Rky Ifah nan bijak bestari dan sanak di RN ko,
Alhamdulillah, sangat beruntung Ifah dapat komentar, saran sarato petunjuk
dari 'ahli'nya
Sekaligus terimakasih  lai babagi dalam salah satu 'keberuntungan' ini
Jadi kami, khususnya saya pribadi,  ikut merenungi komentar, saran, bahkan
kritikan konstruktif terhadap 'puisi'
Saya yakin satu saat nanti 'tulisan' Ifah dibukukan dan laris manis terjual
Tinggal pilah pilih  tema atau topik apa yang 'disukai' pasar. Atau Ifah
menentukan 'pasar' lalu tulis sesuai dengan selera pasar

Sekali lagi selamat menulis dengan 'qalbu'.... dan Terimakasih atas
berbaginya

Wassalam,
Masrur Siddik, 68 th
di Bandung

2009/12/5 hanifah daman <[email protected]>

>
> Assalammualaikum WR WB bpk Suheimi, bung Jepe, bung IJP dan dunsanak
> sapalanta yth.  Hari rabu kemaren hanifah ikut acara ceramah ttg penulisam
> kreatif. Disana hanifah bertemu editor sekaligus penulis. Hanifah minta
> beliau mengomentari tulisan2 hanifah yg tersimpan di blog. Beruntung rasanya
> dapat komentar dari editor. Untuk itu karena RN adalah sekolah maya bagi
> hanifah, maka komentarnya hanifah bagijan lg untuk RN. Hanifah mengharapkan
> saran dari pembaca RN semua. Terimakasih. Wass. Hanifah
>
>
> ----- Original Message -----
> Subject: Sedikit komentar pada puisi ibu
> Date: Fri, 4 Dec 2009 21:44:49
> From: Anwar Holid <[email protected]>
> To:  <[email protected]>
>
> Salam takzim,
>
> Ibu Iffah, saya baru bisa baca-baca puisi ibu hari ini. Sepulang dari
> Bengkulu kemarin saya memang sibuk, termasuk sibuk menemani keluarga yang
> merasa sudah ditinggalkan waktu ke Bengkulu, sementara saya sendiri
> kesulitan menyelesaikan pekerjaan yang harus beres. Ada beberapa kerjaan
> saya yang terbengkalai, dan itu harus diprioritaskan.
>
> Harus saya bilang bahwa saya bukan kritikus, melainkan pembaca yang
> bersemangat terhadap puisi. Saya baru beberapa kali meresensi buku puisi dan
> membicarakan puisi, sementara saya lebih sering menyandarkan pada kenikmatan
> baca daripada menganalisisnya secara sangat serius.
>
> Saya cukup menikmati puisi-puisi ibu yang bertema sederhana, tapi saya
> sulit menikmati puisi ibu yang terkait dengan peristiwa sosial-politik
> aktual, misalnya ketika ibu merespons kejadian Bibit-Chandra, skandal
> Antasari, dll. Menurut saya karya ibu kuat ketika melibatkan kedalaman
> batin, seperti pada MAU MENGHINDAR KEMANA?, UNDANGAN DARI SOLO, MENABUNG
> UNTUK QURBAN, MAKAN SOP BERSAMA, MABUK DUREN, NASI RAMAS. Dengan pernyataan
> sederhana dan mudah dipahami, ungkapan ibu rasanya mengungkapkan keintiman
> terhadap sesama manusia, menyiratkan kasih sayang pada sesama manusia.
>
> Tapi saya kurang bisa menikmati puisi ibu yang mengenai politik atau hal
> yang sangat personal, misalnya TERIMA KASIH BAPAK REKTOR, Prof.Dr.Ir.Nanik
> Setyowati,M.Sc, HIDUP TPF 8, MARI KITA DUKUNG GF. Saya sulit "nyambung"
> dengan puisi seperti itu, mungkin karena saya juga enggak tertarik pada
> persoalan politik, atau dalam kasus tema yang personal, saya enggak punya
> kedekatan dengan isu atau orang tersebut. Terhadap tema seperti itu, saya
> hanya bisa bertanya sendiri, "Apa menariknya tema itu diangkat jadi puisi?"
> Mungkin kalau ibu bisa mengaitkannya dengan pengalaman batin yang lebih
> universal, puisi itu jadi lebih menarik.
>
> Sekadar berkomentar, menurut saya komentar Prof. Suheini terhadap karya ibu
> lebih bersifat sebagai dukungan. Tapi kurang mengkritik misalnya dalam hal
> apa ibu sebaiknya menulis puisi. Kalau Prof. Suheini bisa mengomentari soal
> kekaryaan ibu, dari segi artistik dan kedalaman puisinya---bukan dari
> efeknya---mungkin akan menjadi masukan kritik yang bagus.
>
> Karena saya editor, sebagai masukan, mula-mula saya sangat menyarankan agar
> ibu lebih tertib dan rapi dalam menulis puisi, perhatikan penggunaan tanda
> baca, huruf kapital, usahakan jangan sampai ada salah ketik atau
> penulisannya harus benar-benar akurat. (Standar tentang penulisan ini ada
> dalam buku EYD atau kamus-kamus yang bagus). Bagi saya, salah eja itu
> menurunkan kredibilitas penulis. Disiplinlah menulis sesuai kaidah bahasa
> yang umum.
>
> Contoh:
> di tulis --> mestinya ditulis (karena bersatu dengan kata kerja)
> kedepan --> mestinya ke depan (karena menyatakan tempat)
> kerumah --> mestinya ke rumah
> " Kami ... --> mestinya "Kami ... (tanda baca nempel pada huruf)
>
> Konsistensi juga penting, misalnya apa kita akan tetap menggunakan
> "rame-rame" atau "ramai-ramai"?
>
> Ini komentar saya tentang puisi, semoga bermanfaat:
>
> --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
> Apa yang membuat puisi jadi berarti? Apa yang paling berharga dari puisi?
>
> Menurut saya ialah pesan dan kekuatan bahasa/kata. Sejauh pengalaman
> membaca puisi, saya biasanya kesulitan  menikmati puisi bila ungkapan atau
> pesannya kabur, apalagi bila dibungkus dengan bahasa yang sulit. Saya lebih
> bisa  menikmati puisi yang ungkapannya jelas maupun permainan (eksplorasi)
> bahasanya kuat. Karena itu saya lebih bisa menikmati puisi "terang" misalnya
> karya Joko Pinurbo, Soni Farid Maulana, daripada puisi "gelap" karya Afrizal
> Malna.
>
> Puisi-puisi Nirwan Dewanto dalam Jantung Lebah Ratu (GPU, 2008) yang pada
> dasarnya bukan puisi gelap juga amat  sulit saya nikmati, karena menurut
> saya dia sengaja menyembunyikan makna sedemikian rupa menggunakan  ungkapan
> atau perlambang yang sulit. Jadi begitu tetap kesulitan meraba-raba apa
> maksud sebuah puisi, apalagi  setelah berusaha membicarakannya baik-baik,
> biasanya saya nyerah untuk terus berusaha menikmatinya. Buat saya,
>  keterbacaan puisi itu penting.
>
> Saya masih bisa menerima ambiguitas dalam puisi, asal puisi itu menawarkan
> keunikan, mengedepankan naluri,  menarik-narik pembaca ke batas samar antara
> makna tersirat dan harfiah---jadi mengarah pada permainan tafsir dan
>  berbagai kemungkinan.
>
> Bisa jadi keengganan saya pada puisi yang sulit dipicu oleh kemalasan
> menebak-nebak pesan penyair, yang bisa jadi  terlalu absurd atau subtil.
> Hasan Aspahani---seorang penyair & kritikus---menyatakan bahwa perburuan
> terhadap maksud puisi yang tampak sia-sia akan melelahkan pembaca. Apalagi
> di zaman kini, ketika puisi bisa dinikmati setiap  hari atau mudah dicari di
> mana-mana, terutama di ruang maya. Melimpah-ruahnya puisi di satu sisi
> membuat pembaca  seperti saya kesulitan untuk benar-benar menikmati puisi
> dengan tenang, tidak seperti zaman dulu ketika tampaknya  puisi masih
> seperti barang langka yang baru bisa dinikmati berkat seleksi yang ketat
> dari para penerbit.
>
> Tapi di sisi lain ini juga memudahkan kita mendapatkan puisi dari manapun,
> yang seperti apa pun, oleh siapa pun.  Sebab sekarang tampaknya setiap orang
> merdeka menciptakan puisi dan bisa menerbitkannya bila mampu. Dalam situasi
> seperti ini, mungkin penting memperhatikan pendapat Joko Pinurbo terhadap
> karir sebagai penyair:  "Kepenyairan dan kepengarangan membutuhkan tidak
> hanya bakat tapi ketajaman nalar dan daya tahan mental.  Jangan bernafsu
> ingin cepat terkenal atau jadi 'tokoh'."
>
> --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
>
> Tentang pertanyaan ibu, "Sebenarnya tulisan saya layak enggak untuk
> dibukukan dan dijual? Kalau tidak layak apa yang harus saya lakukan agar
> bernilai jual?"
>
> Pertanyaan ini sangat sulit saya jawab, karena saya bukan penerbit; sebab
> profesi saya penyunting & penulis. Yang bisa saya katakan ialah: jangan
> terlalu terburu-buru ingin menerbitkan karya. Sebagian penyair hebat,
> seperti Emily Dickinson (Amerika Serikat), hanya menerbitkan 5-6 buah puisi
> di media massa, tapi dia konsisten menulis puisi di buku harian, dan itulah
> yang diterbitkan setelah dia meninggalkan, dan setelah itu puisinya dinilai
> puisi yang amat berpengaruh.
>
> Mungkin meminta komentar dari penyair yang bukunya pernah diterbitkan lebih
> bisa memberi gambaran akurat. Mungkin minta bantuan mbak Melvi berguna,
> sebab dia berteman dengan Joko Pinurbo yang puisi-puisinya sudah diterbitkan
> dan cukup laku di pasar.
>
> Kalau yang dikumpulkan merupakan karya-karya terbaik ibu, yang bisa
> dinikmati pembaca umum, bersifat universal, tentu layak dibukukan dan punya
> nilai jual. Dalam penerbitan, salah satu hal yang paling penting ialah
> menjawab pertanyaan: siapa yang mau beli buku ini, berapa banyak, apa
> manfaatnya baik bagi penerbit dan pembaca? Bila ini terjawab, biasanya buku
> bisa terbit.
>
> Terima kasih atas perhatian ibu. Semoga bermanfaat. Maaf bila ada kata-kata
> saya yang kurang berkenan di hati ibu.
>
> Wasalam,
>
>
> Wartax
>
>
> Anwar Holid: penulis, penyunting, publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.
>
> Kontak: [email protected] | (022) 2037348 | 085721511193 | Panorama II No.
> 26 B Bandung 40141
>
> Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
> http://www.goethe.de/forum-buku
> http://www.rukukineruku.com
> http://ultimusbandung.info
> http://www.visikata.com
> http://www.gramedia.com
> http://halamanganjil.blogspot.com
>
> Come away with me and I will write you
> ---© Norah Jones
>
>
>
>
>
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke