Husniar, Bidan Srikandi dari Siguntur

Kamis, 24 Desember 2009 | 02.59 WIB


KOMPAS/AMIR SODIKIN⁠ 


Amir Sodikin

Jangan pernah meremehkan pos pelayanan terpadu. Dari posyandu inilah 
ketangguhan bangsa ke depan ditentukan. Husniar, bidan Puskesmas Gunung Medan, 
Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, memberi bukti nyata 
bahwa dari posyandu watak bangsa bisa dipupuk, didiagnosis, dipantau 
kesehatannya, dan diobati jika sakit. Ia tak hanya mengampanyekan pentingnya 
kesehatan, tetapi bersama-sama rekan seprofesi dan warga menyiapkan sistem yang 
berkelanjutan. Programnya melawan hambatan kultural berupa hidupnya mitos-mitos 
yang negatif di masyarakat.

”Banyak mitos di masyarakat menghambat tercapainya kesehatan masyarakat yang 
baik. Misalnya, enggak boleh makan ikan, padahal mereka hidup di tepi Sungai 
Batanghari,” katanya.

Ibu-ibu yang baru melahirkan juga dilarang membawa anaknya keluar rumah sebelum 
anaknya berusia tiga bulan. ”Akhirnya, imunisasi dasar untuk bayi jadi susah,” 
ujarnya.

Selain itu, ibu hamil dilarang keluar rumah, anak-anak juga tidak boleh main 
pada siang hari. ”Mitos-mitos ini membuat kunjungan ibu hamil dan balita ke 
posyandu menjadi rendah,” jelas Husniar.

Merangkak dari bawah sebagai pembantu bidan, Husniar sejak 1979 sudah mengenal 
betul problematik kesehatan ibu dan anak di daerahnya. Ia sadar akan perannya 
”Di daerah yang terpencil bidan, selain sebagai penyuluh, jadi panutan.”

Bhakti Bidan

Di tengah masyarakat yang pendidikannya rendah, pengetahuan masyarakat soal 
kesehatan juga lemah. ”Kita bertugas mendampingi daerah binaan atau wilayah 
kerja,” katanya.

”Saya terlibat dalam program Bhakti Bidan untuk mencapai tujuan pendampingan 
itu,” kata Husniar. Bhakti Bidan adalah program kerja sama PT Sari Husada 
dengan Ikatan Bidan Indonesia. Program ini memberikan dana untuk proposal 
terpilih.

Target utama Husniar meningkatkan kesehatan ibu dan anak yang sekaligus menekan 
angka kematian ibu dan anak. Programnya tidak muluk-muluk. ”Kami memberi 
pendampingan dengan langsung berkunjung ke rumah-rumah,” tutur Husniar.

Jadi pendekatan terhadap tokoh masyarakat, tokoh agama, kader desa, kader 
posyandu, dan kelompok dasawisma pun dilakukan untuk mengikis mitos sedikit 
demi sedikit. Lewat program puskesmas, kader-kader desa juga dibina.

”Kami juga aktif minta informasi kepada para tokoh dan kader, misalnya kalau 
ada ibu hamil, ibu melahirkan, dan balita yang perlu perhatian lebih,” katanya. 
Dengan cara itu, ibu hamil risiko tinggi, anak kurang gizi, dan keluarga tak 
mampu akan terdeteksi lebih awal.

Program yang selaras dengan Jorong Siaga itu juga menyosialisasikan kartu 
jaminan kesehatan, baik dari pemerintah pusat maupun daerah, dan juga kartu 
asuransi kesehatan keluarga miskin.

Jorong Siaga

Husniar menjadi bidan pembina lapangan di Jorong Siguntur, Kecamatan Sitiung, 
yang memiliki 400 keluarga, sejak 2006. Jorong ini setingkat desa jika di Jawa. 
”Pertama kali ke sana saya melihat posyandunya sepi,” katanya.

”Kami harus buka pintu sendiri, membersihkan posyandu sendiri, seolah-olah 
posyandu punya kami saja,” katanya. Segala upaya dilakukan untuk sosialisasi 
pentingnya posyandu.

”Sekarang kalau saya pergi ke Posyandu Jorong Siguntur, 100 persen masyarakat 
sudah mau datang,” katanya.

Husniar juga membantu program bidan desa di sana. Selain punya satu bidan desa, 
Jorong Siguntur juga punya pusat kesehatan nagari. Tak hanya itu, Jorong 
Siguntur juga punya empat ambulans desa yang siaga.

Ambulans desa ini bukan seperti ambulans umumnya. ”Ini mobil milik warga yang 
ditunjuk dan pemiliknya setuju menjadikan mobilnya siap siaga untuk fungsi 
ambulans,” paparnya.

Tak hanya ambulans, di desa itu juga diperkenalkan tabulin atau tabungan ibu 
bersalin. Filosofinya sederhana, menyiapkan ibu hamil secara mental dan 
material agar siap segalanya jika tiba waktunya melahirkan.

”Kalau ada ibu hamil memeriksakan diri, kami minta mulai menabung di kader desa 
yang ditunjuk. Jadi ketika melahirkan, sudah terkumpul tabungan yang cukup,” 
kata Husniar.

Jorong Siaga juga mendata calon pendonor darah. ”Jika dibutuhkan, tinggal 
dijemput,” katanya.

Tiap rumah yang ada ibu hamilnya juga diberi stiker berisi informasi penting. 
Informasi itu meliputi dengan bidan siapa ibu hamil itu akan melahirkan, siapa 
yang akan mendampingi nantinya, menggunakan mobil ambulans siapa, siapa yang 
menanggung dananya, dan siapa donornya jika dibutuhkan.

Dengan pendampingan dari rumah ke rumah, kader-kader desa, mobil ambulans, 
tabulin, dan donor siaga, praktis segala kemungkinan yang terjadi bisa 
diantisipasi. Sistem itu terbukti ampuh meningkatkan mutu kesehatan ibu dan 
anak, sekaligus menekan angka kematian ibu dan anak.

Angka kematian ibu tahun 2007 mencapai 8 orang, tahun 2008 ada 2 orang, dan 
tahun 2009 nihil. Angka kematian bayi tahun 2007 mencapai 5 bayi, tahun 2008 
ada 6 bayi, dan 2009 nihil. Ibu hamil kurang gizi mencapai 5 orang tahun 2007, 
2008 sebanyak 6 orang, dan 2009 nihil.

Ibu hamil risiko tinggi tahun 2007 ada 12 orang, tahun 2008 10 orang, dan 2009 
turun jadi 2 orang. ”Kunjungan balita ke posyandu meningkat drastis dari 40 
persen pada 2007 menjadi 100 persen tahun 2009.”

”Angkanya jadi 100 persen tahun ini karena kalau tak datang ke posyandu, mereka 
akan kami jemput,” lanjut Husniar, yang masih kuliah di D-4 kebidanan ini.

Jika mendapat kepercayaan, dan modal, ternyata masyarakat madani kita bisa 
mengonsolidasikan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dari program Bhakti 
Desa ini, Husniar mendapat penghargaan Terbaik I Srikandi Award 2009 Kategori 
”MDGs 5” untuk meningkatkan kesehatan ibu, menyisihkan sekitar 500 proposal 
dari bidan seluruh Indonesia.


HUSNIAR

• Lahir: Bukittinggi, 26 Juli 1958 

• Suami: Zulfikar 

• Anak: Rika Zulfiani, ST (25), Wiwi Zulianti, SE (23), Ririn Rahmi Oktari 
(18), dan Fauzan (5) 

• Pendidikan: 
- 1979 lulus Sekolah Penjenang Kesehatan (setingkat SMP) 
- 1989 lulus Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) 
- 1990 lulus D-1 kebidanan 
- 2006 lulus D-3 kebidanan 
- 2008-sekarang kuliah D-4 Kebidanan

• Pekerjaan: 
- 1979-1986 di RS Yarsi Ibnu Sina Bukittinggi 
- 1986-sekarang pegawai negeri sipil, pernah bertugas di RSUD Sungai Dareh, 
Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, dan terakhir di Puskesmas 
Gunung Medan, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumbar 

• Penghargaan: 
- Terbaik I Srikandi Award 2009 Kategori ”MDGs 5” untuk meningkatkan kesehatan 
ibu

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke