"Satu Setengah Juta Rupiah buat menyumbat mulut Buaya". By ; Jepe
Siang yang panas saya berjalan kaki di jalan tanah liat dan becek bekas hujan lebat yang mengguyur hutan akasia, perjalanan yang cukup melelahkan untuk sesuatu tugas ke "site" HTI tempat bekerja di Pasir Pangairaian Rokan Hulu Riau Lima Kilometer pulang pergi kami berjalan kaki, lelah dan capek memang dengan kucuran keringat di badan tapi terasa segar seperti layaknya berolah raga jalan kaki, tidak perlu dihayati capek, susah, keringatan jalan kaki di hutan ini saya anggap bagian dari olah raga, semakin berkeringat jalan kaki maka semakin sehat terasa dan saya harus mengambil segala manfaat bekerja meninjau lapangan di hutan akasia dimana mobil tidak memungkinkan mencapai lokasi yang sulit dilalui mobil bahkan dengan mobil 4WD sekalipun karena jalan putus dan berlumpur dalam Langkah kami terhenti disebuah pondok kerja para buruh harian yang menanam akasia disemak alang-alang yang dihutankan kembali, sambil istirahat dan mereguk air mineral botolan yang saya tenteng dan mengambil serta mencatat data2 penting saya mengobrol sambil duduk diatas tunggul kayu dengan Tengku Ardi mantan sopir camp yang dipromosikan menjadi Humas dilapanganm "Di gimana perkembangan musibah yang dialami oleh Winarno, masih minta uang oknum polisi 5 juta agar sepeda motornya nggak ditahan lagi di satlantas polres Rohil" tanya saya sama Ardi Ardi menjawab dengan sedikit kesel , karena terminologi cicak versus buaya lagi hot-hotnya dimata masyarakat "Wahhh Bang, Buaya itu masih tetap minta 5 juta agar sepeda motor Winarno bisa dikeluarkan" jawab Ardi Lalu Ardi bercerita pada saya, bahwa Winarno telah mencapai kesepakatan dengan keluarga korban (anaknya ditabrak winarno) dengan segala kerendahan hati Winarno memohon kepada keluarga korban maka akhirnya disepakati uang damai dari Rp 30 juta akhirnya menjadi Rp 20 juta dan keluarga korban mencabut pengaduannya ke polisi. Bolak balik Ardi mengurus sepeda motor Winarno "dikantor buaya" begitu istilah ardi kepada saya, sungguh menguras energi dan dipermainkan seperti bola ping pong dipukul dan di bolak balik dari meja ke meja dan membuat Ardi "mabuk" "Nggak ada toleransi sama sekali dari Buaya itu Bang tetap minta 5 juta agar sepeda motor bisa keluar" Ardi mengeluh pada saya saat kami santai duduk mengobrol berdua Ardi melanjutkan ceritanya pada saya "Kemaren sebelum abang kelapangan saya urus lagi sepeda motor Winarno yang ditahan oleh polisi, akhirnya dengan bermohon dengan segala pertimbangan dan mencoba berbicara dari hati ke hati kalau Winarno itu sudah habis2an secara materi, akhirnya "deal" diangka Rp 1,5 juta Bang" Ahh teringatlah Abang Di, sebuah peribahasa yang disampaikan di milist orang Minang (RN) oleh salah satu orang tua kami dimilist tersebut Pak Masrur Siddik namanya "Buaya mana yang menolak bangkai" Ardi menimpali peribahasa yang saya ucapkan itu "Ha ha iya iya Bang emang buaya semakin bangkai semakin enak makannya, mulutnya mangap mulu tidur2an di pinggir muara buat nunggu bangkai lewat, yahhh buat nutupin mulut yang mangap ini apa boleh buatlah Bang sepertinya kita harus kasih uang Rp 1,5 juta buat nutupin mulut buaya ini..nggak tahulah capek saya ngurusinnya, ya udah kita penuhi aja gimana menurut Abang" Saya hanya menjawab "Entah lah Di, kalau dah gitu berlarut2 yah udah kasihlah buaya yang mangap itu ..bingung Di apa ini termasuk kategori uang pelicin ini "bangkai" juga, kasihan Winarno yang sudah habis-habis dari musibah yang menimpa dia "Udahlah Bang bangkai nggak bangkai yang penting urusan ini cepet selesai, lalu Ardi berbahasa Minang "Ndak dapek mambana wak do Bang untuak dikaluakan dek oknum polisi ko tanpa biaya sepeserpun. Padohal pakaro lah dicabuik dan Winarno dengan keluarga korban lah damai"" Lalu Ardi menyitir joke yang satir, menyindir dan tajam seputar oknum polisi yang buaya "Bang..bang ntar kalo kita jalan pulang ke mobil di ujung jalan sana, ditengah jalan ketemu oknum polisi buaya dan ular kobra berbisa mana yang dulu kita bunuh" Mmm..dah basi Di teka teko tekinya nggak dimana2 masyarakat tahu tuh mana yang dibunuh duluan" saya mencoba mengelak menjawabnya "Ya udah kita sama2 tahu lah Bang saya pikir ternyata oknum polisi buaya lebih berbisa dari ular kobra yang mematikan" So...yang dibunuh duluan...ahhh udah lah Di..semua masyarakat udah familiar dengan joke ini, nggak usah abang jawab lah ya" kembali saya mengelak "Ya deh Bang..kita simpan aja. Besok saya saya mau nutup tu oknum polisi buaya yang mulutnya sedang mangap dengan uang tebusan sepeda motor Winarno yang ditahan dengan uang sebesar Rp 1,5 Juta" "Nah itu nasi bungkus datang Di yang dianterin masyarakat dari desa terdekat yang kita pesan dan beli" saya mengakhiri cerita buaya yang lagi mangap dan siap2 menunggu bangkai lezat sebagai makanannya Kami makan dengan lahap ditengah semilir angin sepoi2 yang bertiup dipondok tempat kami berteduh dari panas terik ditengah rimbun hutan akasia, Alhamdulillah walau makan dengan ikan asin dan sebutir telor balado dan sayur pucuk ubi kami makan dengan lahap "Nggak bangkai sih yang kami makan" Pasir Pangairaian,17 Nopember 2009 Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
