Kehajian dalam Sastra
Oleh Damhuri Muhammad 

Sabtu, 14 Nopember 2009

Sudah berkali-kali Haji Usman berkilah dan berkelit untuk tidak
menghadiri hajatan pernikahan di lingkungan kampungnya. Padahal,
undangan terus berdatangan ke rumahnya. Maklumlah, Haji Usman, tokoh
masyarakat, orang terpandang di kampung itu. Semula ia enggan
mengemukakan alasan kenapa ia keberatan memenuhi undangan dari
sejawat-sejawatnya itu. Namun, karena terus-menerus ditanyai, akhirnya
Haji Usman buka mulut juga. 

 

Dan, ternyata masalahnya sepele. Hampir di setiap kartu undangan yang
diterimanya, "sohibul-hajat" tidak mencantumkan huruf "H" sebelum
namanya. Jadi, yang tertera hanya "Usman", bukan "H. Usman". Ia merasa
kurang dihargai - bila tidak bisa disebut dirugikan - sebagai orang yang
telah bersusah-payah mengumpulkan biaya guna menjejakkan kaki di tanah
suci. "Kopiah putih di atas kepalaku sangat mahal harganya," begitu Haji
Usman menggerutu pada Maemunah, istrinya. 

 

Cerita sederhana ini kerap terjadi dalam keseharian kita. Haji Usman
hanyalah satu dari sekian banyak haji yang pernah mengalami
ketersinggungan yang sama. Berangkat dari kenyataan itu, maka ritual
haji tak ubahnya upacara pembai'atan derajat keberagamaan sebuah
keluarga, sebuah silsilah. Status kehajian nyaris bergeser dari
kepasrahan akan ridho Tuhan menjadi sayembara meraih harkat
keberibadahan yang pantas disanjung, dipuja-puji. Mereka beribadah,
hanya karena ibadah itu warisan turun-temurun. Menyembah bukan
semata-mata karena mesti menyembah. Menyembah karena akan meraih
berkah-Nya. Berserah diri karena diam-diam berhasrat hendak "menjarah"
rejeki-Nya. 

 

Problematika derajat kehajian semacam inilah yang menjadi panggilan
penciptaan Gus tf Sakai dalam novelnya Ular Keempat (2006). Semula novel
itu tampak hendak membincang fakta sejarah perihal kisruh
penyelenggaraan perjalanan haji (1970) yang dianggap melanggar prosedur,
sekaligus memberi gambaran samar tentang sejarah mula-mula
penyelenggaraan ibadah haji di bawah kendali (monopoli?) sebuah
departemen di republik ini. Tapi, ternyata latar cerita itu hanyalah
medium bagi eksplorasi maknawi lebih dalam. Pengarang menghadirkan
Janir, tokoh paling penting dalam buku itu. Seorang pengusaha rumah
makan asal Padang yang sukses di perantauan. Juragan yang membawahi
banyak anak semang. Sosok kehajian Janir tiba-tiba berubah menjadi
problematis, sebab tak tegak pada landasan iman yang matang, tidak
berdiri di atas keikhlasan yang teruji. Meski telah menunaikan rukun
Islam kelima itu untuk kali yang kedua, predikat kehajian Janir tetap
menyisakan banyak tanya. Kegelisahan teologis yang dialaminya seumpama
belitan ular yang sewaktu-waktu bakal "mencotok" atau menancapkan bisa
di tubuhnya. 

 

Dalam situasi psikis yang rapuh itu, Janir beroleh semacam ilham dari
guru Muqri yang dijumpainya di tanah suci. Tak jelas siapa sesungguhnya
orang itu, boleh jadi ia benar-benar nyata atau halusinasi Janir belaka.
Diceritakan, guru Muqri pernah berjanji pada kehajian Janir yang
pertama, bila ia masih terpanggil berhaji pada kali kedua, guru Muqri
akan memberinya tiga cerita, tiga kisah. Maka, janji pun ditepati. Kisah
pertama bertutur tentang perburuan para hamba mengejar syafa'at malam
kemuliaan, malam yang lebih baik dari seribu bulan, lailatul qadar.
Berhari-hari, berminggu-minggu mereka berpacu. Berburu. Serupa
kesetanan, seperti kesurupan. Tak pernah mereka singgah. Ada halte ada
stasiun tetapi mereka terus. Ada kehidupan dan kematian tetapi mereka
ngebut di kesendirian. Berlomba. 

 

Saling mendahului. Beribadah demi sorga mereka sendiri. Inilah dia Ular
Pertama; egoisme. Gigitannya tak merusak raga, tak pula menyakitkan,
tapi kebuasannya dapat mencabik-cabik jiwa, melunturkan keikhlasan.
Setan yang nyata. Mungkinkah iman bakal bersitumbuh di atas watak
egoistik yang meluap-luap? 

 

Saat wukuf di Arafah, Janir beroleh "wahyu" selanjutnya. Dua kisah lagi
sesuai janji guru Muqri. Kisah ini menyindir potret peribadatan
orang-orang kampung Janir, yang tak lebih karena keturunan mereka
melakukannya. Itupun hanya untuk menggapai kehajian yang bakal
dibanggakan. Pembeda antara yang sudah bersorban, berkopiah putih dengan
yang masih berpeci hitam tanpa sorban, sebagaimana kisah Haji Usman di
atas. Janir teringat masa kecil di kampung dulu. Ada debar pengajian,
getar tadarus, beningnya suara azan buya Daruwih. Seolah-olah kenangan
itu yang mendorongnya berhaji. Ya Allah, betulkah kenyataan ini: aku
berhaji karena kenangan? Dalam kenangan itu terselip kebanggaan? Inilah
Ular Kedua: kebanggaan, riya', sum'ah, takabbur. Gigitannya tak
menghancurkan daging, tapi membinasakan keberpasrahan. 

 

Setan besar.Lebih besar dari Jumratul Aqabah, Wustha dan Ula. Kisah
terakhir yang diperoleh Janir berisi prediksi futuristik tentang
silang-sengketa, pertikaian antar kelompok dalam memperebutkan
kekuasaan. Ini terasa mencengangkan. Guru Muqri terlihat amat paham
khazanah Tambo. Seakan-akan riwayat itu bukan dari guru Muqri, tapi dari
perenungan Janir sendiri. Dalam salah satu versi Kaba (sastra lisan
Minangkabau) ditemukan cerita mengenai seluk-beluk permainan
layang-layang. 

 

Anehnya, cerita layang-layang ini tak termaktub pada bab tentang
permainan rakyat, tapi ditempatkan pada bab kepemimpinan. Apa hubungan
layang-layang dengan masalah kepemimpinan? Negara diamsalkan serupa
layang-layang putus tali, lalu orang-orang berhamburan mengejarnya
dengan kayu galah di genggaman masing-masing. 

 

Sebelum layang-layang itu jatuh menyentuh tanah, kayu-kayu galah lantas
menghadang. Menusuk, merenggut, seolah setiap orang berhak atas
layang-layang itu. Mereka tak beroleh apa-apa selain bangkai
layang-layang. Patah-patah, remuk, hancur, cerai-berai. Begitulah
negara. Semua orang merasa berhak memiliki. Bila satu kelompok gagal,
kelompok lain juga tak boleh memiliki. Inilah Ular Ketiga: rakus, tamak,
lalim. Maka, bila para hamba Tuhan yang lain meraih kemabruran dari
tanah suci, Janir justru beroleh cenderamata; tiga ekor ular dari guru
Muqri. Sesampai di tanah air, ia beroleh seekor ular lagi, pengarang
menyebutnya Ular Keempat. Janir pun memasang niat akan berhaji lagi
tahun depan, menjejakkan kaki di tanah suci lagi. Ia tak peduli
anak-anak semang, tetangga-tetangga melarat, para fakir dan dhuafa.
Janir sudah "ketagihan" digigit ular, dan hendak menjemput gigitan Ular
Kelima, Keenam... *** 

* Penulis adalah cerpenis, bermukim di Jakarta
Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Lahir di Padang, 01 Juli 1974 

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=239933

 

________________________________



The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke