Apakah Gus Dur akan dimakamkan
dengan peti mati?

Salam,
ZulTan,
L, 49+, Bogor


Pada Kam, 31 Des 2009 00:30 EST Indra Jaya Piliang menulis:

>Gus Dur, Sang Nomor Satu
>Oleh
>Indra J. Piliang
>The Indonesian Institute
>
>Gus Dur telah tiada. Ketika hendak menjalani operasi gigi, keadaannya 
>memburuk. Keterangan dokter kepresidenan menyebut Gus Dur mengalami 
>komplikasi. Komplikasi yang memang menjadi bagian dalam hidupnya. Sakit gigi 
>yang sulit disembuhkan di usianya yang sepuh. Gus Dur, dunia menyambut 
>kepergiannya dengan banyak diskusi dan testimoni. Serta tentu tahlilan di 
>kalangan ummat Nahdliyin dan upacara keagamaan lain. 
>
>Apa yang bisa dipersembahkan untuknya selain catatan? Tahun ini, bangsa 
>Indonesia kehilangan sosok-sosok raksasa di dunianya. Tiga yang memiliki 
>karakter tak biasa adalah WS Rendra, Mbah Surip dan Gus Dur. Dari ketiga sosok 
>itu, Gus Dur yang nomor satu di berbagai bidang: politik, pemerintahan, opini, 
>buku, seni, budaya dan bahkan sepakbola. WS Rendra juga nomor satu di dunia 
>puisi. Mbah Surip menjadi sosok yang juga nomor satu di bidang tarik suara 
>dengan nuansa seni yang kental dengan ketidakbiasaan. 
>
>Saya tidak mengenal Gus Dur secara pribadi. Hanya termasuk dalam kerumunan 
>orang yang pernah menjumpainya, baik secara sengaja, maupun tidak sengaja. 
>Pertama kali saya bertemu muka adalah sekitar tahun 1994. Waktu itu, Fahri 
>Hamzah – kini politisi PKS di DPR RI – mengajak saya ke rumah Gus Dur. Kami 
>naik bis kota ke sana dari kostan di Jalan Margonda Raya, Depok. Fahri 
>bertubuh kurus dan kusam, sebagaimana saya. Di Ciganjur itu, kami melihat Gus 
>Dur dan kolega dekatnya bersendagurau, antara lain Mohammad Sobary. Sepulang 
>dari sana, saya tidur di kost-an Fahri. Saya di kasur, Fahri di tikar. 
>
>Ketertarikan itulah yang membuat saya mencari buku-buku Gus Dur. Yang paling 
>saya ingat adalah pembelaannya tentang kultur demokrasi di tingkat lokal. 
>Terus terang, saya tidak tertarik kepada pandangan-pandangan keagamaannya. 
>Yang justru memunculkan ketertarikan itu adalah pandangannya atas tribalisme 
>di Indonesia, sesuatu yang kemudian juga menjadi ketertarikan saya ketika 
>bekerja di CSIS. Pengetahuannya yang luas tentang Aceh, Papua, Bali dan 
>lain-lainnya, barangkali turut masuk ke dalam sel-sel pikiran saya untuk juga 
>menjadi terpengaruh. 
>
>Untuk hal-hal yang berkaitan dengan humanisme, Gus Dur jagonya. Ia adalah 
>seorang penabrak pakem apapun di dunia politik. Jelang pemilu 1997, Gus Dur 
>ikut menjadi “juru bicara” kehadiran Siti Hardiyanti Indra Rukmana di panggung 
>politik. Tetapi dengan kemampuan untuk bisa diterima semua orang, Gus Dur juga 
>menjadi sosok yang memberikan semangat kepada kehadiran Megawati 
>Soekarnoputri, sekalipun banyak dengan sentilan-sentilan. 
>
>*** 
>
>Semua orang bisa dengan mudah menelusuri jejak-jejaknya yang begitu kuat. Ia 
>mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua. Ketika saya datang dalam Sidang Dewan 
>Adat Papua Pertama di Sentani, Jayapura, pada 2002, Gus Dur begitu banyak 
>disebut. Theys Hiyo Eluay waktu itu baru saja terbunuh dan saya menapaktilasi 
>dari tempat Theys diculik, sampai tempat Theys ditemukan tewas. Saya 
>berkenalan dengan Victor Kaisiepo, Thom Beanal, Thaha Al Hamid dan pimpinan 
>PDP lainnya dalam acara yang bergemuruh itu. Suku-suku dari pegunungan turun 
>di tengah penjagaan aparat keamanan yang super-ketat. Gus Dur dielu-elukan 
>dalam kesempatan itu, sekalipun sudah disingkirkan dari panggung politik. 
>
>Ketika menjadi Presiden RI dalam fase singkat, 1999-2001, Gus Dur melakukan 
>tindakan-tindakan fenomenal. Status Daerah Operasi Militer di Aceh dicabut. 
>Sekalipun begitu, di masa Gus Dur juga muncul konflik berdarah di Sambas, Poso 
>dan Ambon. Pikiran kalangan masyarakat sipil waktu itu adalah konflik itu 
>muncul dari pergerakan kepentingan di kalangan militer. Beragam spekulasi 
>muncul, seiring dengan pernyataan-pernyataan kontraversial Gus Dur yang 
>diucapkan setiap hari Jumat atau setiap pergi ke luar negeri. 
>
>Demonstrasi oleh kalangan Islam begitu sering ketika Gus Dur menjadi presiden, 
>bahkan sampai di Istana Negara. Istana memang berubah menjadi pesantren tidak 
>resmi, yakni dengan banyaknya kalangan yang menggunakan kain sarung di 
>dalamnya. Gus Dur memang dikelilingi oleh kawan-kawan dekatnya yang membentuk 
>Forum Demokrasi pada waktu Orde Baru. Mereka antara lain Marsilam Simanjuntak, 
>Bondan Gunawan, Djohan Effendi dan Mohammad Sobari. Tentu Gus Dur juga 
>dikelilingi oleh kelompok NU yang paling berpendidikan: Mohammad Mahfud MD, 
>Khofifah Indar Parawansa, Muhammad Fadjroel Falaakh dan Muhammad AS Hikam. 
>
>Saya sempat ikut berkantor di Istana, ketika menjadi semacam Tim Asistensi 
>dalam bidang ekonomi. Hanya tiga bulan. Yang menarik, selama bekerja di sana, 
>uang honor kami disebut sudah diambil oleh seseorang yang entah siapa. Jadi, 
>barangkali Tim Asistensi Gus Dur inilah yang menjadi pihak tanpa gaji, 
>sekalipun bekerja. Intrik-intrik memang menjadi bagian utama dalam 
>pemerintahan kala itu, mengingat Gus Dur sedang membersihkan otak dari 
>kekuasaan yang sudah begitu lama mencengkram Indonesia: Istana Negara. 
>Desakralisasi dan dekonstruksi menjadi tema yang banyak diulas oleh para ahli 
>waktu itu. 
>
>Ketika Gus Dur jatuh, saya bergabung dengan sejumlah pihak yang mempersiapkan 
>prosesi: Kembali ke Pergerakan Rakyat.  Gus Dur dijemput oleh kawan-kawan muda 
>dan tuanya, setelah beberapa lama menghuni Istana bahkan setelah dijatuhkan. 
>Megawati Soekarnoputri tidak langsung bisa masuk Istana Negara, setelah 
>dilantik menjadi Presiden oleh MPR RI. Pada saat menjelang kejatuhan itu, 
>sudah beredar mimpi Gus Dur kehilangan sandalnya. Bahkan beredar rumor bahwa 
>Gus Dur tirakatan di pantai laut selatan. Beberapa kali Gus Dur memang pergi 
>ke maqam para wali, terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi. Saya pernah 
>dengar informasi yang disampaikan kepada Rizal Sukma oleh Mahfud MD bahwa 
>Paspampres memarahi pengikut Gus Dur di salah satu maqam. Kenapa? Pengikut Gus 
>Dur itu memutarkan kaset yang seolah-olah wali yang menghuni maqam itu dan 
>meminta Gus Dur tidak mundur dari jabatannya. Kebenaran cerita itu saya tidak 
>tahu, mungkin Pak Mahfud bisa becerita dalam buku yang
> belum juga dia tulis soal detik-detik kejatuhan Gus Dur. 
>
>*** 
>
>Terakhir, saya berjumpa sosok Gus Dur secara dekat di Gedung PBNU tahun 2008. 
>Waktu itu saya mengisi semacam refleksi politik di kalangan anak-anak muda NU. 
>Gus Dur diturunkan dari mobil dinasnya oleh Paspampres yang menjaganya. Yang 
>menarik, simbol yang tidak pernah dipakai Gus Dur selama bertahun-tahun hadir 
>di lehernya. Semacam tasbih putih. Menurut info yang saya dapat dari kalangan 
>yang memakainya, tasbih putih itu memiliki medan energi yang entah apa. 
>Herannya, banyak kalangan yang memakai tasbih putih itu, baik di kalangan 
>menteri – bahkan sampai presiden, juga kalangan pengusaha dan anggota 
>parlemen. Saat itu juga saya berpikir: Gus Dur tidak lagi dikendalikan oleh 
>dirinya, tetapi oleh tasbih itu. Pikiran nakal, tentunya, bukan dalam artian 
>harfiah, sebagaimana Gus Dur banyak becanda tentang apapun. 
>
>Sekalipun saya mengaguminya – bahkan dalam banyak perdebatan saya dianggap 
>terlalu Gus Dur-ian --, saya tidak pernah berdekatan fisik dan berdialog 
>langsung dengannya. Kalaupun beberapa kali hadir di sekitarnya, paling saya 
>hanya memperhatikan banyolan-banyolannya. Beberapa kali saya diundang oleh 
>mahasiswa-mahasiswa pro-Gus Dur, termasuk ke Madura, Banten dan Jombang. Saya 
>senang sekali berjalan beberapa jam dengan mobil, lalu masuk ke lingkungan 
>kampus yang kecil dengan mahasiswa sedikit, lalu berdiskusi bebas tentang 
>apapun. 
>
>Kini, Gus Dur telah tiada. Ia nomor satu di bidangnya. Di bidang apapun. Ia 
>pelanggar tabu. Ia pembela kebenaran, darimanapun kebenaran itu datang. Saya 
>kira, Gus Dur adalah manusia terbesar yang pernah dilahirkan di alam Indonesia 
>moderen. Ia bisa menggenggam tampuk kekuasaan secara sangat manusiawi. Ia 
>menjadikan Angkatan Laut sebagai Panglima TNI, sekaligus juga mewakili visi 
>besar Indonesia yang belum juga terbangun: dunia maritim dan kemaritiman. 
>Kebesaran Gus Dur melebihi kekuasaan yang dia genggam. Ia menjadikan segalanya 
>menjadi sederhana, tidak lagi menakutkan. 
>
>Konon, ketika “konflik” sipi-militer dianggap akan meledak di Indonesia, 
>satu-satunya yang ditakuti oleh TNI hanyalah Gus Dur. Kenapa? Megawati pasti 
>takut melihat bedil menghadap kepadanya. Amien Rais akan kelenger ditodongkan 
>pistol. Sultan Hamengkubuwono X pasti surut selangkah. Gus Dur: jangankan 
>pistol, meriampun pasti tidak ditakutinya. Kenapa? Ya, karena Gus Dur tidak 
>bisa melihat. 
>
>Begitulah inti kehidupan Gus Dur. Bukan hanya dewi keadilan menjadi buta di 
>tangan Gus Dur, bahkan kekuasaanpun menjadi buta. Gus Dur memegang kekuasaan, 
>tanpa sekalipun menyentuhnya! Selamat jalan, Gus Dur. Selama jalan manusia 
>terbesar Indonesia di zaman moderen ini. Anda adalah manusia yang mendahului 
>zaman anda...
>
>Jakarta, 31 Desember 2009. 
>
>
>
>      
>
>-- 
>.
>Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
>lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>  1. Email besar dari 200KB;
>  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
>  3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
>- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
>===========================================================
>Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
>keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe



      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke