Berikut ini saya kutipkan, Resensi Kaba Sutan Pangaduan yang telah saya
alih bahasakan ke Bahasa Indonesia, berdasarkan penuturan Uni Rita
Desfitri Lukman (New Delhi) di Milis RantauNet.

Resensi ini sudah pula diposting di

http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/29/kaba-sutan-pangaduan/
<http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/29/kaba-sutan-pangaduan/>

Regards,

Zulfadli

------------------------------------------------------------------------\
------------------------------------------------------------------------\
--------

Kaba Sutan Pangaduan
October 29, 2009 {alih bahasa oleh Zulfadli}




Pengantar

Kaba Sutan Pangaduan disebut juga Kaba Malin Dewa Nan Gombang Patuanan.
Salah satu dari 4 Kaba Tareh yang tergolong Tareh Runuik. Tareh Runuik
merupakan tareh lanjutan yang lebih rinci, dibandingkan dengan Tareh
Kudian, karena itu Tareh Runuik kemudian berkembang demikian luasnya
dalam berbagai variasi kaba menjadi "cerita sejarah" yang sudah
melegenda sampai saat ini. Yang disebut Tareh Runuik adalah:

    1. Kaba Cindua Mato 
<http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/29/2009/10/15/kaba-cindua-mat\
o/>
    2. Kaba      Bongsu Pinang Sibaribuik
    3. Kaba Anggun Nan Tongga 
<http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/29/2009/10/15/kaba-anggun-nan\
-tongga/>
    4. Kaba      Malin Dewa Nan Gombang Patuanan (Kaba      Sutan
Pangaduan)

Kaba Malin Dewa Nan Gombang Patuanan versi Minangkabau yang pada
zamannya sangat populer di Pariaman dan Pesisir Selatan, tidak lagi
banyak yang mengenalnya, demikian juga para Tukang Rabab tidak lagi
menguasai jalan ceritanya, kecuali ada pada kalangan peminat dan
peneliti tertentu saja. Seperti budayawan Chairul Harun (alm) pernah
membukukannya, tetapi tidak lengkap, dan Syamsuddin Udin "Kaba
Gombang Patuanan : Tradisi Lisan Minangkabau, 1991.

Tokoh Tokoh Utama

    * Sutan      Pangaduan, titik sentral cerita, seorang anak raja yang
ibunya ditawan
    * Sutan      Lembak Tuah, saudara satu ayah Sutan Pangaduan,
berlainan ibu
    * Puti      Sari Makah, saudara satu ayah Sutan Pangaduan, ibunya
keturunan Arab
    * Rajo      Unggeh Layang, raja yang menculik ibu Sutan Pangaduan
    * Puti      Andam Dewi, ibunda Sutan Pangaduan yang dalam tawanan



Jalan Cerita

Kampung Dalam sepeninggal Raja

Sutan Pangaduan adalah seorang Putra Mahkota dari Raja yang berkuasa di
Kampung Dalam, Pariaman. Dia memiliki 2 saudara tiri lain ibu yaitu
Sutan Lembak Tuah yang ibunya seorang rakyat biasa dan Puti Sari Makah
yang ibunya adalah seorang keturunan Arab. Ibunda Sutan Pangaduan
sendiri adalah seorang bangsawan yang bernama Puti Andam Dewi.

Sutan Lembak Tuah lebih tua daripada Sutan Pangaduan, namun dalam hal
ilmu kebatinan, kesaktian dan kebijaksanaan, Sutan Pangaduan jauh lebih
unggul.

Ketika Sutan Pangaduan masih kecil, ayahnya pergi bersemayam ke Gunung
Ledang. Pada saat itu ibundanya Puti Andam Dewi diculik dan ditawan oleh
Rajo Unggeh Layang di sebuah bukit. Puti Andam Dewi ditawan karena
menolak diperistri oleh Rajo Unggeh Layang. Rajo Unggeh Layang sendiri
berkuasa di negeri Taluak Singalai Tabang Papan. Sejak saat itu, Sutan
Pangaduan dipelihara dan dibesarkan oleh nenek dan kakak sepupunya (dari
pihak ibu) yang seorang pendekar di Kuala Pantai Cermin.

Sutan Lembak Tuah sendiri tetap tinggal di istana dan diangkat menjadi
raja menggantikan ayahnya, karena usianya paling tua diantara dua anak
laki-laki. Sutan Lembak Tuah menjadi raja sejak usia muda. Secara adat,
Sutan Pangaduan adalah putra mahkota yang sah, karena silsilah bangsawan
dan orang terpandang lagi keramat yang dibawanya dari garis ibu, namun
ibunda dari Sutan Lembak Tuah yang berhati jahat sangat berambisi untuk
menjadikan anaknya sebagai raja. Ia rela menghalalkan segala macam cara
agar tujuannya tercapai. Ambisi ini sangat dimaklumi karena ibu Sutan
Lembak Tuah pada awalnya hanyalah orang kelas bawah yang nasibnya
terangkat karena menikah dengan seorang raja.

Sutan Lembak Tuah cenderung manja dan kekanak-kanakan, sehingga ketika
diangkat sebagai raja, ia menjelma menjadi raja yang semena-mena
terhadap rakyatnya. Namun di kemudian hari ia dapat berubah menjadi raja
yang bijak berkat nasehat dan bimbingan dari Sutan Pangaduan dan
keluarga ayahnya.

Saat berusia 10 tahun Sutan Pangaduan didatangi ayahnya yang bersemayam
di Gunung Ledang secara batin. Ayahnya menugaskan Sutan Pangaduan untuk
membebaskan ibunya dari tawanan dengan bantuan kakaknya Sutan Lembak
Tuah yang tinggal di istana.

Sebelum berangkat ayahnya berpesan supaya Sutan Pangaduan tidak lupa
menambah ilmu terlebih dahulu dari neneknya dari pihak ayah dan
kemenakan perempuan ayahnya supaya dibekali dengan senjata keramat.

Kena Tipu

Dalam perjalanan dari Kuala Pantai Cermin ke Kampung Dalam, Sutan
Pangaduan yang lugu diperdaya oleh seorang penipu. Gara-garanya sangat
sederhana, Sutan Pangaduan tertangkap tangan sedang memetik setangkai
kembang oleh sang penipu. Penipu itu membual bahwa kembang yang dipetik
oleh Sutan Pangaduan adalah Kembang Bunga Larangan dan sebagai
hukumannya ia didenda untuk menyerahkan baju bangsawan yang dipakainya.
Penipu itu menggantinya dengan baju compang camping yang robek disana
sini.

Sesampainya di Istana Kampung Dalam, Sutan Lembak Tuah sangat terkejut
ketika melihat anak kecil berbaju compang camping yang wajahnya bagaikan
pinang dibelah dua dengan dirinya. Namun ibu Sutan Lembak Tuah yang
berhati jahat merasa malu lalu menyuruh pengawal mengusir bahkan
membunuh Sutan Pangaduan, padahal dia sebenarnya tahu bahwa yang datang
adalah putra mahkota sebenarnya.

Ibu Sutan Lembak Tuah memerintahkan anaknya untuk berkelahi dengan Sutan
Pangaduan, namun dalam perkelahian itu Sutan Lembak Tuah dapat
dikalahkan. Pada saat itulah Sutan Pangaduan mengucapkan kata kunci yang
membuktikan bahwa ia adalah saudara tiri dari Sutan Lembak Tuah. Hanya
Sutan Lembak Tuah yang mengerti kata kunci tersebut karena ia sebelumnya
juga didatangi sang ayah secara batin. Sutan Lembak Tuah memohon kepada
ibunya agar Sutan Pangaduan diperbolehkan tinggal dalam istana.

Membebaskan Ibunda dari tawanan

Sutan Pangaduan lalu mengutarakan maksudnya bahwa dia mendapat tugas
dari ayahnya untuk membebaskan sang ibunda, Puti Andam Dewi. Tentu saja
ibu Sutan Lembak Tuah tidak setuju dengan rencana itu karena jelas akan
menghalangi rencana-rencananya selama ini. Namun Sutan Lembak Tuah
berhasil melunakkan hati ibunya dengan alasan bahwa dia juga mendapatkan
wangsit yang sama dari sang ayah yang bersemayam di Gunung Ledang.

Dengan berat hati ibunda Sutan Lembak Tuah melepaskan kepergian anaknya
beserta Sutan Pangaduan untuk membebaskan Puti Andam Dewi dari tawanan
Rajo Unggeh Layang. Namun dibalik itu ia masih menyimpan satu rencana
jahat yang terakhir.

Pada acara pelepasan secara resmi, ia berniat untuk meracun Sutan
Pangaduan. Sebelum berangkat, kedua pangeran dihidangkan nasi terlebih
dahulu bersama para pengiring. Nasi untuk Sutan Pangaduan telah ditaburi
dengan racun. Sutan Pangaduan yang telah mendapatkan hikmah malah
mengajak para hadirin untuk berbincang-bincang sampai nasi menjadi
dingin. Karena nasi telah dingin, Sutan Pangaduan menolak untuk
memakannya dan menyuruh pelayan untuk memberikan nasi itu kepada hewan
peliharaan istana. Hewan itu langsung mati selesai menyantap nasi itu.
Singkat kata, niat jahat ibunda Sutan Lembak Tuah pun terbongkar dan ia
dihukum kurungan di istana. Sutan Pangaduan dan Sutan Lembak Tuah
akhirnya dapat pergi menunaikan tugasnya tanpa ada yang menghalangi
lagi.

Sesampainya di bukit tempat Puti Andam Dewi ditawan, kedua pangeran
terlibat perkelahian dengan ribuan penjaga bukit itu. Tatkala hampir
berhasil membebaskan ibundanya, Sutan Pangaduan kehilangan konsentrasi
karena kakaknya Sutan Lembak Tuah ambruk ditangan musuh. Akibatnya kedua
kakak beradik ini berhasil diringkus oleh musuh.

Bantuan dari Puti Sari Makah

Melihat keadaan yang diluar perkiraan, ayah Sutan Pangaduan mendatangi
anak perempuannya Puti Sari Makah secara batin. Ia memerintahkan anak
perempuannya itu untuk membebaskan istrinya Puti Andam Dewi dan kedua
anak laki-lakinya yang sekarang jadi tawanan pula. Dalam penugasan itu
Puti Sari Makah dibantu oleh kemenakan sang ayah (kakak sepupu Sutan
Pangaduan dan Sutan Lembak Tuah) dan kemenakan Puti Andam Dewi (kakak
sepupu Sutan Pangaduan).

Ketiga perempuan ini pada saat itu telah menjadi pendekar-pendekar yang
tangguh. Putri Sari Makah memiliki kemampuan ilmu batin untuk
mengendalikan air sedangkan kedua sepupu Sutan Pangaduan masing-masing
memiliki kemampuan untuk mengendalikan angin dan suara.

Dengan keahlian itu mereka menciptakan badai yang menaikkan air laut
sampai ke atas bukit sehingga banyak pihak musuh yang mati. Badai itu
hanya menyisakan tempat keluarga mereka ditahan, sehingga dengan mudah
mereka dapat membebaskan ketiga tawanan.

Sayang sekali saat akan dibebaskan, Sutan Pangaduan kena hipnotis oleh
seorang gadis kecil yang sebenarnya adalah adik Rajo Unggeh Layang yang
menyamar. Gadis kecil itu minta dikasihani dan minta dibawa ikut serta
karena takut hanyut dibawa badai. Seluruh kakak Sutan Pangaduan telah
berusaha melarang niatnya untuk membawa serta gadis kecil itu, namun
Sutan Pangaduan keras kepala dan tidak mendengarkan. Pada saatnya nanti
gadis kecil ini akan menuntut balas.

Setelah Ibu Sutan pangaduan dibebaskan, mereka kembali ka daerah
masing-masing. Ibu Sutan Pangaduan, Sutan Pangaduan dan kakak sepupunyo
pulang ke Kampung Dalam. Puti Sari Makah kembali ke Makkah dengan hati
risau karena tahu Sutan Pangaduan telah keliru menyelamatkan musuh.
Sutan Lembak Tuah kembali ke kerajaannya dan berubah menjadi raja yang
lebih dewasa dan bijaksana. Kemenakan ayah mereka juga pulang ke negeri
masing-masing.

Tipu Muslihat Gadis Penyamar

Ketika Sutan Pagaduan beranjak dewasa ia menikah dengan anak gadis dari
raja negeri tetangga. Ia pun dijadikan raja di negeri tersebut. Pada
saat itu ibunda Sutan Pangaduan kembali diculik atas tipu muslihat gadis
kecil yang kemarin diselamatkan dari badai di puncak bukit oleh Sutan
Pangaduan. Sutan Pangaduan sangat menyesal karena tidak mendengarkan
peringatan yang telah disampaikan oleh kakak-kakaknya, namun sesal sudah
terlambat dan tidak berguna lagi. Apalagi selama ini ternyata gadis
kecil itu telah meracun Sutan Pangaduan sedikit demi sedikit sehingga
kesaktiannya agak berkurang.

Sutan Pangaduan terjebak dalam konflik batin antara ingin menyelamatkan
ibu kandungnya yang kembali ditawan dan meninggalkan istrinya yang
sedang hamil muda. Ia juga gundah karena harus meninggalkan kerajaan dan
rakyatnya. Namun istrinya bersedia mengalah dan memberikan dukungan
untuk menyelamatkan ibu mertuanya. Sang Permaisuri berkata, "tidak
usah cemaskan anak yang akan lahir ini karena setiap anak punya takdir
masing-masing."

Singkat kata akhirnya Sutan Pangaduan kembali berusaha membebaskan
ibundanya. Sutan Lembak Tuah ikut serta pula karena ia bersikeras untuk
membantu adiknya. Seperti yang telah diduga Sutan Pangaduan dapat
dilumpuhkan dengan mudah karena kesaktiannya telah jauh berkurang.
Akhirnya kedua raja itu (Sutan Pangaduan dan Sutan Lembak Tuah) kembali
ditawan dan dirantai oleh musuh.

Pada suatu malam yang terang benderang oleh purnama dan pada waktu yang
telah diperhitungkan, Sutan Pangaduan menghentakkan kakinya ke bumi
sehingga timbul suara menggelegar bagaikan petir di daerah sekitarnya.
Tapi goncangan itu belum cukup untuk memutuskan rantai yang mengikat
kaki Sutan Pangaduam. Goncangan itu baru pertanda bahawa anaknya telah
lahir ke dunia.

Penutup

Kisah Sutan Pangaduan ini sangat panjang, karena anak yang lahir itu
kembali menuntut balas untuk membebaskan ayah dan neneknya.



Sumber:

Penuturan Uni Rita Desfitri Lukman (New Delhi) di Milis RantauNet

http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/98177
<../../../message/98177>



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke