo hanyo untuak mengafirmasi pendapat Pak Arbi Sanit sebelumnyo di okezone.com ttg arah pendulum politik Pak Gubernur akhir2 ko, sebagai calon menteri KIB Jilid Dua. Tarnyato topik utamanyo lah jadi diskusi di lapau nan ko, dalam perspektif nan cukuik baragam, suatu kelebihan di palanta awak. Khusus kutipan dari di padang-today tsb, tantu selektif, sahinggo ado nan tatingga, yakni pernyataan untuk "Tetap menghormati hak prerogatif Presiden SBY dan kewajiban publik Indonesia menunggu pembuktian dari "kontrak kinerja" dari calon2 menteri tsb nantik". Wassalam dan mohon maaf sabalumnyo.. Israr Iskandar, 36 Padang. --- On Tue, 10/20/09, Indra J Piliang <[email protected]> wrote: From: Indra J Piliang <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Tentang Gamawan dan Patrialis Akbar To: "RantauNet" <[email protected]>, "Forahmi" <[email protected]> Date: Tuesday, October 20, 2009, 4:45 AM Sembari menunggu ba'da Isya dan tahlilan 3 hari Ibunda kami, Hj Syamsiah alm, sy ingin nimbrung. Ada byk fase dlm kehidupan manusia. Salah satu yg terumit adalah fase politik. Vaclav Havel, Presiden Cekoslovakia dan Presiden Ceko, hanyalah penulis naskah2 pementasan teater. Ketika menjadi presiden, ia mampu, paling tdk mencegah pertumpahan darah ketika Cekoslovakia menjadi 2 negara: Ceko dan Slovakia. Politik itu kotor, puisi yg membersihkannya, itu ucapan terkenalnya. Para menteri keuangan di Eropa tdk semuanya berlatar belakang ekonom, tetapi bisa menjadi menteri keuangan yg baik. Anwar Ibrahim juga sama, berlatar sastra, namun bisa menjadi menkeu yg luar biasa. Ia jatuh bukan krn jabatan, tapi krn politik. Syafruddin Prawiranegara hanya seorg dokter, tapi bisa menjadi Gubernur Bank Indonesia yg legendaris. Atau Emil Salim, lulusan universitas terbaik di bidang ekonomi, tapi lbh dikenal sbg ahli lingkungan hidup. Bisakah GF atau PA menjadi mentri yg baik? Bisa. Sangat bisa. "Indonesia bisa," bukankah itu slogan SBY ketika pidato di MPR RI? Caranya, tanya kpd mrk. Bolehkah pengamat atau org skeptis atau mengkritik? Boleh. Wajib, malah. Menteri jabatan politik dan publik, publik tdk boleh diam saja. Rugi besar bagi publik, bila tdk ada yg mengritik. "Matinya tukang kritik!" Telah jadi naskah drama Agus Noor. Jangan GF atau PA jadi naskah mati pula. Apakah jabatan mrk bisa dikaitkan dgn etnisitas? Bisa jadi. Ini kan kabinet Indonesia, politik Indonesia, semua unsur dipenuhi oleh sang empunya kuasa. Dijelaskan, koq, sejak dini. Tapi hanya krn etnis itu kita jadi buta, itu yg kliru. Kliru pikir, kliru rasa. Minang bukan entitas kerajaan kuno dlm zaman BPUPKI, tapi ada dlm zaman demokrasi moderen. Jadi, silakan Lanjutkan, semua kritik, semua dukungan, semua perbenturan pikiran. Pikiran itu baik, berhenti berpikir yg kurang baik. Ijp "Beranilah beda, beranilah benar, beranilah pulang! Maka, demokrasi akan sehat, oligarki akan punah, hubungan batin akan sumringah..." --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
