Kutipan dari Harian Republika

Selasa, 08 Desember 2009 pukul 13:15:00
Mahma Tubaththin

Ahmad Syafii Maarif


Lengkapnya ungkapan Arab itu berbunyi: Mahma tubaththin tudzhirhu
al-ayyam (Apa pun yang anda surukkan, sejarah pasti akan
membongkarnya). Saya tak ingat apakah ungkapan ini didapat saat
belajar di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Lintau (Sumbar), atau
ketika belajar pada Madrasah Mu'allimin Yogyakarta, puluhan tahun yang
lalu.

Esensi moral dari ungkapan itu adalah agar orang tidak menyembunyikan
sesuatu dengan bungkus dusta atau curang. Sebab, cepat atau lambat,
akan terbongkar juga. Jika tidak di dunia, di akhirat semuanya pasti
akan digelar di depan Mahkamah Ilahi yang mahaadil, tanpa ada satu
kekuatan pun yang mampu menghalanginya. Tetapi, kepercayaan tehadap
yang terakhir ini hanya diyakini oleh orang yang beriman, sementara
mereka yang berada di luar ranah iman itu tentu tidak hirau dengan
serbaakhirat.

Jika ungkapan Arab itu dikaitkan dengan situasi Indonesia yang paling
hangat, gambarannya dapat dilihat sebagai berikut. Enam hari setelah
kabinet SBY-Boediono dilantik, pada 29 Oktober 2009, polisi menangkap
Bibit-Chandra dengan tuduhan menerima suap, kemudian diubah lagi
karena menyalahgunakan wewenang dan melakukan pemerasan. Tindakan
kepolisian mendapat dukungan kuat dari kejaksaan agung: Bibit-Chandra
harus pada akhirnya di bawa ke muka pengadilan, karena kata dua
instansi penegak hukum ini buktinya cukup kuat untuk itu.
Berminggu-minggu energi bangsa ini tersita oleh pertunjukan drama
busuk ini.

Tetapi, yang mungkin berada di luar kalkulasi perekayasa adalah
bangkitnya nurani masyarakat luas tanpa dikomando, untuk melakukan
protes keras terhadap perlakuan zalim atas diri Bibit-Chandra.

Presiden yang melihat masyarakat menjadi terbelah dan dapat mengundang
tindakan liar, membentuk Tim Delapan dengan tugas mengungkapkan fakta
di belakang kasus Bibit-Chandra. Tim ini diberi waktu dua minggu
sampai dengan 16 November 2009. Juga, di luar harapan perekayasa, tim
yang dipimpin Adnan Buyung Nasution ini malah menguatkan simpul-simpul
nurani rakyat, yang marah terhadap tindakan kepolisian dan kejaksaan
agung.

Tim Delapan sangat dibantu oleh keberanian MK (Mahkamah Konstitusi)
yang sebelumnya telah menggelar secara terbuka percakapan seorang
super kuat Anggodo Widjojo, dengan para pihak yang disebut dalam
rekaman sadapan KPK itu. Akibatnya, bola panas tidak bisa dibendung
lagi. Pihak pemerintah yang hadir di forum MK itu seperti orang yang
telah kehabisan amunisi untuk berkomentar melalui ucapan ini: ''Apa
relevansinya MK menggelar sadapan ini?'' Akibat ucapan semacam ini,
posisi pemerintah malah semakin tersudut, seolah-olah tidak rela agar
segala kepalsuan dan kebusukan jangan sampai terbongkar. Sedangkan
pembela Anggodo, masih memutar otak dengan mempertanyakan, apakah
tindakan MK yang menggelar rekaman itu sah atau tidak sah. Adapun
munculnya demo-demo yang membela tindakan rekayasa kepolisian, bahkan
ada yang meminta agar KPK dibubarkan, tidak perlu dikomentari di sini,
karena tidak ada bobotnya.

Kasus Bibit-Chandra ternyata punya ekor panjang yang juga melilit
masalah penalangan BI atas Bank Century, yang sebenarnya sudah lama
berada dalam kondisi sakit parah. Bukankah penahanan Bibit-Chandra
sebenarnya adalah karena kedua pimpinan KPK ini telah mulai bergerak
untuk membidik kasus Bank Century? Jusuf Kalla yang tahu persis apa
yang sebenarnya terjadi atas penalangan BI terhadap Bank Century
memberikan kata putus: ''Perampokan.''

Maka, atas perintah Wapres Kalla yang ketika itu menjalankan fungsi
kepresidenan, Komjen SD (Susno Duadji) menangkap RT (Robert Tantular),
komisaris utama bank yang sedang sekarat itu. Dalam pembicaraan
langsung saya bersama seorang teman di suatu tempat pada 1 Desember
2009, SD dengan bangga mengatakan telah menangkap RT. Sebagai mantan
kabareskrim yang kaya informasi, Pansus Angket DPR perlu secepatnya
menemui SD dalam rangka membantu melengkapi pencarian fakta tentang
perampokan yang memalukan itu.

Akhirnya, apa pun yang anda surukkan atau sembunyikan, cepat atau
lambat, pasti akan terbongkar. Janganlah orang dengan mudah
mencampuradukkan kebenaran dengan kepalsuan. Dan, mari kita semua
jangan mau bersahabat dengan dusta. Aleksandr I Solzhenitsyn, novelis
Rusia terkenal, pernah berwasiat: ''Untuk melawan kebobrokan kekuasaan
komunisme di Uni Soviet, syaratnya hanya satu: tinggalkan dusta!''
(-)

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke