Dear all, mungkin saya salah, tetapi menurut pengamatan saya kurang banyak
wacana tentang perempuan Minang oleh perempuan Minang sendiri di RN ini.
Padahal -- mitosnya -- kita memuliakan perempuan. Berikut ini adalah artikel
bagus, walau sudah agak lama, ditulis oleh Sanak Desni Intan Suri mengenai hal
itu, dimuat di PadangMedia.com hari Rabu tanggal 28 Januari ini. Sungguh
menarik. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
Kekuasaan Wanita Minang = Menjajah Pria
oleh: Desni Intan Suri
Dunia Perempuan | Rabu, 02/12/2009 22:21 WIB
Suatu kali aku dan suami berkenalan dengan seorang pria yang bukan dari daerah
Sumbar. Dalam pembicaraan kami yang menceritakan daerah masing-masing ia
memberikan pendapat dan kesannya terhadap wanita minang kabau. Kesan dan
pendapatnya itu membuatku terkaget-kaget.
“Gimana mas rasanya punya istri orang minang?” kata si pria ini pada suamiku.
Suamiku sempat bingung menjawabnya, tapi dijawabnya juga “ yaa..rasanya ya
..rasa punya istri…” kata suamiku sambil tertawa.
“Bukan, maksud saya beristrikan wanita minang gimana rasanya? Katanya ngotot.
Akupun tergoda untuk menimpalinya “ maksudnya rasa apanya nih
pak..jelaskanlah..” kataku. Dia tersenyum dan tetap mengarahkan pandangannya
kesuami ku : “ setahu saya wanita minang itu sangat dominan dalam rumah
tangga…bahkan kesannya seperti kaum pria dijajah saja. Adat minang kabau saja
sudah menampakkan hal itu. Tak heran watak wanitanya menjadi berkuasa seperti
itu. Saya merasa adat minang kesannya seperti membuang anak laki-laki. Coba
saja lihat, secara rohaniah yang memiliki rumah adalah wanita ,kaum pria hanya
menumpang. Kalau sudah menjadi suami ,kedudukannyapun lemah sebagai seorang
bapak dari anaknya, yang memutuskan kehidupan anaknya terutama dalam masalah
perkawinan justru adik laki-laki istrinya.Masyarakat minang itu juga menganut
sistim matriakat yang mana kekuasaan terletak ditangan Ibu atau wanita.hm…ini
benar-benar bikin wanita diatas angin. Dalam
keluarga saya ada dua orang yang sempat beristrikan orang minang ,dua-duanya
berakhir dengan perceraian dengan didahului pertengkaran demi pertengkaran.
Istri-istri mereka sangat dominan bahkan terkesan tidak menghargai suami. “.
Aku segera ingat dengan teman karibku Nirita yang baru saja dua hari yang lalu
curhat datang kerumah. Nirita adalah teman kecilku sejak disekolah dasar. Garis
nasib kemudian berbeda jauh diantara kami. Aku sekarang berstatus Ibu rumah
tangga yang berwiraswasta, sedangkan ia adalah seorang Manager Public Relation
dan marketing di sebuah hotel berbintang. Ia meminta saranku ketika ia merasa
harus mengakhiri kehidupan perkawinanya dengan Syaiful yang dulunya juga adalah
teman satu perguruan tinggi denganku. “Dia lamban sekali ..aku bosan
mendorongnya terus,dia maunya mengembangkan dunia tulis menulisnya padahal
diakan sarjana tehnik mesin..apalah yang akan dapat dari dunia tulis
menulis..aku udah susah-susah cariin kerjaan bergengsi buat dia ..eh
dicuekin..maunya dia apa? Hasil tulis menulisnya cuma cukup beli korek
kuping..tak lebih..!".
Aku juga ingat dengan Lulu anak bibiku. Sampai umurnya mencapai 53 tahun saat
ini, tak ada minatnya sedikitpun untuk berumah tangga. Sekarang ia bekerja
disebuah stasiun televisi swasta di Australia. Ketika kami semua mencoba-coba
menyodorkan ‘calon” padanya, semua dijawabnya dengan kata-kata ” Ngga level…!”.
Sampai saat ini, ia masih merasa bahwa levelnya adalah lebih tinggi dari pria
manapun yang diperkenalkan padanya. Akhirnya kami menyerah dan membiarkan ia
memilih kehidupannya sendiri.
Dirumah aku termenung-menung sendiri memikirkan kalimat-kalimat “dakwaan” dari
pria kenalan baru kami tadi sewaktu diperhelatan kenalan suamiku.
Kuhubung-hubungkan semua ini. Kucoba pula mengoreksi diriku sendiri, apakah aku
bersikap seperti yang ia sebutkan itu kepada suamiku sendiri?. Pikiranku itu
terbaca oleh suamiku. Ia tersenyum-senyum menggodaku . “ Tersinggung ni yeee…
dibilang penjajah… katanya tergelak-gelak. “ Tidak juga…cuma mencoba koreksi
diri saja…” kataku kalem mencoba menutupi perasaanku sebenarnya.. Suamiku
manggut-manggut sambil menepuk-nepuk punggungku “tenang…tenang..aku ngga merasa
dijajah kok….” Katanya memperlebar senyumnya .
Esok paginya ketika aku sedang menyiapkan sarapan pagi keluarga, aku didatangi
Ranti tetangga baru kami. Ia baru dua bulan menngontrak rumah sebelah kiri
rumah kami. Ia seorang wanita minang berasal dari Padang panjang. Begitu dia
tahu aku juga orang minang, hampir tiap hari dia main kerumah kami. Katanya ia
bekerja disebuah perusahaan muliti nasional . Waktu baru berkenalan kami sempat
heran ,katanya dia sudah mempunyai suami dan tiga orang anak, tapi kok dirumah
itu yang keliatan hanya dia saja. Baru kemudian kami paham setelah ia
menceritakan kehidupan rumah tangganya kepadaku. ‘ Suamiku pengangguran tingkat
tinggi..sudah masuk tahun kelima sekarang..ada teman yang nawarin kerja padaku
dijakarta ini,gajinya cukup besar..yaa daripada anak-anakku ngga makan aku
terima pekerjaan itu…, di Padang udah susah cari kerja sementara anak-anakkan
perlu makan dan biaya sekolah..sekarang dia yang ngurusin anak-anak aku
kerja..,harus ada salah satu kami
bertindak kalau mau bangkit…ya kan Des?aku akan mencari peluang kerja buat dia
disini , baru setelah itu memungkin bagi kami untuk kumpul lagi…”katanya waktu
itu.
Aku memandang kepergian Ranti dari balik jendela dapur. Ia hanya datang untuk
mengembalikan piringku sebelum pergi kekantornya. Kemarin kuisi nasi uduk
bikinanku untuknya. Pikiranku dipenuhi dengan beberapa pertanyaan dan
menerawang kemana-mana. Apakah wanita minang seperti Ranti juga disebut sebagai
seorang wanita yang dominan?. Apakah keluhan yang disampaikan Nirita atau Lulu
padaku dulu mewakili pola watak wanita minang kabau secara keseluruhannya?.
Apakah benar adat minangkabau yang matriakat membuat wanita minang kabau
membabi buta memburu kesetaraan gender?. Apakah hak dan kekuasaannya yang
diberikan kepada mereka dalam adat membuat mereka menjadi melemahkan kedudukan
pria sebagai pendamping hidup mereka?.
Kalau menelusuri kehidupan kekeluargaan orang minang sendiri memang adat minang
seperti sudah melahirkan watak perantau bagi pria minang, dan watak bundo
kanduang bagi wanita minang.Kaum laki-laki diminang, dianggap sebagai kaum yang
“menumpang” dirumah gadang. Rumah yang sesungguhnya bagi kaum laki-laki minang
adalah Surau. Dari kecil mereka sudah diajar mengaji dan belajar silat
berpindah-pindah dari satu surau/tempat ke lainnya. Namun inipula yg kemudian
menjadi sumber dinamika pria minang untuk menjadi pengembara/perantau .
Sebaliknya untuk kaum wanita minang telah diberikan sebuah kekuasaan dalam
kepemimpinan dan tanggung jawab yang besar untuk mereka. Kekuasaan dan tanggung
jawab yang besar dimulai dari sebuah mitos mengenai seorang pemimpin wanita
yang disebut Bundo Kanduang. Sebetulnya banyak pendapat mengenai asal muasal
sosok Bundo Kanduang ini. Tapi dalam cerita /kaba cindua mato ada bahagian yang
menyebutkan bahwa keberadaan Bundo kanduang sama dengan awal adanya alam ini.
Jangan salah pengertian dengan kata” alam” disini. Alam dalam bahasa kiasan
minang bukan berarti sejak jaman Adam dan Hawa ada, tapi alam disini berarti
sebuah wilayah kekuasaan. Jadi dalam cerita/kaba cindua mato keberadaan Bundo
kanduang itu diawali dari sebuah kerajaan yang dipimpinnya. Nah, dalam
kepemimpinan Bundo Kanduang ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang arif dan
bijaksana dan mempunyai tingkat kharisma yang sangat tinggi diantara bawahan
dan penghuni rumah gadang yaitu Istana
pagaruyung dulunya. Ia disegani dan sangat dihormati karena kepiawaian serta
kecerdasan dalam buah pikirannya untuk mengelola tanah pusako dan memimpin
semua yang tinggal dalam rumah gadang tersebut.
Untuk selanjutnya dengan berjalannya waktu Bundo kanduang kemudian dijadikan
sebuah limbago yang menajdi panggilan untuk golongan kaum wanita minang
kabau.Dalam hal ini wanitapun telah ditetapkan untuk mempunyai beberapa
tanggung jawabnya terhadap rumah gadang dan tanah pusako dikampung halaman .
Perlu ditekankan disini, bahwa yang diberikan kepada wanita adalah “hak
tanggung jawab “ bukan kekuasaan. Artinya istilah “matriakat yang berarti “ibu
yang berkuasa” sudah ditinggalkan. Sedangkan hak tanggung jawab yang dibebankan
ke pada kaum wanita minang tersebut diantaranya yang inti adalah :
1.Sebagai untuk menarik garis keturunan yang disebut sebagai sistim garis
keturunan ibu atau matrilineal
2.Sebagai yang bertanggung jawab atas kepemilikan rumah gadang
3.Sebagai yang bertanggung jawab atas sumber ekonomi seperti sawah,ladang
,tanah garapan dll
4.Sebagai tempat penyimpanan hasil ekonomi dengan pepatah “umbun puruak
pegangan kunci,umbun puruak alunan bunian” maksudnya wanita adalah sebagai
pemegang kunci ekonomi harta pusako
5.Sebagai penanggung jawab dalam pengaturan rumah tangga dan menentukan baik
buruknya jalan roda rumah tangga. Disini wanita yang berfungsi sebagai Ibu
dianggap sangat berpengaruh dalam pembentukan watak manusia . Ini terlihat
dalam pepatahnya : “ Kalau karuah aie dihulu, sampai kamuaro karuah juo.Rintiak
anaknyo,turunan atok ka palimbahan”.
6.Sebagai penanggung jawab pemeliharaan harta pusako, anak dan kemenakan.
Jelaslah sudah, dari tanggung jawab yang diberikan adat kepada kaum wanita
disini membuat kaum wanita minang kabau dituntut untuk menjadi
cerdas,cerdik,pandai dan berilmu pengetahuan yang tinggi. Sedangkan kaum pria
yang dianggap sebagai kaum yang “menumpang” secara tak langsung pula
mempengaruhi nilai tingginya harga diri mereka dikampung halaman sendiri.
Contohnya saja dalam memproduktivitaskan tanah pusako wanita dan laki-laki
boleh berdampingan mengolahnya. Namun begitu ada hasilnya, kaum wanita
boleh-boleh saja langsung memakan hasilnya tersebut ditengah rumah bersama
keluarganya. Sebaliknya kaum laki-laki akan menitipkannya dulu dilumbung rumah
gadang. Adalah sebuah harga diri bagi kaum pria memakan hasil itu kalau tidak
terpaksa betul. Kaum pria malah memantangkan diri mengambil haknya,karena
mereka lebih merasa mempunyai harga diri bila hidup dari hasil jerih payah
sendiri.
Perbedaan yang tajam ini membuat kaum pria mengembara mencari kesuksesan dan
keberhasilan dalam hidupnya sendiri. Sementara tampuk tanggung jawab di kampung
halaman jatuh ketangan wanita. Hal inilah yang membuat kaum wanita minang
terkenal dengan sikapnya sebagai pekerja keras. Tidak mau hanya berpangku
tangan atau berleha-leha saja walau ia sudah mempunyai harta sekalipun. Jiwa
bisnis wanita minangpun sangat tinggi,karena dengan tanggung jawab yang
diberikan pada mereka dalam mengatur roda perekomonian tanah pusako membuat
mereka harus cerdik dan pandai dalam perdagangan.
Walaupun pada catatan pada Badan Pusat Statistik Sumbar masih menunjukkan angka
keterlibatan wanita dilapangan kerja masih dbawah angka pria, namun yang
terlibat membuka lapangan kerja sendiri atau berwiraswasta lebih banyak
dilakukan oleh kaum wanita di Sumbar. Diantaranya banyak yang membuka lapangan
kerja dibidang kewanitaan yang berbentuk makanan, kerajinan tangan,jahit
menjahit dll. Waktu kami baru-baru ini pulang kampung, kami melewati kawasan
pasar kotobaru yang kebetulan sedang ada “hari Pasar”. Perjalanan kami sedikit
terkena macet dengan keramaian pasar tersebut. Uniknya pasar ini adalah, para
pedagangnya semua didominasi oleh kaum perempuan. Hampir setiap sudut kami
lihat yang menawarkan beragam sayuran dan rempah-rempah dapur adalah rata-rata
para wanita. Namun catatan BPS juga menyatakan bahwa angka putus sekolah lebih
banyak terdapat pada prosentase untuk kaum pria . Artinya, semakin masuk
kedalam jaman modern semakin terlihatlah
kesadaran kaum wanita minangkabau untuk tampil lebih cerdas dan berilmu pula.
Dari kenyataan-kenyataan yang ada ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa adat
minang kabau bukan bertujuan untuk membentuk wanita bersikap otoriter atau
berkuasa melebihi kekuasaan kaum pria apalagi meletakkan posisi kaum pria
dibelakang kaum wanita. Adat minang kabau selama ini sesungguhnya mengajarkan
dan mendidik dua gender ini untuk bisa tampil dalam kekuatan mereka
masing-masing dengan kepribadian yang kokoh untuk mampu hidup diatas kaki
sendiri tanpa mengemis-ngemis apalagi bersikap culas,licik dalam memperjuangkan
kehidupannya sendiri. Wanita minangkabau dengan tanggung jawab yang dibebankan
pada mereka membuat mereka bisa memahami sifat kepemimpinan yang arif dan
bijaksana. Sebaliknya kaum pria yang lebih diberikan kesempatan mengembara atau
merantau membuat mereka tampil sebagai kaum yang kenyang akan pengalaman hidup
hingga mereka lebih ahli menyelami dan mengukur kehidupan itu sendiri untuk
target keberhasilan mereka.
Seharusnya memang begitu. Tapi sebuah tata aturan dalam kehidupan yang
dirancang manusia tidak semuanya akan bisa tertata dengan lancar dan rapi
sesuai yang dikehendaki. Ada saja yang melenceng dari aturan yang sebenarnya.
Dalam hal ini rasanya aneh bila kita menyalahkan adat,karena sebuah adat tentu
lahir dari tata aturan yang tujuannya adalah untuk sebuah kebaikan. Sebuah
egolah yang merusak tata aturan tersebut. Ego tersebut akan tampil tidak hanya
dari bersendirian dari kedua gender ini karena mereka saling kait mengait untuk
membuat ego tersebut berkembang menjadi sikap individualistis yang saling
menyalahkan. Wanita yang berkuasa karena berada pada sistim matriakat akan
mempergunakan egonya untuk membelakangi kaum pria. Sebaliknya kaum pria yang
merasa hidup dengan wanita matriakat dalam kekuasaan berharta ,akan
mempergunakan kesempatan pula untuk bermalas-malasan dengan hanya duduk
menopang dagu memakan harta istri/wanita. Sikap dari kedua gender
ini akan melahirkan ego yang ditindas dan menindas.
Maka tak ada salahnya kalau aku merasa terdorong untuk mengupas masalah
ini,karena disebabkan begitu kentalnya darah minang melekat pada diriku. Dan
dengan jujur kusampaikan bahwa watak wanita minang yang terbentuk dari adatnya
adapula melekat dalam diriku. Aku yakin, semua wanita minang yang merasa
mempunyai darah minang yang kental mengalir pada dirinya akan merasakan hal
yang sama denganku. Dan dengan jujur pula aku sampaikan bahwa akupun pernah
melalui masa “transisi” berumah tangga dalam menselaraskan kehidupan kami, agar
tetap seimbang. Perbedaan pandangan dan prinsip hidup pernah terbagi dua antara
kami suami istri karena berasal dari adat dan budaya yang berbeda. Aku dari
minang, suamiku dari Jawa. Namun ini bukanlah masalah adat, tapi adalah dari
“ego” kita masing-masing. Aku yakin, sikap Nirita,Lulu maupun Ranti juga lahir
karena ego bukan karena adat. Adat memang membentuk wanita minang menjadi sosok
yang kuat,tegas dan mandiri. Tapi
adat tidak mengolah mereka menjadi sosok yang merasa lebih benar dan jauh dari
timbang rasa. Ada kalanya memang wanita minang harus terpaksa tampil lebih dulu
seperti yang dilakukan Ranti. Sikap mandiri darah minangnya membuat ia tampil
sebagai pengambil keputusan disaat kehidupan sudah menuntut untuk adanya sebuah
keputusan. Sebaliknya sikap Nirita dan Lulu adalah sikap keras dan tegas yang
lebih mencondongkan ego,sehingga timbullah kesalah pahaman dalam keterlanjuran
sikap berkuasa bagi wanita minang itu sendiri disini. Mungkin keruwetan buhul
perkawinan dua orang saudara kenalan baru kami diperhelatan dua hari yang lalu
juga begitu adanya.
Akhir kata, memang tuntutan untuk kesetaraan gender atau emansipasi atau apalah
namanya haruslah dikaji ulang.Bila tuntutan itu ternyata menimbulkan sebuah
kesombongan, sikap menguasai dan merasa harus melebihi kaum pria atau bahkan
yang lebih parah lagi adalah merendahkan dan melecehkan martabat kaum
pria,tentulah ini sudah salah pemahamannya. Artinya, bila ia seorang wanita
lajang iapun harus memahami batas-batas pergaulannya yang tidak merusak
norma-norma kaedah dirinya sendiri sebagai wanita. Baik itu batas dalam
memperoleh pendidikan, lapangan kerja maupun sebuah kekuasaan. Bila ia seorang
istri, tentulah yang pertama yang menjadi panutan dan tempat ia bersepakat
adalah suami sendiri.Walaupun pendidikan, kedudukan atau penghasilannya lebih
memadai dari sang suami adalah suatu kewajiban utama baginya untuk tetap berada
dibelakang suaminya. Selayaknyalah ia harus terlebih dahulu mendengar dan
bertindak sesuai arahan suami kecuali bila keadaan tidak
memungkinkan lagi untuk berbuat demikian. Semoga tulisan ini dapat menjadi
pedoman diriku sendiri, teman2ku wanita maupun pria, baik yang berdarah minang
maupun bukan.
Kuala Lumpur , 21 November 2009
referensi : dari buku2 karangan Zuriati dan Amir M.S serta blog2 di internet
serta hasil pandangan pribadi.
*) ditulis dalam catatan pada FB oleh Desni Intan Suri
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe