http://www.republika.co.id/koran/28/89780/Cegah_Spekulasi_Liar


Selasa, 17 November 2009 pukul 08:45:00
Cegah Spekulasi Liar 
Oleh: Ahmad Syafii Maarif


Sepanjang sejarah 
yang hampir berlaku pada semua unit peradaban, pemimpin sejati selalu mampu 
mengatasi krisis: politik, ekonomi, dan konstitusi, dengan cara-cara tegas, 
berani, tetapi arif. Tidak mudah memang mengawinkan tiga nilai itu dalam proses 
pengambilan keputusan. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan secara jujur 
dan 
komprehensif sebelum keputusan final diambil. 

Kejujuran dalam membaca 
peta sangat penting, sebab jika tidak demikian, borok dusta dan dosa yang 
sering 
dibungkus dalam kemasan tafsiran hukum dan UU, akan terbongkar dalam tempo yang 
tidak lama, selama pers bebas tidak dikebiri dan dipasung. Indonesia masih 
beruntung, di tengah-tengah kelamnya iklim penegakan hukum dan keadilan, kita 
masih punya pers bebas, tokoh masyarakat sipil, facebook, mahasiswa, 
LSM, dan banyak kekuatan nurani yang lain telah kompak tanpa komando untuk 
menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi.

Kesimpulan dari suara nurani di 
atas itu tunggal: Bibit dan Chandra sengaja dikorbankan, demi melindungi 
kekuatan hitam yang telah bertahun-tahun menggerogoti aset bangsa dan negara 
dengan cara-cara kasar dan kasat mata. Saya yang semula sedikit skeptis dengan 
kerja Tim Delapan pimpinan ABN, dengan terus terang harus mengakui bahwa 
skeptisisme itu kini telah menghilang. Kepercayaan saya kepada mereka telah 
pulih kembali seperti sebelumnya, sekalipun banyak pihak, termasuk Komisi III 
DPR yang bertingkah aneh saat mendengarkan paparan hipnotis 
Kapolri.

Ternyata, kita tidak boleh cepat menilai keberhasilan atau 
kegagalan suatu tugas suatu tim kenegaraan sebelum bekerja dengan bebas dalam 
tempo yang sungguh singkat. Kita belum tahu rincian hasil investigasi tim ini, 
tetapi yang sudah dibocorkan kepada publik, tampaknya mereka adalah orang-orang 
merdeka dengan kadar integritas dan kesetiaan yang tinggi kepada kebenaran 
dengan mendahulukan kepentingan bangsa dan negara. 

Adapun pihak 
kepolisian dan kejaksaan yang masih bersikukuh dengan klaim kebenaran mereka, 
imbauan kita tidak lain: bukankah klaim itu dibangun di atas landasan bukti 
yang 
sangat rapuh, seperti terlihat dalam temuan Tim Delapan? Dari sisi ini, 
kepolisian dan kejaksaan yang telah sarat dengan beban dosa sekian lama, perlu 
secepatnya melakukan introspeksi diri dan kelembagaan secara jujur dan 
sungguh-sungguh. Jangan malah terus berkubang dalam perilaku menyimpang yang 
pada akhirnya harus berhadapan dengan opini publik yang semakin cerdas dan 
gelisah.

Sekiranya aparat penegak hukum yang bernama kepolisian dan 
kejaksaan dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan efektif selama ini, maka 
sebenarnya institusi KPK sama sekali tidak diperlukan. Untuk masa depan, apakah 
KPK masih perlu atau tidak akan sangat bergantung pada berhasil atau gagalnya 
reformasi total dalam tubuh kepolisian dan kejaksaan. Kita berharap pembenahan 
itu akan berhasil dalam tempo yang tidak terlalu lama sehingga KPK tidak perlu 
dibunuh dengan cara-cara biadab, melalui lakon Anggodo Widjojo yang sungguh 
memalukan. 

KPK akan menghilang dengan sendirinya, manakala tugas dan 
fungsinya telah dikembalikan sepenuhnya kepada kepolisian dan kejaksaan, dua 
lembaga penegak hukum yang sangat vital bagi sebuah negara. Tugas dan fungsi 
itu 
tentu tidak akan berjalan dengan baik, selama reformasi menyeluruh terhadap 
tubuh kepolisian dan kejaksaan yang sarat penyakit itu tidak disembuhkan secara 
berani dan radikal. Jika perlu, melalui amputasi besar-besaran sehingga ruang 
gerak bagi para birokrat, pengusaha, dan pengacara yang tunanurani menjadi 
semakin sempit.

Akhirnya, untuk meredam gejolak massa sementara akibat 
pertarungan tidak sehat antara Polri dan Jaksa Agung versus KPK dan untuk 
mencegah spekulasi liar yang bisa saja terjadi, presiden perlu membaca dengan 
cermat hasil temuan dan rekomendasi Tim Delapan, kemudian menindaklanjutinya 
dengan penuh keberanian dan kearifan.

Dalam situasi yang serbatidak 
normal dan kritikal ini, pemimpin sejati tidak boleh ragu-ragu. Bangsa ini 
sudah 
lama merindukan munculnya para negarawan piawai yang lahir dari rahimnya 
sendiri, sebuah rahim yang sering dirusak oleh jabang bayi dewasa yang tidak 
pandai bersyukur terhadap anugerah kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah 
payah oleh para pendiri bangsa dan negara Indonesia tercinta.         
(-) 



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke