Dunsanak Sadonyo.

 

Kita sering mengasosiasikan Bahasa Arab dengan Islam dan sebaliknya. Padahal
itu belum tentu

 

Kalau itu di "level perseorangan" mungkin ngak ba a bana do. Contohnyo, ambo
penggemar berat Elissa, penyanyi Lebanon.  Kebetulan ado kawan ambo
penggemar berat lagu2 Qasidah, mandanga ambo manyetel lagu tu, baliau pengen
tau. Ambo agiah bana video2 Elissa, eh "mambirutok dan bacaruik2" kawan tu.
Lho, ambo kecek an, ini lagu berbahasa Arab kan tidak otomatis lagu Islam .
(Jepe tuh nan tau bana ba'a gaya Elissa kalau manyanyi .).

 

Tapi kalau salah pengertian itu diperkirakan akan berdampak luas, seharusnya
"para ahli" bereaksi secara kongkrit, jangan ngambang. Misalnya dengan
penayangan lagu Natal berbahasa Arab. Di satu sis, Ketua MUI Amdhan
mengatakan "Kalau di Indonesia ada kidung berbahasa Arab, nanti disangka
qasidah oleh masyarakat Islam. Apalagi di pedesaan. Sepertinya beliau
menganggap ini merupakan masalah serius, tapi sayangnya, reaksi beliau
(apalagi MUI sebagai institusi) menurut saya aneh, justru "melempar" masalah
ini ke penyelenggara: "Jadi yang mendesain acara harus hati-hati. Walaupun
cuma lagu, itu bisa memancing"

 

Eniwei, bukan berarti apa yang di orang lain bagus harus kita ikuti. Tapi
saya teringat sekitar tahun 2005, waktu itu seorang teman yang beragama lain
melihat saya membawa buku "Da Vinci Code". Kawan itu bilang: "Saya ga baca
buku itu, Pak, karena ada larangan dari tempat saya membaca buku itu .".
Saya salut, rupanya "orang2 sana" itu responsive terhadap apa yang beredar
di masyarakat, apalagi karya seni yang bisa mengganggu keyakinan umatnya.
Dan mereka mengeluarkan statement yang jelas: "tidak boleh membacanya"

 

Tapi itu kan nan di urang. Kalau nan diawak yo . baitu lah . (Riri, bekasi,
l, 47)

 

http://www.detiknews.com/read/2009/12/24/190951/1265807/10/mui-nanti-disangk
a-qasidah

 

 

 

 

Kamis, 24/12/2009 19:09 WIB
Lagu Natal Bahasa Arab
MUI: Nanti Disangka Qasidah
Fitraya Ramadhanny - detikNews

 

Jakarta - Metro TV akan menayangkan perayaan Natal yang salah satu lagunya
berbahasa Arab. Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta panitia lebih
berhati-hati. Lagu Natal berbahasa Arab bisa disalahpahami.

"Kalau di Indonesia ada kidung berbahasa Arab, nanti disangka qasidah oleh
masyarakat Islam. Apalagi di pedesaan," kata Ketua MUI Amidhan melalui
telepon, Kamis (24/12/2009).

Menurut Amidhan, umat Nasrani di Timur Tengah tentu saja berbahasa Arab saat
misa di gereja. Mereka yang tidak memahami bahasa Arab tidak bisa
membedakannya dengan khutbah di masjid.

"Nah, kalau memang ingin membumikan bahasanya, kenapa tidak memakai bahasa
yang ada di Indonesia. Misalnya bahasa Madura, Jawa atau Sunda," papar
Amidhan.

Amidhan menjelaskan bahasa Arab bukan monopoli umat Islam. Namun di
Indonesia bahasa Arab banyak digunakan dalam istilah-istilah yang
diasosiasikan dengan Islam.

Dia menjelaskan pernah ada protes masyarakat soal Madrasah Al Kitab, tapi
maksudnya Al Kitab itu Injil. Padahal madrasah itu identik dengan sekolah
Islam.

"Jadi yang mendesain acara harus hati-hati. Walaupun cuma lagu, itu bisa
memancing. Panitia harus menjelaskan alasan mereka menampilkan lagu
berbahasa Arab dalam acara itu," pungkas Amidhan.

Rencananya, Metro TV akan merelay acara perayaan Natal yang sudah digelar di
Istora Senayan. Penayangan ini rencananya pada Jumat, 25 Desember 2009 pukul
15.05 WIB. Akan ada satu lagu dari trio penyanyi Palestina yaitu Jingle
Bells berbahasa Arab.

(fay/ndr) 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke