Kitab Negara Kertagama (Terjemahan)

Oleh :  I Made Yanuarta 

"Om awignam astu namas sidam"

Sembah puji dari hamba yang hina ini ke bawah telapak kaki sang
pelindung jagat. Raja yang senantiasa tenang tenggelam dalam samadi,
raja segala raja, pelindung orang miskin, mengatur segala isi negara.
Sang dewa-raja, lebih diagungkan dari yang segala manusia, dewa yang
tampak di atas tanah. Merata, serta mengatasi segala rakyatnya, nirguna
bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagi
Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di dalam cinta berahi.
Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.

Demikianlah pujian pujangga sebelum menggubah sejarah raja, kepada Sri
Nata Rajasa Nagara, raja Wilwatikta yang sedang memegang tampuk tahta.
Bagai titisan Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua. Tunduk setia
segenap bumi Jawa bahkan seluruh nusantara. Pada tahun 1256 Saka, beliau
lahir untuk jadi pemimpin dunia. Selama dalam kandungan di Kahuripan
telah tampak tanda keluhuran. Bumi gonjang-ganjing, asap
mengepul-ngepul, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung
Kelud gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari negara. Itulah
tanda bahwa Sanghyang Siwa sedang menjelma bagai raja besar. Terbukti,
selama bertakhta seluruh tanah Jawa tunduk menadah perintahnya. Wipra,
satria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian. Durjana
berhenti berbuat jahat takut akan keberanian Sri Nata. Sang Sri
Padukapatni yang ternama adalah nenek Sri Paduka. Seperti titisan Parama
Bagawati memayungi jagat raya. Selaku wikuni tua tekun berlatih yoga
menyembah Buda. Tahun 1272 kembali beliau ke Budaloka. Ketika Sri
Padukapatni pulang ke Jinapada dunia berkabung. Kembali gembira
bersembah bakti semenjak Sri Paduka mendaki takhta. Girang ibunda Tri
Buwana Wijaya Tungga Dewi mengemban takhta bagai rani di Jiwana resmi
mewakili Sri Narendraputra.

Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Padukapatni. Setia mengikuti
ajaran Buda, menyekar yang telah mangkat. Ayahanda Sri Paduka Prabu
ialah Prabu Kerta Wardana. Keduanya teguh beriman Buda demi perdamaian
praja. Paduka Prabu Kerta Wardana bersemayam di Singasari. Bagai
Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama. Teguh tawakal memajukan
kemakmuran rakyat dan negara. Mahir mengemudikan perdata bijak dalam
segala kerja. Putri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan. Bertakhta di
Daha, cantik tak bertara, bersandar enam guna. Adalah bibi Sri Paduka,
adik maharani di Jiwana. Rani Daha dan rani Jiwana bagai bidadari
kembar.

Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker. Rupawan bagai
titisan Upendra, mashur bagai sarjana. Setara raja Singasari, sama teguh
di dalam agama. Sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.
Adinda Sri Paduka Prabu di Wilwatikta : Putri jelita bersemayam di
Lasem. Putri jelita Daha cantik ternama. Indudewi putri Wijayarajasa.
Dan lagi putri bungsu Kerta Wardana. Bertakhta di Pajang, cantik tidak
bertara. Putri Sri Baginda Jiwana yang mashur. Terkenal sebagai adinda
Sri Paduka. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki
tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasa Wardana
sangat bagus lagi putus dalam daya raja dan rani terpuji laksana Asmara
dengan Pinggala. Sri Singa Wardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan
perwira bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang. Mulia
pernikahannya laksana Sanatkumara dan dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta
sesama, membuat puas rakyat. Bre Lasem menurunkan putri jelita
Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri Pangeran Wirabumi. Rani
Pajang menurunkan Bre Mataram Sri Wikrama Wardana bagaikan titisan Hyang
Kumara, wakil utama Sri Narendra.

Putri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk
Surawardani masih muda indah laksana lukisan. Para raja pulau Jawa
masing-masing mempunyai negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama
menghamba Srinata. Melambung kidung merdu pujian Sang Prabu, beliau
membunuh musuh-musuh. Bak matahari menghembus kabut, menghimpun negara
di dalam kuasa. Girang janma utama bagai bunga kalpika, musnah durjana
bagai kumuda. Dari semua desa di wilayah negara pajak mengalir bagai
air. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi.
Menghukum penjahat bagai dewa Yama, menimbun harta bagaikan Waruna. Para
telik masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu. Menjaga
pura sebagai dewi Pretiwi, rupanya bagus seperti bulan. Seolah-olah Sang
Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura. Semua para putri dan
isteri sibiran dahi Sri Ratih. Namun sang permaisuri, keturunan
Wijayarajasa, tetap paling cantik paling jelita bagaikan Susumna, memang
pantas jadi imbangan Sri Paduka.

Berputralah beliau putri mahkota Kusuma Wardani, sangat cantik rupawan
jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan. Sang menantu Sri
Wikrama Wardana memegang hakim perdata seluruh negara. Sebagai dewa-dewi
mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang. Tersebut keajaiban kota :
tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama
Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon
brahmastana berkaki bodi berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam.
Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban.
Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir.
Di sebelah timur : panggung luhur, lantainya berlapis batu putih-putih
mengkilat. Di bagian utara, di selatan pekan rumah berjejal jauh
memanjang sangat indah.

Di selatan jalan perempat : balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.
Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang
watangan. Yang meluas ke empat arah, bagian utara paseban pujangga dan
Mahamantri Agung. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buda yang bertugas
membahas upacara. Pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan
seluruh dunia. Di sebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari
kuil Siwa. Di selatan tempat tinggal wipra utama tinggi bertingkat
menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat, di utara
tempat Buda bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir, berhamburan bunga
waktu raja turun berkorban. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat
dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke
barat, disela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya:
panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat di tengah-tengah halaman
bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau. Di dalam di selatan ada
lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua.

Dibuat bertingkat tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu
sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada
tercela. Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil
bertukar tutur. Inilah para penghadap : pengalasan Ngaran, jumlahnya tak
terbilang, Nyu Gading Jenggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa
upama. Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang, Jayagung
dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan dan banyak lagi. Begini
keindahan lapangan watangan luas bagaikan tak berbatas. Mahamantri
Agung, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka.
Bayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua. Di
sebelah utara pintu istana di selatan satria dan pujangga. Di bagian
barat : beberapa balai memanjang sampai mercudesa.

Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga. Di bagian
selatan agak jauh: beberapa ruang, mandapa dan balai. Tempat tinggal
abdi Sri Baginda Paguhan bertugas menghadap. Masuk pintu kedua,
terbentang halaman istana berseri-seri. Rata dan luas dengan rumah indah
berisi kursi-kursi berhias. Di sebelah timur menjulang rumah tinggi
berhias lambang kerajaan itulah balai tempat terima tatamu Srinata di
Wilwatikta. Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana :
Wredamentri, tanda Mahamantri Agung, pasangguhan dengan pengiring Sang
Panca Wilwatikta : mapatih, demung, kanuruhan, rangga. Tumenggung lima
priyayi agung yang akrab dengan istana. Semua patih, demung negara
bawahan dan pengalasan.

Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh. Jika datang
berkumpul di kepatihan seluruh negara lima Mahamantri Agung, utama yang
mengawal urusan negara. Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika
menghadap berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana. Begitu juga
dua darmadyaksa dan tujuh pembantunya. Bergelar arya, tangkas
tingkahnya, pantas menjadi teladan. Itulah penghadap balai witana,
tempat takhta yang terhias serba bergas. Pantangan masuk ke dalam istana
timur agak jauh dan pintu pertama. Ke Istana Selatan, tempat Singa
Wardana, permaisuri, putra dan putrinya. Ke Istana Utara. tempat Kerta
Wardana. Ketiganya bagai kahyangan semua rumah bertiang kuat, berukir
indah, dibuat berwarna-warni Cakinya dari batu merah pating berunjul,
bergambar aneka lukisan. Genting atapnya bersemarak serba meresapkan
pandang menarik perhatian. Bunga tanjung kesara, campaka dan
lain-lainnya terpencar di halaman. Teratur rapi semua perumahan
sepanjang tepi benteng. Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang
Brahmaraja. Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka. Barat
tempat para arya Mahamantri Agung dan sanak-kadang adiraja.

Di timur tersekat lapangan menjulang istana ajaib. Raja Wengker dan rani
Daha penaka Indra dan Dewi Saci. Berdekatan dengan istana raja Matahun
dan rani Lasem. Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta. Di sebelah
utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi. Di situ menetap patih Daha,
adinda Sri Paduka di Wengker. Batara Narpati, termashur sebagai tulang
punggung praja. Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan
bijak. Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada.
Mahamantri Agung wira, bijaksana, setia bakti kepada negara. Fasih
bicara, teguh tangkas, tenang, tegas, cerdik lagi jujur. Tangan kanan
maharaja sebagai penggerak roda negara. Sebelah selatan puri, gedung
kejaksaan tinggi bagus. Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat
Buda. Terlangkahi rumah para Mahamantri Agung, para arya dan satria.
Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura. Semua rumah
memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang. Menandingi bulan dan
matahari, indah tanpa upama. Negara-negara di nusantara dengan Daha
bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta.

Kemudian akan diperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu Melayu:
Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya. Pun ikut juga disebut Daerah
Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru
serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang Lawas dengan
Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama
negara-negara Melayu yang telah tunduk. Negara-negara di pulau
Tanjungnegara : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin,
Sambas, Lawai ikut tersebut. Kadandangan, Landa, Samadang dan Tirem tak
terlupakan. Sedu, Barune, Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir Barito,
Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting
di pulau Tanjungpura.

Di Hujung Medini, Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka,
Saimwang, Kelantan serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik,
Kelang serta Kedah Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun. Di
sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting
Badahulu dan Lo Gajah. Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo
Sang Hyang Api, Bima. Seram, Hutan Kendali sekaligus. Pulau Gurun, yang
juga biasa disebut Lombok Merah. Dengan daerah makmur Sasak diperintah
seluruhnya. Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk. Sampai
Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk. Tersebut pula pulau-pulau
Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot,
Muar. Lagi pula Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor
dan beberapa lagi pulau-pulau lain. Berikutnya inilah nama negara asing
yang mempunyai hubungan Siam dengan Ayodyapura, begitu pun Darmanagari
Marutma. Rajapura begitu juga Singasagari Campa, Kamboja dan Yawana
ialah negara sahabat.

Selanjutnya...... 

Silahkan klik : 


Sumber : http://religi.wordpress.com/2007/03/16/
<http://religi.wordpress.com/2007/03/16/>  


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke