Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Carito talambek.......

GEMPA SUMATERA BARAT 30 SEPTEMBER 2009
Antara Musibah, Derita dan Fakta
 
Sudah tercatat, bahwa pada hari Rabu tanggal 30 September 2009 jam 5 lebih 16 
sore gempa berkekuatan 7.6 skala Richter menggoncang pantai barat Sumatera 
Barat. Kota-kota Padangdan Pariaman berikut kampung-kampung disekitarnya 
menderita kerusakan. Kerusakan ringan sampai kerusakan sangat parah. Lebih 
seribu orang terkorban dalam musibah itu. Selama berhari-hari sesudah kejadian 
dahsyat ini beberapa stasiun televisi tidak henti-hentinya mengabarkan berita 
disertai tayangan gambar tentang kerusakan akibat gempa. Tayangan tentang usaha 
mengeluarkan mayat-mayat yang tertimbun runtuhan bangunan. Disamping ada juga 
tayangan tentang korban yang jiwanya selamat sesudah badannya dikeluarkan dari 
puing reruntuhan. Ranah Minang menangis haru dalam derita. Bantuan datang dari 
mana-mana. Secara spontan, baik melalui kelompok-kelompok perorangan atau dari 
badan-badan sosial di dalam dan luar negeri. 
 
Empat hari sesudah gempa, tanggal 4 Oktober, jam tiga sore hari, saya sampai di 
Bandara Minangkabau. Mulanya kedatangan saya ini direncanakan untuk keperluan 
keluarga, menghadiri perhelatan seorang kemenakan di Sawahlunto. Karena adanya 
musibah gempa, saya ikut mengantarkan sumbangan untuk para korban gempa. Adadua 
kelompok yang menitipkan sumbangan kepada saya. Yang pertama jamaah masjid Al 
Husna di Kompleks Depkes II Jatibening Bekasi, di tempat saya tinggal. Yang 
kedua anggota milis Rantau Net, sebuah komunitas maya urang awak yang 
anggotanya tersebar di sekeliling dunia. 
 
Saya yang datang berdua dengan istri dijemput ke Bandara oleh kemenakan yang 
lain, sepasang suami istri pula. Kami akan langsung ke Sawahlunto sore hari itu 
juga. Sebelum menuju Sawahlunto, kami ditawari untuk melihat suasana 
kotaPadangpaska gempa. Bangunan Bandara terlihat berdiri utuh, tidak ada kesan 
terkena pengaruh gempa. Ketika kami di jalan menuju kotaPadang, juga belum 
terlihat kerusakan yang berarti. Istri saya sempat berkomentar, kok 
kelihatannya aman-aman saja. Baru setelah berada di dalam kotaterlihat beberapa 
buah rumah yang runtuh. Adayang retak-retak, ada yang dindingnya jebol, ada 
yang atapnya runtuh ke tanah. Saya menangkap sedikit keanehan. Beberapa buah 
rumah berjejer, satu yang di tengah hancur sementara yang di kiri kanannya 
utuh. Bagaimana mungkin yang digoyang hanya rumah yang di tengah itu saja, 
tanya istri saya. Tidak ada yang bisa menjawab.
 
Kami kelilingi kotaPadang. Kami temukan lebih banyak lagi rumah, kantor, gedung 
sekolah, toko-toko dan ruko (rumah toko), show room mobil yang runtuh. Kami 
lalui daerah Pondok. Di sini kehancuran nyaris total. Kami tidak bisa masuk ke 
area hotel Ambacang karena jalan di dekat hotel itu ditutup polisi dengan 
police line. Laa hawla wa laa quwwata illa billah (tiada daya, tiada kekuatan 
kecuali dengan izin Allah). Bergetar hati melihatnya. Kemenakan kami bercerita 
tentang bangunan yang sekarang terlihat satu tingkat padahal tadinya ruko 
bertingkat tiga. 
 
Kenapa bangunan-bangunan itu seolah-olah sebegitu rapuh? Bisa luluh lantak 
seperti itu? Sementara ada bangunan-bangunan lain di sebelah menyebelahnya 
masih berdiri utuh? Saya bukan ahli bangunan, tapi saya menduga bahwa mutu 
bangunan-bangunan itu tidak sama semuanya. Mungkin ada kekeliruan teknis pada 
pembuatan sebagian dari bangunan-bangunan yang runtuh itu. 
 
Sepanjang jalan kami berbincang tentang gempa. Kemenakan itu menceritakan 
keanehan gempa hari Rabu sore itu. Katanya, getaran gempa itu tidak hanya 
horizontal tapi juga vertikal. Sebuah gentong tempat beras terlempar naik turun 
di atas lantai sampai akhirnya pecah, katanya. Bahkan lemari bofet tempat 
menaruh barang pecah belah juga seperti dilemparkan naik turun sehingga isinya 
berhamburan keluar. 
 
Saya terheran-heran mendengar cerita itu. Tiga hari kemudian, ketika pergi 
mengantarkan sumbangan untuk korban gempa dan melintas di lembah Anai, saya 
terkesima melihat dua bongkah batu, yang satunya berukuran lebih kurang 2x3x3 
m3 di pinggir jalan, kira-kira satu kilometer sebelum air terjun dari arah 
Bukit Tinggi. Kedua bongkah itu pastilah terjatuh dari bukit setinggi 30 meter 
di atas. Seandainya ketika itu ada sebuah tank baja melintas dan ditimpanya, 
pastilah tank itu akan jadi gepeng.
 
Gempa berkekuatan 7.6 skala Richter adalah gempa yang kuat. Bulan Maret tahun 
2007 kotaSolok dan sekitarnya dilanda gempa berkekuatan 5.8 skala Richter juga 
memporak-porandakan kampung dan nagari. Banyak rumah dan bahkan masjid yang 
rusak kala itu. Beberapa buah masjid ada yang rubuh kubahnya atau hancur 
dindingnya. Ketika itu saya juga pergi mengantarkan sumbangan untuk korban 
gempa.
 
Gempa memang merupakan ketetapan Allah. Dalam bahasa para ulama, gempa adalah 
sunatullah. Sekarang kita semakin terbiasa dengan istilah para ahli tentang 
lempeng-lempeng benua yang saling bertumbukan. Bahwa seluruh pantai barat 
Sumatera sampai pantai selatan Jawa adalah daerah yang selalu dipengaruhi oleh 
tumbukan lempeng-lempeng benua itu dan merupakan daerah rawan gempa.  Ingin 
kita perjelas sedikit informasi tumbukan lempeng itu dengan bahasa yang lebih 
sederhana. Bayangkan sebuah jeruk bali. Jeruk yang tebal kulitnya dan di bawah 
kulit itu terdapat isi buah berwarna merah yang biasa kita makan. Seperti 
itulah lebih kurang keadaan bumi kita ini. Bagian yang seperti kulit jeruk bali 
itu adalah lapisan atas bumi yang terdiri dari lapisan-lapisan batuan. Bagian 
isi buah berwarna merah adalah serupa dengan bagian isi bumi yang terdiri dari 
lava bertemperatur sangat tinggi. Ketika gunung berapi meletus lava ini 
dimuntahkan keluar. 
 
Kulit bumi yang terlihat seolah-olah diam saja, ternyata dinamis. Dia bergerak 
satu terhadap yang lain dengan kecepatan beberapa sentimeter pertahun. Di mana 
titik awal  pergerakannya? Di suatu tempat dimana bagian kulit itu lahir dan 
muncul ke permukaan. Tempat dia keluar itu berupa sebuah rekahan terletak di 
dasar laut. Paraahli menyebutnya ‘sea floor spreading’ (dasar laut yang 
merekah). Pada bagian-bagian tertentu lempeng-lempeng yang bergerak itu dapat 
saling bertemu dan bertumbukan. Dua lempeng yang berbeda massadan kandungannya 
akan berbeda pula reaksinya terhadap tumbukan itu. Tumbukan lempeng yang 
terjadi di sebelah barat Sumatera , dimana lempeng yang datang dari arah lautan 
hindia lebih plastis, dia menekuk atau menunjam ke bawah lempeng benua yang 
lebih kekar. Tempat penunjaman lempeng ini dicirikan dengan munculnya 
tonjolan-tonjolan ke permukaan. Itulah yang kita lihat sebagai pulau-pulau yang 
berbaris di sebelah barat Sumatera sejak
 dari pulau Simeulue di utara sampai pulau Enggano di selatan.
 
Tempat dua lempeng bertumbukan ini adalah merupakan daerah yang paling tidak 
stabil. Bagian kulit bumi yang bertumbukan ini mengalami retak-retak, 
patah-patah dan masing-masing bagian yang rekah-rekah ini, karena pengaruh 
panas tinggi dari bagian dalam bumi ‘dengan mudah’ bergeser, berpindah tempat, 
yang satu jatuh terhadap yang lain. Kejadian itulah yang kita rasakan sebagai 
gempa. Bagian yang bergerak, bergeser atau jatuh ini berada pada kedalaman 
belasan sampai puluhan kilometer dan biasa disebut sebagai pusat gempa atau 
epicenter. Sayangnya tidak ada alat yang dapat digunakan untuk memprediksi 
kapan datangnya gempa, dimana pusatnya, dan berapa kekuatannya. Para ahli hanya 
bisa mencatat data statistik dari gempa-gempa terdahulu
 
Bagian lempeng benua yang lebih kekar mengalami pula penonjolan berupa 
gunung-gunung seperti yang kita temui di bagian barat pulau Sumatera.  Sebagian 
besar dari gunung-gunung tersebut adalah gunung berapi aktif.
 
Seperti halnya gempa bumi, letusan gunung berapi juga sangat akrab dengan 
daerah tempat bertemunya lempeng-lempeng benua ini. Letusan gunung itu pernah 
sedemikian dahsyatnya yang meninggalkan kawah raksasa danau Toba dan danau 
Maninjau sekarang. Gunung Toba dan Gunung Maninjau purba itu meletus sekitar 
75,000 tahun yang lalu. Pada saat meletus gunung berapi melemparkan 
berjuta-juta ton material keluar dari kepundannya. Adayang berupa bongkahan 
batu berbagai ukuran, berupa pasir dan debu vulkanis. Pasir dan debu vulkanis 
ini disebut sebagai ignimbrite. Penyebarannya bisa sampai beratus-ratus 
kilometer dari kepundan gunung berapi dan ketebalannya bisa sampai 
beratus-ratus meter.  
 
Di Sumatera Barat, ignimbrite ini disebut penduduk sebagai bungin putih. 
Dinding tebing ngarai Sianok di Bukit Tinggi yang berwarna putih adalah contoh 
yang sangat baik. Sebagian besar Bukit Tinggi yang berbukit-bukit diselimuti 
material ignimbrit yang sebenarnya sangat labil dan mudah longsor. Penduduk 
menambangnya di tempat-tempat tertentu di tebing-tebing gundukan yang 
menyerupai bukit.   Pasir putih ini biasa digunakan sebagai bahan bangunan 
bersama-sama dengan pasir pantai yang berwarna hitam. 
 
Tumpukan pasir ignimbrit ini tidak berlapis dan mempunyai pori-pori yang mampu 
menyerap air. Jadi rawan longsor. Di bagian atas yang ditutupi oleh tanah soil, 
tumbuh-tumbuhan bahkan pohon-pohonan tinggi dapat tumbuh.
 
Pada saat berkunjung ke kampung (nagari) Lubuak Laweh tanggal 7 Oktober yang 
lalu, saya lihat kampung-kampung itu tertimbun oleh pasir putih ignimbrite ini. 
Bukit-bukit yang mengitari kampung-kampung itu rupanya ditutupi oleh ignimbite 
yang meluncur turun dalam volume raksasa sesudah disentakkan oleh getaran 
gempa.  
 
Apa yang dapat kita simpulkan dari tulisan ini ? 
 
Semua bagian barat Sumatera, seperti halnya bagian selatan Jawa adalah daerah 
yang rawan gempa. Sudah seperti itu sejak dulu dan akan seperti itu seterusnya. 
Itu sudah ketetapan Sang Maha Pencipta.
 
Membuat bangunan, apalagi bangunan beton bertingkat hendaklah memperhatikan 
dengan sungguh-sungguh ilmu teknik sipil. Salah penggunaan bahan seperti 
pemakaian kerangka besi yang tidak tepat akan sangat fatal akibatnya. Namun ini 
hanya sebatas ikhtiar.
 
Hendaklah mengenali lokasi tempat membangun dengan baik. Hindari tempat yang 
terancam kena longsoran atau bahkan kejatuhan batu dari tempat yang lebih 
tinggi. Sekali lagi ini hanya sebatas ikhtiar.
 
Banyak-banyaklah bertawakkal dan berserah diri kepada Sang Khaliq. Dia yang 
telah menciptakan bumi dan segala isinya dan Dia Maha Kuasa untuk berbuat 
sekehendak Nya. Dalam hitungan beberapa puluh detik, bencana mencekam yang 
menimbulkan ribuan korban bisa terjadi dengan izin dan kekuatan Nya. 
 
 
 
                                                                        *****
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke