Kamis, 07 January 2010
Dharmasraya Bagai Madu dan Racun
*Syafruddin Dt. Sanggono *
*Padang, Singgalang*
Hari ini, kabupaten Dharmasraya genap berusia enam tahun. Salah seorang
tokoh masyarakat setempat Drs. H. Syafruddin Putra Dt. Sanggono, M.Si.,
berpendapat, Kabupaten Dharmasraya itu, bagaikan lagu madu dan racun.
Madu, bikin orang sering mengincar. Racun, bisa mengancam daerah itu
sendiri. Kenapa?
“Ya, begitulah. Orang luar mengenal Dharmasraya sangat potensial. Sumber
daya alamnya kaya. Hutan banyak. Bahan tambang seperti emas dan batubara
menjanjikan. Tapi sesungguhnya bukan begitu, hutan luas itu entah punya
siapa, bahan tambang yang oke itu, siapa pula yang menikmati,” ujar
wakil walikota Jakarta Utara ini kepada Singgalang, Rabu (6/1) di Padang.
Ia melihat di lapangan, apa yang digadang-gadangkan itu, tidak
ditemukan. Hutan luas, ternyata kini diserahkan kepada beberapa kelompok
orang, dengan cara amat sederhana, pengakuan saja. Bahkan ada perorangan
yang memiliki areal hutan hingga ratusan hektare. Mayoritas masyarakat
Dharmasraya justru miskin.
Cara ini, jelas tidak mendidik masyarakat. Oleh karenanya perlu
digalakkan program sertifikasi tanah sehingga memberikan kepada investor
yang minat berinvetasi. Ke depan, pun juga terhindar sengketa tanah.
Begitu pula penambangan emas, yang kini merajalela. Tak bisa diberantas,
legalZkan tanpa melabrak aturan dan kaidah lingkungan.
“Anggapan Dharmasraya sebagai madu ini, menyebar ke mana-mana. Padahal
tidak, masyarakat Dharmasraya banyak miskin. Minoritas masyarakat
seperti pemilik kebun, pemilik izin tambang, memang demikian, tapi tak
serta merta Dharmasraya kaya lho. Mungkin ada yang belum ke Padang,”ujar
pamong senior yang mengawali karir birokrasi di Pemprov Sumbar.
Sedangkan racun yang siap-siap mengubur Dharmasraya bila tidak disikapi
secara arif dan kematangan birokrasi, banyak pula. Racun yang sangat
menakutkan adalah penerapan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 6 tahun 2008
tentang pedoman evaluasi penyelenggaraan pemerintah daerah. Di
Indonesia, ada 148 kabupaten/kota yang sedang dievaluasi, termasuk
Dharmasraya.
Bila masuk kategori tanda kuning, kata ninik mamak yang dipercaya
menjadi ketua di berbagai organisasi di Jakarta ini, pemerintah pusat
memberi waktu paling lama dua tahun untuk membenahi. Tak mampu,
Dharmasraya dilebur menjadi kecamatan. “Ini ancaman besar, apa yang kita
cita-citakan bersama, masyarakat sejahtera tak terwujud, malah sengsara
jadinya,” ucap dia.
Pria yang sering menjadi ketua dewan juri pemilihan Abang None Jakarta
ini dan dikenal sukses menjadi pemimpin di Jakarta Utara, berpendapat
persoalan yang dihadapi Dharmasraya ke depan, mesti ditopang dengan
komitmen kepala daerah untuk menerapkan tata kelola pemerintahan yang
baik. Ia juga memiliki sifat-sifat sesuai budaya Minangkabau, tigo
tungku sajarangan. Seorang ninik mamak, cerdik pandai dan alim ulama.
Dalam memimpin, pertanggungjawabanpun tidak hanya bersifat administrasi
belaka, tetapi juga kepada masyarakat. Apalagi di era sekarang,
pemerintah tak lagi sebagai penguasa melainkan fasilitator. Dengan
demikian, anggaran yang sesungguhnya bersumber dari rakyat yang
digunakan untuk pembangunan. Transparansinya wajib diamalkan.
Keberpihakan kepada masyarakat tak sekedar lips service, tapi nyata.
Tidak kalah penting, fungsi pelayanan yang dilakoni pemerintah, harus
betul-betul melayani masyarakat. Terjun ke tengah masyarakat. Didengar
benar aspirasi mereka.
“Misalnya, di Dharmasraya, saya dengar Pulau Punjung termasuk angka
kemiskinan cukup tinggi. Fokuskan ke sini, pacu dengan berbagai program.
Kalau sudah berkurang, fokuskan lagi ke daerah lain yang menempati
rangking berikutnya. Diselesaikan sekaligus, tidak akan selesai-selesai
pengentasan kemiskinan tersebut,”ujar dia.
Diakui, persoalan kemiskinan, di negara manapun pasti ada, hanya saja
dalam penanganannya, jangan malah bertambah. Posisi stagnan saja, sudah
dianggap tak berhasil. Oleh karena itu, penanganannya butuh pendalaman
potret rill masyarakat. Jangan dikedepankan kebijakan semata, mesti
sinkronkan dengan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Kalau ini semua
diterapkan, Insya Allah, Dharmasraya takkan tertelan racun tersebut.
Saat ditanya, apakah ada niat untuk maju dalam Pilkada di Dharmasraya,
Juli mendatang, Syafrudin me ngatakan, pada awalnya ia hanya ingin
menempatkan diri sebagai orang tua, tempat orang bertanya dan mengadu.
Tapi akhirnya, berkembang setiap ia pulang, masyarakat berharap agar
bangun pula Dharmasraya. “Kalau ketulusan ini muncul dari masyarakat,
kenapa tidak,’imbuhnya. (101)
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe