________________________________

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of chatam mania
Sent: Friday, October 23, 2009 11:58 AM



Kisah Seekor Cacing dan Presiden

Menguak sisi-sisi humanisme seorang Sukarno, sungguh bagai butir-butir
pasir di pesisir. Teramat banyak. Kalau saja kita pandai memilah dan
memungut, niscaya butir-butir tadi bisa menjadi lentera berharga.
Termasuk terhadap satu kisah yang dituturkan oleh orang dekatnya, Mangil
di bawah ini.

Alkisah, di suatu pagi nan cerah, udara Kota Yogya begitu menyegarkan.
Langit Kota Yogya biru-kehijauan. Bung Karno dan keluarga, sudah
sementara waktu hidup dalam pengungsian di Gedung Agung (Istana
Yogyakarta). Ini adalah rentetan peristiwa, setelah Sekutu mendarat,
melakukan aksi polisionil di Jakarta, dan mengancam keselamatan Bung
Karno sebagai seorang Presiden dari sebuah republik yang baru
diproklamasikan setahun sebelumnya.

 

Ya, ini kisah berlatar belakang tahun 1946. Lokasi kejadian di Bantul,
yang ketika itu masih banyak areal persawahan. Bung Karno paling suka
menjelajah area pertanian kota Yogya. Sesekali bahkan ia naik sepeda,
berboncengan dengan Fatmawati, melintas padang tebu Madukismo.

Nah, hari itu, Bung Karno kembali menjelajah areal pertanian di sebelah
selatan Kota Gudeg. Kali ini, ia tidak bersepeda, melainkan naik mobil
Buick Hitam, bersama Fatmawati, disopiri Arif dan dikawal satu orang
pengawal DKP. Melintaslah mobil kepresidenan tadi dari satu areal
persawahan ke areal persawahan yang lain. Di tempat-tempat tertentu yang
banyak orang, Bung Karno menyuruh Arif menghentikan mobil.

Sesaat Bung Karno turun diiringkan Fatmawati dan pengawal. Arif sang
sopir, setia menunggu di mobil. Dengan bahasa Jawa yang halus, Bung
Karno menyapa para petani dan mengajaknya berbicara, mulai dari
masalah-masalah pertanian, masalah rumah tangga, masalah pengairan,
masalah harga jual gabah... sesekali diselipkan tentang senangnya
menghirup udara bebas sebagai bangsa merdeka.

Sejurus kemudian, Bung Karno mewartakan pula berita Sekutu yang sudah
mendarat dan sedia merampas kembali kemerdekaan kita. Kalau udah begitu,
para petani akan spontan merespon penuh semangat. Ada yang mengangkat
cangkul, sabit, atau apa saja yang ada di tangan dan pernyataan siap
mati untuk mempertahankan kemerdekaan.

Setelah berpamitan, Bung Karno melanjutkan perjalanan. Nanti, tak jauh
dari situ, Bung Karno bisa berhenti lagi dan mengulang apa yang sudah
dia lakukan bersama para petani sebelumnya. Bercakap-cakap,
bertanya-jawab, dan tak lupa menyelipkan pesan-pesan perjuangan
mempertahankan kemerdekaan.

Tibalah saatnya, ketika Bung Karno hendak melanjutkan perjalanan,
matanya tertumbuk pada seekor cacing yang menggeliat-geliat kesusahan di
tengah jalan raya. Bung Karno menghentikan langkah, memperhatikan cacing
yang bersusah payah terseok-seok, menggeliat-geliat hendak mencari tanah
gambur, atau setidaknya mencari kelembaban.

 

Tak habis pikir Bung Karno, demi melihat seekor cacing di tengah jalan.
Ia hanya bisa menduga, itu seekor cacing salah jalan... atau ada petani
iseng saat mencangkul mendapati cacing, kemudian memungut dan
melemparnya ke jalan (tempat kering). Satu hal yang Bung Karno tahu,
tanpa adanya pertolongan, si cacing bakal mati kepanasan. Habitat dia
bukanlah di tengah jalan. Selain bisa mati kering tersengat matahari,
bisa juga mati lebih cepat karena kelindas ban sepeda, ban mobil, atau
telapak kaki petani.

Karenanya, Bung Karno spontan memerintahkan pengawalnya untuk segera
menolong sang cacing. Caranya? Tentu saja harus dipungut dengan tangan,
setidaknya menjumputnya dengan jepitan lunak telunjuk dan jempol,
kemudian memindahkannya ke tanah basah.

Atas perintah Presiden yang satu ini, sang pengawal kaget. Ekspresinya
benar-benar seperti orang blo'on... sorot mata memandang bolak-balik
antara seekor cacing dan Bapak Presiden. Pada saat itu, ia benar-benar
belum paham dengan perintah penyelamatan cacing di tengah jalan. Barulah
setelah Bung Karno mengeluarkan perintah yang sama untuk kedua kalinya,
si pengawal paham.

Sayangnya, setelah paham akan perintah Presiden, giliran psikisnya yang
terguncang. Rupanya, si pengawal ini terbilang manusia yang "geli"
melihat cacing... apalagi memegangnya. Jadilah ia kembali menampakkan
ekspresi blo'on untuk yang kedua kalinya. Ekspresinya terbaca jelas,
antara takut menentang perintah Presiden, dan takut (tepatnya "geli")
memegang seekor cacing yang tengah uget-uget menjemput ajal.

Bung Karno memaklumi keadaan itu. Sambil senyum dikulum, Bung Karno
tidak lagi memerintah. Ia berjalan menjauh dari pintu mobil dan menuju
titik di mana cacing kesasar itu berada. Setelah dekat, ia membungkuk,
menjumput cacing tanpa ragu, mengangkat, dan melemparnya ke persawahan.
Selamatlah sang cacing. Diselematkan oleh seorang Presiden. (roso daras)


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: image004.gif>>

<<inline: image005.gif>>

Kirim email ke