Kompetensi Relijius Ada pertandingan Liga Seri A antara Inter Milan melawan Lazio di RCTI. Di saat yang sama TV One menayangkan Laliga berhadapan Deportivo versus Valencia.
Tapi perhatian Awang lebih tertuju pada acara agama Hindu yang ditayangkan oleh Indosiar. Dalam acara itu, pendeta Nyoman Widi menjadi narasumber utama. Bicaranya penuh semangat dan berapi-api. Kalau dilihat sepintas lalu, terkesan emosional. Padahal tidak. Ia adalah tipe yang toleran dan egaliter. Ketahuan setelah Awang menyimak sampai acara itu selesai. Menurut Nyoman, masyarakat sekarang sudah semakin banyak yang salah kaprah dalam beragama. Mereka sulit membedakan mana yang agama, budaya dan mana yang politik. Ia mencontohkan kebiasaan segelintir orang di Bali yang masih mempraktekkan tradisi ‘kawin dengan keris.’ Menurutnya, tradisi itu tidak benar dan harus dihapuskan karena merendahkan derajat manusia. Yang seperti ini jelas feodal, ada kepentingan. Dan setiap kepentingan adalah politik. Ritual-ritual feodalistik seperti itu sudah digagas untuk dihapuskan sejak 1950-an oleh kalangan agamawan Bali. Tapi tak urung, masih saja ada yang menjalankannya sehingga parisadha memandang perlu turun tangan untuk menjelaskan kepada umat Hindu. Nyoman juga menyinggung soal Catur Warna dan masalah kasta yang sering disalahartikan umat sebagai kompetensi agama. Padahal kasta lebih terkait soal garis keturunan saja. Seorang yang Brahmana tidak mesti memiliki anak menjadi seorang Brahman jika ternyata anak itu tidak sekompeten bapaknya. Begitu pula sebaliknya, seorang Syudra bisa diangkat sebagai Bupati (Ksatria) kalau ia memang dipandang pantas, cakap dan mampu untuk itu. “Cara menjawabnya sederhana saja. Kalau bapaknya presiden, anaknya tidak mesti menjadi seorang presiden toh?” kata Nyoman. Ia mengaku sudah membolak-balik kitab-kitab Hindu termasuk Weda dan tidak menemukan adanya perbedaan derajat manusia. Manusia diciptakan sama derajat di mata Tuhan. Hanya seberapa tinggi kualitas pengabdian mereka terhadap Syang Hyang Widi Wasa yang bisa membedakan tingkatan manusia. Awang mencoba mereka-reka. Kalau begitu, yang dimaksud Ksatria dalam Hindu mirip dengan Umaro dalam Islam. Dan Brahmana mirip dengan Ulama Tiba-tiba Awangpun tersentak. Tanpa disadari ternyata ia mulai memasuki ranah comparative religion yang semasa kuliah dulu pernah diminatinya. Soal kompetensi relijius terhitung krusial saat ini terutama di tengah maraknya gerakan-gerakan bercorak Islam di Tanah Air baik yang berprogram kemasyarakatan maupun yang bermotif politis. Kini banyak bermunculan ulama-ulama instan dari berbagai latar belakang dan usia, namun tak sedikit yang minim akan religious background serta kedalaman agama. Dalam realitas keseharian, mereka yang kurang kompeten itu sering menjadi contoh buruk umat Islam, apalagi ketika ia berbuat hal yang tidak pantas. Seperti tayangan di televisi, misalnya, ada guru agama yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Atau, seorang hajjah yang digerebek massa karena kepergok berbuat mesum. Rendahnya kompetensi relijius sering menimbulkan masalah dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia. Di sebuah kampung di pinggiran kota Jakarta, misalnya, menjelang waktu Subuh tiba, sering terdengar suara ‘jember’ dari mikrofon masjid. Pemuda yang membaca ayat-ayat suci tersebut rajin menggunakan pengeras suara dengan pola bacaan yang mencoba meniru gaya imam-imam di Makkah seperti yang sering ditayangkan TV saat Ramadhan. Jangankan oleh tetangga non-Muslim, Awang sendiripun sering merasa nggak enak hati mendengar pembacaan ayat-ayat suci Al Quran jika dikebut begitu. Bahkan, lebih cepat dari bacaan orang Arab sekalipun. Dan, tajwidnya juga ‘hancur.’ Bila orang Arab yang terbiasa berbahasa Arab karena memang bahasa sehari-harinya adalah Arab, oleh Tuhan masih disuruh membaca dengan tartil (pelan, penuh perasaan dan penghayatan), kok kita orang Indonesia justru lebih ngebut seperti dukun yang kerasukan saat membaca mantra? Belum lagi kebiasaan warga setempat yang sengaja menggunakan speaker berpengeras suara saat pengajian di waktu siang atau sore yang bisa didengar oleh warga se-RT, padahal hadirinnya adalah ibu-ibu yang berkumpul hanya dalam satu ruangan saja. Kalau toh harus pakai pengeras suara, kenapa tidak proporsional (menjangkau) untuk satu ruangan itu saja? Kenapa harus disetel sekeras-kerasnya sehingga bayi tetangga yang lagi nyenyak tidur jadi terbangun? Tetangga lain yang sedang terbaring sakit justru jadi makin stres? Lain hal kalau ceramahnya memang menarik, misalnya. Tapi jika yang memberi ceramah kurang berkompeten di bidangnya, yang mendengar juga jadi malas. Apakah betul syiar Islam itu identik dengan pamer-pamer suara kencang dan keras-keras? Awang jadi ingat dengan guru ngajinya waktu di TPA/TPSA di kampung Lolong dulu, Pak Jalil namanya. Jika Anda ke Padang, sangat mudah menemukan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Negara di Kampung Lolong. Di samping komplek TMP itu ada sebuah masjid. Di situlah TPA/TPSA tersebut diadakan. Pak Jalil adalah pengurus masjid (Gharin), Imam shalat, sekaligus guru mengaji (Ustadz) di TPA/TPSA tersebut. Mata pencarian utama beliau waktu itu adalah berjualan ikan keliling kampung. Seberapa gigihpun Awang berusaha membaguskan suara azannya agar terpilih sebagai muazin, tetap tidak diijinkan maju ke mimbar corong oleh Pak Jalil. Bahkan pernah, ketika tes azan pertama, Awang ditertawakan seisi kelas karena semangat muazin yang ditonjolkan Awang membuat penampilannya menjadi lucu di mata teman-teman. Sampai tamat mengaji di tempat itu, Awang tidak pernah bisa menyaingi lantunan suara Iyen, temannya yang biasa ditunjuk jadi muazin di masjid TPA/TPSA tersebut. Awangpun tak pernah berhasil menjadi muazin. Ikut lomba MTQ tingkat kecamatanpun Awang nggak lolos seleksi dari TPA/ TPSA (Taman Pembacaan Seni Al Quran) seperti temannya yang lain, Wiwit. Di masa itu, di kampung halaman Awang, peran dan posisi seseorang masih lebih didasarkan pada kompetensi. Bahasa awamnya yang lebih tepat barangkali adalah, “Becus atau tidak.” Di kampungnya, tak semua orang boleh sembarang dipanggil Angku, Labay, Buya , Urang Siak, Ustadz atau Gharin. Semua punya kompetensi masing- masing. Bahkan Sidi, seperti di Pariaman, yang diyakini sebagai penyambung garis keturunan Rasulullah di Sumatera Barat, belum tentu bisa mencapai level Buya jika kedalaman ilmunya memang baru setingkat ustadz biasa, atau bahkan lebih rendah dari itu. Kini, zaman telah berobah. Jika Anda bersorban, berpakaian gamis dan duduk di hadapan selingkaran orang sembari memberi ceramah, topik tentang agama atau sekadar membacakan doa, maka orang akan menyapa Anda, “Pak Ustadz” walaupun waktu SD Anda tidak belajar iqro. Ketertarikan seseorang pada Islam, atau presenter yang ditunjuk untuk membawakan acara-acaran islami di TV, atau pelawak yang wajahnya mirip dengan dai kondang, tidak serta merta menjadikan ia layak dijuluki Ustadz. Karena itu, ketika seorang teman di Facebook memanggil Awang dengan sebutan Ustadz, ia langsung memberikan koreksi. “Jangan panggil saya Ustadz, karena saya bukan ustadz, dan belum pantas untuk itu. Panggil saja saya Gharin (pengelola) SurauNet.” Awang tak ingin muluk-muluk. Yang penting ketika jadi imam shalat di rumah, istri dan anak-anaknya tidak memprotes bacaan Si Papa. Karena, mereka telah belajar tajwid dari guru yang kompeten, baik secara privat maupun dari sekolah agama. Namun tak urung, anak-anak kabur usai salam karena nggak tahan mengikuti bacaan doa dan wirid Awang yang lama dan panjang seperti yang dipraktekkan kiyai-kiyai Nahdlatul Ulama (NU) pada umumnya. Karena itu, Awang oleh mereka lebih sering disebut, “Lebih NU ketimbang Muhammadiyah.” Etnis Minangkabau di Sumatera Barat sejak masa Orba condong mengidentikkan diri dengan Muhammadiyah meskipun pada 1955 banyak dari mereka yang Masyumi maupun Persis. Padahal tidak mesti begitu. “Ini bukanlah perkara NU, Persis atau Muhammadiyah. Ilmu itu bisa didapat kapan dan di mana saja dari segala sumber. Kalau memang itu baik dan bermanfaat, kenapa tidak? Yang penting diamalkan, karena hisab ilmu ada pada amalannya.” Akhirnya merekapun bisa mengerti juga. Di kampung istrinya, anak-anak tumbuh dan besar dalam suasana agamis di bawah Persis (Persatuan Islam) karena kedua mertua Awang adalah pengurus lokal di organisasi tersebut. Karena Muhammadiyah dan Persis tidak membiasakan mengikuti imam membaca doa usai sholat, anak-anakpun berperilaku serupa. Sampai Awang merasa harus menjelaskan segala sesuatunya kepada mereka, terutama istrinya yang paling berpengaruh dalam mendidik anak-anak dalam urusan disiplin ibadah. Umat semakin sulit membedakan mana produk agama dan mana produk budaya. Kondisi itu diperburuk lagi oleh faktor-faktor kepentingan bernama politik. Sehingga wajarlah jika politisasi agama jadi marak di mana-mana. Anda tidak paham Nahwu dan Sharof, tak begitu penting. Tahu Hadits dan ayat Quran masih serba sedikit, no problem. Abad ini siapa saja seakan bisa menjadi ustadz tanpa alang rintang yang berarti. Seperti sebuah kejadian menggelikan di kampung istri Awang, saat seorang pengurus masjid dari kampung sebelah terlibat dalam satu diskusi serius dengan mertua Awang. Dari diskusi itu ketahuan kalau dia ternyata tidak bisa membedakan kutipan mana yang berasal dari Al Quran dan mana yang Hadits. “Apakah ini yang sering disebut-sebut oleh analis Barat sebagai Islam kultural?” Awang membatin. Apalagi, barusan pendeta Nyoman Widi ngomong, “Kita harus bisa membedakan mana yang agama, mana budaya dan mana yang politik.” “Agama itu hubungan kita dengan Tuhan yang Maha Esa dan cinta kasih sesama makhluk-Nya sementara upacara dan ritual itu adalah kebudayaan atau peradaban, sementara segala yang kepentingan itu adalah politik.” Masuk akal, pikir Awang. Masalah umat Islam saat ini juga mirip. Umat lebih banyak memandang pada penampilan di permukaan daripada amalan dari ajaran agama itu sendiri. Artinya, umat lebih banyak menyibukkan diri dengan soal-soal peradaban duniawi ketimbang semangat spiritualitas dalam agama itu sendiri. Menyimak tayangan televisi tentang ritual-ritual umat ketika menyambut Tahun Baru 1 Muharam (Syuro) 1431 Hijriah kemarin, beragam hal dipraktekan, mulai dari berendam setengah bugil di sungai sampai menyetor sesajian ke laut bahkan meminum air bekas pencucian keris keramat. Percaya atau tidak, kalau bukan karena liputan TV, Awang mungkin tak akan pernah tahu kalau semua hal tersebut ternyata benar ada dan dilakukan oleh sekalangan umat Islam. Soal fanatik atau abangan, itu masalah lain. Menurut data SDM di kantornya dulu, Awang termasuk karyawan dengan kemampuan di atas rata-rata. Meskipun begitu, ia pernah mencoba mendalami ilmu hadits, dan ternyata ruwetnya setengah mati. Dan iapun akhirnya menyerah. Awang pernah dilabeli sebagai ingkar sunnah oleh beberapa forum diskusi keislaman. Mertuanya juga beranggapan serupa. Karena, tabiat Awang yang kerap mengkritisi hadits. Demi menghormati mertua, akhirnya Awang mencoba mendalami Ilmu Hadits. Tapi, hanya selang tiga bulan, buku Hadits yang hampir setebal Al Quran itupun ia pulangkan ke mertua melalui istrinya dengan catatan, “Sori Mom, aku lebih memilih sebagai orang awam saja.” Maklum, koleksi literatur keislaman milik Sang Mertua memang terbilang super lengkap karena sejak muda selalu rajin menyisihkan gajinya untuk membeli buku-buku agama. Kalau mau lebih kompeten, seorang imam sewajarnya punya intelijensi (kemampuan menyerap ilmu pengetahuan) yang jauh di atas rata-rata awam. Kalaupun tidak di atas rata-rata, minimal ada tolok ukur yang pantas seperti faktor wawasan atau kesesepuhan di samping akhlak dan ilmu ibadah, tentunya. Dan Awangpun jadi teringat isu yang sedang menghangat di Swiss belakangan ini tentang larangan pendirian minaret (menara azan) yang diloloskan lewat referendum oleh warga di negara yang jumlah Muslimnya masih sangat segelintir. Konflik peradaban Islam di Eropa khususnya soal minaret adalah bukti bahwa kita memang lebih banyak menyibukkan agenda dakwah Islamiyah dengan symbol-simbol peradaban ketimbang esensi ajaran Islam itu sendiri, spiritualitas. Bisa mendirikan masjid di sebuah negara sekuler berpenduduk mayoritas non-Muslim selayaknya patut disyukuri tanpa perlu dijadikan sumber konflik antaragama. Apalagi mengingat Islam sejatinya adalah agama yang toleran. Apakah Islam tidak bisa jalan dan berkembang tanpa menara azan? Apakah Rasulullah pernah membangun menara azan atau menjadikannya syarat mutlak sebuah masjid? Awang jadi geli sendiri teringat sebuah artikel di satu majalah beberapa tahun silam yang berisi liputan tentang suasana Ramadhan di Turki. Si Penulis membandingkan suasana sahur di negara itu jauh berbeda dari Indonesia. Di Turki menjelang sahur tidak ada kegiatan hiruk pikuk membangunkan orang. Bahkan lampu-lampu kamar apartemen masih tetap padam pertanda penghuninya belum bangun. Bagaimana mengukur waktu sahur seseorang? Apakah ia mempercepat waktu sahurnya sehabis shalat Isya atau memperlambatnya menjelang shalat Subuh? Ketika Anda membunyikan kentongan dan alat hiruk pikuk lain pada pukul 02.30 WIB, misalnya, adakah orang yang paling diuntungkan atau dirugikan? Mereka yang sahurnya dipercepat merasa terganggu karena harus terbangun oleh suara ribut padahal waktu subuh masih lama. Mereka yang sahurnya diperlambat, juga kesal karena tidurnya masih kurang sementara waktu subuh masih beberapa jam ke depan. Apalagi mereka yang tahajjud dan qiyamul lail pada jam-jam tersebut, menjadi terganggu dan tidak khusyuk. Agaknya MUI perlu mengeluarkan fatwa yang mengharamkan orang bikin hiruk pikuk memukul kentongan membangunkan orang sahur antara pukul 00.00 hingga pukul 03.00. Di atas jam itu, monggo saja. Percaya atau tidak, di kalangan ahli tasawuf ada keyakinan bahwa Tuhan ngantor pada jam-jam tersebut. The Big Boss of the Universe siap membuka pintu dialog dengan hamba-hambaNya. Anda bayangkan saja kalau seorang petinggi negara sedang open house di Istana Negara, ada sekelompok berandalan bikin ribut di luar. “Nggak digebukin aparat saja, udah syukur.” Dan, kalau ibu-ibu takut masaknya telat, mbok ya disiapin setelah tarawih sebelum beranjak tidur. Tanpa benang merah yang jelas antara ritual agamis dengan ritual kebudayaan, generasi berikutnya boleh jadi akan condong beranggapan bahwa kebudayaan dan peradaban berada pada level yang sejajar dengan spiritualitas agama. Dan Islam boleh jadi muncul dengan wajah yang semakin beringas dan semena-mena. Anarkisme berkedok Islam bakal menjalar sampai ke kampung- kampung. Sebetulnya, Rasulullah pernah memberikan panduan atau tolok ukur yang jelas soal kompetensi relijius ini. Yakni, menunjuk Abu Bakar sebagai pengganti imam shalat berjemaah ketika beliau berhalangan atau tidak enak badan. Itu terus berlangsung sampai beliau wafat, meskipun banyak kalangan sahabat yang protes karena Abu Bakar memiliki suara yang lembut dan pelan, kurang lantang dan nyaring seperti yang mereka maui. Mungkin karena waktu itu belum ada mikrofon. Begitu juga menjelang beliau wafat, Abu Bakar ditunjuk sebagai penerus tongkat estafet kekhalifahan meskipun pengikut Ali banyak yang protes di kemudian hari. Sekarang ada sekelompok Muslim di berbagai negara berupaya mendirikan kembali system kekhalifahan, tapi siapa tokohnya tidak jelas. Umat tidak tahu, apakah yang bersangkutan kompeten atau tidak. Kalau mau jujur, kalaulah Presiden AS Barack Obama itu menjalankan shalat dan istrinya berjilbab, mungkin akan lebih pas dan kompeten sebagai figur khalifah. Karena, latar belakang, pengalaman dan sifat- sifatnya cukup mendukung ke arah itu. Tapi kalau tokoh-tokoh yang diusung untuk dicalonkan sebagai khalifah itu saban hari kerjaannya hanya menghasut umat untuk terus memusuhi pihak lain, mau jadi khalifah apanya? Orang muda yang berpengetahuan itu pastilah bagus, seperti komentar Rasulullah menyangkut sayidina Ali bin Abu Thalib, “Ana madiina, Ali’l baab.” Yang artinya, jika aku ini kota ilmu, maka Ali itu gerbangnya.. Tapi orang tua yang berpengalaman dan berwawasan luas, adalah lebih utama. Keluhuran akhlak, budi pekerti, ilmu ibadah, spiritualitas dan sopan santun adalah segalanya dalam ajaran Islam. Wajar, kalau Rasulullah menunjuk Abu Bakar sebagai pengganti beliau jadi imam. Ali boleh jadi mewarisi hampir semua ilmu pengetahuan dari Rasulullah, tapi Abu Bakar memiliki segudang pengalaman ketika berjuang bersama beliau sejak awal-awal penegakan Islam di jazirah. Mungkin, hanya secuil urusan pribadi Muhammad SAW yang Abu Bakar tidak tahu. Karena, bagaimanapun ilmu dan sifat adalah dua hal yang berbeda. Kita belum bicara tentang ‘wisdom,’ kombinasi antara pengetahuan (skilled), pengalaman (experienced) dan sifat-sifat (integrity & decision making) yang harus dimiliki seorang pemimpin, baik dari kalangan Ulama maupun Umaro. Jika Syiah tidak membedakan imam untuk segala urusan, Sunni membagi imam dalam berbagai kompetensi. Ada imam masjid atau Ulama yang mengurusi agama dan ada imam pemerintahan atau Umaro yang mengurusi politik. sosbud dan ekonomi, dengan harapan bisa menjadi suri teladan di bidangnya masing-masing.. Meski semua digelari Syeikh dan sama-sama tahu agama, tapi hanya imam masjid yang pantas disebut Ulama. Sebab, kalau sekadar tahu iqro dan bisa melantunkan azan doang, seseorang belum tentu layak menyandang gelar Ustadz. Pada diri seorang Ulama terpaut bermacam sifat-sifat pakem tentang urusan ukhrowi yang tidak dimiliki oleh Umaro yang condong berkonsentrasi untuk urusan duniawi. Seorang Ulama yang berorientasi pada akhirat idealnya bebas dari motif- motif yang korup. Ia hanya silau dengan kebenaran. “Knowledge always seeks truth.” Sementara Umaro karena terlalu asyik dengan permainan kekuasaan dan kemakmuran yang berorientasi pada dunia, selalu punya kecenderungan untuk korupsi. “Power tends to corrupt.” Tanpa kewenangan, korupsi tak akan bisa jalan. Karena itu, Awang tidak bermimpi hendak menjadi Ulama maupun Umaro. Jadi pengurus surau walaupun hanya di dunia maya seperti SurauNet, syukur alhamdulillah. Tapi apakah semua orang bisa mengukur dirinya?. Banyak yang menakar lebih, tapi jarang yang mau menakar kurang. Seperti kata pendeta Nyoman Widi, umat kadang sulit membedakan mana yang agama, mana budaya dan mana politik. Kp Tipar, Depok 21 Desember 2009 4 Muharam 1431 Hijriah Awang Juned Ayub -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
