Pak Saaf, Pak Bakhtiar, dan Dunsanak Sadonyo. Kalau boleh kita mulai dari beberapa kondisi yang disebutkan pak Bakhtiar, dan yang sering dimuat di RN ini, terutama pasca Gempa kemaren.
Yang saya tangkap adalah, ekonomi Sumbar (bisa) memburuk karena sekian industri terhenti, bangunan rusak dst. Sebelum inipun, sumber daya alam kita kurang. Kalau berharap dari Pemerintah saja sulit. Juga, masalah koordinasi juga menjadi hambatan. Saya jadi teringat dengan istilah yang saya dapat dari RN ini, dan kemudian dari da Rainal Rais tentang: Pembangunan Berbasis Kanagarian. Bagaimana kalau kita - kalangan non Pemerintah - berusaha memformulasikan ini secara *serius dan berkesinambungan*. Dirumuskan cara yang "membumi" sehingga bisa diterapkan? Maaf, kata iko serius dan berkesinambungan ambo highlite bana, supayo jan cuma jadi topik diskusi yang seru, kemudian berhenti jika ada topik lain ... riri bekasi, l, 47 2009/11/9 Bakhtiar Muin <[email protected]> > > Ass.wr.wb. > > Saafroedin Bahar > > Pertanyaan pak Bakhtiar Muin ini sangat mendasar dan layak direnungkan > bersama, berkaitan dengan : apa kebijakan, apa strategi,bagaimana cara > melaksanakan pembangunan kembali Sumbar pasca bencana, serta -- yang > mungkin > paling penting -- apa mekanismenya, yang dapat mendayagunakan potensi > Ranah-Rantau-Pemerintah Pusat secara berdaya guna dan berhasil guna ? > > Atau kita akan meneruskan saja cara seperti sekarang, terfragmentasi tanpa > koordinasi satu sama lain ? > > BakhtiarM: > > Disamping adanya sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah, dimana > ketergantungan daerah dalam kasus Sumbar sangat besar thd pusat ( APBN 1,7 > T > PAD hanya 500 M). Orang Minang sendiri harus sadar, karena sumber alamnya > sangat terbatas, orang Minang harus meunggulkan SDM utk masa2 yad. > > Menunggu saja otonomoni daerah dijalankan dgn semestinya, menurut saya > adalah sulit, karena adanya konflik kepentingan. > > Bayangkan saja ketimpangan dalam SDM. Kalau kita lihat Passing grade utk > masuk ITB,UI, sangat jauh dibandingkan dgn masuk Unand. Mayoritas lulusan > ITB, juga sudah dibajak oleh perusahaan multi National. > > Kalau SDMnya sudah sangat jauh gapnya, bagaimana bisa bersaing? Itulah yg > ada dalam benak saya pak Saafrroedin Bahar. > > Jadi harus ada satu kebijaksanaan dari pusat dan daerah untuk mengatasi > kesenjangan ini. > > Wass.wr.wb. > Bakhtiar Muin > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
