LADANG, AYAH dan BUNDA

Menjelang aktif kembali seperti biasa
Khususnya bulan depan ketika semester tiba
Saya minta izin beberapa hari lamanya
Tinggal di kampung menemani ibunda

Pagi tadi kami kembali ke ladang seperti biasa
Sepetak tanah kecil impian keluarga
Dibeli dengan tabungan ibu bapak yang dikumpulkan bertahun-tahun lamanya
Dan baru mampu terbeli menjelang pensiun orang tua

Penghasilan orang tua kami sebagai PNS biasa
Membuat kami sejak kecil dididik hidup sederhana
Gaji orang tua yang tidak seberapa
Harus dikelola dengan bijaksana
Agar cukup makan dan biaya pendidikan kami berlima
Bersyukur kepada Allh yang Maha Kaya
Hampir semua kami sempat mengenyam beasiswa
Hidup ala kadarnya...
Tapi Alhamdulillah bahagia

Sampai di ladang kami mulai bekerja
Pertama menengok pusara ayahanda
Yang cukup bersih terpelihara
Karena ibu rajin membersihkannya

Ketika mengamati sebatang pohon pala
Mata ibu dan saya terpana
Kenapa ada ujung dahan yang berwarna merah muda
Dilihat sepintas seperti daun pala biasa
Ternyata benalu yang sudah dewasa
Saya ambil parang dan mencabut benalu dari pohon inangnya

Asyik mengamati pohon coklat yang mulai berdaun muda
Empat ekor kera datang mendekati saya
Awalnya takut juga
Tapi ibu meyakinkan saya
Insya Allah tidak akan apa-apa
Di ladang yang bersih dan terang seperti milik kita
Kera juga akan berpikir untuk menyerang manusia

Sayapun kembali bekerja seperti biasa
Mencabut rumput dan mencangkul dengan gembira
Betul kata ibu saya
Kera-kera itu hanya duduk manis mengamati saya bekerja
Dalam hati saya berdoa juga
Agar kera itu tidak mencelakai saya

Sambil bercanda saya berkata pada bunda
Bu..., coba kalau tadi kita bawa kamera
Kera-kera ini pasti bagus fotonya
Ibu pun tertawa
Di ladang kok masih memikirkan foto dan gaya

Ibu bilang kita pulang menjelang azan zhohor saja
Saya mengangguk dan berkata "Ya"
Terus mengumpulkan rumput kering di bawah pohon cengkeh dan pala

Jadi ingat pesan Bapak dulu kepada anak-anaknya
Apapun yang kalian lakukan di dunia
Apakah di sekolah bergelimang kapur
Atau di sawah dan ladang bergelimang lumpur
Mau direktur atau kondektur

Kerjakanlah tugas dengan 'hati' dan 'jiwa'
Iringi dengan ikhlas dan rela
Sepanjang itu adalah hal yang berguna
Insya Allah diredhai Yang Di Atas Sana

Barangkali itulah sebabnya
Walaupun seharian nyamuk-nyamuk di sekeliling menggoda
Jarum di mulutnya yang tajam tidak terasa
Lumpur dan tanah lembab yang menghias kaki saya
Terasa seperti luluran saja

Sayapun membersihkan rumput di sekitar batang durian muda
Yang ditanam bapak sesaat menjelang beliau pergi selamanya
Kini batang durian itu sudah setinggi kepala
Saya ingat bapak dulu menanam sambil berdoa
Beliau berpesan, jika durian ini nanti berbuah dimasanya
Makanlah kalian sepuasnya
Tapi jangan lupa bersyukur pada Yang Maha Esa

Buah pinang yang masak juga mulai jatuh dari batangnya
Saya pun memungut dari ujung sini sampai ujung sana
Daun salam dan jeruk purut saya ambil beberapa
Untuk menggulai besok hari Raba'a

Menjelang pulang saya petik beberapa cabe rawit muda
Yang tumbuh subur dibatangnya
Walaupun ditanam ibu hanya beberapa balun saja
Rencana untuk pencampur palai bada
Teman nasi nanti makan malam tiba

Di tengah ladang di pinggir kampung saya
Semua kenangan lama hinggap di kepala
Bapak yang semasa hidupnya
Selalu menyelaraskan tingkah laku dan kata
Senantiasa memberi contoh nyata
Rajin bercerita ketika mengajarkan nilai dan agama
Kalau pun kesal, lebih sering dengan sindiran pantun jenaka

Bapak membebaskan kami lepas dari anak busurnya
Pergi mencari ilmu dan pengalaman kemana saja
Asalkan kami tidak lupa membawa bekal utama
Shalat, ikhtiar, dan doa

Begitu juga dengan ibu
Yang agak cerewet ketika kami kecil dulu
Menurut ibu, perempuan minang harus tahu ini dan itu
Jadi sejak kecil kami harus belajar agar mampu
Supaya tak canggung kalau pergi ke tempat yang baru

Dan malam ini hari Selasa
Bulan Januari tahun 2010 hari yang ke lima
Pukul sebelas malam lewat dua puluah dua
Ibu tertidur nyenyak di dekat saya
Mungkin lelah setelah seharian tadi di ladang ber olah raga

Nafasnya teratur dan berirama
Wajahnya bening terlihat tanpa dosa
Membuat saya tak bisa berpaling menatapnya

Padahal saya tahu hati ibu sedang mendua
Senin kemaren di Rumah Sakit Akhmad Mukhtar Bukittinggi tercinta
Beliau di vonis dokter harus operasi mata....

Tapi saya dan dokter sepakat tidak akan memaksa
Biar kami menunggu ibu siap menghadapinya...
Entah kapan waktunya....

Saya tahu sebentar lagi ibu juga akan terjaga
Unuk shalat tahajud seperti biasanya
Sebelum tidur tadi ibu juga berkata
Ingin shalat istikharah dulu katanya...

 Malam ini menjelang tanggal berganti pula
Saya sudah ingin meletakkan pena
Tapi satu hal masih tersisa
Saya ingin berdoa untuk Bunda
Semoga Allah melindungi sang pelita

Ya Allah...
Berikanlah yang terbaik untuk Sang Bunda....

Kukuban, Maninjau
5 Januari 2010


Rita Desfitri
-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke