Kutunggu Di Pantai Padang
Oktober 1, 2009 oleh Hasdi Putra <http://hasdiputra.wordpress.com/author/hasdi/> Tapi inilah laut-segalanya dilayarkan pada kesunyian Dalam keramaian di gemuruh ombak tiap puncak zaman o, kerinduan Mereka labuhkan doa di sembarang dermaga, mereka nyalakan iman Di sembarang taman seperti katamu, mereka lahir, tumbuh Hanya untuk berguguran* <http://hasdiputra.files.wordpress.com/2009/10/1_pantai-padang-sehari-se belum-gempa-30-september1.jpg> Alhamdulillah, sampai juga. Perjalanan Payakumbuh - Padang kali ini tanpa hujan. Tidak seperti biasanya. Tapi dengan panas yang lumayan. Jaket yang beberapa lapis membuat semakin gerah. Kalau dengan sepeda motor, macet tidak terlalu jadi persoalan. Apalagi dengan ridernya yang berpengalaman. Yap, minimal pengalaman jatuh dan tabrakan, cukuplah. :p Sorotan kuning cahaya dari arah pantai memanggil-manggil meminta perhatian. Cerah dan begitu indah. Sedikit menyilaukan. Cahaya yang kemerah-merahan. Menghiasi kota Padang dari kejauhan. Ingin lebih dekat menikmati pantai. <http://hasdiputra.files.wordpress.com/2009/10/pantai-padang-sehari-sebe lum-gempa-30-september.jpg> <http://hasdiputra.files.wordpress.com/2009/10/2_pantai-padang-sehari-se belum-gempa-30-september.jpg> "Di ma kini? Da di pantai" Putra mengirim kabar melalui SMS pada adiknya. Berharap adiknya menyusulnya ke Pantai. Ingin melipat kenangan di pantai Padang. "Tunggu di situ Da", Balas David <http://ksatria2610.wordpress.com/> . Ia berangkat mendekati pantai. Memang sudah lama sekali dia tidak ke sana. Berjanji di depan danau Cimpago. Danau baru di depan pantai Padang. Besar sedikit dari tobek. Menunggu di simpang dekat rumah makan Palanta. Duduk di atas motor. Matapun keluyuran mengintai kalau-kalau David, adiknya sudah sampai. Menunggu untuk beberapa waktu, tapi tak kunjung sampai, apalagi bertemu. Tapi baginya ada perkembangan 'baru' di pantai Padang. Lalu lalang kendaraan silang pintang di jalanan sepanjang pantai Padang. Ramainya sangat. Paling banyak anak-anak muda. Hampir saja Pantai Padang seperti suasana pantai didaerah lain yang kerap digambarkan di tabung-tabung Televisi. Dibawah payung pelangi. Anak-anak muda duduk berpasang-pasangan tidak seperti biasanya. Mereka berduaan laki dan perempuan dengan gayanya masing-masing. Cukup banyak. Sangat banyak. Tak sempat menghitung. Tapi banyak. Hanya gelengan kepala, seolah tak percaya. Semakin kemerahan semakin banyak yang berdatangan. Singgah dan duduk di bawah Payung Pelangi. Maghrib menjelang, sebagiannya bubar, lebih banyak lagi yang tinggal. Di balik bebatuan mereka terus menikmati pertukaran siang dan malam dengan caranya masing-masing. Sempat saja menyaksikan yang berpelukan. Bimbing mesra, candaannya. Ah, adakah mereka pasangan yang sah melalui pernikahan. Entahlah. Pikir curiga hampir saja tak berguna. Banyak orang hanya membiarkan. Biar pantai tetap ramai. Biar sepanjangan jalan memang penuh dengan keindahan yang dinikmati banyak orang. Terlintas seketika kenangan tsunami aceh. Di pantainya orang-orang bermain-main. Gempa besar disusul tsunami telah memporak-porandakan Aceh. Meratakannya dengan tanah, tak bersisa. Ratusan ribu meninggal. Kerugian tak terhitung. Lalu, andai itu Tuhan datangkan pula untuk sumbar, entah apa yang akan terjadi. Senja merangkak. Matahari kian bersembunyi dan masuk ke dalam laut. Lampu-lampu pantai mulai kelihatan. Lampu nelayan dari kejauhan. Sementara david yang ditunggu belum kunjung datang. "Masuk lurus dari simpang empat adzkia damar, belok kanan di simpang tiga tepi pantai. Lurus terus. Aku Di depan danau cimpago". Adzan berkumandang. Dan mataharipun sudah bersembunyi ke dalam laut. Sayang, pantai telah menyeret ketentraman hingga ke tepi. Pantai telah meminggirkan angan-angan. Desir ombak di pantai padang membawa pesan tuhan. Sayang, tak terbaca bagi banyak orang. Kecuali sedikit. Pasang surut air laut, bukan tanpa makna. Mungkin saja kabar duka orang-orang terdahulu belum sampai kepada mereka. Menunggu Adinda David Satria sehari menjelang gempa. Berjalan ke pantai dengan suasana asing <http://ksatria2610.wordpress.com/2009/10/07/sajak-hari-ini-2/> . Hanya gelengan kepala tak percaya. http://hasdiputra.wordpress.com/2009/10/01/kutunggu-di-pantai-padang/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
<<inline: image001.jpg>>
<<inline: image002.jpg>>
<<inline: image003.jpg>>
