Sedikit komentar... Kalau lah boleh mengambil teori Religius-Mistis (menghubungkan suatu kejadian dengan hal-hala religi plus sedikit mistis- ini cuma istilah sebutan saya sendiri) yang kebanyakan di anut orang Indonesia, saya berpikir, yang manjadi sasaran dan yang paling ditegur oleh sang Pencipta pada saat gempa 30 september lalu adalah Bapak2 dan Ibu2 yang berada di pusat kekuasaan atau memegang simbol-simbol budaya dan sosial masyarakat Minangkabau. Kenapa..?? Karena yang digasak gempa adalah kota Padang, pusat kota, bukan pinggiran kota, dimana disana banyak gedung2 pemerintah dan simbol2 keangkuhan birokasi yang menjadi primadona di SUMBAR. Seragam dan embel-embel kedinasan atau kemiliteran sudah menjadi toghut dalam pranata sosial masyarakat Minang. Jadi, wajar2 saja kalau kantor2 pemerintah dan militer akhirnya bersimpuh merayap di bumi Minangkabau. Saya juga ingat pada awal 2007, Istana Basa Pagaruyung yang merupakan simbol pemersatu semangat Minangkabau terkena sabetan petir, yang merupakan simbol adat Minangkabau hangus dalam hitungan jam. Ini tak lama setelah simbol-simbol adat dan budaya Minangkabau yang adiluhung tersebut digunakan sebagai alat politik semata. Tapi..apakah Bapak dan Ibu2 kita yang terhormat menyadari hal ini, wallahualam. Jadi, jangan buru-buru lah menyalahkan anak2 gadih jo bujang memadu kasih di pantai Tiku atau di Pantai Padang. Wajar saja, karena Bapak dan Ibu2 mereka di pusat kekuasaan tidak membuatkan mereka wadah untuk energi muda dan ekspresi mereka. Mudah-mudahan kita semua dapat belajar dari teguran ini.
Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 --- On Thu, 12/10/09, Nofiardi <[email protected]> wrote: From: Nofiardi <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Gempa Sumbar Cetak Sejarah To: "RantauNet" <[email protected]> Date: Thursday, December 10, 2009, 1:38 AM Kamis, 10 December 2009 Gempa Sumbar Cetak Sejarah Padang, Singgalang Gempa yang menimpa Sumbar tanggal 30 September 2009 adalah gempa bersejarah. Sudah sering gempa terjadi di republik ini, tapi gempa di ranah Minang mengakibatkan banyaknya gedung pemerintah dan fasilitas umum yang rusak. Kerugian di sektor ini mencapai Rp6,6 triliun lebih. “Gempa Jokyakarta, ratusan ribu rumah penduduk yang rusak. Begitu juga gempa Aceh, rumah penduduk banyak roboh. Sedang gedung pemerintah tidak banyak,” terang Gubernur Sumbar diwakili Kadis Prasjal dan Tarkim Sumbar Ir. H. Dodi Ruswandi, MSCE, Rabu (9/12) dalam acara temu wicara teknologi forensik dan restorasi bangunan pascagempa. Beda dengan Sumbar. Sudahlah rumah penduduk ratusan ribu rusak, bangunan pemerintah banyak pula rusak. Kerugian total keseluruhan, baik rumah penduduk, gedung pemerintah, gedung swasta, pusat perekonomian dan lainnya, berdasarkan hitungan Pemprov, Bappenas dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai Rp20,7 triliun lebih. Peristiwa itu sekaligus memberikan pelajaran berarti bagi semua pihak di Sumbar, terutama terkait dengan dunia konstruksi. Orientasi pembangunan ke depan, harus lebih difokuskan kepada pendekatan keteknikan. Kini pun, Pemprov tengah merancang Ranperda tentang Bangunan Gedung agar tahan gempa atau setidak-tidaknya menimilisir kerugian akibat gempa. “Untuk pendalaman materi Ranperda itu, masukan berharga dari semua pihak sangat diharapkan. Temu wicara yang dilakoni Kadin Sumbar ini, diyakini memberikan advis berharga Ranperda yang tengah disusun itu. Tidak pula sebatas temu wicara ini saja, juga hal-hal lain ke depan yang dapat menambah bobot materi Ranperda,” kata dia. Begitu pula dalam masa rekonstruksi dan rehabilitasi selama dua tahun (2010 s/d 2011). Penanganannya harus luar biasa dengan menge depankan kebersamaan, karena kejadiannya memang luar biasa. Sedang dalam kondisi normatif saja, butuh juga penanganan luar biasa. Ketua Kadin Sumbar H. Asnawi Bahar, SE, M.Si, juga menyatakan demikian. Sumbar sudah ditakdirkan berada di daerah rawan gempa dan harus dihadapi berbagai kebijakan, terutama terhadap bangunan yang mesti dibangun memenuhi persyaratan. Dalam temu wicara yang menghadirkan Ir. Sjafei Amri Dipl. E. Eng (HAFRI), Ir. Firman Djalil (Dinas Prasjal dan Tarkim Sumbar) dan Ir. Taufik Gunawan Dipl. Seis (BMG) menyepakati, perlunya regulasi yang tegas dalam pendirian bangunan dan implementasi di lapangan, benar-benar mengacu kepada kajian teknis. IMB yang dikeluarkan, juga tak sebatas persyaratan administrasi saja, melainkan mengarah kepada teknis dan kelayakan. (101) http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=4046 The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
