Dunsanak di palanta nan ambo hormati.

Manambah judul postingan ambo sabalunnyo nan bajudul: Orang Minang berusaha
memahami budaya J, *Luhak ba pangulu, rantau ba rajo*, maka ambo kutipkan
ciek lai  berita koran ibukota tg. 19 Desember 2009.

Ruponyo sajak ketek pak wapres Budiono iko alah mengidolakan *karakter
Judistira nan penuh kebaikan dan kebenaran serta lemah lembut, berhati-hati
jika berbicara. Yudhistira tak pernah menginjak tanah, terkecuali berbohong.
*

Dalam postingan ambo sabalumnyo, alah ditulihkan pulo manyangkuik tokoh
lainnyo dari Blitar *(alm. Bung Karno) nan meikonkan tokoh wayang
Karnauntuak dirinyo. Karna nan konsekwen memerangi saudara-saudaranya,
walaupun
dia tahu bahwa dirinya berada di pihak nan salah*.

Jiko Wapres RI alah berhasil manjadikan tokoh-tokoh wayang sebagai ikon
untuk membentuk karakter bangsa Indonesia dengan menyelenggarakan
pertunjukan Dalang Bocah, laikah kan ado pulo urang awak/seniman nan ka
mangatangahkan patatah-patitihnyo atau carito-carito rakyat nan banyak
batebaran di setiap nagari untuak membentuk karakter bangsa.

*Boediono mengaku sejak kecil menggemari wayang kulit.

Ia terlihat tenang menyaksikan suguhan wayang kulit itu.
Ia juga sempat bercerita, sejak kecil di kota kelahirannya, Blitar, Jatim,
dia rajin menonton wayang.
Ketika itu tidak ada hiburan yang murah kecuali wayang kulit.
"Setiap pagi saya dibangunkan oleh ayah, sekitar pukul 02.00, untuk menonton
wayang. Ayah saya melarang apabila menonton wayang semalam suntuk Jadi, saya
menonton ketika hari mulai terang," katanya.

Lemah lembut
Menurut Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat Ekotjipto,
Boediono menjadikan Yudhistira (Puntadewa) sebagai ikon dalam kehidupan
sehari-harinya. Yudhistira adalah putra tertua Pandawa, ikon kebaikan dan
kebenaran yang lemah lembut, berhati-hati jika berbicara.

Yudhistira tak pernah menginjak tanah, terkecuali berbohong.

Humas Pepadi Pusat Bambang Asmoro menjelaskan, lakon Pembebasan Eka caKra
ini berkisah soal kejahatan dan angkara murka yang dikalahkan kebaikan budi.

Epos ini mengisahkan negeri yang dikuasai raksasa pemakan manusia, Prabu
Baka.

Setiap hari di negeri Eka Cakra, rakyat harus menyiapkan seorang manusia
sebagai santapan Prabu Baka.
Tiba giliran keluarga Demang Widrapa harus menyerahkan korban. Seluruh
anggota keluarga itu ingin berkorban sehingga mereka kesulitan untuk
menentukannya.
Di tengah kesulitan itu, Pandawa berkunjung dan bermalam di rumah Widrapa.

Masalah ini diketahui Pandawa. Dewi Kunti, ibu Pandawa, meminta Yudhistira
mengutus Bima (Bratasena) menjadi korban untuk menggantikan keluarga
Widrapa.
Bima yang memiliki senjata kuku Pancanaka justru bisa membunuh Prabu Baka.

"Cerita ini bermakna tolong-menolong dan balas budi.
Angkara murka bisa dikalahkan oleh kebenaran dan kebaikan," ujar Bambang.
"Prabu Baka adalah simbol keserakahan. Yudhistira yang mengutus Bratasena
adalah simbol kebaikan dan kebenaran," tuturnya.

Apakah kisah itu terkait kisah Boediono yang kini terbelit kasus Bank
Century?
"Wah, itu urusan politik Jangan dikaitkan dengan pewayangan," kata Bambang.*

Salam

Abraham Ilyas 64

webmaster/admin www.nagari.org

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke