Pasang Surut Kerajaan Champa


 Nama Champa sedikit banyaknya berpengaruh terhadap kebudayaan Minangkabau.
Asal usul Harimau
Campa<http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/22/kelahiran-silek-minang/>sebagai
salah satu tokoh dalam
Tambo<http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/>yang
ikut serta dalam rombongan Sultan
Maharaja 
Diraja<http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/sutan-maharajo-dirajo-dan-mitos-puti-bidodari-dari-sarugo/>,
kesamaan sistem matrilineal, kesamaan sistem konfederasi
nagari<http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/19/konfederasi-kota-pemerintahan-nagari-ala-kerajaan-champa/>dan
kaitan dengan pendiri Kerajaan
Inderapura<http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/18/pemerintahan-raja-raja-di-kesultanan-inderapura/>adalah
sekian banyak jejak yang berkaitan dengan wilayah Minangkabau. Diluar
Minangkabau, pengaruh Champa sangat terasa di wilayah Aceh yang konon
merupakan akronim dari Arab-Champa-Eropa-Hindustan.

Kerajaan Champa didirikan di Vietnam oleh orang-orang Cham yang secara etnis
tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang Vietnam. Ketika kerajaan Funan
yang berada sebelah selatan Champa dipengaruhi oleh Cina, kerajaan Champa
selama 1600 tahun juga mendapatkan pengaruh dari Cina.

Akibat dari hal itu, Champa harus mengimbangi kekuatan di antara dua negara
tetangganya dalam hal jumlah penduduknya dan pola militer : Vietnam di utara
dan Khmer (Kamboja) di selatan. Seperti Funan, kerajaan Champa menerapkan
kekuatan perdagangan pelayaran laut yang berlaku hanya di wilayah yang
kecil.

Pertengahan abad VIII merupakan waktu yang kritis bagi Champa, seperti
Kamboja, Champa harus bertahan atas sejumlah serangan dari Jawa. Tetapi
bahaya Jawa segera berlalu pada awal abad IX karena Champa sendiri juga
melakukan serangan-serangan. Dibawah Hariwarman I, Champa menyerang
propinsi-propinsi Cina sebelah utara dengan mendapat kemenangan. Champa juga
melakukan penyerangan ke Kamboja dibawah pimpinan Jayawarman II, yaitu
pendiri dinasti Angkor. Serangan tersebut dibalas oleh Indrawarman II.

Di bawah Indrawarman II (854-893), didirikan ibu kota Indrapura di propinsi
Quang Nam. Ia memperbaiki hubungan baik dengan Cina. Pemerintahannya
merupakan pemerintahan yang damai, terutama dengan dengan dirikannya
bangunan-bangunan besar Budha, sebuah tempat suci, yang reruntuhannya
terdapat di Dong-duong, di sebelah tenggara Mison. Ini adalah bukti pertama
adanya Budha Mahayana di Champa.

Indrawarman II mendirikan enam dinasti dalam sejarah Champa. Raja-rajanya
lebih aktif daripada yang sebelumnya dalam perhatiannya pada kehidupan di
negeri itu. Mereka bukan saja mendirikan tempat-tempat suci baru, tetapi
juga melindungi bangunan-bangunan keagamaan itu dari para perampok dan
memperbaikinya kembali jika rusak.

Selama pemerintahan pengganti Indrawarman, Jayasimhawarman I, hubungan
dengan Jawa menjadi erat dan bersahabat. Seorang keluarga permaisurinya
berziarah ke Jawa dan kembali dengan memegang jabatan tertinggi dengan
sejumlah raja dibawahnya. Hubungan ini menjelaskan pengaruh Jawa pada
kesenian Champa.

Selama abad X terjadi banyak peristiwa penting di Champa. Tahun 907 dinasti
T’ang jatuh di Cina dan orang Annam mengambil kesempatan itu untuk maju dan
mendirikan kerajaan Dai-co-viet (Annam dan Tong-King) tahun 939. Awalnya
perubahan ini hanya berpengaruh sedikit pada Champa akan tetapi kemudian
timbul keributan antara Champa dengan kerajaan-kerajaan baru itu. Kemudian
Champa dikuasai dan mulai mencari pengakuan dari Cina. Tahun 988 terjadi
pembalasan oleh Champa dibawah raja Vijaya (Binh-dinh). Setelah masa damai
yang singkat, ia mendapat jaminan pengakuan dari Cina dan memperbaiki
ibukota Indrapura.

Abad XI merupakan masa kehancuran Champa. Champa kehilangan propisinya
karena direbut oleh Annam. Mereka mengirim misi ke Cina berturut-turut dan
tahun 1030 bersekutu dengan Suryawarman I dari Angkor. Tahun 1044 Annam
melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Champa dan Champa mengalami
kehancuran. Ibukota Vijaya direbut dan Raja Jayasimhawarman II dinaikan
pangkatnya.

Dinasti VIII, didirikan oleh seorang pemimpin perang yang bergelar
Parameswaraman I dan mulai menghidupkan kembali kerajaannya. Ia menekan
pemberontakan di propinsi bagian selatan dan berusaha mengembangkan hubungan
baik dengan kedua Annam dan Cina dengan sering-sering mengirim misi.

Seorang pangeran bernama Thang mendirikan dinasti IX. Beliau mengambil gelar
Hariwarman IV dan segera memperlihatkan kekuasaannya dengan memperbaiki
kerusakan yang disebabkan oleh penyerangan dan membangkitkan kesejahteraan
negerinya. Kebangkitan Champa sangat cepat, setelah berhasil mengusir Annam
dari Champa, selanjutnya menghancurkan serangan Khmer dan membalasnya dengan
mengirim pasukan penyerang memasuki Kamboja.

Politik Hariwarman IV memelihara hubungan yang lebih baik dengan Annam.
Sejak itu dengan sedikit keraguan kemudian ia bersekutu dengan Cina dan
merencanakan penyerangan terhadap Annam. Ketika gagal, ia bertanggungjawab
melindungi dari kemarahan orang Annam dengan mengirimkan tawaran perdamaian
yaitu dengan memberi upeti kepada Annam secara teratur.

Khmer juga mulai menyerang Champa, bagian utara Champa telah berada dibawah
kekuasaan Khmer. Tetapi di bagian selatan Panduranga, seorang raja baru,
Jaya Hariwarman I, bangkit tahun 1147. Kemudian setelah mendesak keluar
pasukan Khmer, ia terus menyerang dan mengembalikan Wijaya dan menyatukan
kembali kerajaan.

Kesulitan Jaya Hariwarman I belum teratasi, tahun 1155 Panduranga mulai
memberontak. Tetapi ia dapat memperbaiki kembali kerusakan-kerusakan karena
perang dengan menggunakan sebagian barang jarahannya untuk memperbaiki
candi-candi dan membangun yang baru. Beliau juga mengirim utusan ke Cina dan
menenangkan Annam dengan membayar upeti secara teratur.

Ketika Jaya Hariwarman I mangkat, ia digantikan oleh seorang avontutir yang
cerdik bernama Jaya Indrawarman IV yang telah merebut tahta dari putera Jaya
Hariwarman I. Kemauannya yang besar ialah membalas dendam dengan menyerang
Kamboja yang telah menyerang Champa oleh Suryawarman. Akan tetapi
penyerangan tersebut gagal. Setelah melakukan persiapan lama, Jayawarman
VII, pendiri Angkor Thom, melancarkan serangan besar-besaran terhadap
Champa. Sekali lagi Champa jatuh ke tangan Kamboja. Suryawarman memutuskan
untuk bersekutu dengan Kamboja.

Kemudian Khmer menyerang Champa lagi, dan Champa dikuasai oleh Khmer selama
17 tahun. Karena beberapa alasan yang tidak disebut dalam catatan, pasukan
Khmer meninggalkan negeri itu dan memberikan kendali pemerintahannya secara
sukarela. Banyak yang berpendapat mengenai sebab pengunduran Khmer secara
tiba-tiba tersebut. Kesimpulan Maspero oleh Coedes, adalah bahwa tekanan
T’ai atas kerajaan besar Khmer telah sedemikian keras hingga Angkor dipaksa
meninggalkan cita-citanya menjadikan Champa sebagai daerah taklukannya.

Kemengan-kemenangan Mongol di Cina juga dianggap sebagai penyebab
berhentinya perang antara Annam dan Champa. Dalam hal Champa, masalahnya
sampai pada puncaknya ketika tahun 1281, yaitu saat kesabaran Kublai Khan
telah habis dan beliau mengirim marsekal “Sogatu” untuk mendesak
pemerintahan Mongol di negeri itu.

Seorang raja baru, Jaya Simhawarman III didesak untuk bersekutu dengan
Annam. Tahun 1301 ia menerima kunjungan dari Tran Naon-Ton, yang telah
menyerahkan dengan senang hati tahtanya kepada puteranya Tran Anh Ton, dan
pura-pura mencari kebajikan dengan berziarah keliling tempat suci di
negeri-negeri tetangganya. Ia menjanjikan pada raja Champ salah seorang
putrinya untuk dijadikan istri raja Cham.

Dalam pertalian perkawinan itu, ia terbujuk untuk menyerahkan dua buah
propinsi Cham di utara Col des Nuages sebagai nilai tukar penyerahan seorang
saudara perempuan Tra Anh-Ton. Kemudian ketika pemerintahannya digantikan
oleh putranya Che-Chi, putranya harus menanggung perbuatan bodohnya itu.
Tahun 1312, Annam menyerbu Champa, menurunkan Jaya Simbhawarman IV dari
tahtanya dan menggantinya dengan adiknya. Cue Nang.

Champa sekarang menjadi propinsi Annam yang rajanya diangkat sebagai
“pangeran pembayar pajak kelas dua”. Tetapi Che Nang tetap setia kepada
Champa dan tidak mau menyerahkan pada kekuasaan Annam. Ia memberontak dan
berusaha mengembalikan dua propinsi yang telah diserahkan oleh ayahnya.

Che Anan ialah pendiri dinasti XII dalam sejarah Cham yang berkuasa sampai
tahun 1390. Ini merupakan pembuka bagi kebangkitan Cham dengan mengambil
manfaat atas berdirinya dinasti Ming di Cina. Dengan mulai serangkaian
serangan-serangan yang sukses di Annam. Negeri itu tetap dalam keadaan teror
terus menerus sampai tahun 1390, raja Cham terbunuh dalam perang di laut.
Kemudian Champa kehilangan propinsi Indrapura (Quang Nam). Tahun 1441,
pemerintahan Jaya Simhawarman V berakhir.

Di tahun 1471, tentara Vietnam Dinasti Le menaklukan kerajaan Champa.
Sekitar 60.000 orang tentara Champa terbunuh, termasuk Raja Champa dan
keluarganya dan sekitar 60.000 orang lainnya diculik untuk dijadikan budak.
Kerajaan Champa diperkecil wilayahnya, yang sekarang dikenal dengan nama Nha
Trang. Pada tahun 1720 terjadi serangan baru dari tentara Vietnam yang
mengancam kerajaan Champa. Seluruh bangsa Cham beremigrasi ke arah barat
daya, ke wilayah utara danau Tonle Sap yang sekarang merupakan Kamboja.

Dengan kejatuhan Vijaya pada 1471 maka keluasan Negara Champa semakin
mengecil dan ibu negara Champa berpindah untuk kesekian kalinya. Kali ini
jauh ke selatan ke Panduranga. Mengikut sejarah, semenjak perlantikan Po Tri
Tri sebagai raja untuk keseluruh Champa dan dengan perpindahan beliau ke
Panduranga untuk menubuhkan kerajaan yang baru, maka bermulalah perkembangan
Islam secara besar-besaran di Champa. Bahasa Sanskrit yang selama ini
menjadi bahasa rasmi Champa juga tidak digunakan lagi.

Semenjak era inilah Champa bertukar corak. Tidak pasti sama ada Champa terus
menerus diperintah oleh raja Islam sehingga kejatuhannya ke Vietnam, akan
tetapi berdasarkan kepada keunikan sistem pentadbiran yang diamalkan di
Champa di mana terdapat berbagai kerajaan dalam satu wilayah pada masa yang
sama, maka berkemungkinan bahwa ada raja-raja Islam yang memerintah Champa
pada zaman tiga abad setelah kejatuhan Vijaya.

Keunikan sistem pemerintahan Champa adalah karena Champa terdiri dari
persekutuan berbagai kaum yang dikenal majemuk sebagai *‘Urang Champa’*.
Selain kaum Cham sendiri, penduduknya juga terdiri dari berbagai kaum etnik
daripada rumpun lain yang juga merupakan rumpun bahasa Austronesia yaitu
puak bukit (hill tribes) yang terdiri daripada kaum-kaum *Chru, Edê, Hroy,
Jörai, Rhade (Koho), *dan* Raglai* dan termasuk juga dari rumpun bahasa
Austroasiatic seperti kaum *Dera* atau montanagards yang terdiri dari
kaum-kaum *Ma, Sré *dan* Stieng*.

Meskipun terdapat raja, yang memerintah Champa secara keseluruhannya,
terdapat juga raja-raja kecil misalnya Raja Bao Dai, yang menjadi raja untuk
kaum etnik yang tertentu. Ini mempunyai persamaan dengan kaum Batak dan
Mandiling di Indonesia, misalnya, yang mempunyai raja-raja mereka sendiri,
tetapi semata-mata sebagai raja adat. Dalam mengkaji sejarah Champa mungkin
pengkaji sejarah tidak memahami kedudukan raja pada kaum masing-masing dan
hal ini telah menimbulkan kekeliruan di sebabkan dalam satu zaman yang sama
akan terdapat rujukan kepada dua atau tiga raja yang berlainan nama. Dalam
tradisi pemerintahan Champa, hanya raja yang mempunyai kekuatan tentara dan
kekuasaan politik negara sebagai ‘Raja kepada Raja-raja (*‘Rajatiraja’*)
Champa’ (“King of Kings of Champa”). Berdasarkan kepada manuskrip-manuskrip
yang terdapat berkemungkinan besar setelah kejatuhan Vijaya, kekuasaan ini
pernah dipegang oleh raja yang beragama Islam.

Kerajaan Champa merupakan kerajaan maritim sehingga pandai dalam pelayaran.
Pelabuhan utama Champa ialah Phan Rang dan Nha Trang. Pelabuhan tersebut
merupakan pemasok utama pendapatan kerajaan ini. Karena Quang Nam menawarkan
pelabuhan yang lebih baik daripada pelabuhan yang lain, dimana kapal
pedagang dari India, Sumatra, Jawa, dan Cina bisa mendapatkan persediaan air
bersih di pelabuhan ini.


*http://mozaikminang.wordpress.com/* <http://mozaikminang.wordpress.com/>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke