Nila Djuwita Moeloek (Antara/ Widodo S Jusuf)

*VIVAnews *- Pemandangan menarik terjadi di jelang serah terima jabatan
Menteri Kesehatan. Tiga 'srikandi' hadir dalam acara serah terima jabatan
Menteri Kesehatan.

Pantauan *VIVAnews*, tiga 'srikandi' yang kini menjadi pemberitaan hangat di
media itu yakni, mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri
terpilih Endang Rahayu Sedyaningsih, dan Nila Djuwita Moelok, calon menteri
yang gagal seleksi.

Ketiganya tampak berjalan bersama dan beriringan dari tangga menuju lantai
atas di Gedung Departemen Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan,
Kamis, 22 Oktober 2009.

Siti Fadilah tampak berbincang akrab dengan mantan bawahannya yang kini
dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi menteri, Endang
Rahayu. Siti yang mengenakan baju batik berwarna hijau datang paling
terakhir sekitar pukul 18.50 WIB.

Siti Fadilah disambut Endang dan terlihat keduanya berjabatan tangan. Nila
Moeloek tampak berjalan di belakang Siti Fadilah dan Endang Rahayu.

Tiga orang ini menjadi perbincangan jelang penetapan posisi Menteri
Kesehatan di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

Tadi malam, Siti Fadilah tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya saat
Presiden SBY menyebut Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai penggantinya.

Tidak hanya karena Endang dekat dengan laboratorium Namru-2 milik Angkatan
Laut AS, tapi juga karena persoalan virus H5N1 yang pernah membuat Endang
terpaksa dimutasinya. Endang juga hanya pejabat eselon II di Depkes.

Usai dilantik menjadi Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih,
menanggapi berbagai kritik dari sejumlah kalangan. Salah satunya adalah
soal  The US Naval Medical Reseach Unit Two (Namru).

Endang melanjutkan bahwa sebagai peneliti tidak hanya  bekerjasama dengan
Amerika Serikat, melainkan juga Jepang, China, dan Belanda.

"Jadi itu kerjasama penelitian yang transparan fair, setara, dan saling
menguntungkan," kata Endang.

Sedangkan Nila Moeloek merasa disepelekan karena tak lolos seleksi calon
menteri. Nila juga menyebut alasan kegagalannya menjadi menteri.

Alasan yang disampaikan melalui Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa
yakni, karena daya tahan menghadapi stres Nila termasuk rendah. "Saya kan
guru besar. Saya kan juga doktor S3, disepelekan," ujar Nila.

*[email protected]*

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke