Assalamu'alaikum W W.....

Dunsanak salingka palanta RN.....

Entah karena lupa atau memang awak nan kini ko bukan lagi generasi 1928,
agak taraso ganjia jadi no.
Indak ado di antaro awak nan takana juo SEJARAH BANGKIT NYA PEMUDA INDONESIA
81 tahun nan lalu.

Ambo cuma ingin mangana ngana an sajo, tidak untuak mambuek tulisan tentang
PEMUDA DISUMPAHI...eh maaf
SUMPAH PEMUDA tersebut.

Ambo masuak an juo lah beberapa berita nan ado di portal nan sempa ambo
bukak.
http://news.okezone.com/index.php/read/2009/10/28/58/269920/posisi-m-yamin-dalam-sejarah-indonesia&;
http://news.okezone.com/index.php/read/2009/10/28/338/269827/10-unjuk-rasa-semarakkan-hari-sumpah-pemuda

OpiniPosisi M Yamin dalam Sejarah Indonesia Rabu, 28 Oktober 2009 - 10:56
wib

Mohammad Yamin adalah tokoh terpenting dalam perumusan Sumpah Pemuda. Ikrar
yang disusunnya telah mengilhami perjuangan bangsa selanjutnya, bahkan tetap
menjadi perekat persatuan sampai saat ini.

Sebetulnya bagaimana posisi Yamin dalam sejarah Indonesia? Pada majalah
Tempo edisi khusus 16 Januari 2000 tertulis secara eksplisit, "Pakar sejarah
Taufik Abdullah menempatkan Yamin sebagai sejarawan terbesar abad ini."
Mungkin Prof Dr Taufik Abdullah hanya berbasa-basi tentang kehebatan
Muhammad Yamin, tetapi barangkali pernyataan itu ada benarnya juga. Timbul
pertanyaan, besar dalam hal apa?

Kalau dari segi perawakan tubuh, memang Yamin lebih besar dari Taufik
Abdullah, juga dari Mestika Zed. Anhar Gonggong mungkin lebih kurus, tetapi
lebih tinggi atau sama tinggi dengan Yamin. Namun kalau dari segi kualitas
karya, bagaimana mengukurnya?

*Serbabesar*

Muhammad Yamin yang lahir di Talawi, Sawah Lunto, 23 Agustus 1903 adalah
pribadi yang mempunyai kemampuan besar dan citacita besar. Dia memiliki
banyak talenta: pemikir sejarah, sastrawan, ahli bahasa, politisi, dan ahli
hukum di samping tokoh pergerakan nasional.Kalau hanya gabungan sejarawan
dan sastrawan,itu mungkin sebanding dengan Kuntowijoyo almarhum, tetapi
Yamin juga menguasai perundang-undangan serta ikut menata bidang pendidikan
dan keguruan.

Dia pernah menjadi menteri yang mengurus bidang pendidikan dan mendirikan
perguruan tinggi pendidikan guru (PTPG) di Bandung, Malang, dan Batu
Sangkar. Dia terlibat dalam penyusunan UUD 1945 dan pernah menulis buku
Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951). Yamin memiliki
kemampuan besar ketika dia meyakinkan pimpinan sidang dan peserta Kongres
Pemuda di Jakarta tentang rumusan yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Ketika kemudian setelah Indonesia merdeka muncul ide agar bahasa Jawa
dijadikan bahasa nasional, Yamin menolaknya. Baginya bahasa adalah landasan
utama dari eksistensi "bangsa". Sebuah kalimat "Tiada bahasa, bangsa pun
hilang" terdapat dalam sajaknya yang ditulis tahun 1921.

Dalam ingatan kolektif masyarakat, formula sumpah pemuda itu singkat saja
bahwa kita memiliki satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Pemilihan
bahasa Indonesia yang berasal dari Melayu sebagai bahasa nasional merupakan
keputusan yang sangat cemerlang dan visioner. Kini tampaknya bahasa
Indonesia itu pulalah yang menjadi (sedikit yang tersisa dari) perekat
persatuan Indonesia.

Di sisi lain, dia juga memiliki cita-cita yang sangat tinggi.Yamin muda
membayangkan sebuah Indonesia Raya yang mencakup delapan wilayah yang
merupakan bekas jajahan Belanda, Inggris, dan Portugis. Bukan saja besar
wilayahnya, tetapi juga pernah jaya pada masa lampau. Dia berupaya dengan
segenap daya untuk meyakinkan masyarakat tentang kebenaran pandangannya
ini--demi menumbuhkan rasa nasionalisme.

Dalam konteks ini pula dia menggagas lambang negara, sungguhpun yang
diterima adalah konsep Sultan Hamid. Soekarno pernah mengungkapkan perihal
Trimurti, yaitu konsep tentang waktu mengenai tanah air, (a) the golden
past, (b) the dark present, dan (c) the promising future. Masa lampau yang
jaya, masa kini yang gelap, dan masa depan yang menjanjikan/cerah. Pemikiran
Yamin sejalan dengan ini.

Dia menggambarkan masa lalu yang jaya dengan mengacu pada Sriwijaya dan
Majapahit. Dalam perbenturan atau ketidaksesuaian antara cita-cita besar
dengan kemampuan besar mungkin saja timbul hal-hal yang kemudian dianggap
kontroversi. Yamin bukanlah orang yang diam saja bila ada sesuatu yang tidak
cocok di hatinya. Dalam sidang BPUPKI beberapa kali dia ditegur oleh ketua
sidang, tetapi tetap melanjutkan uraiannya yang dianggapnya penting.

Ketua sidang memintanya untuk mematuhi ketentuan rapat (agar Yamin
"takluk"), tetapi Yamin menjawab bahwa dia "takluk tetapi tidak tunduk".
Sikap seperti ini yang kelihatannya menyebabkan beberapa tokoh agak jengkel
kepada Yamin. Di sisi lain seorang pengamat sejarah Filipina menilai
karyanya "romantic, ultra nationalist and pre-scientific" (Rommel Curaming
dalam Kyoto Review of Southeast Asia, Maret 2003).

Istilah yang terakhir yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai "prailmiah",
mengingatkan pada istilah prasejarah, yaitu suatu masa yang dengan
perkembangan waktu akhirnya sampai pada era sejarah. Tentu kata tersebut
memiliki konotasi yang kurang elok karena menganggap karya Yamin sebagai
"belum tergolong ilmiah", sesuatu yang sebetulnya masih bisa diperdebatkan.

*Kanvas Besar*

Sebetulnya Yamin dapat diibaratkan seorang pelukis yang menggambar di kanvas
sangat besar. Kalau sejarawan Prancis Fernand Braudel berbicara tentang
longue durée (masa yang sangat panjang), Yamin telah menulis tentang 6.000
tahun Merah Putih. Mungkin saja analisisnya kurang tepat, tetapi yang ingin
disampaikan Yamin adalah unsur persatuan itu sudah lama ada di wilayah yang
kemudian bernama Indonesia ini.

Yamin menulis tujuh jilid buku tentang Majapahit dan sebuah buku "klasik"
tentang Gajah Mada. Yamin adalah sejarawan yang memiliki pandangan bukan
saja jauh ke belakang, tetapi juga jauh ke depan. Baginya bentuk yang cocok
untuk negara ini adalah negara kesatuan. Namun jauh-jauh hari pada sidang
BPUPKI dia telah menyampaikan bahwa negara kesatuan itu harus menjalankan
dua prinsip, yaitu dekonsentrasi dan desentralisasi.

Kenyataan itu yang tidak dijalankan sejak Indonesia merdeka sampai jatuhnya
Orde Baru. Yamin mengawali usaha dekolonisasi sejarah. Berdasarkan prinsip
"catursila Khalduniyah" (kebenaran, sejarah Indonesia, kebangsaan Indonesia,
dan sintesis), Yamin mengajukan pembabakan sejarah Indonesia yang menurutnya
terdiri atas lima tahap, yaitu (1) prasejarah, (2) protosejarah, (3) babakan
kebangsaan, (4) babakan internasional, dan (5) abad proklamasi, yang bermula
dari prasejarah dan mencapai puncaknya pada "abad proklamasi".

Jadi kemerdekaan dan persatuan Indonesia adalah puncak dari perjalanan
sejarah Indonesia. Yamin juga sangat peduli dengan pendidikan sejarah.
Bahkan pendidikan secara umum dan pendidikan guru. Khususnya untuk
pendidikan sejarah, dia sudah berpikir bahwa pelajaran sejarah seyogianya
tidak membosankan murid.

Tahun 1956 dia menerbitkan buku Atlas Sejarahdan Lukisan Sejarah (kedua buku
itu diterbitkan oleh Penerbit Djambatan Jakarta tanggal 17 Agustus 1956)
yang merupakan alat bantu pengajaran sejarah agar tidak membuat siswa
menjadi jenuh. Dalam pengantar buku Atlas Sejarah disebutkan, "Kami sangat
berhemat menyebut segala peperangan dan pertempuran yang berlaku dalam
perjalanan sejarah karena kemajuan dunia bukanlah hanya sejarah perang,
melainkan sungguh banyak sangkut-pautnya dengan peristiwa lain.

Kami meluangkan tempat bagi persamaan waktu dalam sejarah dan bagi
penjelasan tentang pengaruh peradaban. Sungguh-sungguh pula kami
pertimbangkan bahwa sejarah pada hakikatnya ialah gerakan arus yang tak
putus-putusnya dan selalu mendorong manusia dan bangsa mencari bentuk baru.
Oleh sebab itu di mana perlu kami tekankan gerak-gerik dinamik sejarah dan
cara bagaimana negara dan peradaban turun-naik silih berganti."(*)

*Asvi Warman Adam
Sejarawan LIPI

**(//mbs)*


10 Unjuk Rasa Semarakkan Hari Sumpah Pemuda Rabu, 28 Oktober 2009 - 06:04
wib
 Amirul Hasan - Okezone

*JAKARTA* - Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini diwarnai
sejumlah aksi unjuk rasa. Sedikitnya sepuluh kelompok massa akan menggelar
aksi mereka di beberapa titik di Ibukota.

Informasi yang dihimpun *okezone* dari situs Traffic Management Center (TMC)
Polda Metro Jaya, Rabu (28/10/2009), mahasiswa STTIA yang menempati gedung
bekas Walikota Jakarta Barat, masih akan melakukan orasi damai dan menggelar
mimbar bebas di halaman gedung tempat mereka berkuliah itu.

Selain itu, Bundaran Hotel Indonesia, Gedung DPR/MPR, dan Istana Merdeka
juga akan didatangi beberapa kelompok massa yang akan menggelar unjuk rasa
mulai pukul 09.00 WIB-15.00 WIB.

Kedutaan Besar Malaysia yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan,
Jakarta Selatan, dan gedung bekas Sekretariat Partai Demokrasi Indonesia
(PDI) di Jalan Diponegoro juga akan menjadi sasaran para pengunjuk rasa. *
(lam)*


-- 
Arief Rangkayo Mulia....
39 Th/ Asa Pakan Kamih /Tilatang Kamang / Agam
Perwakilan Bukittinggi TV - JAKARTA
HP : 0813 1600 7756

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke