Sanak di lapau, mambaco opini Pak Tamrin dibawah gak cameh awak. Iyo lah guyah
bana "tonggak tuo" kito ko?
Wassalam,
Suryadi
Gerhana Legitimasi
Kompas, Kamis, 21 Januari 2010 | 04:48 WIB
Tamrin Amal Tomagola
Gerhana Matahari pada 15 Januari 2010 agaknya mirip gerhana kredibilitas
kepemimpinan presidensial Susilo Bambang Yudhoyono dalam 100 hari
kepemimpinannya.
Gerhana Matahari, pekan lalu, tercatat sebagai yang terlama dalam milenium
ketiga (Kompas, 16/1/10), sedangkan gerhana kredibilitas kepemimpinan
presidensial SBY juga terlama sejak tahun 2004 dan kebetulan terjadi pada masa
pemerintahan keduanya.
Selama ini, ada yang menilai SBY sebagai berdisposisi karakter ”staff’”, bukan
posisi ”commander”. Padahal, sejak akhir 2004 ia dipilih rakyat untuk memegang
kendali memimpin suatu negeri yang begini luas dan berpenduduk terbanyak
keempat dunia.
Berbeda dengan psychological properties seseorang, yang selalu teramati setiap
saat, seperti senyuman yang selalu tersungging, psychological dispositions
pribadi tertentu hanya muncul, secara terpola, bila mendapat rangsangan pada
waktu dan konteks tertentu (Morris Rosenberg, The Logic of Survey Analysis,
1968).
Seorang pekerja staf akan menampilkan respons yang berbeda dengan pemimpin yang
berkarakter commander (komandan). Seorang pemimpin berdisposisi komandan,
dengan tegas menunjuk arah yang dituju, memilih dengan cermat para pembantu
yang mumpuni di bidang masing- masing, dan memberi kebebasan penuh kepada
mereka untuk berkiprah maksimal menuju arah yang telah ditunjuk.
Sebaliknya, respons lumrah seorang yang terbiasa menjadi staf, termasuk pada
saat krisis, adalah menelaah dulu rambu- rambu birokrasi secara njelimet.
Pencermatan rambu-rambu aturan birokrasi itu bila perlu ditandai warna-warna
tinta berbeda untuk menunjukkan derajat dan status yang berbeda dari berbagai
pasal dan ayat perundang- undangan. Karena itu, kecenderungan normatif sangat
menonjol pada pekerja staf. Mereka cenderung lambat mengambil keputusan,
apalagi tindakan konkret.
Pekerja staf selalu dibayangi perhitungan safety first. Mereka baru berani
bertindak bila benar- benar terjamin aman. Karena itulah, sama sekali tidak
mengherankan bila seseorang yang berdisposisi staf selalu membutuhkan waktu
lama sekali sebelum akhirnya bertindak. Di pihak lain, para komandan tidak
pernah enggan mengambil risiko yang sudah diperhitungkan (calculated
risk-takers) dengan timing yang tepat dan terukur.
Kredibilitas mendung
Pada periode pertama pemerintahannya, kredibilitas SBY banyak tertolong gerak
cepat Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dengan berbagai program penyelamatan
rakyat kecil, serta kebijakan keuangan yang cerdas, lugas, dan bersih oleh
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Begitu peran kunci kedua bintang pendongkrak kredibilitas SBY ini absen atau
goyah dalam masa pemerintahan kedua karena JK berpisah jalan dengan SBY dan Sri
Mulyani ikut tercemar karena ”tertipu” oleh otoritas Bank Indonesia dalam
skandal Bank Century, tak pelak lagi kredibilitas SBY mulai menurun perlahan
tetapi pasti. Berbagai survei pendapat publik menunjukkan penurunan popularitas
SBY secara signifikan.
Paling kurang ada tiga faktor kunci penyebab kian mendungnya kredibilitas
presidensial SBY. Pertama, ditempatkannya orang- orang yang kredibilitas moral
dan profesionalitasnya diragukan publik. Sedikitnya ada empat pejabat kunci
kabinet yang kredibilitas moralnya dipertanyakan. Keempatnya, sebelumnya adalah
pemimpin kolektif sebuah yayasan yang menerima sumbangan senilai 1 miliar
dollar AS dari seorang buron koruptor. Publik cenderung menyamakan harkat
integritas moral mereka dengan Jaksa Urip yang disuap oleh Ayin. Ironisnya,
Jaksa Urip masuk penjara, sedangkan keempat orang itu malah masuk kabinet pada
posisi kunci pula.
Kedua, tumpulnya kepekaan dan tiadanya prioritas dalam penggunaan dana negara.
Salah satu yang paling ironis adalah dianggarkannya pembelian mobil super mewah
bagi para menteri seharga hampir tiga kali lipat harga mobil dinas kabinet
sebelumnya. Ini bukan contoh baik bagi asketisme yang menjadi tradisi para
founding fathers republik ini, selain juga contoh tak sedap bagi tekad
menurunkan emisi karbon yang dicanangkan SBY sendiri di KTT Perubahan Iklim
Kopenhagen, Desember.
Belum lagi penyediaan pesawat kepresidenan serta renovasi pagar istana.
Anehnya, biaya setara beribu-ribu sekolah dasar dan puskesmas itu disetujui
oleh seorang Menkeu yang terkenal hati-hati dan lugas dalam pembelanjaan uang
negara. Bantahan Juru Bicara Presiden bahwa SBY tak tahu-menahu dengan pos-pos
belanja mewah tersebut justru semakin memendungkan kredibilitas presidensial
SBY.
Akhirnya, yang tak kurang penting adalah kurang terlihatnya sikap untuk berdiri
di depan. Dalam hampir 100 hari terakhir, alih-alih melindungi bawahan dan
mengambil alih tanggung jawab sebagai komandan tertinggi RI, Presiden malah
cenderung membantah keterlibatannya dalam kasus dan heboh Bank Century. Ia
justru terkesan mengorbankan bawahannya.
Tamrin A Tomagola Sosiolog
Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe