Oh.....rupo e lah lamo tulisan ko: tacataik dimuek Singgalang tgl 3 Mei 2009,
labiah kurang 7 bulan nan lewek.
Salam,
Suryadi
==========
> Tulisan oleh ARDIANSYAH ([email protected]), disiarkan dalam
> akhbar Singgalang , 03 Mei 2009 ( 8 Jumadil Awal 1430 H )
> ( Penulis artikel ini adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas
> Sastra Universitas
> Andalas )
>
>
> MENGGUGAT MINANGKABAU
>
> KEINGINAN untuk merevitalisasi kejayaan Minangkabau pada era kontemporer
> adalah sebuah semangat utopis yang hanya didasari pada semangat saja .
>
> Mencoba menghidupkan kenangan Minangkabau dengan primodial dan
> seremonial hanyalah sebuah tindakan setengah hati . Sebut sajalah
> berbagai sistem unggulan yang dianggap berfungsi pada era Minangkabau
> klasik , sekarang dicoba untuk diangkat kembali , seperti kembali ke
> surau , kembali ke nagari dan sebagainya , semua itu adalah tindakan
> stagnan yang sifatnya hanya berjalan ditempat saja . Hal ini di latar
> belakangi oleh salah satu faktor yang sangat fundamentalis , apakah
> kejayaan Minangkabau yang kita anggap sebagai masa keemasan adalah
> sebuah kejayaan yang utuh atau mungkin hanya sebuah dongeng ?
>
> Cuba lontarkan satu pertanyaan kepada salah seorang pemuka adat , apakah
> benar adat - istiadat Minangkabau adalah sebuah pola kehidupan yang
> ideal ? Maka mereka akan menjawab dengan lipstik-lipstik sejarah , bahwa
> Minangkabau adalah sebuah etnis yang unik , ideal , beradat dan
> sebagainya , ini adalah pandangan mereka didalam menerawang Minangkabau
> sebagai salah satu etnis yang ideal didalam menata pola hidup mereka .
> Namun yang menjadi pertanyaan adalah , apakah benar semua tambo-tambo ,
> cerita-cerita klasik mengenai Minangkabau yang diturunkan secara oral
> dari mulut ke mulut adalah sebuah kebenaran atau pembohongan ?
>
> Minangkabau sekarang dengan Minangkabau pada masa tempo dulu memang
> sangat jauh berbeda , dimana dalam perbedaan tersebut telah menjadi
> sebuah pertentangan , apakah benar bahwa Minangkabau tempo dulu yang
> selalu dibanggakan bahkan selalu dijadikan referensi adalah se- buah
> etnis yang ideal ? Jika kita membandingkan Minangkabau sekarang dengan
> tempo dulu , kita akan melihatnya sebagai sebuah kebanggaan dan sebagai
> sebuah bayang-bayang utopis .
>
> Yang menjadi titik permasaalahan adalah , apakah etnis Minangkabau pada
> tempo dulu yang selalu di jadikan referensi pada kehidupan sekarang
> adalah sebuah peradaban yang benar-benar ideal atau hanya sekadar
> dongeng belaka ? Sebagian orang mungkin akan menentang bahwa
> Minangkabau pada masa tempo dulu bukan hanya sekadar dongeng belaka ,
> namun ia adalah sebuah kebudayaan yang telah membentuk peradaban .
> Sayang nya bukti untuk mengangkat bahwa Minangkabau tempo dulu adalah
> sebuah kebudayaan yang ideal hanyalah omong kosong belaka , hal ini
> dikarenakan pengikisan dan perubahan arus telah menghapuskan jejak-jejak
> peradaban Minangkabau . Dengan adanya penghapusan tersebut pada akhirnya
> telah melahirkan sebuah keraguan di dalam menafsirkan Minangkabau .
> Sebut saja ikon Bundo Kanduang , mungkin sebahagian orang menganggap
> posisi Bundo Kanduang adalah seorang wanita yang dituakan di dalam Rumah
> Gadang , namun juga ada penafsiran bahwa setiap wanita Minang adalah
> Bundo Kanduang atau hanya sebagai sebuah institusi pada masa sekarang ?
>
> Keraguan-keraguan itu semakin kuat ketika masyarakat Minang pada masa
> sekarang melihat masyarakat Minang tempo dulu sebagai dua kebudayaan
> yang sangat jauh berbeda , seolah-olah ada dinding pemisah diantara
> kedua nya . Salah satu pemikiran yang menjadi pertentangan adalah ,
> kenapa setiap kali kita berbicara mengenai Minangkabau maka akan selalu
> dikaitkan dengan Kerajaan Pagaruyung , jika dilihat seolah-olah ada
> sebuah pendoktrinan bahawa Minangkabau adalah Pagaruyung - Batu sangkar
> . Bukankah masih banyak kerajaan-kerajaan Minang pada saat itu , sebut
> saja Kerajaan Indra Pura , Kerajaan Dharmasraya dan sebagainya , namun
> entah kenapa ikon Minangkabau selalu dikait-kaitkan dengan
> Pagaruyung-Batu sangkar .
>
> Mencoba untuk memilah-milah antara kenyataan dengan sebuah khayalan ,
> maka kita akan terbentur lagi kepada keraguan Minangkabau sebagai sebuah
> etnis yang ideal dan mungkin akan melahirkan sebuah keraguan , pada
> bagian mana dari Minangkabau yang dianggap sebagai sebuah ke- idealan .
> Pada bagian sistim pemerintahan , pola kehidupan , falsafah hidup atau
> hanya pada tokohnya .
>
> Yang membuat Minangkabau bisa besar pada saat itu hingga sampai di-
> jadikan rujukan didalam kehidupan pada sekarang ini hanyalah terbatas
> pada penokohan . Minangkabau tempo dulu bisa besar bahkan bisa jadi
> sebuah peradaban dimulai dari sebuah penokohan yang menjadi pemain utama
> di atas panggung Minangkabau . Sebut saja tokoh Bundo Kanduang , Mamak
> , Tungku Tigo Sajarangan ( Alim Ulama , Cadiak Pandai dan Penghulu )
> , dan sebagainya , semua itu adalah tokoh-tokoh yang telah mengangkat
> Minangkabau sebagai sebuah kebudayaan yang patut dibangga kan . Namun
> terlepas dari itu , jika kita berbicara pada masyarakatnya pada saat itu
> , maka belum dapat pula dipastikan bahwa masyarakat pada saat itu adalah
> sebuah masyarakat yang ideal yang menjunjung ABS-SBK , karena pada
> realitinya yang menjadi dominan pada saat itu adalah tokoh dan bukan nya
> masyarakat . Apa yang membedakan masyarakat sekarang dengan masyarakat
> Minangkabau pada tempo dulu , tentunya tidak ada perbedaan , dimana
> masih ada ketimpangan-ketimpangan yang diwariskan dari generasi mereka ,
> generasi yang dibesarkan dibawah payung Minangkabau .
>
> Terkadang mencoba untuk memahami sebuah tambo yang selalu dijadikan
> referensi adalah sebuah pandangan yang berada diluar akal pikiran
> manusia , dimana seolah-olah ada pembesaran sejarah didalam
> penceritaannya . Sebut saja seperti sebuah cerita yang mengatakan bahwa
> Minangkabau telah ada semenjak gunung Merapi sebesar telur itik , suatu
> hal yang kurang masuk akal jika kita mencoba mencari awal terbentuknya
> etnis Minang kabau , karena memang kita tidak pernah tahu sejak kapan
> gunung Merapi sebesar telur itik . Adanya sifat membesar-besarkan
> cerita Minangkabau di dalam sebuah tambo telah menyeret masyarakat
> kepada sebuah keragu- raguan , apakah tambo yang selama ini dijadikan
> referensi adalah sebuah dongeng ?
>
>
>
> http://razakrao.multiply.com/journal/item/43
>
>
> >
>
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com
Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman
ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---