Chandra M Hamzah: Tiada Kata Jera Dalam Perjuangan!!!
Oleh
Indra J Piliang
Mantan Aktivis Organisasi Kemahasiswaan UI 1990-an
Kemaren, tanggal 29 Oktober 2009, tepat sehari setelah Hari Sumpah Pemuda,
Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto ditahan di Mabes Polri. Keduanya
dikenakan tuduhan telah menyalahgunakan wewenang sebagai pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Bagi saya, ini adalah masalah hukum yang pelik dan
rumit. Dan saya merasa tidak tahu apa-apa tentang itu, selain hanya membaca
perdebatan hukum di media dan bertanya lewat para ahlinya.
Yang ingin saya tulis adalah Chandra M Hamzah. Kami menyebutnya dengan nama
Pance. Dulu, ketika masuk UI tahun 1991, dia adalah Ketua Harian Senat
Mahasiswa UI. Dalam balairung besar UI, Pance bersuara lantang menyambut para
mahasiswa UI yang berjumlah ribuan. Slogan yang dipakai oleh SMUI waktu itu
adalah Tiada Kata Jera dalam Perjuangan. Chandra juga Komandan Resimen
Mahasiswa UI yang bermarkas di pintu masuk UI, dekat para mahasiswa menunggu
bis kuning.
Pance kuliah di Fakultas Hukum UI. Dia berhasil menjadikan Menwa sebagai
organisasi yang tidak sesangar di kampus lain. Hubungannya begitu dekat dengan
kelompok atau organisasi mahasiswa lain. Begitu juga dengan SMUI, Pance
berhasil menjadikan sebagai organisasi yang padu, ketika berhadapan dengan
aturan organisasi mahasiswa yang berubah-ubah. Pance menggantikan Eep Saefullah
Fatah (FISIP UI) sebagai Ketua Harian SMUI. Di kemudian hari, Bagus Hendraning
menggantikan Pance. Proses pemilihan waktu itu dilakukan oleh Ketua-ketua Senat
Mahasiswa Pakultas. Setelah itu, baru diadakan pemilihan raya (pemira) dengan
ketua terpilih Zulkiefliemansyah (FEUI). Baru berturut-turut Komaruddin (FISIP
UI), Selamat Nurdin (FISIP UI) dan Rama Pratama (FEUI). Saya pernah maju jadi
Ketua SMUI tahun 1995, namun kalah dari Komaruddin.
Pance adalah organisatoris yang baik. Dia juga aktif di Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI). Saya masih mengingat bagaimana dia mendekati para yunior satu demi
satu, lalu memberikan pemahaman tentang kemahasiswaan. Seingat saya – ada dalam
catatan harian saya --, Pance menilai saya sebagai yunior yang susah berbicara.
Kalau berbicara, sulit dimengerti. Mungkin karena logat atau memang karena
sejak kecil saya “teloh” (bahasa Minang) alias gagap berbicara. Aktivitas di UI
memang membuat saya mulai membiasakan diri, pertama lewat catatan di buku
sebelum berbicara, lalu pelan-pelan mulai mengandalkan ingatan.
Ketika Pance menjadi Ketua Harian SMUI, kami sempat mengadakan kegiatan
nasional dengan tajuk Diskusi Mahasiswa Tentang Tinggal Landas (DMTL). Waktu
itu saya kebagian sebagai seksi acara. BJ Habibie hadir waktu itu, juga
pimpinan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Sebagian dari pimpinan
mahasiswa itu kini menjadi pemimpin dalam dunianya masing-masing, terutama di
bidang pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, kaum profesional, intelektual
dan lain-lain. Terlalu banyak nama untuk disebutkan. Pada tahun berikutnya, di
masa kepemimpinan Bagus Hendraning, diadakan juga Simposium Nasional Angkatan
Muda 1990-an: Menjawab Tantangan Abad 21. Kebetulan saya sendiri yang menjadi
Ketua Panitia Pelaksana. Eep dan Pance menjadi narasumber dalam kegiatan
kemahasiswaan itu.
Saya juga hadir ketika Pance menikah dengan istri pertamanya: Nadia Madjid.
Mbak Nadia adalah mahasiswa Fakultas Sastra UI jurusan Bahasa Inggris dan putri
Nurcholis Madjid. Masih ada foto perkawinan itu, ketika setiap orang ingin
berdiri berdekatan dengan Cak Nur. Selama periode itu, kami beberapa kali
bertemu, terutama dalam forum-forum diskusi mahasiswa. Dibandingkan dengan Eep
Saefullah Fatah, tentu saya lebih banyak bertemu dengan Eep, baik sebagai
nutulis, moderator, sampai kemudian sebagai pembicara pendamping dan pembicara
pengganti tentang gerakan mahasiswa. Skripsi saya juga tentang gerakan
mahasiswa.
Ketika aksi-aksi mahasiswa 1998 meledak, saya ketemu Pance di pagar halaman
kampus UI Salemba. Waktu itu tanggal 2 Mei 1998. Keluarga Besar UI mengerahkan
massanya waktu itu, ketika senat-senat mahasiswa justru tidak bergerak. Di
kampus terpasang penguruman dari Ketua-Ketua Senat Mahasiswa Fakultas
Kedokteran UI, Fakultas Ilmu Keperawatan UI dan Fakultas Kedokteran Gigi UI
bahwa mereka tidak bertanggungjawab atas aksi mahasiswa hari itu. Saya lihat
beberapa tokoh luar kampus hadir di panggung orasi, seperti Ali Sadikin, Adnan
Buyung Nasution, dan Rohut Sitompul. Saya sempat mengusir Rohut Sitompul dari
atas mimbar.
Kebetulan, para mahasiswa dari luar kampus bergerak di jalanan Salemba dan
ingin agar mahasiswa UI ikut turun ke jalan. Para mahasiswa UI sedikit
terpancing, tetapi ditahan oleh aparat keamanan bersenjata lengkap di pagar
kampus. Saya dan Pance ada di tengah-tengah aparat dan mahasiswa UI itu,
mencegah agar mahasiswa tidak keluar kampus dan juga menghalangi aparat yang
mendekat langkah demi langkah mendekati mahasiswa. Memang sempat terjadi aksi
dorong-dorongan, tetapi tidak sampai menjadi bentrokan. Kepada saya Pance
mengatakan bahwa Ia mendapatkan informasi betapa mahasiswa UI akan dikorbankan.
Dia mewanti-wanti agar saya menghubungi pimpinan aksi mahasiswa untuk tidak
membuat massa mahasiswa UI turun ke jalan. Saya menyampaikan informasi itu di
posko yang kami buat di Gang Kober (Kuburan), Depok. Pimpinan KBUI memang
berkumpul di sana dan kini sebagian sudah mendapatkan gelar doktor dan masih
banyak yang mengambil gelar doktor di luar negeri.
Ketika menduduki Gedung MPR-DPR, Pance juga terlihat di luar pagar. Menurut
informasi yang saya dapat, dia berusaha mencegah kalau terjadi penyerbuan atas
mahasiswa yang menduduki gedung itu. Pance menyediakan sejumlah bis untuk
evakuasi, kalau tiba-tiba terjadi penyerbuan. Isu penyerbuan itu menyebabkan
kami tidak bisa tidur. Pada dini hari, pukul 03.00, kami sempat terbangun dan
berlari sekencang-kencangnya menuju halaman belakang, karena ada info sweeping
dan penyerbuat dari pasukan militer di luar gedung. Gedung DPR-MPR itu tidak
jadi diserbu, justru dimasuki oleh banyak sekali tokoh yang kemudian disekanal
sebagai tokoh-tokoh reformasi. Peran Pance yang paling besar menurut saya
adalah dalam berhubungan dengan ayah mertuanya, Cak Nur.
Setelah semuanya berakhir, Pance saya dengar lebih banyak aktif di law-firm
yang dia pimpin. Kebetulan saya juga kenal para tetua di sana yang dikenal
sebagai genk Erry Riyana Hardjapamengkas. Dia juga berinisiatif membentuk
lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang advokasi hukum.
Salah satunya adalah Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK). Ada beberapa teman
yang aktif disana. Ketika konflik horizontal meledak di banyak daerah, seperti
di Ambon, kelompok itu juga aktif mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat yang
kemudian membentuk Forum Indonesia Damai. Saya juga aktid di kelompok itu dan
beberapa kali ikut rapat di kawasan Kebayoran Baru. Belakangan, kelompok inilah
yang menjadi salah satu pihak yang aktif dalam amandemen Konstitusi, paling
tidak dalam mendorong dari belakang. Saya juga terlibat menjadi anggota dari
Koalisi Konstitusi Baru (KKB). Adegan paling heroik adalah ketika Bambang
Widjojanto merobek naskah pembentukan Komisi
Konstitusi versi MPR.
Para pengacara lain setahu saya sibuk dengan menjadi pengacara bagi para
tersangka Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, terutama yang perusahaannya masuk
ke dalam BPPN. BPPN waktu itu memiliki aset ratusan trilyun rupiah. Rata-rata
mereka kemudian menjadi kaya raya. BLBI, kita tahu, telah menghabiskan uang
negara sebanyak lebih dari Rp. 600 Trilyun, hampir 100 kali lipat skandal Bank
Century. Tetapi tidak ada artinya dibandingkan dengan dana tanggap darurat yang
hanya Rp 100 Milyar untuk gempa di Sumatera Barat. Butuh lebih dari 60 gempa
bumi lagi berkekuatan 7,9 scala richer agar dana turun Rp. 6 Trilyun. Atau
butuh 600 gempa bumi lagi berkekuatan 7,9 scala richer agar dana turun Rp. 600
Trilyun.
Nama Chandra muncul lagi sebagai kandidat pimpinan KPK yang diseleksi di DPR
RI. Saya sendiri gagal lolos ke DPR RI sebagai calon anggota KPU. Suara yang
diperoleh Chandra berada di urutan atas. Tapi dalam pemilihan Ketua KPK, dia
kalah dari Anthasari Azhar. Saya beberapa kali saja mengirimkan sms kepada
Chandra atau Pance ini. Sms terakhir saya kirimkan menjelang deklarasi saya
sebagai politisi di Universitas Paramadina, Jakarta, tanggal 6 Agustus 2008.
Chandra datang dan memberikan kesaksian (lihat di www.indrapiliang.com bagian
testimony):
“Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi
kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk
dalam seksi kepengurusan. Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu
memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan.
Sehubungan dengan niat Indra untuk masuk ke DPR, jadi kami di KPK memang
menganggap ada korupsi di pengadaan badan dan jasa, ada korupsi di beberapa
sektor lain. Tetapi satu hal yang paling sukses adalah korupsi dalam pembuatan
peraturan perundang-undangan.
Sampai saat ini katakanlah UU kita UUD 1945, itu umurnya sebelum di amandemen
masih berlaku sampai tahun 1999. 55 tahun UUD 1945 itu berlaku dan yang membuat
sudah meninggal. Berarti kita dikuasai oleh orang-orang mati. Kitab UU Hukum
Perdata di Indonesia itu itu dibuat pada tahun 1930 dan sekarang sudah 2008,
berarti sudah 78 tahun.
Jadi seandainya proses pembuatan legislasi undang-undang ini diwarnai dengan
nuansa korupsi, maka bisa dibayangkan generasi ke depan akan di kekang atau
hidup dalam suasana yang korup. Jadi korupsi yang ada di pengadilan hanya satu
orang, satu keluarga atau sekelompok orang, tetapi korupsi yang ada di
legislatif menjadi kolektif. Itu adalah sumber permasalahan kenapa bangsa ini
menjadi demikian terpuruk. Dan hadirnya Indra mudah-mudahan tidak larut, karena
ada beberapa asumsi, mudah-mudahan tidak benar kalau kita masuk ke sarang
penyamun, jadi penyamun juga. Terima kasih.
(Chandra M Hamzah, Wakil Ketua, Komisi Pemberantasan Korupsi)”
Terakhir jumpa Chandra saya lupa, barangkali dalam suatu malam di sebuah cafe
di TIM ketika sejumlah teman bertemu. Tapi yang jelas, Chandra alias Pance ini
adalah produk murni dari reformasi. Almarhum Cak Nur mengatakan bahwa yang
dibutuhkan dalam zaman reformasi ini adalah kaum reformis yang otentik. Saya
bersaksi bahwa Chandra alias Pance ini adalah produk dari kaum reformis yang
otentik itu. Apakah karena itu ia ditahan? Apakah karena itu ia diperiksa? Atau
adakah drama-drama lain yang terlihat semakin hebat dipertontonkan dalam produk
kemasan seperti sekarang ini? Indonesia jelas berada di tubir jurang negara
gagal (failed state). Apakah penahanan Chandra bagian dari sangkakala kematian
sebuah bangsa itu, seperti yang pernah ditangisi oleh Kahlil Gibran?
Yang jelas, seperti Chandra yang berucap di hadapan ribuan mahasiswa UI tahun
1991 lalu itu, saya hanya bisa katakan: TIADA KATA JERA DALAM PERJUANGAN!!!
Jakarta, 30 Oktober 2009.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---