Kok ndak salah  selepas gempa Padangpanjang tahun 1926,
maka banyak dinding rumah dari "anyaman bambu balepoh";
Memang alam takambang jadi guru, bukan di Minangkabau sajo di praktekan .
Ternyata dari pengamatan sepintas, bahwasanya masyarakat di Tapanuli,
membangun rumah adat nya dari kayu. Tanpa paku, main pasak sajo. Tiang tiang
rumah di tumpukan di atas 'sandi'.  Sandi dari batu itu yang menancap di
tanah.  Fakta lain, konon arah memanjangnya rumah-rumah adat tu searah
dengan arahan patahan Semangko atau Patahan Sumatera, yaitu kl sejajar
dengan garis pantai.  Dengan demikian dampak dari pergeseran  patahan itu
agak berkurang, karena searah dengan arah memanjang deretan rumah adat itu
tadi

Bila di lihat di Pulau Nias, masyarakat membangun rumahnya bundar. Konon
katanya memperoleh 'stream line" dari angin yang kencang.. Hal yang sama
terlihat pula di wilayah Nusa Tenggara , atau NTB dan NTT, juga di papua
sana.

Kiranya untuk gedung bertingkat, selain kondisi geologi secara umum 'bebas'
dari patahan, juga geologi bawah tanahnya mutlak di kaji,, sesuai dengan
peruntukan untuk bangunan berat, tentu perlu daya dukung yang sesuai,

Bahan bangunan juga terpilih, misalnya 'beton ringan", yang materialnya bata
ringan yang materinya dari bahan vulkanis,
Konon obsidian nan banyak di daerah Lubukbasung, diolah menjadi bahan
pencampurnya,   Kabarnya di ekspor ke Jepang....... masih adakah sisanya

Sekian tambahan dari ambo

Masrur Siddik, 68th
tinggal di Bandung

2009/10/29 andiko <[email protected]>

>
> Mungkin banyak PR yang muncul pasca gempa di Sumbar, ada satu PR yang
> ambo pikirkan adolah bagaimana melanjutkan kampanye wisata yang sudah
> jalan salamoko. Tantangannyo adolah bagaimana membuat orang merasa aman
> di Minangkabau dari ketakutan atas gempa. Selintas timbul ide bahwa
> pariwisata harus adaptif jo situasi yang rawan gempa. Maksudnya, mungkin
> tidak layak kalau pariwisata sumbar bertumpu pada kemewahan infrastuktur
> yang rentan gempa seperti hotel-hotel beton kaku yang banyak membutuhkan
> biaya dan tentunya rawan dengan gempa. Jawaban yang muncul adolah
> kembali pada filsafat "Alam Takambang Jadi Guru". Salamoko niniak kito
> mengembangkan konsep perkampungan, khususnyo bangunan kayu yang adaptif
> terhadap gampo ko. Barangkek dari itu, mengapa tidak kalau kito
> kembangkan wisata-wisata terpadu berbasiskan nagari dengan memakai
> rumah-rumah kayu lama yang direnovasi sedikit. Misalnyo pernah ambo
> posting di web westsumatera foto nagari-nagari yang langang. Kalau saja
> konsep agrowisata dan wisata budaya digabungkan dan menggunakan
> infrastruktur kayu ko, dan ditambah sedikit kampanye bahwa penataan
> kampung dan bangunan kayu yang dikembangkan sejak ratusan tahun lalu
> tahan terhadap gempa, mungkin ado banyak orang yang penasaran mencobanya.
>
> Sakitu dulu ide sore, mungkin ado yang tertarik menanggapi.
>
> Salam
>
> Andiko Sutan Mancayo
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke