http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/22/00555244/gamawan.fauzi.dulu.bupati.solok.kini.mendagri.
 
Kamis, 22 Oktober 2009 | 00:55 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com  - Bupati Solok dua periode  tahun 1995-2000 dan 2005-2010, 
Gamawan Fauzi  SH, MM  yang kemudian  naik "pangkat" menjadi Gubernur Sumatra 
Barat  2005-2010, akhirnya  bisa meraih cita-cita atau ambisi yang biasa 
dimiliki seorang  pamong praja yakni menjadi Menteri Dalam Negeri masa bakti 
2009-2014.

"Saudara Gamawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri ," kata Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono di Istana Negara, Selasa malam ketika mengumumkan susunan Kabinet 
Indonesia Bersatu (KIB) ke-2.

Keputusan Kepala Negara itu ternyata tidak meleset dari pernyataan Gamawan 
Fauzi kepada para wartawan  usai menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Puri 
Cikeas, Bogor  yang dilakukan Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.

"Saya diminta membantu di bidang pemerintahan," kata Gamawan yang lahir 9 
November tahun 1957 di Sumatera Barat. Ketika lulusan Fakultas Hukum 
Universitas Andalas, Padang ini melontarkan  ucapannya itu, maka  para wartawan 
yang berkumpul di rumah Yudhoyono  itu langsung sudah mengambil kesimpulan 
bahwa  suami  Vita Nova itu bakal menjadi menteri dalam negeri menggantikan 
posisi Mardiyanto, yang sebelum masuk ke gedung Depdagri  juga merupakan 
seorang  gubernur.

Gubernur Sumbar masa bakti 2005-2010 tersebut  mengawali  kariernya dari staf 
biasa di Kantor Direktorat Sosial Politik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, 
juga pernah menjadi sekretaris gubernur di ranah Minang tersebut, kemudian 
menjadi Kepala Biro Humas  Pemprov Sumbar.

Dia bahkan meraih  penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption  Award tahun 2004, 
karena selama menjadi pejabat ia berhasil menunjukkan kejujuran dan 
kebersihannya  di tengah-tengah " gelombang korupsi" yang selama ini dianggap 
terbiasa dilakukan para pegawai negeri sipil.

Setelah menjadi pimpinan tertinggi Departemen Dalam Negeri, maka Gamawan 
memiliki setumpuk  tugas selama lima mendatang di bidang pemerintahan  yang 
sangat berat dan mulai   bagaimana menyusun rencana induk (grand design) 
otonomi daerah hingga bagaimana mewujudkan aparatur pemerintahan yang bersih 
korupsi, karena  sampai  sekarang saja masih banyak warga yang mengeluhkan 
pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) yang diwarnai pungutan  liar hingga 
meminta dokumen izin mendirikan bangunan atau IMB.

Naiknya pejabat sipil ini ke puncak pimpinan Depdagri ini patut disambut 
gembira terutama oleh para pamong, karena pada masa lalu posisi Mendagri selalu 
diisi oleh para jenderal atau purnawirawan ABRI, yang sekarang telah  berubah 
menjadi TNI, terutama TNI-Angkatan Darat.

Sampai sekarang jika orang membayangkan posisi Mendagri, maka yang ada adalah 
pejabat itu sedang atau pernah memiliki " bintang emas " di bahunya.  Orang 
pasti tidak akan pernah melupakan nama-nama para jenderal seperti Amir Mahmud, 
Yogie SM, Syarwan Hamid, Hari Sabarno, Muhammad Ma’ruf hingga Mardiyanto.

Saatnya sipil memimpin

Dengan naiknya Gamawan Fauzi yang memiiki  tiga anak, yakni Idola Prima Gita,  
Gina Dwi Fachria, dan  Gian Gufran, maka tiba waktunya bagi para pamong sipil 
untuk menunjukkan bahwa kemampuan mereka sama sekali tidak kalah dengan para 
perwira tinggi ataupun purnawirawan TNI.

Munculnya  pejabat tertinggi berlatar belakang sipil di Depdagri ini 
diperkirakan tidak bisa lepas dari perubahan yang terjadi secara mendasar 
selama beberapa tahun terakhir ini .

Dahulu posisi gubernur --terutama  di provinsi-provinsi penting  seperti di 
pulau Jawa, selalu diisi oleh para perwira tinggi. Para pemilik bintang emas 
yang pernah memimpin Pemda DKI Jakarta antara lain adalah  Ali Sadikin, 
Tjokropranolo, Suprapto, Surjadi Soedirdja. Kemudian di Jawa Barat , para 
gubernur dengan latar belakang "tangsi" antara lain adalah Solihin GP dan Aang 
Kunaefi .

Kemudian di Jawa Tengah , gubernurnya antara lain Ismail, serta Mardiyanto. Di 
Jawa Timur ada nama Basofi Sudirman serta Imam Utomo. Di NTT, ada nama Ben 
Mboi, di Kalimantan Barat muncul nama  Kadarusno, serta Gatot Suherman di Nusa 
Tenggara Barat.

Namun sejak reformasi bergaung di tanah air tahun 1998 , peranan para jenderal 
atau purnawirawan  mulai surut, karena peranan dominan mereka mulai digantikan 
oleh orang--orang sipil,  baik yang berlatar belakang pamong praja seperti 
Gamawan Fauzi serta Fauzi Bowo  hingga politisi dari partai politik hingga para 
pengusaha.

Saat ini hanya tinggal beberapa orang gubernur yang berlatar belakang  militer, 
antara lain Bibit Waluyo di Jawa Tengah  serta Abraham Atururi di Papua Barat .

Karena perubahan situasi itulah, maka salah satu pertimbangan Yudhoyono dan 
Boediono mengangkat  Gamawan Fauzi adalah melanjutkan program "sipilisasi" itu 
di jajaran pemerintahan dalam negeri, apalagi mayoritas jajaran eselon satu 
kementerian yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Utara itu seperti  Sekjen, 
Dirjen sudah diisi oleh kalangan sipil pula.

Salah satu  tugas berat Mendagri selama lima tahun mendatang adalah bagaimana 
menyusun pola pendirian daerah otonomi daerah atau DOB mulai dari provinsi, 
kota hingga kabupaten. Sampai sekarang belum ada kebijakan yang jelas dan pasti 
di Depdagri tentang  berapa idealnya jumlah provinsi, kota, dan  kabupaten di 
tanah air.

Ketidakjelasan ini juga ditambah lagi oleh posisi DPR yang berhak mengajukan 
RUU pembentukan daerah-daerah otonomi baru itu. Ketiadaan pola atau "grand 
design"  pemekaran itu pernah mengakibatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani 
Indrawati dalam satu kesempatan di Jakarta untuk mengusulkan agar dilakukan 
merger atau akuisisi terhadap daerah-daerah baru oleh " daerah induknya" yang 
ternyata tidak bisa menghasilkan apa pun juga, bahkan hanya menghabiskan  uang 
miliaran rupiah.

"Kalau perlu dilakukan merger atau akuisisi," kata Sri Mulyani ketika berbicara 
di depan sebuah forum  yang dihadiri Mendagri Mardiyanto serta para pejabat 
teras Depdagri saat membicarakan penyusunan  " grand design" pemekaran.

Setumpuk pekerjaan telah sampai di depan mata Gamawan Fauzi, dan kini tibalah 
saatnya bagi para pamong yang menjadi  pimpinan Depdagri bahwa mereka memang 
sudah pantas menggantikan peranan para jenderal  di departemen kunci ini.  

=============>
Sebagai Urang Solok, kito bangga, semoga beliau dapek manjalankan amanah 
tersebut sampai tuntas di tahun 2014 tanpa kena Reshuffle. Amin.....

Wassalam,
HM Dt.MB (52+)
http://mulyadisulita.wordpress.com
http://www.sulita.net
 



      

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke