APAKAH MASIH INGIN menetapkan HABISNYA MASA TANGGAP DARURAt, begini anak2
sekolah masih trauma, bantuan sangat diperlukan sekali demi masa depan anak2
tsb dan kemadiriannya. Wass. Muzirman Tanjung
------------------------------------------------------------------------------------

PASCAGEMPA
Mengembalikan Senyum Anak-anak Sumbar

Selasa, 27 Oktober 2009 | 03:23 WIB

*M Burhanudin*

Riuh rendah suara bocah terdengar dari dalam deret tenda beratap terpal biru
di sebuah tanah lapangan di Desa Parit Malintang, Kecamatan VI Lingkung,
Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (26/10).

Mereka rupanya adalah siswa SD Negeri 11 VI Lingkung yang tengah mengikuti
pelajaran.

Di salah satu sudut bangunan tenda yang disekat menjadi enam bagian itu,
Puji Fadli (11), siswa kelas IV SD, sibuk bergumul dengan pensil dan kertas
gambarnya. Sebuah rumah berlatar belakang gunung mulai tampak dari gurat
samar lukisan bocah itu.

”Tinggal sekete (sedikit) lagi selesai,” ucapnya sambil mengusap dahinya
yang berkeringat.

Fadli seakan tak peduli dengan keriuhan teman-teman sekelasnya yang memilih
bercanda ria sambil melihat-lihat seperangkat alat permainan, sumbangan
sebuah lembaga swadaya masyarakat asing.

Saat itu sebenarnya bukan waktu istirahat atau jeda pelajaran, melainkan
saatnya para siswa kelas IV belajar Matematika. Amelia (25), guru kelas
tersebut, memilih untuk membebaskan anak didiknya beraktivitas sesuai selera
mereka.

”Kondisi psikologis mereka belum normal. Mereka masih trauma akibat gempa.
Masih sulit untuk fokus ke pelajaran. Kalau pelajarannya mulai menegangkan,
mereka kelihatan tertekan dan tak bisa memperhatikan pelajaran,” tutur
Amelia.

Sebagian besar siswa di SDN VI Lingkung menyaksikan sendiri peristiwa gempa
30 September lalu yang menyebabkan 135.233 rumah rusak berat di seluruh
Sumbar itu.

Di Desa Parit Malintang sendiri, tempat tinggal para siswa SDN VI Lingkung,
130 rumah ambruk dan ratusan lainnya rusak sedang dan ringan. Nyaris tak ada
rumah yang utuh akibat guncangan gempa di desa tersebut.

Gemuruh gempa, rumah yang ambruk dalam sekejap, dan jerit tangis anggota
keluarga masih terekam di benak anak-anak itu.

”Ada beberapa siswa yang tiba-tiba murung dan menangis saat pelajaran.
Setelah ditanya, mereka bilang teringat gempa,” tutur Amelia.

Kondisi kian sulit bagi siswa di SD tersebut karena mereka terpaksa belajar
di bawah tenda.

Udara panas membuat mereka tak jenak belajar. Selain itu, tak adanya dinding
membuat mereka kesulitan untuk fokus.

”Sebentar-sebentar menoleh. Kalau sudah seperti itu, tak ada cara lain
selain mengambil perhatian mereka lagi dengan aktivitas kelas yang
menyenangkan, seperti menyanyi atau menggambar,” kata Amelia.

Kondisi demikian bukan hanya terjadi di SDN VI Lingkung. Terdapat sekitar
3.128 sekolah di Sumbar yang kini siswanya terpaksa belajar di bawah tenda
atau bangunan seadanya.

Namun, bukan kondisi ruang kelas yang menjadi kendala utama kegiatan
belajar, melainkan rasa traumatis yang tak mudah hilang di benak anak-anak
itu.

Para guru pun kini lebih disibukkan oleh aktivitas penyembuhan trauma pada
jam pelajaran. Kegiatan yang dikenal dengan trauma healing itu seakan akrab
bagi keseharian siswa-siswa di Sumbar.

Puluhan LSM, baik dari dalam maupun luar negeri, terjun langsung ke
sekolah-sekolah untuk membantu upaya penyembuhan itu.

Kegiatan difokuskan pada upaya mengembalikan keceriaan anak-anak dengan
bermain sambil memberikan penjelasan mengenai gempa.

Kika Syafei dari Alurkria, LSM yang bergerak dalam kegiatan pendampingan
anak-anak korban gempa Sumbar, mengungkapkan, penyembuhan trauma memang tak
membuat anak-anak itu kembali normal secara total.

Namun, hadirnya kembali keceriaan dan pemberian pemahaman yang sebenarnya
kepada mereka setidaknya dapat membuat anak-anak itu kembali menemukan
semangat mereka untuk belajar.

”Membuat mereka kembali tertawa itu sangat penting. Karena, akibat gempa
yang baru lalu, banyak di antara mereka depresi. Mendengar suara truk saja
takut. Bahkan, saat mendengar gemertak suara seng tempat saya shalat pun
mereka ketakutan,” kata Kika.

Kepala Perwakilan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef)
untuk Indonesia Angela Kerney mengatakan, membawa kembali siswa ke sekolah
dan memberikan mereka keceriaan adalah hal terpenting untuk menyelamatkan
anak-anak Sumbar pascagempa.

”Membiarkan anak-anak itu tanpa sekolah hanya akan membuat mereka tenggelam
dalam trauma dan kehilangan sebagian masa depannya. Di sekolahlah mereka
bukan hanya bisa belajar, tapi juga mendapatkan keceriaannya kembali,”
katanya.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke