Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century
Share
Yesterday at 2:58pm
Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century
13 November 2008. Pagi. Bank Century kolaps, bangkrut. Bank itu kalah
kliring. Sore harinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama
rombongan, termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani, terbang menuju
Washington, Amerika Serikat, untuk menghadiri pertemuan G-20.
Sri Mulyani melaporkan kondisi Bank Century kepada SBY, 14 November.
Hari itu juga, Sri Mulyani kembali ke Tanah Air. Tiba 17 November.
Keadaan gawat. Sejumlah tindakan genting harus diambil.
Sejumlah rapat dengan Gubernur Bank Indonesia ketika itu, Boediono, harus
segera digelar.
***
PUKUL 03.30 waktu Jakarta, Rabu, 26 November 2008. Udara terasa dingin.
Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, sepi. Pesawat Airbus A330-341
mendarat dengan mulus.
Setelah melewati penerbangan meletihkan 30 jam dari Lima, Peru,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan rombongan turun dari
pesawat.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyambut SBY dan rombongan di tangga
pesawat. Kalla bukan hanya siap menyambut, melainkan juga siap
melaporkan perkembangan di Tanah Air selama presiden ke luar negeri.
Selama SBY melakukan misi 16 hari di luar negeri (ke Amerika Serikat,
Meksiko, Brasil, dan Peru), Kalla memimpin negara dan pemerintahan.
Karena itu, ia segera melaporkan perkembangan di Tanah Air begitu
pemberi mandat tiba.
Banyak yang dilaporkan. Salah satunya soal Bank Century. Ia melaporkan
bagaimana Sri Mulyani dan Boediono menangani Bank Century.
Kalla juga melaporkan, "Saya sudah memerintahkan Kapolri untuk
menangkap Robert Tantular (pemilik Bank Century). Ini perampokan."
"Baik, baik ...," begitu reaksi presiden seperti dikutip Kalla ketika
menceritakan kisah tersebut di Studio Trans Kalla, Tanjung Bunga,
Makassar, Selasa (24/11).
Kalla terlihat lebih gemuk. Berat badannya naik dua kilo sejak lepas dari
kesibukan sebagai wakil presiden, 20 Oktober lalu.
Dengan air muka yang cerah, Kalla berkata: "Sekarang tanggal 24
(November). Besok tanggal 25, persis setahun ketika Ani (Sri Mulyani)
dan Boediono melaporkan Bank Century di kantor saya."
***
ISTANA Wakil Presiden RI, Jakarta, pukul 16.00 WIB, Selasa, 25 November
2008. Kalla ingat persis tanggal ini, lengkap dengan harinya.
Ketika itu, ditemani stafnya masing-masing, Sri Mulyani dan Boediono
melapor kepadanya mengenai Bank Century. Mereka harus melapor ke wapres
karena presiden sedang di luar negeri. Pemilu presiden masih setahun
lagi dan hubungan SBY-Kalla masih mesra.
"Apa? Bantuan? Kenapa harus dibantu. Ini perampokan," kata Kalla dengan
suara keras ketika Sri Mulyani dan Boediono melaporkan "upaya
penyelamatan" Bank Century.
Belum ada yang menduga bahwa kelak Boediono akan berpasangan dengan SBY, dan
menang. Kalla adalah bos ketika itu.
Menurut Kalla, kedua pejabat itu melaporkan bahwa Bank Century
menghadapi masalah besar. Masalah muncul karena krisis ekonomi global.
Karena itu, Bank Century harus dibantu pemerintah dengan cara
mengucurkan dana bailout (talangan).
Bila tidak dibantu, demikian kedua pejabat itu meyakinkan Kalla,
masalah Bank Century akan berimbas ke bank-bank lainnya. Pada akhirnya,
perekonomian nasional akan oleng.
"Saya tidak setuju dengan pandangan itu. Krisis itu menghantam banyak
orang. Masak ada badai cuma satu rumah yang kena. Tidak. Bila hanya
Bank Century yang kena, itu bukan krisis. Yang bermasalah adalah Bank
Century dan itu bukan karena krisis melainkan karena uang bank itu
dirampok pemiliknya sendiri. Ini perampokan!" Kalla berteriak dengan
keras.
"Lapor ke polisi," perintah Kalla kepada Sri Mulyani dan Boediono. "Sangat
jelas, ini perampokan. Jangan berikan dana talangan."
Sri Mulyani dan Boediono tidak berani. Bahkan mereka sempat bertanya, pasal apa
yang akan dikenakan.
"Itu urusan polisi. Pokoknya ini perampokan," teriak Kalla lagi.
Karena melihat Sri Mulyani dan Boediono tidak menunjukkan gelagat akan
memproses kasus ini secara hukum, Kalla lalu mengambil handphone-nya,
menelepon Kapolri Bambang Hendarso Danuri.
"Tangkap Robert Tantular...," teriaknya kepada Kapolri. Setelah
menjelaskan secara singkat latar belakangan masalah, Kalla
memerintahkan, "Tangkap secepatnya".
"Saya tidak tahu pasal apa yang harus dikenakan. Ini perampokan,
tangkap. Soal pasal urusan polisi," cerita Kalla sambil tertawa.
Dua jam kemudian, Kapolri menelepon. Robert Tantular telah ditangkap oleh tim
yang dipimpin Kabareskrim Susno Duaji.
Mengingat kecepatan polisi bertindak, dengan nada berkelakar, Kalla
mengatakan, polisi itu baik asal diperintah untuk tujuan kebaikan.
***
DI ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 3 September 2009,
Robert Tantular diadili. Ketika membacakan duplik, pengacaranya,
Bambang Hartono, memprotes Kalla.
Ia menilai Kalla telah mengintervensi hukum karena memerintahkan Kapolri untuk
menangkap kliennya.
"Tindakan tersebut bertentangan dengan hak asasi manusia," protes sang
pengacara.
Menurut Bambang, penangkapan Robert Tantular tidak memiliki dasar
hukum. Ia mengutip Boediono: "Pak Boediono selaku Gubernur BI
mengatakan bahwa tidak bisa dilakukan penangkapan karena tidak ada
dasar hukumnya."
Mendengar protes pengacara itu, Kalla memberikan reaksi keras. Bahkan terus
terang ia mengaku sangat marah.
Kata Kalla, "Saya marah karena saya disebut mengintervensi. Tidak. Saya
tidak intervensi. Yang benar, saya memerintahkan polisi agar Robert
Tantular ditangkap. Ini perampokan," katanya sambil tertawa.
Robert telah merugikan Bank Century, yang tentu saja ditanggung nasabahnya,
sebesar Rp 2,8 triliun.
Bank yang "dirampok" pemiliknya sendiri itu justru mendapatkan bantuan
pemerintah, melalui tangan Sri Mulyani dan Boediono, sebesar Rp 6,7
triliun.
Pengadilan memvonis Robert penjara empat tahun dan denda Rp 50 miliar/subsider
lima bulan penjara.
***
24 November 2009. Kalla kini bernapas lega karena apa yang diyakininya sebagai
perampokan di Bank Century pelan-pelan terkuak.
Hari Selasa kemarin, ia bangun pagi seperti biasa, membersihkan taman
di depan rumahnya di Jl Haji Bau, Makassar. Enam anggota Paspampres
(tiga dari Bugis), yang akan mengawalnya sepanjang hayat, juga ikut
santai.
Satu demi satu ranting pohon dibersihkan. Sebuah pohon kira-kira
setinggi dua meter yang bibitnya didatangkan dari Pretoria, Afrika
Selatan, ikut dipangkas.
Nyonya Mufidah, istrinya, protes. "Aduh, Bapak ini tidak ngerti seni,"
komentar wanita Minang ini tentang pohon-pohon yang dipangkas.
Kalla membela diri. "Kalau daunnya banyak, pohon ini tidak bisa lekas
besar karena makannya dibagi ke banyak daun. Kalau daunnya sedikit,
makanannya dibagi ke sedikit daun. Pasti lebih cepat tumbuh."
Kalla berada di Makassar sepekan terakhir setelah pulang dari liburan
di Eropa usai melepas jabatan. Di Makassar ia menghabiskan waktu dengan
berdiskusi dengan kolega-koleganya, bermain dengan cucu, dan menikmati
makanan kesukaannya, ikan.
Di belakang rumahnya, ia menikmati pohon yang buahnya delapan jenis.
Kemarin ia makan siang di sebuah restoran sea food, lalu ke Studio
Trans Kalla. Warga yang melihatnya spontan berteriak dan minta foto
bersama. Paspampres lebih longgar dari biasanya.
Kalla ingin menikmati hidup sebagai rakyat biasa dan menghindari
komentar tentang politik. Tapi kasus Bank Century, yang menguras kas
negara Rp 6,7 triliun, terus menggodanya untuk berbicara.
"Saya tidak ingin rakyat terus menerus dikorbankan," katanya berapi-api
tapi dengan banyak sekali komentar off the record (tidak untuk
dipublikasikan).
***
KALLA ingat persis peristiwa tanggal 25 November 2008 itu. Hari itu
Selasa sore. Sri Mulyani dan Boediono sama sekali tidak melaporkan
berapa dana yang telah dikucurkan ke Bank Century.
Belakangan ia tahu, sesuatu yang aneh telah terjadi. Sri Mulyani dan
Boediono telah membahas rencana pengucuran dana talangan ke Bank
Century melalui rapat pada 20 dan 21 November.
Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mengucurkan dana Rp 2,7 triliun (dari
total keseluruhan Rp 6,7 tiliun) ke Bank Century pada 22 November.
Tanggal itu merupakan tanggal merah karena hari Minggu. Sepertinya ada
yang begitu mendesak sehingga LPS mengucurkan dana pada hari libur,
hari Minggu. Tidak sembarang orang bisa memaksa transaksi sebegitu
besar, apalagi pada hari libur.
Sri Mulyani dan Boediono melapor ke Kalla pada 25 November setelah dana
mengucur, bukan sebelumnya.
Hasil audit investigatif BPK juga menemukan beberapa keanehan.
Misalnya, BI yang dikomandoi Boediono melanggar aturan yang dibuat
sendiri demi Bank Century.
Kalla belum mau bercerita mengenai keanehan-keanehan itu. Yang
kelihatannya masih samar-samar adalah ini: ada kekuatan besar di balik
Boediono dan Sri Mulyani. (dahlan)
Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---