--- Begin Message ---
Ini email dari 'INSISTS Official Site'
Pesan:
Penulis: Adian Husaini
http://www.insistnet.com
http://www.adianhusaini.com
Pengantar: Masalah penggunaan kata Allah di Malaysia sekarang menyita banyak
perhatian masyarakat internasional. Tidak hanya di Malaysia, di Indonesia pun,
sejumlah media massa menurunkan berita dan opini seputar masalah ini. Sejumlah
pihak mengirimi saya beberapa berita dan opini melalui emel dan meminta
tanggapan. Untuk sedikit menjernihkan masalah ini, berikut ini saya turunkan
tulisan, yang karena agak panjang saya bagi menjadi tiga serial Catatan
Akhir Pekan (CAP) ke-277, 278, dan 279). Sebagian data di sini sudah pernah
kita sajikan dalam CAP-CAP sebelumnya. Untuk memudahkan pemahaman, data itu
kita ungkapkan lagi, diramu dengan berbagai data baru yang penulis temukan. .
Kasus penggunaan kata Allah di Malaysia rupanya masih belum berujung. Kasus
yang sudah bermula tahun 2007 ini kembali memanas setelah Mahkamah Tinggi Kuala
Lumpur pada 31 Desember 2009 membenarkan penggunaan kata ''Allah'', sebagai
pengganti kata Tuhan, oleh surat kabar Katholik Herald-The Catholic Weekly
terbitan Gereja Katolik Roma, Malaysia.
Alkisah, kaum Muslim di Malaysia, diwakili pemerintah Malaysia, berkeberatan
dengan keputusan tersebut dan mengajukan Banding ke peradilan yang lebih
tinggi. Di Malaysia, masalah ini memang sangat menyita perhatian publik. Pada 1
April 2009 lalu, saya sempat menghadiri sebuah seminar tentang kontroversi
penggunaan kata Allah bagi Majalah Katolik ini di Kuala Lumpur. Bagi kaum
Muslim dan pemerintah Malaysia, pelarangan penggunaan nama Allah bagi kaum
non-Muslim memang memiliki dasar hukum yang kuat. Sebab, di hampir seluruh
negara bagian di Malaysia, memang ada peraturan yang melarang kaum non-Muslim
menggunakan sejumlah istilah khas dalam Islam, seperti Allah, Baitullah,
Rasulullah, dan sebagainya.
Di Malaysia, Islam adalah agama resmi negara (agama Persekutuan). Kaum
non-Muslim dilarang menyebarkan agama mereka kepada kaum Muslim. Sebab, sesuai
konstitusi Malaysia, salah satu tugas pemerintah adalah melindungi aqidah
Islam. Di Malaysia, istilah Melayu identik dengan Islam. (Sebaliknya, di
Indonesia, banyak yang memahami istilah Melayu identik dengan lagu
dangdut). Kamus Dewan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka,
Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1989, juga menegaskan
keidentikan antara Islam dengan Melayu. Disebutkan, bahawa istilah masuk
Melayu mempunyai dua erti, yaitu (1) mengikut cara hidup orang-orang Melayu
dan (2) masuk Islam. Menyadari pentingnya kedudukan akidah Islam untuk menjaga
ketahanan masyarakat Malaysia, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) satu
institusi Islam resmi di bawah pemerintah Melaysia -- menyatakan:
"Kerajaan tidak pernah bersikap sambil lewa dalam hal-hal yang berkaitan dengan
akidah umat Islam. Segala pendekatan dan saluran digunakan secara bersepadu dan
terancang bermula dari pendidikan hinggalah ke penguatkuasaan undang-undang
semata-mata untuk melihat akidah umat Islam terpelihara di bumi Malaysia".
(Lihat, http://www.islam.gov.my/e-rujukan/islammas.html).
Jadi, dalam soal kenegaraan, Malaysia memang beda dengan Indonesia. Meskipun
jumlah umat Muslim hanya sekitar 60 persen, Malaysia dengan tegas menyatakan
dirinya sebagai kelanjutan Kerajaan-kerajaan Melayu Islam, dan Islam
ditempatkan dalam konstitusi negara sebagai agama negara (agama Persekutuan).
Dalam kaitan inilah, pemerintah Malaysia melarang penggunaan kata "Allah" untuk
penerbitan buku dan referensi kaum non-Muslim di negara itu. Malaysia juga
pernah menyita belasan ribu kitab suci umat Kristen, Alkitab, yang diimpor dari
Indonesia yang menggunakan kata "Allah."
Majalah Katolik Herald edisi bahasa Inggris memang tidak menggunakan kata
Allah. Tapi, kata Allah mereka gunakan untuk edisi bahasa Melayu. Karena
itulah, kaum Muslim di Malaysia melihat, ini salah satu indikasi jelas, bahwa
ada tujuan misi Kristen dibalik penggunaan kata Allah tersebut. Tapi, kaum
Katolik di Malaysia berkeberatan dengan larangan pemerintah atas penggunaan
kata "Allah" di media mereka. Gugatan kaum Katolik ini kemudian dikabulkan oleh
pengadilan. Hanya saja, pada 4 Januari 2010, pemerintah Malaysia mengajukan
banding atas putusan Pengadilan Tinggi itu. Pemerintah juga meminta agar
putusan pengadilan itu ditangguhkan, sampai muncul putusan atas banding itu.
Masalah penggunaan kata Allah di Malaysia ini telah menyita perhatian dunia
internasional. Pelarangan penggunaan kata Allah di Malaysia sebenarnya sudah
berlangsung sejak awal tahun 1980-an. Sejumlah media di Indonesia baik cetak
maupun elektronik pun ikut menyiarkan berita di Malaysia tersebut. Apalagi,
menyusul keputusan Pengadilan Tinggi, terjadilah penyerangan terhadap sejumlah
Geraja di Malaysia. Ditengarai, serangan itu dilakukan akibat marahnya sebagian
kaum Muslim atas keputusan tersebut.
Sikap umat Islam di Malaysia sendiri terbelah. Jika pemerintah Malaysia yang
didominasi Partai UMNO -- melarang penggunaan kata Allah oleh kaum Kristen,
sikap sebaliknya ditunjukkan oleh Partai Islam se-Malaysia (PAS). Partai yang
sering dikategorikan sebagai partai Islam ini justru menyatakan tidak
keberatan dengan penggunaan kata "Allah" sebagai alternatif kata Tuhan untuk
kalangan non-Muslim. Menurut PAS, kata Allah bisa digunakan oleh para penganut
agama keturunan Nabi Ibrahim - yang dikenal oleh umat Nasrani dan Yudaisme
sebagai Abraham. Harian yang terbit di Malaysia, The Star, melaporkan adanya
pertemuan Dewan Pimpinan PAS, pada 4 Januari 2010, yang menghasilkan keputusan
tersebut. Presiden PAS, Hadi Awang, menyatakan, bahwa penggunaan kata Allah di
luar non-Muslim ada syaratnya, yakni kata Allah tidak boleh disalahgunakan
untuk kepentingan yang bisa mengganggu kerukunan beragama di Malaysia.
Bagi saya yang beberapa tahun tinggal di Malaysia dan pernah cukup intens
mengikuti pergumulan politik di Malaysia melalui media massa, sikap PAS itu
bisa dipahami sangat kental nuansa politisnya. Konflik PAS dan UMNO seperti
sudah mendarah daging. Bagi kita, kaum Musim Indonesia, tentu sangat heran,
mengapa kedua partai yang sama-sama berbasis Melayu ini tidak bisa bersatu
dalam pandangan dan sikapnya dalam hal-hal yang bersifat keagamaan, dan
melupakan pandangan politis mereka. Namun, kita juga bisa memahami, jika
melihat kondisi serupa yang terjadi pada sejumlah partai Islam di Indonesia.
Kadangkala, sebagai orang yang berada di luar partai, kita mengharapkan, agar
partai-partai Islam itu dapat bersatu untuk sama-sama memperjuangkan aspirasi
Islam. Tapi, itulah realitasnya; baik di Malaysia atau pun di Indonesia.
Pernyataan PAS yang menyatakan, bahwa agama Yahudi dan Kristen adalah pelanjut
agama Ibrahim pun lebih bertendensi politis dan sosiologis. Secara aqidah,
menurut Islam, jelas Islam menolak klaim Yahudi dan Kristen bahwa mereka adalah
pelanjut agama Ibrahim a.s. Seorang Muslim, yang berpikir dalam perspektif
Islamic worldview, akan sangat yakin, bahwa agama Ibrahim adalah agama
Tauhid. Dan sebab itu, hanya Islamlah yang konsisten melanjutkan ajaran Tauhid
Nabi Ibrahim.
Al-Quran menjelaskan: Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang
ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan,
dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif. (QS 4:125). Ibrahim bukanlah
Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia
bukanlah orang musyrik. (QS 3:67).
Meskipun Yudaisme adalah agama yang ber-Tuhan satu (monoteis), tetapi kaum
Muslim meyakini bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada
Kitab Yahudi (juga Kristen). Menurut Al Quran, orang-orang Yahudi dan Nasrani
telah mengubah-ubah kitab yang diturunkan Allah, menyembunyikan kebenaran, dan
menulis kitab menurut keinginan dan hawa nafsu mereka sendiri.
"Sebagian dari orang-orang Yahudi mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya." (An
Nisa: 46). "Maka apakah kamu ingin sekali supaya mereka beriman karena
seruanmu, padahal sebagian mereka ada yang mendengar firman Allah, lalu
mengubahnya sesudah mereka memahaminya,s edangkan mereka mengetahuinya."
(al-Baqarah:75). "Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan
tangan mereka, lalu mereka katakan: "Ini adalah dari Allah." (mereka lakukan
itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena
aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan
sungguh celakalah mereka akibat tindakan mereka. (al-Baqarah:79)
Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme belum tentu sama
dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai
satu-satunya Tuhan, disertai unsur ikhlas dan rela diatur oleh Allah SWT. Maka,
syahadat Islam berbunyi Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah. Syahadat Islam bukan berbunyi: Tidak ada tuhan selain Tuhan,
juga bukan Tidak ada tuhan selain Yahweh. Karena itu, jika orang menyembah
Tuhan yang satu, tetapi yang yang satu itu adalah Firaun, maka dia tidak
bisa disebut bertauhid. Iblis pun tidak bisa dikatakan bertauhid, tetapi
disebut kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia tahu bahwa
Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
Dalam perspektif seorang Muslim yang memegang teguh Islamic worldview,
memasukkan agama Yahudi sebagai pelanjut agama Ibrahim, adalah pernyataan yang
sangat bermasalah. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga
kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian
menyebut-Nya sebagai Yahweh. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak
boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: Yahweh:
The God of Judaism as the tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By
orthodox and many other Jews, Gods name is never articulated, least of all in
the Jewish liturgy.
Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi dan
Kristen kehilangan jejak kenabian dan Tauhid. Dalam pandangan Islam, kaum
Yahudi telah kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Ini juga ditulis
oleh Th.C.Vriezen, dalam buku Agama Israel Kuno (Jakarta: BPK, 2001):
Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan
sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa
proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi
(diolah kembali oleh penyadur)
Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak
penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah,
sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah
historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.
Jadi, dalam pandangan Islam, Yudaisme (agama Yahudi) bukanlah agama yang dibawa
oleh Nabi Musa a.s. Tetapi, Yudaisme adalah agama yang menyeleweng dari
agamanya dari Musa a.s. CM Pilkington, dalam Judaism, menulis: It was in the
1880s that the term Judaism became widely used and this bacause social and
political emancipation then made it necessary for Jews to work out for
non-Jews... Juga disebutkan, Judaism is the religion of the Jewish people,
upon whom its faith and obligations are binding. The relationship between God
and the people of Israel is fundamental. Siapakah yang disebut Yahudi?
According to Jewish Law, as codified in the Talmud and defined by rabbis from
late antiquity to the present day, a Jew is a person who is born of a Jewish
mother or has been converted to Judaism. Louis Jacobs, seorang teolog Yahudi
merumuskan: A Judaism without God is no Judaism. A Judaism without Torah is no
Judaism. A Judaism without Jews is no Judaism. (Pilkington, Judaism,
(London: Hodder Headline Ltd., 2003)).
Bagi kaum Musim, maka persoalan paling serius dalam Yudaism adalah penolakan
mereka terhadap kenabian Muhammad saw. Nabi Isa a.s. pernah mengajak kaumnya
(bangsa Yahudi) agar mengimani kenabian Muhammad saw:
Dan ingatlah ketika Isa Putra Maryam berkata: Hai Bani Israil, sesungguhnya
aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab yang turun sebelumku
yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang
akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Maka, tatkala Rasul itu datang
kepada mereka, dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, Ini
adalah sihir yang nyata. (QS ash-Shaf:6).
Berbeda dengan konsep Yahudi, Islam sangat menekankan bahwa karunia Allah
kepada bangsa Yahudi dikaitkan dengan ketaatan atas perjanjian mereka dengan
Allah. Islam tidak mengakui sama sekali adanya konsep yang menyatakan Yahudi
sebagai bangsa pilihan dan mendapat karunia sampai kapan pun, tanpa memandang,
apakah mereka taat atau tidak kepada Allah. (QS 2:85). Dalam sejumlah ayat
Bible memang disebutkan Israel sebagai anak Tuhan son of God. Kitab Keluaran
4:22-24 menyatakan: Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman
Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; Biarkanlah anak-Ku itu pergi,
supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi,
maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung. Tetapi di tengah jalan, di
suatu tempat bermalam, Tuhan bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk
membunuhnya.
Tetapi, al-Quran menyebutkan, kaum Yahudi adalah bangsa yang sangat rasialis.
Allah SWT berfirman (yang terjemahnya): Katakanlah: hai orang-orang Yahudi,
jika kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu saja yang merupakan kekasih Allah,
bukan manusia-manusia lainnya, maka harapkanlah kematian, jika kamu adalah
orang-orang yang benar. (QS 62: 6).
Dengan klaim sebagai pelanjut keturunan Ibrahim yang sah itulah, kaum Yahudi
menggunakan haknya untuk mengusir bangsa Palestina dari negeri mereka. Bahkan,
sebagian kelompok, seperti pengikut Meir Kahane, memperbolehkan digunakannya
tindak kekerasan untuk mengusir bangsa non-Yahudi dari Palestina. Salah seorang
pengikut aliran ini, Yigal Amir, pernah membunuh Yitzak Rabin karena
menegosiasikan Tanah yang dijanjikan Tuhan itu (the promised land) dengan
bangsa non-Yahudi.
Sikap rasialis Yahudi yang mengklaim sebagai pewaris darah Ibrahim yang sah ini
telah dikecam oleh dunia internasional. Resolusi Majelis Umum PBB, No 3379,
10-11- 1975 menyatakan: "Zionisme adalah sebentuk rasisme dan diskriminasi
rasial." Konferensi Asia-Afrika Bandung, Indonesia, 1955, menyebut Zionisme
sebagai: the last chapter in the book of old colonialism, and the one of the
blackest and darkest chapter in human history". Tokoh Partai Nasionalis
Indonesia (PNI), Dr. Roeslan Abdulgani juga mencatat: "Zionisme boleh dikatakan
sebagai kolonialisme yang paling jahat dalam jaman modern sekarang ini. Ia
berbau rasialisme. Kritikan keras terhadap rasialis kaum Yahudi juga diberikan
oleh cendekiawan terkenal Israel, Prof. Israel Shahak. Dalam bukunya, Jewish
History, Jewish Religion, Shahak menulis: In my view, Israel as a Jewish state
constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and
to all other peoples and states in the Middle East and beyond
.
Karena itulah, Islam mengecam keras klaim rasialis Yahudi. Kaum Muslim
mengikatkan diri dengan Ibrahim a.s., hanya mendasarkan diri pada garis
keimanan, bukan garis darah. Maka, dalam perspektif keimanan Islam, hanya
Islamlah agama yang menjadi pelanjut agama Ibrahim a.s. yang sah. Sebab, hanya
Islam yang mengakui garis kenabian dari Ibrahim a.s. sampai kepada Nabi
Muhammad saw.
Karena itu, dalam pandangan Islam, agama Yahudi (Yudaisme) saat ini bukanlah
pelanjut yang absah dari agama Ibrahim a.s. Begitu juga dengan agama Kristen.
Dalam pandangan Islam, agama Kristen saat ini adalah agama yang menyimpang dari
agama Nabi Isa a.s. Sebab, sama dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian
Muhammad saw dan bahkan mengangkat status Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran
memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep ketuhanan Kristen
ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, al-Quran menyebutkan, bahwa
Nabi Isa a.s. pernah menyeru Bani Israil agar mengakuinya sebagai Rasul, utusan
Allah, dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw.
Sebagai agama wahyu (agama samawi) yang bersumberkan pada wahyu yang bersifat
universal dan final, posisi Islam terhadap agama lain bersifat final dan tidak
mengikuti dinamika sejarah. Setelah wahyu Allah SWT sempurna diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw, maka Allah menegaskan, bahwa Pada Hari ini telah Aku
sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku ridhai
Islam sebagai agamamu. (QS 5:3).
Ayat tersebut secara tegas menyebutkan, bahwa Islam adalah agama yang
diridhai oleh Allah. Dan kata Islam dalam ayat ini adalah menunjuk kepada
nama agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan,
secara tegas, nama agama ini diberi nama Islam setelah sempurna diturunkan
oleh Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Para
pengikut nabi-nabi sebelumnya diberi sebutan sebagai muslimun, tetapi nama
agama para nabi sebelumnya, tidak secara tegas diberi nama Islam, sebagaimana
agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Meskipun, semua agama yang
dibawa oleh para nabi mengandung inti ajaran yang sama, yakni ajaran Tauhid.
Namun, agama-agama para nabi sebelumnya, saat ini sudah sulit dipastikan
keotentikannya, karena kitab mereka sudah mengalami tahrif
(perubahan-perubahan) dari pemeluknya. (QS 2:59, 75, 79). Karena itulah,
menurut Islam, harusnya pengikut para nabi sebelumnya, seperti kaum Yahudi dan
Nasrani, juga mengimani Muhammad sebagai nabi Allah SWT. Rasulullah saw
bersabda: Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik
Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini,
kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia
akan menjadi penghuni neraka. (HR Muslim)
Karakter Islam
Karena Islam memelihara kontinuitas kenabian, maka dalam pandangan Islam, Islam
adalah satu-satunya agama yang memelihara kontinuitas wahyu. Karena itu, Islam
bisa dikatakan sebagai satu-satunya agama wahyu, dan satu-satunya agama yang
memiliki ritual yang universal, final, dan otentik. Ini disebabkan Islam
memiliki teladan (model) yang final sepanjang zaman. Sifat otentisitas dan
universalitas Islam masih terpelihara hingga kini. Meskipun zaman berganti,
ritual dalam Islam tidak berubah. Shalatnya orang Islam di mana pun sama. Tidak
pandang waktu dan tempat. (Tentang konsep Islam sebagai true submission,
lihat disertasi Dr. Fatimah Bt. Abdillah di ISTAC, Kuala Lumpur, yang berjudul
An Analysis of the Concept of Islam as True Submission on the Basis of
Al-Attas Approach, 1998).
Sebagai agama wahyu, Islam memiliki berbagai karakter khas. Pertama, diantara
agama-agama yang ada, Islam adalah agama yang namanya secara khusus disebutkan
dalam Kitab Sucinya. Nama agama-agama selain Islam diberikan oleh para pengamat
keagamaan atau oleh manusia, seperti agama Yahudi (Judaisme), agama Katolik
(Katolikisme), agama Protestan (Protestantisme), agama Budha (Budhisme), agama
Hindu (Hinduisme), agama Konghucu (Konfusianisme), dan sebagainya. Sedangkan
Islam tidaklah demikian. Nama Islam, sebagai nama sebuah agama yang diturunkan
kepada Nabi Muhamamd saw, sudah disebutkan ada dalam a-Quran:
"Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam." (QS 3:19).
"Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan akan diterima dan
di akhirat nanti akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS 3:85).
Tentang nama Islam sebagai nama agama, cendekiawan besar dari Malaysia Syed
Muhammad Naquib al-Attas mencatat dalam bukunya, Prolegomena to The Metaphysics
of Islam: There is only one genuine revealed religion, and its name is given
as Islam, and the people who follow this religion are praised by God as the
best among mankind
Islam, then, is not merely a verbal noun signifying
submission; it is also the name of particular religion descriptive of true
submission, as well as the definition of religion: submission to God.
Demikianlah posisi teologis Islam. Posisi ini tentu saja berbeda dengan posisi
teologis Yahudi dan Kristen. Perbedaan ini harus diakui dan dihormati.
Bagaimana pun, kaum Yahudi dan Kristen tidak menerima konsep kenabian Muhammad
sebagai utusan Allah yang terakhir. Dengan kata lain, dalam pandangan Yahudi
dan Kristen, Muhammad saw bukanlah seorang nabi, tetapi seorang pembohong. Dr.
Abraham Geiger (m. 1871), salah satu tokoh Yahudi yang menjadi perintis studi
al-Quran di Barat, menulis sebuah buku berjudul What did Muhammad Borrow from
Judaism? Pada posisinya sebagai Yahudi, ia menuduh Nabi Muhammad saw telah
menjiplak Bibel dan tradisi ritual Yahudi. Geiger menulis: Muhammad like the
rabbis prescribes the standing position for prayer.
Penulis: Adian Husaini
http://www.insistnet.com
http://www.adianhusaini.com
Kaum Muslim dilarang memaksakan keimanan dan keyakinan mereka kepada kaum
Yahudi dan Kristen serta pemeluk agama mana pun. Sebab, telah jelas mana yang
benar dan mana yang salah. (QS 2:256). Karena itu, sejak awal kehadirannya,
Islam sudah diperintahkan mengakui dan menghormati keyakinan agama lain. Tetapi
pada saat yang sama, kaum Muslim juga diperintahkan, agar memproklamasikan
dirinya sebagai Muslim: Isyhaduu bi-anna Muslimun. (Saksikanlah bahwa kami
adalah Muslim). Seorang anak yang Muslim tetap wajib menghormati kedua orang
tuanya, meskipun mereka belum memeluk Islam. Rasulullah juga membangun hubungan
baik dengan tetangganya yang Yahudi.
Jadi, menurut Islam, sangatlah tidak benar, jika problem politik dan sosial
sampai mengubah konsep teologis kaum Muslim terhadap agama lain. Berbeda dengan
kaum Pluralis agama yang berjuang untuk menggerus keyakinan tiap agama
digantikan dengan konsep global theology Islam memandang kerukunan umat
beragama harus dibangun di atas dasar penghormatan kepada keyakinan
masing-masing agama. Karena ada perbedaan itulah, maka ada dialog dan diskusi.
Karena ada perbedaan itulah ada dinamika hidup dan upaya membangun saling
pengertian dan kerukunan. Bukan justru merusak keyakinan masing-masing agama
untuk dibawa kepada satu agama baru bernama Pluralisme Agama. (Bersambung).
--- End Message ---