http://www.republika.co.id/koran/28/95984/19_Desember_61_Tahun_yang_Lalu

Selasa, 15 Desember 2009 pukul 09:13:00
19 Desember, 61 Tahun yang Lalu

Oleh: Ahmad Syafii Maarif


Setelah PKI (Partai Komunis Indonesia) menikam dari belakang Republik
Indonesia yang masih sangat muda usia pada 18 September 1948, tiga
bulan kemudian pada 19 Desember pasukan kolonial Belanda menghujani
Ibu Kota Negara Yogyakarta dengan bom secara beruntun, dimulai dari
lapangan terbang Maguo (sekarang Adisutjipto). Suasana sangat kritikal
dan berbahaya, tetapi para pemimpin tidak panik.

Presiden Soekarno sekeluarga, beberapa menteri Kabinet Hatta, dan
Sutan Sjahrir kemudian terkepung di Istana Negara. Hatta sendiri
sebagai perdana menteri merangkap menteri pertahanan sedang
beristirahat di Kaliurang.

Tanpa Hatta, sidang kabinet untuk menentukan sikap menghadapi situasi
yang lagi gawat tidak bisa dilangsungkan. Bung Karno meminta agar
Hatta segera dijemput. Maka, dengan sigap Menteri Negara HB IX (Sri
Sultan Hamengkubuwono IX) disertai ajudan segera berangkat ke
Kaliurang menjemput Hatta, sekalipun hanya sampai di bagian utara Kota
Yogya (kini lokasi kampus UGM), sebab Hatta ternyata telah turun dari
kaki Gunung Merapi.

Kemudian, para pemimpin ini langsung ke Istana Negara, tidak jauh dari
Keraton Sultan. Sesampainya di istana, Hatta menulis surat kepada
Jawaharlal Nehru, sahabat lamanya sewaktu masih di Eropa. Surat ini
diantarkan oleh ajudan Arifin ke rumah Yunus, wakil India di Yogya.
Kepada Nehru, Hatta menceritakan bahwa Belanda sudah mulai clash
militer kedua. (Lih.  Mohammad Hatta, Memoir. Jakarta: Yayasan Hatta,
2002, Hlm 541).

Tentang betapa gawatnya situasi ketika itu, kesaksian Ali
Sastroamidjojo berikut ini perlu dicatat dan dikenang: 'Kami berkumpul
di kepresidenan menunggu dengan kecemasan di dalam hati, apalagi
ketika Sri Sultan belum saja kembali dengan Bung Hatta. Dalam pada
itu, pesawat-pesawat terbang Belanda sudah mulai beterbangan di
atasnya.

Akhirnya, Sri Sultan tiba kembali dengan Bung Hatta. Mereka
menerangkan agak terlambat datangnya karena mobil harus dijalankan
dengan hati-hati dan perlahan-lahan. Sebab, pesawat-pesawat terbang
Belanda sudah berkeliaran di atas jalan Kaliurang ke Yogya.' (Lih. Ali
Sastroamidjojo,  Tonggak-Tonggak di Perjalananku. Jakarta: PT Kinta,
1974, Hlm 241-242).

Nyawa para pemimpin kita saat itu seolah-olah sudah berada di ujung
tanduk dan nasib Indonesia merdeka sungguh dalam taruhan. Belanda yang
tidak rela melepaskan Indonesia telah dan akan menempuh berbagai cara
dan tipuan, untuk melumpuhkan Republik dalam usia yang baru setahun
jagung ini.

Di tengah-tengah kecemasan yang sangat menghimpit, Anda lihat para
pemimpin ketika itu sangat kompak. Presiden Soekarno tidak mau
mengambil alih posisi Perdana Menteri Hatta dalam keadaan darurat
sekalipun. Hatta harus dijemput untuk memimpin sidang kabinet. Dengan
nyali seorang pemimpin sejati plus keberanian yang luar biasa, HB IX
malah menawarkan diri untuk berjibaku ke Kaliurang dengan segala
risiko yang mungkin saja berlaku.

Raja Yogya ini tidak banyak berteori, tetapi memberi contoh dan
teladan melalui tindakan yang heroik. Amat disayangkan HB IX tidak
pernah diberi peluang untuk menjadi orang pertama di Indonesia,
sebagaimana juga Hatta tidak mendapatkan peluang serupa.

Sekiranya diberi kesempatan, siapa tahu Indonesia sekarang tidak lagi
dirudung malang ibarat kampung tak bertuan karena pernah dipimpin oleh
manusia berkarakter kuat, sigap ambil keputusan di saat-saat genting,
dan jujur. Menonton keadaan yang tidak menentu seperti sekarang ini,
tak usahlah anda menangis, karena jalan sejarah tidak pernah linear,
banyak kelokan, dan korban.

Soekarno, Hatta, HB IX, dan sederetan pemimpin puncak yang lain telah
berjuang keras untuk kemerdekaan Tanah Air yang kita warisi sampai
hari ini. Tetapi, roh mereka akan meratap dengan suara parau jika
warisan mereka berupa kemerdekaan bangsa kita sia-siakan, tidak dijaga
dengan baik, demi syahwat kekuasaan dan pragmatisme politik yang
tersesat jalan.

Kembali kepada drama 19 Desember 1948. Pagi itu di Istana Negara
diadakan Sidang Kabinet untuk membuat keputusan-keputusan penting
dalam suasana genting. Di antaranya, karena pasukan pengawal tidak
cukup tersedia, Presiden dan Wakil Presiden tetap tinggal dalam kota,
sementara Jenderal Sudirman dengan paru-paru satu memilih perang
gerilya.

Dan, kepada Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara yang sedang
berada di Bukittinggi, diperintahkan untuk membentuk Pemerintah
Darurat yang dikenal dengan PDRI (Pemerintah Darurat Republik
Indonesia) dengan mengambil alih pemerintah pusat, yang ternyata
berlangsung selama tujuh bulan berikutnya. Dan, pada hari itu juga
Yogya jatuh, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan beberapa
menteri menjadi tawanan Belanda untuk kemudian dibuang ke luar Jawa.
Baru awal Juli 1949, mereka kembali ke Yogya dan Sjafruddin
menyerahkan mandatnya kembali.
(-)

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke