-----Original Message-----
From: "sunny" <[email protected]>
Date: Sat, 9 Jan 2010 13:55:02 
To: <Undisclosed-Recipient:;><Invalid address>
Subject: [ppiindia] Merajut Jaringan Jalan-jalan TKI/TKW ; Dari Kuala Lumpur ke 
Hong Kong

Refleksi : TKW/TKI dalam jumlah besar ke berbagai negeri  adalah bukti bahwa 
rezim neo-Mojopahit  tidak mampu memyiapkan lapangan kerja dalam negeri sesuai 
pertumbuhan demografi. Pengiriman TKW/TKI  dilaksanakan seperti apa yang 
dipraktekan pada kerajaan feodal Mojopahit zaman bahula.


http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=39909:merajut-jaringan-jalan-jalan-tkitkw--dari-kuala-lumpur-ke-hong-kong-&catid=78:umum&Itemid=139


      Merajut Jaringan Jalan-jalan TKI/TKW ; Dari Kuala Lumpur ke Hong Kong     
 
      Oleh : Prof. Dr. Subanindyo Hadiluwih, SH 



      Dalam perjalanan awal ke Malaysia, saya naik ferry dari Belawan ke 
Penang. Terbuat dari fiber, boat itu 'melayang' kencang menuju pelabuhan 
sasaran. 

      Empat jam kemudian, saya bersama rekan turun. Di pandu menuju petugas 
imigresen, saya sempat terkesiap melihat rombongan lain yang juga turun dari 
ferry. Dibatasi seutas tali, mereka terpisah dari penumpang biasa. Artinya 
mereka penumpang luar biasa. 

      Konon rombongan TKI/TKW yang akan mengadu nasib bekerja di negeri jiran. 
Sambil ketawa-ketiwi, mata beredar memandangi keadaan sekitar, bersinar-sinar 
kekaguman. Sekali-sekali terdengar ucapan dua-tiga patah kata bahasa Jawa. 
Berjumlah ratusan orang, dibimbing oleh polis Diraja Malaysia serta petugas 
imigresen setempat yang bergaya bak cowboy. 

      Kata-kata perintah tak berhenti dari mulut aparat kerajaan tersebut. 
Berbahasa Melayu Malaysia, ditingkah pula dengan dua-tiga patah kata bahasa 
Jawa yang mungkin mereka ketahui dari pada seringnya berurusan dengan orang 
Jawa. Ketika kemudian kami naik 'bas' dari Penang ke Kuala Lumpur, tak pernah 
bertemu lagi dengan rombongan tersebut.

      China Town

      Ketika jalan-jalan sore di Kuala Lumpur (KL) seputar China Town, Pudu 
Raya, Chokit sampai Bukit Bintang, saya ketemu lagi dengan kelompok penumpang 
khusus dari ferry itu meskipun mungkin bukan kelompok yang seperjalanan. Mereka 
adalah Tenaga Kerja Indonesia dan Tenaga Kerja Wanita yang berjajar di sentral 
transportasi penumpang itu. 

      Menunggu teman-temannya untuk bersama pulang ke penginapannya. Celoteh 
mereka memungkinkan saya untuk bergabung sejenak. Sesama dari Indonesia, saya 
bisa menangkap aneka komentar mereka selama di negeri jiran. Ada yang merasa 
gembira, tak kurang pula yang dirundung duka. Bahkan ada diantaranya memang 
masuk secara illegal atau disebut pendatang haram yang kini disebut pendatang 
tak berizin. 

      Tak heran kalau sebagian dari mereka senantiasa gelisah khawatir ada 
razia. Meski ada juga yang dapat lolos dengan membayar uang keamanan sekitar RM 
100.

      Keluhan yang saya catat antara lain perihal gaji yang tertunda-tunda. 
Surat yang tetap di tangan majikan atau penyalur tenaga kerja, jam kerja yang 
nyaris tak pernah istirahat, juga ketiadaan hari libur. Sejalan dengan itu, 
berita-berita penganiayaan, bahkan menyebabkan kematian, muncul dari hari ke 
hari. 

      Yang lebih menyedihkan, keterbatasan untuk melakukan ibadah harian. 
Terutama bagi mereka yang bekerja pada majikan yang non-Muslim. Selaku 
penasehat dari ikatan pelajar Indonesia kala itu, saya sempat meneruskan 
keluhan itu kepada Agung Laksono, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan 
berkunjung ke Malaysia. 

      Meski mendapat perhatian sungguh-sungguh, namun konon tak kunjung diambil 
tindakan yang serius. 

      Belakangan, ketika masalah TKI/TKW ini terkesan membahayakan hubungan 
bilateral antara ke dua negara, perbaikan memang dilakukan disana-sini. Berita 
gembira terdengar dari Menteri yang baru, Muhaimin Iskandar. Perbaikan akan 
ditingkatkan secara melembaga. Hak-hak normative akan diperjuangkan. 
Diposisikan demi kepentingan ke dua negara. 

      Sementara kemungkinan penghentian pengiriman tenaga kerja tak lagi 
mustahil. Satu kenyataan, dimana berkali-kali pihak negeri jiran memulangkan 
TKI/TKW, di kala bersamaan beratus bahkan beribu tenaga baru mendarat dan 
berburu pekerjaan. Sebagian dengan status yang tak jauh berbeda. Di lain pihak, 
pengiriman uang ke kampung halamanpun menggunung berkembang dari bulan ke 
bulan. Untuk beli tanah, bangun rumah, beli kendaraan dan lain-lain. Barang 
tentu hal ini mengkondisikan terciptanya sebutan pahlawan-pahlawan devisa. 

      Untuk yang satu ini kelihatannya merupakan sesuatu yang fenomenal. 
Meskipun nasibnya terkadang tak terlalu menggembirakan, namun keluarga di 
kampung tetap mendorongnya untuk tetap bekerja di rantau orang. Bahkan tak 
sedikit yang mengirimkan anggota keluarga yang lain menyusul mereka yang sudah 
'berhasil' tersebut. 

      Kucing dalam Karung

      Di lain kesempatan, ketika saya berkunjung ke Hong kong, didapati 
fenomena yang nyata-nyata amat berbeda pada kehidupan TKI/TKW tersebut. Kesan 
awal ketika saya sampai di negeri tersebut adalah suasana yang senantiasa 
terburu-buru. Kondisi sedemikian memang agak mirip di Singapura, namun Hong 
kong terlihat lebih ekstrim. Para pejalan kaki, terkesan setengah berlari, 
sambil memegang HP di tangan kanan maupun kiri. Toko-toko meski buka sekitar 
pukul sepuluh pagi, namun baru tutup sekitar pukul 02.00 menjelang dini hari. 

      Kesan sibuk sedemikian barang tentu juga dialami oleh para pembantu 
sebagai unsur pelayanan bagi kegiatan orang Hong kong. Meski tetap didapati 
berbagai kisah memilukan, termasuk kesulitan untuk mendapatkan makanan halal, 
perlakuan yang terkadang kurang atau bahkan tidak manusiawi, namun 'nasib'-nya 
relative lebih baik. 

      Selain dapat menggunakan hak cuti (libur) mereka juga memperoleh 
penghasilan yang lebih memadai. Mengapa mereka yang di Malaysia, atau mungkin 
di Saudi Arabia atau Singapura tak berbondong-bondong saja pindah ke Hong kong? 

      Ternyata ada masalah mendasar yang membedakan diantara mereka. Selain 
pemahaman budayanya, juga kendala bahasa. Terus terang saya merasa terkejut 
ketika mendengarkan penjelasan dari seorang rekan penyalur tenaga kerja ke Hong 
kong, yang menyebutkan bahwa pengiriman tenaga kerja ke Hong kong memang lebih 
selektif. Mereka tidak mau menerima begitu saja tenaga kerja yang sudah ada 
atau stand by di Hong kong. Mereka tak mau 'membeli kucing dalam karung'. 

      Majikan Hong kong, sebelum mengambil pembantu, melakukan interview dalam 
bahasa Inggris atau Kanton dengan calon pembantu di Jakarta, Medan, Pontianak 
atau Makassar, dengan menggunakan webcam komputer. Gajinyapun - dan biasanya 
dibayar tunai - memadai, sekitar empat juta rupiah. Tak heran kalau 
sesungguhnya 'kelas' pembantu itu di kampung asalnya juga berbeda. 

      Pada umumnya mereka lebih terdidik - atau berpengalaman - dibandingkan 
yang ada di Malaysia. Kalau di Malaysia mereka datang dengan kondisi yang amat 
sederhana, maka di Hong kong model pembantu sedemikian nyaris tidak ada. 

      Sebuah film yang sedang dipersiapkan di Hong kong, juga tentang TKI/TKW 
ini, konon berjudul Minggu Pagi di Victoria Park, mendapati bahwa di antara 
mereka ada yang sudah bekerja di Arab selama tujuh tahun, pindah ke Malaysia, 
satu tahun, kemudian ke Singapura, juga dijalani hanya satu tahun, dan sekarang 
meneruskan karir di Hong kong. 

      'Karir'? Layaknya memang lebih patut dikatakan sedemikian. Manakala TKW 
di Malaysia memang benar-benar pembantu untuk tidak dikatakan 'babu', sehingga 
- sebagaimana yang juga terjadi di Arab Saudi - strata antara majikan dan 
pembantu terkesan berbeda jauh. Sikap feodalistis masih sangat terasa. Oleh 
karenanya manakala hubungan yang terjadi lebih manusiawi, biasanya mengarah 
kepada pelecehan seksual. Tak heran kalau ada beberapa TKW yang pulang dari 
rantau menggendong bayi. 

      Menunjukkan betapa tidak bertanggung jawab ayah si bayi tersebut. Di Hong 
kong, posisinya lebih bersifat pembantu yang bukan babu. 

      Memang, bagi yang kurang beruntung, manakala kontrak habis, hanya ada 
waktu dua pekan untuk menganggur. Mereka yang tak dapat majikan baru selama 
waktu tenggang itu, statusnya berubah menjadi illegal. 

      Tak heran kalau sebagian daripadanya terjerembab menjadi wanita 
penghibur. Karena di kawasan 'red district' itu mereka berjumpa dengan rekan se 
profesi dari Filipina dan Thailand. Oleh karena tidak ada perbedaan posisi 
stratifikasi, maka lazim saja terjadi kawin-mawin antara majikan dan pembantu. 

      Para majikanpun tidak merasa malu mengawini pembantunya. Lebih jauh, 
sebagai isteri, layak ia mengembangkan kemampuannya - didukung oleh situasi 
lingkungan - untuk menjadi pengusaha yang sebagian berhasil. 

      Bahkan ada yang menggantikan usaha suaminya, bekas majikannya, dengan 
cara membeli dan sekarang memimpin perusahaan dengan 18 kantor cabang di Hong 
kong! 

      Penulis adalah budayawan dan Guru Besar UMSU, Medan. 
     


[Non-text portions of this message have been removed]


-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke