Wass wr wb Batua... itu bana nan dicaliak wukatu di Lokasi waktu itu Da Erinos. Tarimokasih Da Sekalian ambo koreksi seketek tulisan Ambo: 'Posko GMP' Gerakan Minang Peduli, nan batua 'Posko RMP' (Ranah Minang Peduli). Kampuang si Amak nan maagiah Tabu itu bukan Bukik Gati, nan batua Padang Alai. Maaf dek salah tulih nantu. DYEK
--- On Thu, 5/11/09, Eri Bagindo Rajo <[email protected]> wrote: From: Eri Bagindo Rajo <[email protected]> Subject: Bls: [...@ntau-net] Pasca Gempa: Logika dan Dialektika ala Uni Rezki dan Uni Ruhil To: [email protected], "Dedy Yusmen" <[email protected]>, "annisa hanum" <[email protected]> Date: Thursday, 5 November, 2009, 17:18 Assalamualaikum WW Dinda DYEK dan sidang Palanta RN nan mulia. Inti nan bisa ambo ambiak dari tulisan DYEK adolah tentang dinamika "LOCAL WISDOM" dengan "teori Akademikus", nan paralu di pahami oleh kito nan basamo. Uni Rizki dan Uni Ruhil menjawab, “Jalanlah, kami jalanlo, apo yang bisa kami bantu kami bantu, urusan kami di lapangan, urusan apak-apak di dalam perencanaan silahkan sajo. "jangan bertindak dengan menggunakan logika kita, tapi lihat keadaan masyarakat secara ril di lapangan sesuai objek yang kita bantu". Sarupo pangajaran mamanda Haji DJAMALI dulu di Bukittinggi tahun 60-an ," Ilimu BALAI labiah tapakai di lapangan dari pado ilimu bangku SAKOLA" Wassalamu'alaikum WW Erinos Muslim Tanjung (52) mantan kutu balai pasa ateh bkt Dari: dedi yusmen <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kam, 5 November, 2009 12:49:57 Judul: [...@ntau-net] Pasca Gempa: Logika dan Dialektika ala Uni Rezki dan Uni Ruhil Pasca Gempa: Logika dan Dialektika ala Uni Rezki dan Uni Ruhil Alhamdulillah, Akhirnya saya berkesempatan 3 hari, dari Jumat s.d Minggu tanggal 30 Oktober sd 1 November lalu, menyaksikan langsung di Lapangan kondisi pasca gempa di Padang-Pariaman-Agam. Walau sebulan telah berlalu, tapi rasanya duka itu masih dapat dirasakan. Disana-sini bangunan rusak, rumah penduduk beralaskan atap, dinding rumah hancur. Rumah tidak bisa dihuni, hidup di tenda, di pengungsian, menumpang, para siswa terganggu proses belajarnya, belajar di tenda-tenda. Di daerah Patamuan – Malalak, kondisi mengenaskan rumah-rumah tertimbun longsor. Beberapa keluarga kehilangan anggota keluarganya. Roda hidup seolah berhenti, tatapan kosong dari para orang tua dan anak-anak korban gempa masihlah tampak. Para ’penolong’ yang mengatas namakan pemberi bantuan mengumpulkan segala kemampuan untuk menghimpun semua kekuatan yang ada disekeliling untuk memberikan bantuan, memberi andil dalam perbaikan ranah dan masyarakat. Berdasarkan logika, masyarakat pasti menderita, anak-orang tua sedang trauma, kelaparan dimana-mana. Logika ini menyelimuti para ’dermawan’ para ’relawan’ kagetan merasa Logika nya adalah benar, sehingga ’treatment’ yang dilakukan dalam usaha penanganan pasca gempa adalah dengan gaya ala superman, ala kita, menurut pandangan kita menggunakan logika ’keadaan seharusnya’ berlaku di masyarakat. ”Minta tabu Mak ciek yo”, itu selaan yang disampaikan Uni Ruhil seorang relawan-psikolog dari Posko GMP ( Gerakan Minang Peduli) disaat kami memberikan bantuan dari Pekerja Pertamina EP melalui Serikat Pekerja Pertamina EP (SPPEP) bertempat di Bukit Gati Pariaman. Pendistribusian ini didampingi juga oleh tim dari SMM-RantauNet (Tuan Aslim dan Tuan Arif Rangkayo Mulia). Tabu itu berada di pekarangan si Amak Bukik Gati. “Ambiaklah”, jawaban si Amak di Bukit Gati ini. Amak ini salah satu pemilik rumah dari semua rumah yang roboh berjumlah sekitar 15-an rumah di Bukit Gati yang roboh karena gempa. Saat ini oleh anak-anak si Amak yang sengaja pulang dari rantau memperbaiki rumah Amak dengan menggunakan sisa bangunan yang ada seperti atap, kayu dsbnya, dengan bangunan 3 x 4 meter. Amak yang berumur kira-kira 65 tahun ini hanya tinggal sendiri. Ada 11 rumah yang diputuskan untuk dibantu untuk pembuatan rumah kecil sederhana dengan anggaran sekitar 2.5 juta per rumah. Setelah itu saya tanya, ‘kenapa Uni Ruhil minta tabu kepada orang yang sedang susah”. Disitulah Uni Ruhil menjelaskan jangan bertindak dengan menggunakan logika kita, tapi lihat keadaan masyarakat secara ril di lapangan sesuai objek yang kita bantu. Satu dusun dengan dusun yang lain, satu korong dengan korong yang lain (korong adalah istilah di pariaman yang sama maksudnya dengan jorong), belum tahu mempunyai kebutuhan dan kondisi psikologis masyarakat yang sama. Orang-orang seperti ini bagi mereka dibantu tidak dibantu tidak masalah mereka sudah terbiasa menghadapi kesusahan dan penderitaan. Di tempat lain, disalah satu Madrasah Tsanawiyah untuk para Dhuafa di Padang yang juga kami salurkan bantuan untuk pembangunan awal. Kami, rombongan datang ke lokasi, disambut oleh Pihak sekolah, diadakan sambutan ‘formal’, guru wali murid berada seolah pada posisi dibawah sebagai ‘si penerima sumbangan’, mengucapkan terimakasih berkali-kali, seolah-olah Tim datang bagai ‘dewa penolong’ bak ‘sinterklas’ yang datang tanpa dikira. Bak durian runtuh, selanjutnya sepeninggal kami masyarakat setempat ribut, merasa mereka punya hak pula atas bantuan tersebut. Kepala Madrasah dimintai ‘PC’ oleh masyarakat sekitar yang sebagian mereka adalah wali murid pula. Subhanallah . Logika kami berpikir, masyarakat sekitar pasti akan bekerjasama untuk bahu-membahu membangun sekolah ‘tenda’ itu dengan menggunakan bantuan yang barusan diberikan. Untuk ini dalam diskusi malamnya dengan Uni Rezki yang juga anggota GMP sekaligus relawan dari Bina Desa menjelaskan, “Apa yang kita pikirkan, logika kita, tidak selalu sesuai dengan keadaan masyarakat, penggalian informasi terkait dengan , pola hidup, budaya dan karakter masyarakat diperlukan sebelumnya untuk memberikan bantuan apa dan metodologi apa yang cocok untuk masyarakat” Uni Ruhil yang psikolog dan Uni Rizki yang juga Dokter ini dengan timnya telah berpengalaman bertahun-tahun dalam melakukan ‘trauma healing’ pasca bencana terutama di Sumatera Barat. Proses pengetahuan, pelibatan dan pendalaman karakteristik masyarakat ini adalah proses dialektika, berdasarkan proses inilah diambil keputusan apa bantuan yang cocok untuk daerah target, bagaimana metodologi dan cara penyampaiannya begitu juga tata cara pengendalian dan monitoring implementasi bantuan. Saat itu saya lepaskan semua pikiran saya terhadap Logika yang coba saya reka-reka terkait dengan kondisi, cara dan metodologi bantuan objek gempa. Saya serahkan kepada ahlinya kepada pelaku utama lapangan yang telah berpengalaman menggunakan proses dialektika, agar bantuan tepat sasaran. Jadilah Saya bersama Tim Distribusi Donasi Gempa SPPEP sebagai manusia belajar bukan mengajar, belajar dari Uni Ruhil dan Uni Rizki, bagaimana cara penanganan korban pasca gempa berbasis komunitas berdasar proses dialektika. Di malam minggunya kami berdiskusi di ‘lead’ oleh Da Andrinof Chaniago di Posko GMP LubuakAluang, merencanakan untuk mengkoordinaskian bantuan di lingkungan Sumbar dalam bentuk sebuah komite rehabilitasi dan recovery agar dapat dilakukan synergi antar komunitas sehingga bantuan lebih optimal pemanfaatnnya. Untuk hal ini Uni Rizki dan Uni Ruhil menjawab, “Jalanlah, kami jalanlo, apo yang bisa kami bantu kami bantu, urusan kami di lapangan, urusan apak-apak di dalam perencanaan silahkan sajo”. Uni Rezki dan Uni Ruhil, Uni-Uni Ambo bak Amai Setia, Siti Manggopoh di jaman pergerakan tidak suka berondoh-pondoh, berjalan sesuai niat hati nurani mengutamakan kepentingan yang ditolong dari pada si penolong. Uni Ruhil dan Uni Rezki, ditangan Uni kami percaya distribusi bantuan dapat berjalan sesuai dengan target awal. Distribusi bantuan berdasarkan Dialektika bukan Logika. Terimakasih Uni Rizki dan Uni Ruhil atas Ilmu Kemasyaraktannya yang luar biasa, dalam 3 hari kami belajar ’KELUAR BIASAAN’ sebuah ‘PENGABDIAN’ Palembang, 5 November 2009 Wassalam Dedi Yusmen / Koordinator Tim Distribusi Bantuan Gempa SPPEP Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
