Kabupaten Solok Miliki 4.156 Relawan ‘Jorong Siaga'

*PadangKini.com* | Minggu, 26/07/2009, 17:01 WIB

*AROSUKA--*Kabupaten Solok memiliki 4.156 relawan di 273 Nagari untuk menyukseskan program ‘Jorong Siaga'.

Program Jorong Siaga yang diluncurkan 14 November 2006 itu merupakan program peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di tingkat Jorong (dusun).

Demikian disampaikan Kepala Bidang Promosi dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Solok dr.Maryeti Marwazi kepada PadangKini.com.

Para relawan kesehatan, kata Maryeti, berasal dari warga Jorong dan kader kesehatan. Tugasnya memantau kesehatan masyarakat dan memberi penyuluhan. Sebagian relawan dihonor Rp15 ribu per bulan oleh Pemerintahan Nagari dan akan memantau 15-20 keluarga yang ada di sekitarnya dan melakukan pembinaan kesehatan.

"Jadi tidak ada keluarga yang tidak terpantau, relawan bahkan juga bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan seorang bidang jorong," katanya baru-baru ini.

Melalui program ini juga didirikan satu unit Pos Kesehatan Nagari (Poskeri) untuk melayani 1.000 sampai 1.500 warga, bahkan melayani lebih sedikit warga untuk jorong berpenduduk jarang. Poskeri dibina Puskesmas yang ada di 18 kecamatan di Kabupaten Solok.

"Bangunan Poskeri sebagian besar masih numpang di Balai Pemuda atau Kantor Wali Jorong, tapi beberapa sudah didirikan khusus melalui APBD, bahkan 2009 ini akan didirikan 20 bangunan khusus Poskeri," ujarnya.

Idealnya, kata Maryeti, di sebuah Poskeri tersedia ruangan pelayanan kesehatan seperti di Puskesmas dan sekaligus memiliki rumah Bidan Jorong atau Bidan Desa. Namun hal tersebut akan diwujudkan perlahan.

"Pengobatan di Puskesmas dan poskeri gratis, namun untuk melahirkan dan pertolongan yang memakai alat hanya digratiskan untuk keluarga miskin," katanya.

Sementara, Nurhaida, seorang bidan desa di Jorong Kayu Aro, Nagari Batang Barus mengatakan, Jorong Siaga di tempatnya mulai dibentuk 2007 untuk melayani 2.129 jiwa atau 522 keluarga.

"Setiap bulan, saya menerima laporan dari relawan yang memantau kesehatan masyarakat, misalnya kalau ada wabah muntaber, KLB, kematian, kelahiran, keracunan, masalah gizi buruk atau ada keluarga yang tidak mau ikut posyandu, dengan adanya relawan ini, jumlah balita yang ikut Posyandu meningkat 100 persen," katanya.

Ia mengatakan, relawan kesehatan itu setiap bulan diberi pelatihan kesehatan dan bimbingan dari dokter dan bidan dari Puskesmas.

"Mereka umumnya ibu-ibu, diajari bagaimana menangani pertolongan pertama pada diare, keracunan, luka bakar, gigitan binatang, patah tulang dan dan memberi penyuluhan kesehatan untuk warga yang dipantaunya, jadi semacam pembantu kerja bidan desa," kata Nurhaida. *(yanti)*

--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama ===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke