MITOS MINANGKABAU - Dari Sudut Pandangan Seorang Mahasiswa
<http://razakrao.multiply.com/journal/item/43/MITOS_MINANGKABAU_-_Dari_S
udut_Pandangan_Seorang_Mahasiswa_>  

 

Tulisan oleh ARDIANSYAH  ([email protected]),  disiarkan dalam
akhbar Singgalang  ,  03 Mei 2009  (  8 Jumadil Awal 1430 H  )
(  Penulis artikel ini adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas
Sastra Universitas
Andalas  ) 


                    MENGGUGAT  MINANGKABAU

KEINGINAN untuk merevitalisasi kejayaan Minangkabau pada era kontemporer
adalah sebuah semangat utopis yang hanya didasari pada semangat saja .

Mencoba menghidupkan kenangan Minangkabau dengan primodial dan
seremonial hanyalah sebuah tindakan setengah hati . Sebut sajalah
berbagai sistem unggulan yang dianggap berfungsi pada era Minangkabau
klasik , sekarang dicoba untuk diangkat kembali , seperti kembali ke
surau , kembali ke nagari dan sebagainya , semua itu adalah tindakan
stagnan yang sifatnya hanya berjalan ditempat saja . Hal ini di latar
belakangi oleh salah satu faktor yang sangat fundamentalis ,  apakah
kejayaan Minangkabau yang kita anggap sebagai masa keemasan adalah
sebuah kejayaan yang utuh atau mungkin hanya sebuah dongeng ?

Cuba lontarkan satu pertanyaan kepada salah seorang pemuka adat , apakah
benar adat - istiadat Minangkabau adalah sebuah pola kehidupan yang
ideal ? Maka mereka akan menjawab dengan lipstik-lipstik sejarah , bahwa
Minangkabau adalah sebuah etnis yang unik , ideal , beradat dan
sebagainya , ini adalah pandangan mereka didalam menerawang Minangkabau
sebagai salah satu etnis yang ideal didalam menata pola hidup mereka .
Namun yang menjadi pertanyaan adalah , apakah benar semua tambo-tambo ,
cerita-cerita klasik mengenai Minangkabau yang diturunkan secara oral
dari mulut ke mulut adalah sebuah kebenaran atau pembohongan ?

Minangkabau sekarang dengan Minangkabau pada masa tempo dulu memang
sangat jauh berbeda , dimana dalam perbedaan tersebut telah menjadi
sebuah pertentangan , apakah benar bahwa Minangkabau tempo dulu yang
selalu dibanggakan bahkan selalu dijadikan referensi adalah se- buah
etnis yang ideal ? Jika kita membandingkan Minangkabau sekarang dengan
tempo dulu , kita akan melihatnya sebagai sebuah kebanggaan dan sebagai
sebuah bayang-bayang utopis .

Yang menjadi titik permasaalahan adalah , apakah etnis Minangkabau pada
tempo dulu yang selalu di jadikan referensi pada kehidupan sekarang
adalah sebuah peradaban yang benar-benar ideal atau hanya sekadar
dongeng belaka ?  Sebagian orang mungkin akan menentang bahwa
Minangkabau pada masa tempo dulu bukan hanya sekadar dongeng belaka ,
namun ia adalah sebuah kebudayaan yang telah membentuk peradaban .
Sayang nya bukti untuk mengangkat bahwa Minangkabau tempo dulu adalah
sebuah kebudayaan yang ideal hanyalah omong kosong belaka  , hal ini
dikarenakan pengikisan dan perubahan arus telah menghapuskan jejak-jejak
peradaban Minangkabau . Dengan adanya penghapusan tersebut pada akhirnya
telah melahirkan sebuah keraguan di dalam menafsirkan Minangkabau .
Sebut saja ikon Bundo Kanduang , mungkin sebahagian orang menganggap
posisi Bundo Kanduang adalah seorang wanita yang dituakan di dalam Rumah
Gadang , namun juga ada penafsiran bahwa setiap wanita Minang adalah
Bundo Kanduang atau hanya sebagai sebuah institusi pada masa sekarang ?

Keraguan-keraguan itu semakin kuat ketika masyarakat Minang pada masa
sekarang melihat masyarakat Minang tempo dulu sebagai dua kebudayaan
yang sangat jauh berbeda , seolah-olah ada dinding pemisah diantara
kedua nya .  Salah satu pemikiran yang menjadi pertentangan adalah ,
kenapa setiap kali kita berbicara mengenai Minangkabau maka akan selalu
dikaitkan dengan Kerajaan Pagaruyung  ,   jika dilihat seolah-olah ada
sebuah pendoktrinan bahawa Minangkabau adalah Pagaruyung - Batu sangkar
.  Bukankah masih banyak kerajaan-kerajaan Minang pada saat itu , sebut
saja Kerajaan Indra Pura , Kerajaan Dharmasraya dan sebagainya , namun
entah kenapa ikon Minangkabau selalu dikait-kaitkan dengan
Pagaruyung-Batu sangkar .

Mencoba untuk memilah-milah antara kenyataan dengan sebuah khayalan ,
maka kita akan terbentur lagi kepada keraguan Minangkabau sebagai sebuah
etnis yang ideal dan mungkin akan melahirkan sebuah keraguan , pada
bagian mana dari Minangkabau yang dianggap sebagai sebuah ke- idealan .
Pada bagian sistim pemerintahan , pola kehidupan , falsafah hidup atau
hanya pada tokohnya .

Yang membuat Minangkabau bisa besar pada saat itu hingga sampai di-
jadikan rujukan didalam kehidupan pada sekarang ini hanyalah terbatas
pada penokohan .  Minangkabau tempo dulu bisa besar bahkan bisa jadi
sebuah peradaban dimulai dari sebuah penokohan yang menjadi pemain utama
di atas panggung Minangkabau .  Sebut saja tokoh Bundo Kanduang , Mamak
, Tungku Tigo Sajarangan (  Alim Ulama  ,  Cadiak Pandai  dan Penghulu )
,  dan sebagainya , semua itu adalah tokoh-tokoh yang telah mengangkat
Minangkabau sebagai sebuah kebudayaan yang patut dibangga kan .  Namun
terlepas dari itu , jika kita berbicara pada masyarakatnya pada saat itu
, maka belum dapat pula dipastikan bahwa masyarakat pada saat itu adalah
sebuah masyarakat yang ideal yang menjunjung ABS-SBK , karena pada
realitinya yang menjadi dominan pada saat itu adalah tokoh dan bukan nya
masyarakat .  Apa yang membedakan masyarakat sekarang dengan masyarakat
Minangkabau pada tempo dulu , tentunya tidak ada perbedaan , dimana
masih ada ketimpangan-ketimpangan yang diwariskan dari generasi mereka ,
generasi yang dibesarkan dibawah payung Minangkabau .

Terkadang mencoba untuk memahami sebuah tambo yang selalu dijadikan
referensi adalah sebuah pandangan yang berada diluar akal pikiran
manusia ,  dimana seolah-olah ada pembesaran sejarah didalam
penceritaannya .  Sebut saja seperti sebuah cerita yang mengatakan bahwa
Minangkabau telah ada semenjak gunung Merapi sebesar telur itik , suatu
hal yang kurang masuk akal jika kita mencoba mencari awal terbentuknya
etnis Minang kabau ,  karena memang kita tidak pernah tahu sejak kapan
gunung Merapi sebesar telur itik .  Adanya sifat membesar-besarkan
cerita Minangkabau di dalam sebuah tambo telah menyeret masyarakat
kepada sebuah keragu- raguan ,  apakah tambo yang selama ini dijadikan
referensi adalah sebuah dongeng ?  

 

http://razakrao.multiply.com/journal/item/43 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke