dunsanak sadonyo, alam terkembang menjadi guru,adalah salah satu filosofi budaya minang, yang sangat terpakai kemanapun ambo pai, yang membuat kita, jadi selalu berusaha untuk mengambil pelajaran dari alam ini, dimanapun kita berada. iko, ado saketek tulisan, mengambil pelajaran dari alam, sebuah bentuk aplikasi praktis, filsafat minang, cerita dari perjalanan ambo ke pantai semenanjung Musandam, negeri oman, ujung tanduk jazirah arab di teluk persia perbatasan UAE dg Iran, semoga bermanfaat salam HM malin sinaro , +40, palembayan-kab agam. ---------- Butiran pasir halus masih menempel di kening ini, selepas sholat subuh di hamparan pasir tepi pantai , deburan suara ombak menemani zikirku di pagi itu. Kutengadahkan wajah ke langit yang sunyi bertaburkan bintang. Langit sebelah barat masih sunyi kelam bertaburkan bintang, bergeser ke arah atas warnanya jadi biru tua kemudian bergradasi menjadi biru muda, terus ke arah barat menjadi kuning sampai menjadi garis oranye bercahaya, sepanjang kaki langit yang bersambung dengan ujung samudera luas. Di langit sebelah barat tampak bulan sabit bagai tersenyum ditemani venus sang bintang timur. Dari tengah laut tampak lampu kapal nelayan, beriringan menuju bibir pantai, dalam perjalanan pulang mencari rizki di tengah laut. Di sepanjang bibir pantai kota nelayan Diba, berjajar pula lampu2 rumah penduduk yg mulai menggeliat dari tidur malam nya… Saat ku duduk memandang samudra luas, ke arah barat tampak garis orange di kaki langit bertambah terang, sangat terang di bagian tengah nya, dengan pantulan sinarnya yang memantul di hamparan samudra bagaikan garis lurus yg menuju pinggir pantai tempatku duduk ini. Setitik sinar terang itu, kemudian jadi tambah terang dan tambah besar, naik terus ke atas samudra, berubah sedikit demi sedikit mulai dari sekedar titik terang sampai menjadi bulatan sempurna. Deburan suara ombak yg bergema ketika memantul dari tebing karang di tepi pantai, seperti musik orkestra alam yang menghantar kedatangan mentari pagi di pantai semenanjung musandam, negeri Oman , tepi pantai jazirah arab menghadap samudra hindia ini. baca selengkapnya ; http://hdmessa.wordpress.com/2009/11/30/sun-rise-new-hope/ salam HM Butiran pasir halus masih menempel di kening ini, selepas sholat subuh di hamparan pasir tepi pantai , deburan suara ombak menemani zikirku di pagi itu. Kutengadahkan wajah ke langit yang sunyi bertaburkan bintang. Langit sebelah barat masih sunyi kelam bertaburkan bintang, bergeser ke arah atas warnanya jadi biru tua kemudian bergradasi menjadi biru muda, terus ke arah barat menjadi kuning sampai menjadi garis oranye bercahaya, sepanjang kaki langit yang bersambung dengan ujung samudera luas. Di langit sebelah barat tampak bulan sabit bagai tersenyum ditemani venus sang bintang timur. Dari tengah laut tampak lampu kapal nelayan, beriringan menuju bibir pantai, dalam perjalanan pulang mencari rizki di tengah laut. Di sepanjang bibir pantai kota nelayan Diba, berjajar pula lampu2 rumah penduduk yg mulai menggeliat dari tidur malam nya… Saat ku duduk memandang samudra luas, ke arah barat tampak garis orange di kaki langit bertambah terang, sangat terang di bagian tengah nya, dengan pantulan sinarnya yang memantul di hamparan samudra bagaikan garis lurus yg menuju pinggir pantai tempatku duduk ini. Setitik sinar terang itu, kemudian jadi tambah terang dan tambah besar, naik terus ke atas samudra, berubah sedikit demi sedikit mulai dari sekedar titik terang sampai menjadi bulatan sempurna. Deburan suara ombak yg bergema ketika memantul dari tebing karang di tepi pantai, seperti musik orkestra alam yang menghantar kedatangan mentari pagi di pantai semenanjung musandam, negeri Oman, tepian samudra hindia ini. Kupandang jauh ke ujung samudra, nun jauh di ujung barat sana, seperempat lingkaran bumi jauhnya, mentari yg sama telah tiga jam yg lalu menerangi langit negeri gemah ripah loh jinawi, tanah airku Indonesia. Ku bayangkan sobat2 lama ku di atas gunung Malabar, Bandung selatan, sana, sedang menikmati pagi yang indah di tengah hamparan kebun teh… Dulu ketika disana saya juga suka menikmati terbitnya mentari pagi, yang muncul dari balik lekuk kawah gunung wayang yang cahayanya menembus ranting daun pohon pinus sampai pula kemudian menghangatkan butiran embun di pucuk daun teh. Jauh sekali bandingan suasana saat mentari terbit di tepi pantai dengan di atas gunung, namun masih sama sebuah sebuah peristiwa alam yg menggetarkan jiwa dan dimanapun kita berada, tetaplah itu mentari yg sama yang beredar di atas langit dunia yg sama pula. Langit, mentari, deburan suara ombak, tebing karang dan hamparan pasir pantai, semuanya adalah alam ciptaan Allah semata, dan manusia yg duduk di tengah alam yg luas ini hanya bagaikan noktah kecil yang tak berarti diantara alam yg besar, kokoh dan telah lama ada. Mentari tak pernah lelah, selalu menerangi kita tiap pagi, tak pernah terlambat sedetik pun, begitu pula halnya ombak yang tak pernah lelah berlarian sepanjang pantai. Sekuat2 nya manusia pasti ada lelahnya dan perlu istirahat. Sekeras2 nya suara manusia, tak ada yg menandingi suara gempuran ombak, sekuat2 nya manusia, tak ada yg menandingi kekuatan batu karang yg telah ribuan tahun lamanya, menahan deburan ombak. Sadarilah manusia hanya makhluk lemah dan kecil dibanding alam yg luas ini Namun walaupun bagai kecil tak berarti, Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia, lebih mulia dari semua ciptaan Nya. Sungguh disayangkan tak semua manusia benar2 mau menjalani hidup yg mulia, mengisi masa kesempatan hidup di dunia yg hanya sekali ini. Sebagian lagi bahkan menyia nyiakan kemuliaan tersebut. Menghayati terbitnya mentari pagi, kita bisa belajar bahwa setiap pagi, adalah juga saat timbulnya semangat baru, harapan baru di kesegaran pagi hari yg ceria. Sekelam apapun malam gelap, akan tiba saatnya mentari pagi menerangi nya. Seberat dan sekelam apapun permasalahan yg kita hadapi, tetap akan tiba saatnya secercah sinar terang penyelesaian masalah yang kita hadapi tersebut. Janganlah berputus asa, harapan selalu terbentang.... Dalam kisah kuno yunani tentang kotak pandora, ada dikatakan saat kotak tersebut dibuka, maka bertebaran lah semua keburukan yg tersimpan selama ini, namun tetap ada disana sesuatu bernama harapan. Bagaimana lah pula seandainya mentari pagi, tak menghampiri kita, atau malah tak terbit sama sekali ? Terbayang betapa membingungkan dan menakutkan nya, bilamana matahari sehari saja, absen, tak hadir mendatangi kita, mungkin sebagian akan menyangka dunia akan kiamat karenanya. Saya jadi teringat, waktu kecil pernah mengalami hal tersebut, suatu haru mentari pagi tak tampak. Saat masa kecil di Bandung dulu, sekitar tahun 1982, saya masih sekolah SD, saat hendak pergi sekolah, sudah beres sarapan terus keluar rumah mau pergi sekolah, tapi serasa hari masih gelap seperti subuh, padahal jam sudah menunjukkan jam tujuh pagi, matahari tetap tak tampak, hanya gelap di atas langit, ada apa gerangan ? akankah dunia kiamat ? menakutkan juga suasananya hari itu. Di jalanan orang2 pun bertanya2 mengenai hal tersebut dengan berbagai rumor apa yg terjadi, sampai baru kemudian tahu setelah dapat berita dari radio, bahwa gunung galunggung di daerah Tasikmalaya, sebelah selatan kota Bandung, meletus dan debu tebal nya menutupi langit sampai beberapa hari kemudian. Pengalaman tersebut memberikan saya pelajaran berharga, betapa kita harus selalu mensyukuri terbitnya mentari pagi, sinar mentari di pagi yg ceria adalah sebuah rahmat yg besar yang akan menemani kita selama siang hari. Sebuah nikmat yg patut disyukuri, yang akan membuat kita menjalani satu hari itu dengan penuh kebahagiaan, bersemangat dan mengisinya dengan kebaikan, suatu hari yang istimewa diantara hari hari yg kita alami dalam perjalanan hidup ini. Sehingga saat sore hari gelap malam, mulai membelai sang mentari dalam pelukan nya, kitapun bisa beristirahat dengan tenang nya. Janganlah sampai terjadi, kita bagaikan orang yg takut menghadapi mentari pagi, karena berbagai permasalahan yg kita hadapi, wajah asam cemberut dan kening berkerut mewarnai pagi hari kita, siang hari tambah panas, stress dengan berbagai masalah hidup dan saat malam tiba, tak bisa beristirahat, walau diatas tempat tidur empuk sekalipun, mata sulit terpejam, insomnia, susah tidur menghantui malam gelap, setelah terlelap tidur, mimpi buruk menyergapnya, angin badai berawan gelap menggantung di langit yg bagaikan akan runtuh, hari esok jadi begitu menakutkan, bagaikan tulisan yg pernah kutemui di dinding gerobak sampah seorang pemulung di jakarta, "lavender madezu" , singkatan; laki2 venuh derita, masa depan zuram, sungguh menyedihkan dan menyesakkan dada..., akan seperti itukah kita menyongsong hari hari dalam perjalanan hidup ini ? Sadarlah mentari pagi yg terbit di pagi yg ceria, adalah selalu membawa kebaikan, membawa harapan baru, janganlah berputus asa, sadarilah harapan masih luas terbentang, seluas hamparan langit biru, setiap lembaran hari yg mendatangi kita adalah sebuah nikmat Tuhan yg patut disyukuri dan diisi sebaik mungkin. Mentari pagi memberi semangat baru, seperti syair lagu lama abah Iwan Abdurahman berikut, Mentari ; Mentari menyala disini , Disini… di dalam hatiku , gemuruh apinya di sini , di sini.. di urat darahku meskipun tembok tinggi mengurungku berlapis pagar duri di sekitarku tak satupun yang mampu menghalangiku bernyala di dalam hati ku hari ini, hari milikku juga esok masih terbentang dan mentari kan tetap menyala , disini, di urat darahku Diba beach, musandam peninsula, Oman November 2009 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
