Saling salah menyalahkan, buruk memburukkan, tentu saja tidak becik, kata orang
Jawa, tidak elok, bahasa kitanya. Namun jika maksud kita adalah untuk melakukan
perbandingan antara dua atau lebih sistem budaya, misalnya ttg sistem
kepemimpinan pada masyarakat dan kebudayaan J (Jawa)dan pada masyarakat dan
kebudayaan M (Minang), boleh2 saja. Siapa pula yang melarang. Bukankah dengan
melakukan perbandingan2 itu kita akan tahu di mana letak kelemahan dan kekuatan
masing2, dan mana yang lebih cocok untuk dibawakan ke tengah dalam masyarakat
plural dalam konteks kekinian seperti di Indonesia ini. Kita mengatakan yang
ini lemah yang itu kuat tentu saja dengan memakaikan tolok ukur yang sama.
Misalnya dengan memakaikan Islam, atau tuntutan kehidupan moderen, sebagai
tolok ukurnya.
Teruslah berdiskusi dan berdialag dan cari sayak nan landai yang mana yang
akan diterapkan dalam pergaulan kontemporer secara bernegara dan berbangsa
sekarang ini. Mochtar Naim
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---