IED MUBARAK

Idul Fitri  ataupun Idul Adha, dalam bahasa kita singkat membacanya, hanya
dua kata, tetapi punya sejuta makna.
Hanya saja perjalanan hidup dan nasib kadang-kadang membuat kita harus
mengalaminya dengan berbagai cara dan rasa. Tidak jarang, kita harus
meninggalkan kampung halaman ketika saat itu tiba.

Beberapa tahun yang lalu, di saat Idul Adha tiba, saya terlempar ke negara
tetangga. Tidak jauh memang, hanya di Singapura. Tapi cukup membuat saya
bersedih juga. Teman-teman satu tim kerja yang mengerti berusaha memahami
kesedihan saya. Walaupun demikian, ketika melangkah keluar hotel dan
berangkat menuju Sultan Mosque Singapore untuk melaksanakan Shalat Idul
Adha, air mata saya menetes juga. Bersyukur, karena teman baik saya,
Caroline, gadis cantik dan baik dari London, mengajak teman-teman lain
berhenti kerja sejenak dan mereka menyusul saya ke mesjid Sultan itu
sekalian melihat orang Shalat Idul Adha. Karena kebetulan Singapore juga
menjadikan acara kunjungan ke mesjid itu sebagai bagian dari agenda tourism
nya untuk melihat keunggulan multi ras yang ada di sana.

Ketika masih terkurung di kandang sapi Laramie, Puncak pegunungan Rocky
Mountain negara mamak Sam dulu, sedihnya sama saja. Apalagi di kota Laramie
waktu itu hanya 4 orang asal Indonesia, dan 2 diantaranya adalah kami
perempuan minang yang terdampar di sana. Menjelang Shalat Ied, saya dan Uni
Dedeh semalaman hanya saling terpana karena ingat kampung dan orang tua.
Orang tua saya di Maninjau dan orang tua ni Dedeh di Baso tentu juga
merasakan hal yang sama.

Saya juga masih ingat, pagi harinya Mak Ngah Sjamsir Sjarif mencoba
menghibur dan menelpon kami dari Santa Cruz, California...
Tapi menjelang berangkat Shalat Ied menuju mesjid kecil di pinggiran kota
Laramie milik komunitas muslim di kota itu, tangis saya dan Ni Dedeh pecah
juga...
Beruntung, agenda kerja hari itu cukup padat, sehingga kami bisa sedikit
terlena. Setelah Shalat Ied dan bersosialisasi sebentar, makan-makan ala
kadarnya dengan para jemaah, si Uni langsung kabur menuju labor
mikrobilologi kesayangannya, dan saya buru-buru ke kampus karena jadwal
mengajar sebagai teaching assistant hampir tiba. Tentu saja saya takut
terlambat, kaena selain merasa tidak enak, bisa-bisa saya diprotes para
mahasiswa.

Suasana yang masih cukup menghibur mungkin ketika saya asyik bermain
lumba-lumba di kandang penguin, Hobart, kutub Selatan dulu. Idul Fitri
maupun Idul Adha terasa cukup bermakna. Karena kami masih sering mengadakan
shalat berjamaah dan pengajian sesama mahasiswa. Ketika ramadhan tiba,
shalat tarawih dan buka bersama sudah menjadi agenda utama. Apalagi biasanya
dilaksanakan di apartement saya yang dijadikan base camp nya mahasiswa asal
Indonesia. Mesjid yang cukup jauhpun, Alhamdulillah bisa kami kunjungi
secara bersama-sama...

Dan tahun ini.... lagi-lagi saya harus meninggalkan kampung sendiri ketika
Ied Mubarak datang menghampiri...

Tapi Ya Allah...
Inilah tahun tersulit dan terberat yang saya hadapi...
Inilah tahun dimana saya selalu ingat kampung dari hari ke hari...
Inilah tahun dimana kampung juga mendapat cobaan yang menyayat hati....

Inilah juga tahun... yang rasanya tantangan kerja dan tantangan hidup
membuat saya hampir menyerah atau me lempar topi...
Tentu hanya karena bantuan dan izin Allah lah, akhirnya saya bisa melampaui
semua ini...

Dan kini Ied pun datang kembali....
Di ruang makan asrama, saat tadi dinner tiba...
Beberapa teman muslim dari Pakistan, Afganishtan, dan Uzbekistan hanya
menggeleng sedih ketika saya ajak Shalat Ied Jumat besok pagi di KBRI
Chanakya Puri. Jumat pagi besok kami ada ujian, katanya lemah. Bersyukurlah
kamu bukan mahasiswa, sehingga tidak ujian dan bisa shalat Iedul Adha,
sambung mereka,  membuat saya kehilangan kata-kata.

Memang libur resmi Idul Adha di India hari Sabtu 28 November, bukan Jumat.
Tetapi KBRI New Delhi memilih hari Jumat ikut waktu di Mekah maupun waktu di
Indonesia.

 Malam ini....
Di saat seharusnya Takbir, Tahlil, dan Tahmid berkumandang di seluruh
negeri,
tapi di sini hanya ada musim dingin yang kering menusuk tulang dan gemeretuk
gigi...

Dan Malam Ied ini...
Di tanah Gandhi...

Kerinduan akan kampung halaman terasa semakin menusuk ulu hati
Karena saya sering tidak bisa menemukan apa yang membuat damai di hati...
Sesuatu yang membuat saya merasa RINDU....
Suara Azan,.... Nikmatnya shalat ramai-ramai berjamaah..., Keramaian suara
orang mengaji....

 Sekalipun angin dingin datang menerjang muka
Saya dan beberapa teman beristirahat di atap asrama di tingkat lima
Melihat bulan setengah purnama dengan hiasan bintang yang berkelip satu dua

Menjelang tengah malam...
Kerinduan itu muncul kembali, ...

Kerinduan yang muncul dalam hati
ditengah keramaian celoteh teman kanan kiri...

Di tengah malam ini...
Malam dimana orang dianjurkan bertakbir dan berserah kepada Ilahi
Dari atap asrama yang datar ini...
Saya tajamkan mata, telinga, dan hati...

Kalau-kalau saja saya bisa mendengar gema takbir walaupun dari kejauhan ...
Tapi yang terdengar hanya hiruk pikuknya lalu lintas di bawah sana...

Ya Allah...
Dimana suara-suara manusia yang memuji Mu..?
Dimana gema alunan ayat suci yang seharusnya memenuhi angkasa berkumandang
memuja Mu..?

Kenapa hanya hiruk pikuk manusia yang ada di malam yang seharusnya terdengar
syahdu...?

Tidak ada gema takbir, tahlil, dan tahmid yang terdengar,
kecuali yang kulantunkan lambat-lambat dari mulutku sendiri...

 Tidak ada mesjid di sekitar sini,....

Aku rindu ya Allah...

Aku rindu mendengar suara azan di mesjid, bukan suara azan di komputer...
Aku rindu shalat ramai-ramai berjamaah...
Aku rindu mendengar suara ramainya orang mengaji...
Aku rindu gema TAKBIR di udara yang tak putus-putus di malam Ied Mubarak ini

Di kampung halaman ku, ditengah-tengah keluargaku, bersama
tetangga-tetanggaku....
Aku masih mudah mendapatkan semua kerinduan itu

Ya Allah....
Aku ingin secepatnya pulang ...
Aku rindu kampung halaman...
Tolong lapangkan jalan itu untukku....

Amien...


New Delhi, 9 Zulhijjah 1430 H



Rita Desfitri

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke