Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Emi,...
Terima Kasih telah berbagi kisah yang sangat menyentuh ini.

Cerita ini mengingatkan saya akan kisah seorang kakek tua yang sangat
menyayangi dan merawat istri dan anak laki-lakinya yang lumpuh dengan penuh
kasih.

Atau waktu seorang ibu tua yang mengasuh anak laki-lakinya yang buta dalam
kesederhanaan. Ketika si anak masih sehat dan kaya, punya tahta dan harta,
si Ibu tidak pernah diperhatikan. Tapi ketika si anak jatuh miskin, dapat
musibah (bahkan jadi buta), dan kemudian ditinggalkan anak dan istrinya, si
Ibu tua yang miskin lah yang kembali merawat dan mengasuhnya sedemikian
rupa.

Beberapa tahun yang lalu, seorang wanita tua yang tegar asal Palestina (saya
memanggil beliau 'mummi') juga membuat kami menitikkan air mata, Tapi si
Mummi tetap tersenyum ceria dalam kepedihan hidupnya. Dengan segala
kekurangan dan keterbatasan yang ada pada dirinya, tetap berbuat yang
terbaik untuk keluarga dan orang-orang yang disayanginya.
Saya ingat ketika dia memberi nasehat bahwa berbuat baik jangan mengharap
pamrih dan balas jasa. Kasih sayang yang tulus tidak pernah mengenal untung
dan rugi. Kebaahagiaan diri akan datang ketika melihat keluarga dan
orang-orang yang kita sayangi berbahagia.

Kebahagiaan hidup yang sesungguhnya memang tidak bisa diukur dengan harta.
Kekayaan, pangkat dan jabatan tidak menjamin orang-orang berbahagia. Tapi
keikhlasan dan niat baik mudah-mudahan membimbing dan mengarahkan kita untuk
selalu bersikap bijak dan arif... Menyebarkan kasih sayang tulus.... dan
berbuat yang terbaik. Dan diatas semua itu tentu saja kita mengharapkan
Ridha dari Allah SWT.

Dan ketika kita berusaha berbuat yang terbaik itu sesuai dengan keterbatasan
yang kita miliki, untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang kita
sayangi, disitulah akan timbul kedamaian hati dan kebahagiaan diri.

Semoga Tuhan selalu membimbing kita untuk menjadi orang-orang yang bisa
berbuat baik, berguna, dan membahagiakan bagi orang-orang di sekeliling
kita. Amin...

Wassalam,

Rita Desfitri


------------------------------------------------
Pada 6 Desember 2009 08:47, <[email protected]> menulis:

> Pagi ini saya dapat kiriman e-mail dari anak say Irham SpOG
> Tulisan yang menyentuh kalbu
> Kerna tulisan ini bagus saya lantunkan ke milis kita semoga ada faedahnya
>
> Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an
> datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan
> berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin
> dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
>
> Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke
> jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan
> untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal
> membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu
> sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya
> sendiri..
>
> Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga
> tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah
> jompo untu makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya
> sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak
> beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.
>
> Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia
> menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun
> terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, ?Dan Bapak masih pergi ke sana
> setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?? Dia tersenyum ketika
> tangannya menepuk tanganku sambil berkata, ?Dia memang tidak mengenali saya,
> tapi saya masih mengenali dia, kan?
>
> Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap
> merinding. Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku?
>
> Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah
> menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan
> terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.
>
> Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling
> berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya
> berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.
>
> Salam teriring do'a
> K suheimi
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke