Bung Andiko, Bung IJP, Sanak Suryadi dan para sanak sa palanta,
 
Ada satu lagi sifat para tokoh-tokoh Minangkabau masa lampau tersebut, yang 
sering diangkat oleh pak Jakob Utama, yaitu sikap pribadi yang 'asketis', yang 
kalau saya tidak salah bermakna rendah hati, menjauhi kemewahan, bermoral 
tinggi, tidak suka pamer, teguh dengan prinsip, berfikir mendalam, berjuang 
demi kepentingan orang banyak, sering melupakan kepentingan diri sendiri, dan 
hal-hal lain seperti itu. Seperti kita ketahui, pak Jakob Utama ini sangat 
menghormati tokoh-tokoh Minang masa lampau tersebut.
 
Kalau sikap asketis ini yang jadi tolok ukur ketokohan orang Minang dewasa ini, 
memang semakin lama semakin kurang tokoh yang dapat kita tampilkan. Bukan hanya 
di Minangkabau, tetapi juga di Indonesia. Tokoh-tokoh kita sekarang banyak yang 
cenderung ke kelas 'selebriti'.

Itulah yang terlihat oleh saya. Mungkin zaman memang sudah berubah, seperti 
kata Gus Dur.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Sat, 1/2/10, andikoGmail <[email protected]> wrote:


From: andikoGmail <[email protected]>
Subject: Re: BLS: Re: [...@ntau-net] OOT: apa arti Gus Dur untuk Minangkabau ?
To: [email protected]
Date: Saturday, January 2, 2010, 8:14 PM


Diluar saya setuju dengan sudut pandang Ajo, saya ingin menambahkan 
sedikit dengan pendapat dibawah ini, belajar dari kasus koin untuk Prita.

Situasi sosial itu sepertinya sudah muncul. Suksesnya gerakan koin untuk 
prita memberikan pesan bahwa masyarakat sedang membutuhkan icon-icon 
baru demokratisasi dan perlawanan kepada ketidakadilan yang lebih 
terjangkau dari arras pikiran, penalaran dan pemahaman mereka. 
Sepertinya telinga mereka telah "pekak" dan mata mereka telah "bercirit" 
melihat model-model kampanye yang sarat dengan janji dan simbol-simbol 
yang tak terpahami, lebih parahnya tidak bertemu dalam alam kenyataan. 
Mereka bersimpati kepada  Prita  bukan  karena  Prita  politisi  atau  
calon  politisi,  tapi  mereka  merasa  menemukan  diri  mereka  
sendiri  dalam  diam  dan senyum piasnya prita. Mereka muak dengan 
kampanye politik dengan jurus "mengepit daun kunik", dengan jurus 
kampanye "manyumpah dibaliak gunuang", mereka muak dengan sistem yang 
sudah tidak bekerja lagi untuk mereka.

Harapan saya pribadi, saya ingin melihat satu tokoh Minangkabau 
alternatif yang berpengaruh dan berpikiran terbuka yang konsisiten di 
jalur diluar kekuasaan. Dia akan jadi katalisator di tengah orang-orang 
yang "Ba hondoh Pondoh" dengan berbagai cara masuk ke wilayah kekuasaan.

Saya kira ada satu syarat yang sudah lama tercecer yang dulunya menjadi 
sendi dasar ketokohan orang Minangkabau yaitu keberanian mengatakan 
kebenaran, kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan yang dilakukan. 
Saya lihat seorang Hatta, Tan Malaka, Syahrir, haji Agus Salim, HAMKA 
adalah orang-orang yang memaknai betul bagaimana menselaraskan apa yang 
diucapkan dengan apa yang dilakukan, sehingga mereka terpilih di 
panggung ketokohan bukan karena "Terbawa Rendong", bukan hanya sekedar 
"Mantimun Bungkuk" dan tentu saja bukan karena "Bahondoh Pondoh" 
mencicipi manisnya kekuasaan.

Mereka paham betul "Nan luruih makanan banang-Nan bungkuak makanan siku, 
kok tagang bajelo-jelo, kok kandua badantiang-dantiang, kok kareh indak 
bisa ditakiak, kok lunak indak kadimakan sudu".

Saya rindu tokoh itu.

Salam

andiko

Lies Suryadi wrote:
> Sanak Andiko,
>  
> Kalau analisa saya selintas: Minangkabau sekarang secara sosiologis 
> tidak kondusif bagi munculnya pemikir2 yang handal. Coba kita lihat 
> dari mana datang orang2 besar Minangkabau pada masa lampau? Kebanyakan 
> dari latar belakang yang mengambil jarak dengan DUNIA DAGANG dan DUNIA 
> MILITER. Media2 di Minangkabau pada tahun 1920-40-an memberi ruang 
> yang besar bagi polemik pemikiran, hingga soal jas dan dasi pun 
> dipolemikkan. Media memberi ruang berhari2, bahkan berminggu2, untuk 
> berpolemik. Kini media2 lebih cenderung memuat iklan untuk cari uang 
> masuk. Dan tentu saja ucapan selamat atas dilantikkan pejabat tertentu.
> Sekarang kebanyakan orang Minangkabau yang ' besar' di rantau adalah 
> para bisnismen yang punya perusahaan di sana sini. Hakekatnya sungguh 
> beda dengan golongan yang pertama yg mengambil jarak dengan dunia 
> dagang tadi.
> Walau bagaimanapun, realitas mikro (Minangkabau) ini, dipengaruhi oleh 
> realitas makro (Indonesia). Coba kita lihat betapa permisifnya budaya 
> kita sekarang: mulai dari agama sampai kepada politik dijadikan 
> konsumsi BUDAYA POPULER.
>  
> Tapi bisa saja pendapat saya ini salah.
>  
> Wassalam,
> Suryadi
>  
>---


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke